Integrasi Iman dan Kehidupan
Formalitas keberagamaan terbukti sangat tidak memadai untuk membangun karakter kita menjadi lebih baik. Menurut penulis, formalitas ini juga sesungguhnya adalah bagian dari kesekuleran kita
Istilah ini penulis dapatkan dari buku God is My Success karya Larry Julian. Istilah ini mungkin tidak cocok dan pas untuk seorang Muslim yang paham betul ajaran agamanya.
Karena baginya, iman dan kehidupan itu memang tidak terpisah, dan tidak akan terpisahkan selamanya. Iman harus mewujud dan terealisasi dalam kehidupan. Iman juga menjadi pengendali dan penuntun dalam hidupnya.
(lagi…)
Selamat Jalan Guru Bangsa yang Fenomenal
WALAU kesehatannya tidak prima lagi karena stroke dan duduk di kursi roda sejak lama, wafatnya Adurrahman Wahid, presiden keempat Indonesia, sangat mengejutkan. Kita kehilangan seorang tokoh yang boleh disebut sang fenomenal.
Banyak julukan diberikan kepada mantan Ketua Umum PBNU itu. Tetapi paling jamak adalah guru bangsa. Dia mengabdikan dirinya demi bangsa. Bangsa yang tetap menjiwai dan dijiwai keanekaragaman.
(lagi…)
Kerja Besar Kita ke Depan
KITA dibuat tertegun dengan kenyataan bahwa dalam proses pembangunannya bangsa ini didominasi orang kaya/elite. Tidak punya uang, maka harus “mengalah” dari mereka yang lebih beruntung. Pendidikan dan sebagainya hanya menganakemaskan mereka yang kaya.
Dikotomi kaya-miskin ini berlaku di hampir semua bidang kehidupan. Nah, bagi mereka yang merasa tertinggal, mengakibatkan munculnya rasa marah dan dendam. Pemerintah turut bersalah dalam hal ini, karena mengambil pihak yang salah untuk dijadikan panutan.
(lagi…)
RELIGIOUS FREEDOM REPORT 2009
Kebebasan beragama tidak hanya menyangkut kebebasan untuk beragama dan berpindah agama, tapi juga kebebasan untuk mengekspresikan agama yang dianggap benar oleh tiap individu. Pada tingkat ekspresi inilah, baik regulasi pemerintah maupun aturan sosial masih mengandung beberapa masalah. Ketika terdesak oleh tekanan sosial seperti aksi massa radikal Islam, pemerintah tak jarang tejebak untuk menunjukkan favoritismenya dalam memilih kebijakan agama. Konsekuensinya, seringkali favoritisme itu bersifat diskriminatif terhadap kalangan non-Islam maupun kelompok Islam non-mainstream. (lagi…)
2012 dan Teologi Kiamat
Tiba-tiba saya ingat perdebatan post-humous antara al-Ghazali dan Ibn Rushd, dua filsuf besar Muslim, tentang dunia. Kata al-Ghazali, dunia tidak abadi. Jika kiamat datang, seluruh isi dunia akan hancur dan itulah akhir dari seluruh kehidupan. Ibn Rushd menyanggah. Menurutnya, alam raya bersifat eternal, ia abadi, seperti abadinya Tuhan. Jika ada kiamat, maka itu adalah kiamat lokal, di Bumi, di Mars, di Jupiter, di Saturnus, dan seterusnya.
Oleh Luthfi Assyaukanie
(lagi…)
Pemikiran Liberal Masih ditentang
Kampanye anti pemikiran islam liberal nampaknya semakin gencar dilakukan aktifis-aktifis islam kanan di NTB. Setelah baru lalu mengadakan diskusi-diskusi anti penyesatan, kemaren (5/11) mereka mengadakan seminar dengan tema “kajian pemikiran islam” di Gedung Graha Bakti Kantor Gubernur NTB.
Acara yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor cabang Mataram tersebut menghadirkan tiga aktifis garda depan penentang islam liberal yakni Dr. Adian Husaini (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), dan dua aktifis dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Jakarta, DR. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Dr. Nirwan Safrin.
Gubernur NTB TGH. Zainul Majedi dalam sambutannya mengatakan, liberalisasi pemikiran dan hukum islam menjadi ancaman serius tehadap eksistensi agama Islam, persepsi dan pemahaman agama islam seperti ini harus dikaji lebih dalam.
“proses liberalisasi pemikiran dalam islam tidak lahir begitu saja, tapi sengaja diskenario dan direkayasa secara oleh pihak-pihak tertentu” tambah Gubernur yang baru lalu mendapat rekor sebagai Gubernur termuda dari MURI itu.
Ketua penyelenggara kegiatan tersebut Dr. Lalu Wira mengatakan, acara ini dimaksudkan sebagai counter dari pemikiran islam liberal yang selama ini berkembang ditengah masyarakat.
Selain menghadirkan para pembicara, panitia juga menghadirkan pimpinan pondok pesantren modern Gontor KH. Abdullah Zarkasyi dan beberapa pimpinan pondok pesantren di NTB seperti TGH. Safwan hakim Kediri dan TGH. Lalu Anas Hasry Anjani Lombok Timur. []
“Orang yang Menjuluki Saya Nabi” Kata Abdullah alias Amaq Bakri
AmaQ Bakri alias Abdullah alias Papuq Junaedi menggegerkan masyarakat Nusa Tengara Barat. Pria yang dikabarkan pernah melakukan mi’raj seperti nabi muhammad ini dinilai memiliki ajaran yang kontrovesial. Berikut wawancara Fathul Rakhman, Wartawan dan Kontributor Jarik Mataram.
Fathul Rakhman*
(lagi…)
Ada ‘Nabi’ di Lombok Timur ?
Marak diberitakan, seseorang laki-laki paruh baya bernama Amaq Bakri asal Desa sambelia Lombok Timur mengaku menjadi nabi. Isu itu merebak setelah selebaran berjudul “seputar nabi palsu” beredar di tengah masyarakat. Menurut selebaran itu Amaq Bakri mengaku diri seorang nabi karena telah melakukan perjalanan isra’ mi’raj persis seperti yang dilakukan nabi muhammad.
(lagi…)
Jemaah Ahmadiyah NTB Dibolehkan Berhaji
Kantor Wilayah Departemen Agama (Depag) Nusa Tenggara Barat (NTB) masih memperbolehkan warga Ahmadiyah berhaji atau menunaikan ibadah haji meskipun ada larangan Pemerintah Arab Saudi.
“Kami tidak melarang mereka berhaji makanya tidak ada pendeteksian warga Ahmadiyah dalam daftar calon haji,” kata Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Depag NTB, Suhaimy Ismy, di Mataram, Senin (7/9), usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pemberangkatan calon haji dan dan pemulangan jamaah haji asal NTB.
(lagi…)
Pengawasan Ceramah Perlu
Menurut saya, NU ke depan bukan hanya milik muslim tradisional. Tantangannya adalah bagaimana mendekatkan NU ke kelas menengah kota dan bagaimana berhadapan dengan kelompok radikal. Diaspora kaum muda NU juga sudah sedemikian luas, tak hanya di pedalaman, tapi juga di kota-kota besar. Jumlah mereka besar. Banyak juga yang bersekolah hingga ke berbagai negara, dari Mesir, Saudi, Pakistan, hingga Inggris dan Amerika. Ini yang harus diperhatikan NU di masa depan. Dan saya kira untuk merangkul mereka dibutuhkan pemimpin muda (tertawa).
Ulil Abshar Abdalla
(lagi…)
Tadarrus Blog dan Tadarrus Al-Qur’an

Yang dilakukan orang-orang di masjid sebelah rumah saya itu sebetulnya Iqro’ saja bukan tadarrus. Mereka sekadar membaca alqur’an saja bukan mempelajari alqur’an. Tapi bukankah membaca saja mendapatkan pahala? Saya sedang menulis jawaban pertanyaan ini yang intinya maksud nabi dalam hadist itu bukanlah sekadar Membaca tapi juga mempelajari dan memahami.
Achmad Jumaely*
(lagi…)
Ayat-ayat Teror
Saat mudik ke Kampung halaman, Darussalam Bungbulang (Kandangwesi) Garut. Tentu tak ada aktivitas ngenet; ngeblog, ngefacebook, noongan Harian Umum. Jangankan berinternet ria, listrik saja harus rela menunggu giliran nyala.
Memang kampung sekali. Tiba-tiba beberapa kawan di Tim Sunan Gunung Djati memberikan pesan malulai pesan singkat “Apa komentarmu tentang aksi terorisme? Adakah setiap agama memerintahkan dan membenarkan praktik bom bunuh diri? Haruskan ajaran Islam dinodai dengan kekerasan? Dimanakah Slogan Rahmatan Lil Alamin itu?”
Ibnu Gifari*
(lagi…)
Berkah Demokrasi Untuk PKS
Terkait kontribusi partai politik agama terhadap demokrasi, hasil penelitian Stathis N. Kalyvas tentang partai-partai Kristen Demokrat di Eropa sangat menarik untuk dikemukakan. Menurut Kalyvas, para pelaku politik keagamaan ternyata tidak hanya diikat oleh keyakinan ideologi keagamaan mereka, tapi juga oleh perhitungan untung-rugi dalam usaha mencapai atau mempertahankan kekuasaan. Karena berorientasi pada kekuasaan, partai-partai ini berupaya memoderatkan posisi politik mereka dalam rangka mendapatkan banyak dukungan suara rakyat. Sebab, mereka sadar bahwa mayoritas massa pemilih lebih menyukai posisi politik moderat ketimbang yang terlalu ekstrem.
Oleh Iqbal Hasanuddin
(lagi…)
Mendudukkan Pluralisme Agama
Oleh: Ahmad Syafi’i Ma’arif
Beberapa waktu yang lalu MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya pluralisme agama di samping sekularisme, dan liberalisme. Fatwa itu telah memicu gelombang prokon (pro-kontra) dengan argument masing-masing, tetapi sejauh pengetahuan saya, belum ada kajian yang mendalam dan meluas tentang isme-isme itu jika dilihat dari pandangan Islam. Cendekiawan muda NU Abd. Moqsith Ghazali dengan karyanya yang berjudul Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an (Jakarta: KataKita, 2009, 401 halaman) telah mengurai masalah pluralisme agama sebagai salah satu isu yang diharamkan itu melalui pendekatan akademik yang imbang.
(lagi…)
Islam “Citra Rasa” Lokal
Sosoknya seakan tak pernah mati, karena mampu “minda rupa” atau berganti peran secara eksistensial. Menyesuaikan diri dengan perkembangan horizon masyarakat Sunda yang kian kompleks. Ia bisa mancala putera, mancala puteri -dalam artian mampu meragamkan pribadi -menjadi sesosok manusia multi-fungsi yang mengasyikkan, menghibur dan menuntun, tulis Sukron Abdilah, Pegiat Sunda dan Kearifan Lokal (Kompas Jabar, Anjungan, 23 Juni 2007)
Oleh IBN GHIFARIE
(lagi…)


Mungkin karena banyaknya hal-hal aneh di negeri ini, maka orang seperti