Asal Bukan Raja


jhelly-came.jpg
Setiap kekuasaan entah namanya Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, Ketua Partai, Ketua DPR, Ketua Polisi, Ketua Tentara, Ketua Organisasi Masyarakat, Kepala Desa, Kepala Dusun, Ketua Rukun Tetangga (RT), Ketua Rukun Warga (RW) hingga ketua Perhimpunan Kusir Cidomo, sebetulnya –pada hakekatnya- juga tersimpan sifat (ke)raja(an)an seperti itu. Dan biasanya setiap kekuasaan selalu saja disalahgunakan oleh orang yang punya kekuasaan (Abbuse Of Power).

Oleh: Jhellie Maestro*

Syahdan, tentang seorang raja zalim di sebuah negeri bernama Brenge. Ia berjuluk sesuai nama negerinya “Raja Brenge”. Seperti halnya cerita Fir’aun yang phobi akan kekuasaanya yang diramalkan akan direbut oleh bayi bernama Musa. Raja Berenge melakukan operasi militer dengan merazia bayi-bayi yang baru lahir dan wanita-wanita yang tengah mengandung.

Bayi-bayi langsung bunuh sementara wanita-wanita hamil digiring ke sebuah sungai untuk dieksekusi. Cara pengeksekusiannya, tangan wanita-wanita itu diikat dengan seutas tambang. Setalah itu mereka digantung diatas sungai. Raja Brenge-pun datang dengan sebilah tombak. Satu per satu wanita –wanita hamil itu ditusuknya. Perut mereka robek. Dan hujan darahpun mengguyur negeri. Raja Berenge pun tertawa puas. Ia tak takut lagi kekuasaannya terancam. Ia sentosa dalam kebiadabannya yang tak terperi.

Begitulah sifat raja sesungguhnya. Raja adalah pemilik kuasa. Diktator-diktator kejam, memaksa, memeras, menggusur, menindas bahkan membunuh. Untuk melanggengkan kekuasaannya, raja biasanya tak segan melegalkan segala cara. Karena posisi rakyat bagi seorang raja tak lebih dari babu-babu, hamba-hamba, sahaya-sahaya, kawula alit-kawula alit yang harus manut, penurut dan penakut. Semua rakyat akan tenggelam dalam ketakutan, kecuali kaum oportunis yang bisa menjilat muka sang maha raja.

Setiap kekuasaan entah namanya Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, Ketua Partai, Ketua DPR, Ketua Polisi, Ketua Tentara, Ketua Organisasi Masyarakat, Kepala Desa, Kepala Dusun, Ketua Rukun Tetangga (RT), Ketua Rukun Warga (RW) hingga ketua Perhimpunan Kusir Cidomo, sebetulnya –pada hakekatnya- juga tersimpan sifat (ke)raja(an)an seperti itu. Dan biasanya setiap kekuasaan selalu saja disalahgunakan oleh orang yang punya kekuasaan (Abbuse Of Power).

Diera selanjutnya bentuk fisik raja dan kerajaan memang berhenti dan hanya tertinggal di lontar-lontar sejarah yang mungkin hanya tersimpan di museum nasional. Tapi bentuk substansi raja dan kerajaan tetap saja bermetamorfosis lebih canggih mengikuti arus perubahan masa ke masa. Di era 20 hingga 40-an, raja dan kerajaan itu bernama kolonialisme. Diera 50-an berubah menjadi demokrasi terpimpin ala Sukarno. Setelah itu tahun 80-an berubah lagi menjadi Orde Baru ala Suharto. Lengsernya Suharto dan terbukanya kebebasan, raja dan kerajaan masih juga eksis. Kali ini bentuknya partai politik.

Karena substansinya sama dengan raja, kekuasaan apapun selalu bertindak sama seperti raja terkecuali modelnya yang berbeda. Mereka mungkin tidak main bunuh seperti kisah rakyat “Raja Berenge” yang kejam itu tapi dengan modus yang lain seperti korupsi, kolusi, nepotis, jalan-jalan ke luar negeri, menaikkan gaji dan tunjangan sendiri, mendongkrak harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Sembako serta banyak lagi yang lain. Bentuk-bentuk ini kita namakan otoritariasme raja-raja modern.

Sadar atau tidak, dengan melakukan hal-hal itu mereka (para raja) telah secara sengaja membunuh rakyat. Mungkin tempat eksekusinya tidak di atas sungai yang berdarah-darah, tapi mereka di eksekusi di atas lahan sawah mereka, di atas bumbung genteng rumah –rumah mereka bahkan ada yang dieksekusi di pinggir jalan. Mereka-mereka petani miskin yang tak mampu beli pupuk, buruh-buruh yang tak jelas upah, sopir-sopir yang tak jelas gaji, pengemis yang kelaparan tiap hari, anak jalanan, gembel dan masih banyak lagi. Mereka semua rakyat sama persis dengan kaum Bani Israi’il yang ditindas Fir’aun dan dibela Musa Alaihis Salam.

Di propinsi ini sebentar lagi kita akan memilih pejabat yang disitu mereka memiliki kekuasaan; sama dengan raja; pemilihan Gubernur (Pilgub). Dan kita tidak ingin di perhelatan penting itu raja-raja naik tahta. Sekarang bukan lagi jaman Jaka Tingkir atau Empu Gandring yang hidup di dunia rimba raya persilatan. Siapa yang kuat dia yang menang, siapa yang berotot dia yang hidup.

Kita akan memilih seorang Gubernur dan wakil gubernur yang pemimpin, yang pengayom, yang melayani, yang rendah hati, yang berakal sehat. Dan lagi tidak rakus dan menindas. Harus diingat kita tidak akan memilih raja karena tak ada istilah itu sekarang. Kecuali raja nurani yang berpihak pada rakyat. Ataupun jika dipaksa daerah ini harus dipimpin seorang raja maka rajanya adalah rakyat sendiri; itu tawaran terakhir.

Namun rasanya itu tidak mungkin ujar Mohammad Sobari dalam esainya di sebuah media massa. Alasannya, ruang sejarah kita telampau padat dengan kekuasaan raja-raja, pangeran, patih, adipati dan putri-putri yang sejarahnya tak pernah menghitung peran rakyat. Sobari menambahkan, kita ini masih hidup dalam “Kratonik Idelogi” namun secara tidak sadar kita kira yang sedang kita bangun adalah demokrasi dan pembebasan untuk rakyat padahal tidak samasekali. (Kompas, 25/2/2007)

Oke, sesuatu yang tidak mungkin tak usah kita logis-logiskan menjadi sesuatu yang mungkin. Kita ikhlaskan saja diri kita ini jadi rakyat dan biarkan mereka melaju menjadi penguasa. Asal satu catatannya kita, kita tak ingin hidup dalam aroma ketakutan, dibawah bayang-bayang ancaman, di uber-uber pentungan polisi pamong praja yang buas, atau kebijakan penguasa yang membuat suasana semakin tidak nyaman.

Dan kita sebagai rakyat mesti juga nyadar sesadar-sadarnya bahwa kita punya daya, kita punya kekuatan, kita adalah rakyat yang berkuasa, ditangan kitalah kekusaan sesungguhnya, suara rakyat adalah suara tuhan. Dengan demikian, jika kekuasaan raja-raja itu suatu saat melenceng dengan keinginan kita, kita bubarkan saja ; kita revolusi; kita ganti lagi.

Dan sifat raja pasti ada di setiap calon Gubernur mendatang. Maka saatnya rakyat membuka mata membuka telinga, membuka hati dan fikiran untuk memilih Gubernur yang benar. Rakyat mulai sekarang harus belajar memilih supaya tidak salah pilih lagi. Jika boleh usul, Pilih Gubernur yang sanggup menjadi rakyat sekaligus sanggup menjadi raja, layaknya Umar Bin Khattab sahabat nabi itu.

Sejarah kita harapkan berubah. Mimpi rakyat tentang kesejahteraan-pun bisa berlanjut di kehidupan riil ketika saatnya rakyat terjaga, bangun dan pergi cuci muka. Setelah itu didepan mata, rakyat melihat kehidupan yang bukan sekadar mimpi tapi benar-benar realistis berupa kehidupan yang adil, bermoral, makmur, sejahtera, gemahripah loh jinawi, tak ada lagi korupsi, tak ada lagi kolusi. Semuanya aman, tenteram, dan rakyat bisa tertawa bebas, ikut bersenang-senang dan yang lain bisa bekerja dengan nyaman. Semoga ini lagi-lagi tak sekadar mimpi! Mimpi tak terbeli dari republik yang sebenarnya juga mimpi.

* Peneliti Pada Islamic Institut Mataram dan Aktifis Jaringan Islam Kampus (JARIK) Mataram, Email: jhelliemaestro@gmail.com

Iklan

1 Komentar

Filed under Opini

One response to “Asal Bukan Raja

  1. Kami sangat prihatin kepada mereka yang membicarakan soal Islam ini atau Islam itu dan saling menuduh mengharamkan, menyesatkan, mengkafirkan dan lain sebagainya.
    Sebenarnya semua dari mereka itu sama-sama tidak mengetahuan apa-apa tentang Islam.
    Kalau memang mereka itu benar-benar orang yang beragama Islam hanya satu atau tunggal yang wajib diperhatikan yaitu wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan:

    1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Allah menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab.

    2. Fushshilat (41) ayat 44: Datangnya Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab.

    3. Thaha (20) ayat 114,115: Datangnya Allah menyempurnakan pewahyuan Al Quran, berkat do’a manusia tentang ilmu pengetahuan agama.

    4. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Datangnya Allah membangkitkan ilmu pengetahuan agama.

    5. Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Baqarah (2) ayat 208, Al Hajj (22) ayat 78: Datangnya Allah menyempurnakan agama dari agama disisi Allah adalah Islam sejak dahulu secara kaffah menuju kepada agama Allah.

    6. An Nashr (110) ayat 1,2,3: Datangnya Allah menciptakan Agama Allah, sebagai wadah untuk globalisasi agama dengan semua aliran agama masuk berbondong-bondong kedalamnya untuk mempersatukan umat manusia sesuai An Nahl (16) ayat 93, mencapai kemenangan Allah.

    7. At Taubah (9) ayat 97: Kesemuanya itu turun di Negara Panca Sila pada awal millennium ke-3 masehi dan ditolak oleh orang yang kearab-araban.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s