Gak Jilbab, Soo What Gitu Bro?


howtohijab2.jpg
Apakah dengan tidaknya saya memakai kerudung itu adalah sesuatu yang salah?, akan tetapi jilbab yang seharusnya tidak pernah dipermasalahkan selama ini kepada saya, padahal selama ini saya masih berkerudung akademik saja. Dan belum berjilbab.

Iyya Maliya*

Apakah saya bukan perempuan baik-baik?

: saya masih belum tau apa saja criteria perempuan baik-baik. ….
Karena duniaku tidak mengajarkan apa yang baik, tapi apa yang aku inginkan. Tanpa menilai apakah itu baik atau tidak! Tapi, tetap konsekuensi dengan segala keputusan dan bertanggungjawab dengan pilihan.

Ketika akan masuk ke SMP ortu saya menawarkan untuk masuk MTs Muhammadiyah karena saya tidak lolos masuk SMP Negri. Dengan segera saya menolak tawaran ke MTs atau SMP Muhhamadiyah alasannya sederhana karena saya tidak ingin memakai kerudung ke sekolah.

Orang tua saya juga tidak memaksa saya untuk masuk kesekolah tersebut. saya rasa alasan orang tua saya menawarkan saya untuk sekolah disana bukan karena mereka menganut paham/aliran salah satu dari itu, melainkan karena factor biaya yang relative murah dibandingkan dengan sekolah swasta yang lain.

Dan pada akhirnya sayapun masuk pada salah satu SMP swasta pilihan saya. Dengan salah satu alasan sekolah tersebut tidak memakai kerudung dan lagi pula memang cukup baik kualitasnya meski biayanya agak sedikit mahal.

Sayangnya, Ketika memasuki tahun ke-2/ naik kelas 2, sekolah sayapun menerapkan aturan baru, yakni 5 menit pada jam pertama sebelum melasanakan kegiatan belajar para siswa diharuskan untuk membaca Al Qur’an terlebih dahulu. Peraturan itupun tak pelak saya tolak, dengan alasan bahwa kita adalah umat muslim dan membaca al-Qur’an itu adalah sesuatu yang baik dan juga mendapatkan pahala.

Hingga memasuki kelas 3 cawu ke-2, ada peraturan yang mewawajibkan siswinya untuk memakai kerudung setiap hari jum’at. Dan jika tidak melaksanakannya maka akan mendapatkan teguran dari guru kesiswaan. Sayapun tidak merasa keberatan dengan aturan itu, hanya saja kagok untuk membuat baju seragam baru yang dalam beberapa bulan lagi sekolah saya tuntas. Alhasil setiap hari jumat saya memakai kerudung meski seragam itu saya pinjam dari kakak saya yang sekolahnya memakai kerudung. Walau terkadang saya juga tidak mematuhinya karena lupa atau disengaja. Karena aturan dikerudung pada hari Jum’at itu ada ketika waktu akhir-akhir SMP saya selesai, saya juga tak terlalu memikirkan aturan itu.

Menginjak SMA pun saya tetap memilih sekolah yang bebas seragamnya dalam artian tidak memakai kerudung, karena saya tidak merasa PD jika berkerudung. Mengingat postur tubuh saya yang tidak semampai. Ketika selesai melaksanakan MOS kepala sekolah mengumumkan peraturan yang harus ditaati oleh siswa dan siswinya. Ternyata, dari pihak yayasan menerapkan aturan baru yakni seluruh sisiwinya harus memakai kerudung/jilbab dan itu didukung penuh oleh kepala sekolah saya. Pada awalnya hal itu membuat saya kecewa, tapi tak apalah toh saya masih bisa tidak memakai kerudung diluar jam sekolah. “Itu hanya sekedar seragam” pikir saya.

Namun hal itu tidak disetujui oleh beberapa siswi, mereka merasa keberatan dengna aturan itu. Sampai-sampai mereka mengumpulkan massa untuk berdemo ke kepala sekolah agar peraturan itu dicabut dan kembali keperaturan lama. Tapi, saya tidak mengikuti aksi itu, saya fikir bahwa itu adalah aturan dan sebagai siswi saya hanya bisa mengikuti dan jika tidak ingin mengikuti peraturan, pindah sekolah saja memilih yang bebas. Pada hari pertama sekolah rekan-rekan saya berdemo dengan tidak memakai seragam berkerudung. Itu berlangsung hingga beberapa hari. Otomatis kepala sekolah saya tak suka hal itu dan menantang mereka (yang berdemo) sejauh mana keberaniannya.

Tetapi bagaimanapun usaha teman-teman saya tak membuahkan hasil, malah sebaliknya jawaban yang diberikan kepala sekolah ringan dan cukup menyakitkan seperti apa yang telah kufikirkan sebelumnya. “jika kalian tak ingin mengikuti peraturan yang ada disini, gampang kalian tinggal angkat kaki dari sini dan cari sekolah lain yang sesuai dengna keinginan kalian”, jawabnya dengan tegas. dan pada akhirnya mereka yang berdemopun pasrah pada aturan.

Tapi tetap tak menyurutkan mereka untuk tampil modis, meskipun memakai kerudung tetap saja tak sesempurna apa yang diharapkan sekolah. Dan pada akhirnya menjadi langganan razia termasuk saya.

Kini, masalah itupun kembali menghatui saya, ketika saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke UIN yang berbasis islami. Kebiasaan saya yang tidak memakai kerudung sehari-hari membuat saya lenggang berjalan tanpa merasa dosa jika tidak memakai kerudung keluar. Ataupun ketika ada laki-laki disekeliling saya, karena saya menganggap bahwa itu adalah hal yang biasa.

Lain halnya dengna teman-teman saya yang ada dikosan. Mereka akan bertanya dulu siapa yang datang ketika pintu kosannya ada yang mengetuk, jika perempuan maka akan segera dibuka dan jika laki-laki mereka akan ribut satu dengan yang lainnya seperti tidak pernah melihat makhluk laki-laki sebelumnya, untuk mencari kerudung. Dan tidak membiarkan rambutnya terlihat oleh laki-laki. Pada awal kedatangan saya kesini saya merasa aneh dengan keadaan itu, kenapa harus demikian?.

Sekarang setelah saya hampir 2 tahun berada dilingkungan UIN, hal itu masih jadi beban di benak saya. Karena hingga kini saya masih belum bisa memakai kerudung seutuhnya apalagi jika untuk acara diluar jam kampus. Dan hal itupun untuk sebagian orang dianggap tidak memiliki etika, teman saya pun berkomentar “masa mahasiswi UIN tidak memakai kerudung” katanya. Hal itu tidak bisa saya jawab. Dan yang satu lagi pun tak kalah mengomentari “itukan telah melanggar etika”.

Sedikitnya saya juga merasa tersinggung ketika menyoal tentang ETIKA. Saya rasa itu tidak melanggar etika dan saya nyaman menjalaninya. Saya pun mencoba mencari tahu apa arti etika secara bahasa, dan etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Jika demikian seperti apakah atika yang seharusnya?

Dan sekarang hujatan itupun masih ada didepan mata saya tertera dalam papan ungu “berbusana yang sopan”! entah apa maksudnya, saya rasa saya terlalu sopan dengan baju yang saya pakai!!!.

Mungkin mereka tidak mengerti bahwa saya belum berjilbab!!

Apakah dengan tidaknya saya memakai kerudung itu adalah sesuatu yang salah?, akan tetapi jilbab yang seharusnya tidak pernah dipermasalahkan selama ini kepada saya, padahal selama ini saya masih berkerudung akademik saja. Dan belum berjilbab.

*Penulis adalah aktivis JarIk Bandung

Posted by JariK Bandung at 8:19 AM

Iklan

23 Komentar

Filed under Opini

23 responses to “Gak Jilbab, Soo What Gitu Bro?

  1. ya memang kebenaran itu relatif

  2. irvan

    saya tidak sepakat kebenaran itu relatif. kebenaran itu mutlak pada dirinya sebagai kebenaran yang diyakini…akan tetapi kemutlakannya tidak akan dapat menafikkan kemutlakan lain yang diyakini oleh yang lain.

  3. arni

    Jarik menyesatkan Umat….bekerjasama dg kaum kafir utk menyama ratakan agam.padahal islam tidak sama dg agama lainnya..bertobatlah kawan…..jng cuci pikiran orang dg pikiran yg bisa mengeluarkan orang dari islam…

  4. saipul kamal

    gitu aja kok repot……..ndoook….ndok.
    udahlah Ni’. kalo diperingati terus gak mau ya…!!!
    serahkan kepada Allah swt. wong tugas kita cuma nyampein kok…
    kita tidak ada hak untuk mengeksekusi orang diluar keyakinan kita. contohlah pribadi Rasulullah atau istri-istrinya…….
    Bagaimanapun di hujat dan dimaki2, tapi senyum….

    hujat di lawan hujat ya sama-sama preman sih jadinya….

    lagian kok cepet sekali kita klem mereka sesat, apa semua sisinya sudah habis kita telanjangi….
    Jangan-jangan kita yang sesat (naudzubillahumindzalik semoga bukan golongan itu)…..

  5. saipul kamal

    Yah………..
    masalah jilbab gak jilbab kan masalah kesing…
    yang penting isinya non….
    maksudku esensinya..
    kalo esensi gak kepegang, ya jilbab gak jilbab sama aja.

    tapi, esensi bagaimana seorang muslimah sejati itu yang akan menentukan dia sebaGai hamba Allah yang dicintai……..

    tapi memang tinjauan analisis sosial dari hikmah-hikmah memakai jilbab ya, kalau kita ngeliat itu….
    potensi godaan2 negatif yang datang dari luar maupun dalam itu diminimalisir dengan kondisi-kondisi yang kita ciptakan. orang yang tadinya berfikir bagaimana bisa gw dapat and gw sikat, tapi setelah make jilbab itu bagaimana gw bisa ngelindungin dia. tentunya etika hidup dan bagaimana etiket kita juga harus mendukung…dan secara psikologi; saya sebagai kaum adam merasakan gini…
    saya contohin ya..misalnya saya di senggigi, kute, trawangan…..lalu disana ada banyak bule lagi bejemur, cantik-cantik, seksi-seksi. pokoknya wah sudah…..
    tapi lama-lama karena udah ngerasa biasa kok rasanya ruang2 kenikmatan itu semakin berkurang n sempit…

    nah, dengan berjilbab memang benar kalau kita menjaga harga kita. semakin bagus proteksi yang kita ciptakan maka harga kita semakin tinggi… dalam tanda petik, “bukan dalam arti material”. orang akan lebih menghargai kita sebagai wanita…

    dan jangan khawatir, anda akan menjadi wanita seutuhnya kalau anda berjilbab..

  6. “Jarik menyesatkan Umat…..bertobatlah kawan…..…” ungkapan seperti ini pernah di ungkapkan ummat nasrani ortodoks ketika mengklaim kelompok merekalah yang paling selamat dan allah lantas memperingatkan ummat islam agar tidak mengatakan hal serupa. Maksud Allah jelas, agar kita (ummat Islam) tidak sama dengan umat nasrani yang mengklaim orang lain sesat dan menyesatkan. (tugas saya nanti akan mencari ayat tersebut)

    Hubungannya dengan komentar arni, saya kira justifikasi itu terlalu terburu-buru. Bukankah allah menyuruh kita untuk melakukan klarifikas (bhs orang-orang NU “Tabayyun” ) sebelum menghukumi orang lain salah apalagi kafir, sesat de-el-el. Lebih arif jika Arni lebih banyak lagi belajar toleransi militan ala Rasulullah ketika di Madinah.

    Untuk bang eful….
    makasih bang, kritiknya pedas menyengat….
    Komentar abang yang bilang “masalah jilbab gak jilbab kan masalah kesing doang” saya kira saya yang paling sepakat. Karena sebetulnya Islam itu bukan casing tapi isi, substansi, esensi.
    Jilbab, jenggot, jubah bahkan saya perluas Perda Anti Maksiat, UU Syari’at Islam dll. hanya simbol, yang esensi adalah….rupa batin seorang muslim yang melaksanakannya. Adilkah dia, jujurkah dia dll. Saya masih percaya bahwa Islam itu teramat dangkal jika sekadar di refleksikan dengan simbol. Islam teramat besar untuk dibungkus Jilbab…bahkan di bacaan yang yang lebih ekstrim bilang , jilbab itu bukan simbolnya orang islam!!! (maaf…lain kali kita bahas masalah ini).

  7. tanx buat temen-temen yang udah respons tulisan saya.
    -buat arni-
    saya tidak bermaksud menyesatkan.
    saya hamba_
    yang masih mencari jalan tuhan.
    [saya rasa jarik tidak menyesatkan[ percayalah
    ini bukan iklan
    tapi.
    ………………….

  8. jarik memang menyesatkan dan merupakan antek-antek kaum jionis yang ingin menghancurkan ummat islam dan sesungguhnya ada satu vara yang harus di lakukan tuntaskan jarik dan bertobatlah

  9. abu mifzal

    Assalamu’alaikum

    Ya ukhti, sebagai seorang muslimah dalam memutuskan salah dan benar bukan tergantung diri sendiri, tapi suadh diputuskan oleh Allah yang Mahabenar, jadi kalo Allah mensyariatkan jilbab maka itulah yang benar, jangan dengar yang lain, trus jangan beralasan yang penting hatinya baik, karena iamn itu adalah hubungan hati dan perbuatan, walaupun hatinya suci kalo perbuatannya melanngar syariat,hatta baik dihadapan manusia, ya tetap saja tidak/kurang imannya
    Belajarlah kepada orang yang benar-benar mengerti Islam ukhti agar jangan salah jalan

    Wassalamu’alaikum

  10. elly

    mungkin ini agak terlambat,,,tapi tidak ada kata terlambat untuk memberikan saran dan nasehat kepada saudara kita,, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang mengingatkan saudara2nya dalam kebaikan..

    saya ingin berkomentar,, pertama mengenai kebenaran..
    kalau menurut saya kebenaran itu ada yang relatif ada yng mutlak.. yang mutlak hanyalah milik Allah dan relatif adalah milik kita manusia yang tidak sempurna ini…

    yang kedua,, pastinya tentang kerudung..
    berkerudung itu memang wajib adanya, tapi itu bukan bermaksud untuk menghambat kita sebagai wanita,, justru itu semakin menunjukkan jati diri kita sebagai seorang wanita yang memang harus terjaga fitrahnya kita…

    pernah mendengar cerita mawar berduri di tepi jurang?

    saya mendapatkannya saat saya mengikuti suatu training, dan trainer itu bercerita mengenai mawar tersebut.

    ceritanya ketika sang trainer sedang memberikan training, beliau berkata kepada seluruh peserta untuk menggambarkan atau menuliskan sebuah atau lebih kata yang menunjukkan jati diri masing2 lalu menjelaskan maksudnya. para peserta pun masih agak kelihatan bingung, lalu beliau mecontohkan dirinya sendiri dan beliau menggambarkan sebuah kacang. dan peserta pun bertanya maksudnya apa.

    Trainer tersebut berkata, “kacang adalah cerminan diri saya yang garing, karena kata orang ketika saya bercanda agak garing.”
    lalu peserta tersebut mengerti dan melaksanakan hal tersebut. ada yang garing, ada yang serius poko’nya bermacam2. lalu sampailah pada seorang Akhwat yang menggambarkan dirinya adalah mawar berduri yang latar belakangnya adalah garis-garis hitam.yang lainnya agak kebingungan lalu akhwat tersebut menjelaskannya.

    ” Saya adalah Mawar berduri. Mawar melambangkan diri saya sebagai wanita dengan segala kekurangan dan kelebihannya. dan duri pada mawar bukanlah penghambat saya sebagai seorang wanita justru duri tersebut adalah pelindung sang mawar agar tetap terjaga fitrahnya supaya mawar itu tidak melupakan bahwa dirinya adalah seorang wanita yang kadang melupakan fitrahnya.” maksud dari duri tersebut adalah kerudung. kerudung bukanlah penghambat diri kita sebagai wanita. Kerudung membuat wanita semakin anggun, tak tersentuh dari sentuhan lelaki nakal, dan membuat kita semakin sadar untuk selalu mempertahankan apa yang ada dalam diri kita agar terjaga citra diri sebagai muslimah.
    lalu sang trainer bertanya, “APa maksud dari garis-garis hitam dibelakang bunga itu?”
    lalu akhwat tersebut menjelaskan “Garis hitam itu adalah jurang. ya.. saya adalah mawar berduri di tepi jurang, bukan mawar di taman yang jika dicabut oleh orang jail hukumannya adalah denda sebesar 20ribu – 50ribu Rupiah. saya tidaklah semurah itu. saya patut mendapatkan hal yang lebih dari itu, yaitu jika ada lelaki yang ingin mengambil mawar itu maka yang dikorbankannya adalah nyawa ketika mengambil mawar di tepi jurang.
    ya.. lelaki yang rela mengorbankan nyawanya untuk mendapatkan mawar tersebut. dan pastilah untuk menjadi mawar tersebut agaklah berat, karena kita harus berusaha menjaga fitrah kita agar kita memang pantas untuk mendapatkan pengorbanan yang sangat besar dari sang lelaki..”

    lalu semua yang mendengar cerita tersebut lalu berdecak kagum,, karena akhwat tersebut menggambarkan wanita begitu mulia jika mempertahankan durinya. dan subhanallah akhwat tersebut yang asalnya tidak berkerudung lalu menghijabkan dirinya.

    apakah kita tidak ingin menjadi mawar berduri di tepi jurang yang amat bangga akan durinya?

    wallahualam bi showab..
    saya pun masih tahap untuk menjadi mawar tersebut..
    karena itu yuk.. kita bersama2 memperbaiki diri dan selalu berharap Ridho Allah SWT. karena kita hidup di dunia ini adalah untuk mencapai Ridho-Nya

    semoga Allah selalu meridhoi apa yang kita lakukan.

  11. buat yg kontra, tolong dibaca baik-baik ayatnya,

    Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.(QS 33:59)

    perhatikan baik2 dan tolong dibaca berulang-ulang, lihat buntut ayat itu, jelas-jelas pemakaian jilbab itu bukan untuk ibadah tapi untuk:

    Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.

    lebih tepatnya ayat itu bukan suatu perintah tapi suatu anjuran, sehingga tidak ada dosa kalau tidak pakai jilbab

  12. tyan

    maaf, kenapa mesti meributkan berjilbab dan g berjilbab? saya memang berjilbab, tapi kadang sayapun bimbang dengan ini, karena selama ini saya menemukan (maaf sebagian besar) wanita berjilbab tapi akhlaknya sama saja, bahkan saya punya teman yang tidak berjilbab tapi akhlaknya sangat saya kagumi. Cuma satu yang pernah saya tahu saya merasa dihargai oleh orang terutama cowok yang baru saya kenal, mungkin karena jilbab saya, mereka tidak berani berperilaku kurang ajar, bahkan ketika ingin membonceng mereka minta izin dahulu, saya merasa dihormati dan tidak dilecehkan…..Heeeee
    Oh ya saya tidak begitu tahu mengenai JIL, ada yang mau jelaskan kepada saya? terus terang saya baru 4 thun belajar mengenai islam…lumosfire@yahoo.com

  13. TGH.Nizar AL_Kadiri

    Kalian itu ya…
    kenapa.. Whay?
    selalau.. always?
    tidak pernah.. never?
    tetapi.. but!!!!!!!!!!!!!
    Dasar…………………………………………..

  14. Wow. seru sekali perdebatannya.. alangkah menariknya jika komentar-komentar anda diulas dalam sebuah artikel kemudian dikirimkan ke blog ini…terima kasih!

    Salam
    http://www.jhelliesite.blogspot.com/

  15. ceknah

    Asslamualaikum. wahai saudari sesunguhnya memakai jilbab itu adalah arahan Allah terhadap hamba,hukumnya wajib ,akhlak itu pakaianya yang perlu dijaga dan dikawal rapi.sebagai hamba Allah wajib taat pada perintahnya. samada diterima atau tidak bukan urusan kita.kita hanya menjalankan tugas sebagi hambanya . setiap yang kita lakukan mengikut undang-undang Allah adalah ibadat.

  16. ima

    nikmatin aja kebebasanmu sebagai wanita yang bebas bergerak, dan menentukan pilihan………………

  17. wadon_nurut

    kalo ada yang salah jangan disalahkan baju tapi orangnya… dan saiton yang mengoda manusianya

  18. niyuga

    ass.
    aq jg lgi thap pmblajaran pake krudung qo . .
    smua.nya kan ada proses . .
    stidak.nya mba ud ada ksadaran . .
    mulai dlu aja dgn pke bju pnjang2 dlu tapi jgn ktat . .
    qlaw dirasa ud biasa bru pke krudung . .
    (sbenernya pke krudung tu enaq lhoo)
    nb: tetep bisa stylish qo pke jilbab n tetep sesuai hukum syara` .
    ^_^

  19. GOGON

    SADARLAH KAWAN……….
    KALAU MAU JADI WANITA SOLEHA NGAK JADI WANITA KAFIR………

  20. Wanita baik pake jilbab
    tidak semua wanita baik berjilbab.

    mau dibilang wanita baik, ya musti berjibab

  21. Za

    Harga diri seorang perempuan tidak ditentukan apakah dia berjilbab atau tidak.

    Perempuan berjilbab punya harga diri yang persis sama dengan perempuan tak berjilbab.

    Don’t let yourself blinded by something that’s so superficial.

    Terima kasih.

  22. HASAN

    harga diri memang tidak ditentukan oleh jenis pakaian yang dipakai
    tetapi tidak memakai pakaian juga bisa menghilangkan harga diri
    tidak memakai kerudung dan jilbab sama dengan tidak memakai pakaian (dengan sempurna)
    kesimpulan..
    tidak memakai pakaian dan tidak memakai pakaian yang menutup seluruh aurat sama-sama memalukan

  23. Anti jilbab penganut iblis !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s