NU Versus Gerakan Transnasional


ef21126808627.jpg
Sudah berkali-kali para kiai NU menegaskan Indonesia dengan Pancasila dan NKRI-nya merupakan keputusan final. Bagi NU, Pancasila bukanlah ideologi transisi yang secara terpaksa diterima karena politik belum memungkinkan tegaknya ideologi definitif; ideologi Islam misalnya. Ada konsensus di kalangan NU bahwa ideologi Pancasila bagi Indonesia adalah qath’i.

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Baru-baru ini, Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) mengeluarkan seruan penting, sebagaimana dilansir NU Online, 24 & 25 April 2007. PBNU meminta masyarakat Indonesia hati-hati terhadap gerakan transnasional yang berkembang di Indonesia. Gerakan ini dinilai potensial menghancurkan ideologi negara Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.

Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, menyebut Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, dan al-Qaeda sebagai bagian dari international political movement (gerakan politik dunia) yang tak punya akar budaya, visi kebangsaan, dan visi keumatan di Indonesia. Menurut Hasyim, organisasi-organisasi tersebut telah menjadikan Islam sekadar sebuah ideologi politik, bukan jalan hidup.

Lebih jauh, Hasyim menengarai bermunculannya tendensi formalisasi agama sebagai indikator gerakan mereka. Padahal, tegas Hasyim, yang perlu dilakukan mestinya bukan formalisasi melainkan substansialisasi agama.

Kiai Hasyim pun gerah terhadap tindakan mereka yang menghujat kebiasaan amaliah-ritualistik warga NU. Mereka itu, tandas Hasyim, juga telah mengambil-alih masjid-masjid yang dulu didirikan warga NU. Hasyim meminta warga NU menjaga masjid-masjid tersebut agar tak dijadikan pangkalan untuk menyerang NU dan republik.

Untuk mengantisipasi pergerakan mereka, demikian Hasyim, sekurangnya ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, pemantapan ideologi negara Pancasila. Semua gerakan politik di negeri ini harus berasaskan Pancasila, bukan yang lain. Kedua, perlunya mengukuhkan sendi-sendi Islam moderat hingga ke level bawah masyarakat. Islam moderat inilah yang berpandangan toleran (tasamuh) terhadap pluralitas yang ada di Indonesia.

Sebagai orang yang terlahir dari kultur NU, saya memahami kegelisahan PBNU tersebut. Taushiyah itu kiranya tak mengada-ada. Ia disusun setelah memperhatikan data-data empiris, bukti-bukti otentik, dan laporan dari para kiai NU di daerah-daerah. Dan kewaspadaan NU cukup beralasan, karena kaum nahdiyyin tak rela Indonesia dalam petaka.

Semua tahu, NU adalah salah satu ormas keagamaan yang ikut mendesain berdirinya republik ini. Indonesia tegak, salah satunya, karena darah dan air mata para kiai dan warga nahdiyyin. Kaum nahdiyyin berjuang memanggul bambu runcing dan tongkat untuk mengenyahkan para penjajah. Kaum nahdiyyin bukan hanya berkorban harta, bahkan jiwa pun mereka pertaruhkan untuk rumah bernama “Indonesia”.

Demikian besar pengorbanan banyak orang demi tegaknya Indonesia. Karena itu, wajar kalau NU geram terhadap sejumlah organisasi yang baru muncul seumur jagung dan berpretensi ingin mengubah ideologi negara. Sudah berkali-kali para kiai NU menegaskan Indonesia dengan Pancasila dan NKRI-nya merupakan keputusan final. Bagi NU, Pancasila bukanlah ideologi transisi yang secara terpaksa diterima karena politik belum memungkinkan tegaknya ideologi definitif; ideologi Islam misalnya. Ada konsensus di kalangan NU bahwa ideologi Pancasila bagi Indonesia adalah qath’i.

Karena itu, siapa pun yang ingin mengubah Pancasila dan NKRI, langsung atau tidak langsung akan berhadapan dengan ormas keagamaan terbesar itu. Keinginan Hizbut Tahrir untuk membentuk khilafah islamiyah, suka atau tidak suka akan bertubrukan dengan sikap para kiai NU. Begitu juga kehendak ormas-ormas kecil untuk menyulap Indonesia menjadi negara Islam.

Sebagaimana NU, kita juga menghendaki berlanjutnya Indonesia sebagaimana dikehendaki para founding father & mother bangsa ini. Untuk itu, komitmen kebangsaan dan ketundukan semua warga negara terhadap ideologi Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, mutlak diperlukan. Pengabaian terhadap ideologi negara bisa saja mengantarkan Indonesia ke proses balkanisasi.

Jika itu yang terjadi, Indonesia bukan hanya akan tersisa dalam buku-buku sejarah, karena sosoknya sudah ilang kerta ning bumi, tapi konflik antar anak bangsa pun bisa jadi tak terelakkan. Kita jelas tak menginginkan itu. Itulah pentingnya memperhatikan taushiyah PBNU kali ini.

SUMBER: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1251

Iklan

21 Komentar

Filed under Opini

21 responses to “NU Versus Gerakan Transnasional

  1. yoa..emang c, gerakan-gerakan fundamentalis-radikal-transnasional seperti itu, lama-lama dapat mengikis bingkai islam kebangsaan kita. terlebih kelompok-kelompok tersebut tidak kurang hanya meneropong dari jauh konteks keummatan dan kebangsaan Islam di Indonesia.
    mungkin kita, jaringan islam kampus, sudah bisa mulai melakukan kampanye anti gerakan-gerakan versi itu.

  2. tie2n

    wow…keren….knapa semua golongan itu sama? samanya bukan sama yang baik, samanya itu mbok yo’o sama-sama berjuang menegakkan kebenaran tanpa memandang adanya golongan! kalau semua menganggap golongannyalah yang paling bener ya pasti semua masalah perdebatan ini nggak akan usai…menurut saya bukan golongan NU, Muhamadiah, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, atau apalah….menurut saya golongan yang benar adalah golongan yang di kehendaki oleh Allah untuk menerima kebaikan itu sendiri, golongan ini adalah golongan yang mendapat petunjuk dari Allah. kalau anggapan ini dianggap masih semu ya memang agama itu semu, hanya Allah yang berkuasa kepadakita, kita hanya semu, kalau ALLAH menginginkan kita baik ya kita pasti baik, kalau Allah menginginkan kita bejat ya sudah tidak ada yang bisa menolong kita, bukankah Allah yang menguasai hati dan yang membolak-balikkan hati kita?

  3. irvan

    yang dimaksud manusia dan agama semua itu pada aspek yang mana? karena kita masih dapat menentukan pilihan pada posisi tertentu tanpa merenung sekalipun….
    orang gila yang dinyatakan tidak punya pilihanpun, tetap memilih sebagai mana layaknya pilihan sesuai dengan kadar yang “diketahui”. manusia semu pada satu sisi tapi juga pasti pada sisi yang lain–karena itu manusia bisa merasa sakit, senang dan susah.

  4. abu mifzal

    Nggak usah dianggap omongan pengecut dan munafik kayak gitu
    Waktu ngediriin PKB katanya bukan partai isalam tapi pake lambang NU, trus manfaatin jaringannya NU, kan munafik namanya biar dibilang modern tapi tetep kampungannya nggak ilang

    Tiada kemuliaan tanpa Islam,
    Tak sempurna Islam tanpa syariat,
    Tiada syariat tanpa Daulah Khilafah Rosyidah

    Rasul bersabda:
    “Di tengah-tengah kalian terdpt zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”. beliau kemudian diam.
    (HR Ahmad dan al-Bazar)

    Allohu Akbar

  5. apa yang menjadi pedoman kalian ? Alqur’an dan assunah atau pancasila dan NKRI
    kalau antum emang orang yang beragama Islam harusnya antum lebih berpegang terhadap Alqur’an dan Assunah yang sudah jelas2 menjadi pedoman hidup kita
    jelas2 Rosul bersabda :” kemudian akan datang khilafah yang akan mengikuti manhaj kenabian” tapi ko knp menolak tentang wajibnya menegakan KHILAFAH
    kalo emang pancasila dan NKRI sudah hasil final sampai sekarang apa yang RAKYAT (rakyat yang kecil khususnya ) bisa rasakan malahan kami tambah susah.coba antum semua ingat pada saat dulu khilafah tegak bukan hanya orang muslim yang merasakan kemaslahatan tapi kalangan non muslim jga merasakan ..SAATNYA KHILAFAH MEMIMPIN DUNIA

  6. Rasyid Ridho

    Wah seru banget komentar kawan-kawan….ikutan dong
    Menurutku…idealisasi khilafah seperti yang utopiakan kawan Komar seungguh absurd…
    Khilafah sangat tidak kontekstual di jaman seperti sekarang. Dulu memang iya untuk mempersatukan ummat islam se-dunia, perlu ada satu khalifah yang memimpin, tapi realitasnya…anda membaca sendiri, pasca dua khalifah Umar dan Abu bakar, Islam di goncang dengan perseteruan politik yang sangat dahsyat….kerajaan-2 islam berubah menjadi era kanibalisme dimana yang kuat dialah yang menang….ditambah lagi KKN menjalar bagai parasit…
    Inikah yang anda maui terulang kembali…..????
    Satulagi, Islam itu anda harus fahami tidak tunggal…bukan hanya islam di Arab yang pakai jenggot, surban atau jilbab. Bukan hanya Islam yang menggunakan sistem pemerintahan khilafah…tapi islam saat ini adalah islam yang beragam.
    Anda tidak bisa mengatakan orang-orang afrika, ethiopia, amerika, australia dan lain sebagainya yang tak menggunakan perangkat-perangkat khilafah lalu anda percayai mereka masuk neraka….
    Khilafah macam mana yang anda inginkan? sungguh anda orang islam yang tak mau maju. Sekarang bukan jaman onta bung!

  7. abu mifzal

    Untuk kawan Rasyid, yang punya kekurangan bukan cuma sistem khilafah, tapi antum jangan lupa, semenjak indonesia “merdeka” yang berdasarkan pancasila kapan rakyat merasakan keadilan?, jadi pancasila absurd juga dong?, yang jelas hukum buatan Allah pasti lebih baik dibanding hukum buatan manusia,siapapun orangnya. dan satu-satunya hukum yang dicontohkan Nabi dan shahabat adalaj khilafah,
    Yakinlah akan janji Nabi ” Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”(H.R Ahmad)
    Sesungguhnya janji Allah pasti terjadi
    Allohuakbar

  8. asalamu’alaikum.wr.wb. Wahai saudaraku semua, janganlah kalian bercwerai berai karena Alloh telah jelas-jelas mengharamkanya. Olehkarenanya, janganlah kalian meprovokasi muslim yang satu untuk memusuhi muslim yang lain. Ingatlah hari penghisaban. Lebih bijaksanalah kalian dalam berucap. Senangkanlah saudara-saudara kalian. jalinlah ukhuwah dengan mereka. Itulah yang akan menyelamatkanmu dari api neraka. Keselamatan bagi yang mengikuti. Matur nuwun

  9. wong tuo

    PODHO2 ISLAM-E MBOK SING PODHO RUKUUUN… GAK USAH KAKEHAN CANGKEM.. BENER UTOWO SALAH DISERAHNE WAE NENG PENGADILANE GUSTI ALLOH SWT..
    Saya tidak menyangka perkataan itu keluar dari seorang kyai NU. Saya dibesarkan dikeluarga nahdiyin, para Kyai NU yang saya kenal selalu berkata lurus(selalu bersandarkan Qur’an-Hadits). Sedangkan Kyai NU yang ini, justru sebaliknya. Malah menentang Qur’an-hadits, Naudzubillah. Kalau hal ini terus berlanjut, saya yakin warga nahdiyin akan menjauhi pemimpinya atau bahkan keluar dari NU, seperti saya misalnya. Saya menganggap para pemimpin NU tidak memperjuangkan Islam lagi. Semoga semoga para pemimpin seperti itu mendapat petunjuk, tidak memprovokasi atau membenturkan warga nahdiyin dengan saudaranya yang diluar NU.Amin

  10. wong tuo

    Saya tidak menyangka perkataan itu keluar dari seorang kyai NU. Saya dibesarkan dikeluarga nahdiyin, para Kyai NU yang saya kenal selalu berkata lurus(selalu bersandarkan Qur’an-Hadits). Sedangkan Kyai NU yang ini, justru sebaliknya. Malah menentang Qur’an-hadits, Naudzubillah.PODHO2 ISLAM-E MBOK SING PODHO RUKUUUN… GAK USAH KAKEHAN CANGKEM.. BENER UTOWO SALAH DISERAHNE WAE NENG PENGADILANE GUSTI ALLOH SWT.. Kalau hal ini terus berlanjut, saya yakin warga nahdiyin akan menjauhi pemimpinya atau bahkan keluar dari NU, seperti saya misalnya. Saya menganggap para pemimpin NU tidak memperjuangkan Islam lagi. Semoga semoga para pemimpin seperti itu mendapat petunjuk, tidak memprovokasi atau membenturkan warga nahdiyin dengan saudaranya yang diluar NU.Amin

  11. BAoak Aisyah

    Pada hakekatnya “Islam Kebangsaan” seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Tarbiyah Islamiyah, Al Washliyah dan Gerakan Islam Transnasional IM, Salafy maupun HT adalah aset Ummat meskipun cara dakwahnya berbeda-beda. jangan saling curiga satu sama lain karena keegoan masing-masing. Ingat Alhamdulillah Islam pasca semenj tahun 80an sampai sekarang reformasi mengalami semangat kesilaman dan islamisasi semua aspek kehidupan tanpa mempertentangkan nasionalisme atau kebangsaan. kedua-duanya adalah aset bangsa dan umat. saling mengisi bahu membahu untuk mencerahkan ummat. sudah saatnya kita bangkit dari keterpurukan menjadi islam yang jaya dan rahmatan lil ‘alamin. Gerakan ISlam Trnasnasional saya lihat tidak ada perilaku mereka yang menyipang dari norma hukum dan agama mereka juga meyesuaikan dengan kondisi keIndonesiaan dan mengikuti perkembangan zaman(moderat) tidak kaku atau jumud. maka biarlah yang baik dari gerakan lokal maupun dari luar dipertentangkan dan berkembang dan sama-sama fastabikul khoirot aja dech.

  12. ovhi

    sekarang mulai dari diri kita aja dulu kayaknya gak semua yang di katakan sama ketua PBNU kita itu bener semua deh buktinya, saya dari keluarga NU tulen yang setiap jum’at yasinan gak pernah di bid’ahkan sama teman2 dari Ikhwanul muslimin. terlebih lagi di keluarga saya emang terdapat berbagai golongan dari HT, IM, Muhammadiyah dan ayah saya sendiri dari NU kayaknya sih itu sih cuma kebetulan aja and mungkin ada beberapa orang ikhwanulmuslimin yang memang belum fahim dengan hakikat persaudaraan itu sendiri kayak gitu kaleee but gak semuanya orang IM kayak gitu bro. inget kawan kalo mau damai yah dari diri kita aja dulu yang berusaha jadi air. jangan nyari perbedaan mulu kapan mau damainya islam. jadi mirisssssssssssssss guwe kalo semua pada saling’jontos’

  13. hadi putra

    .Allah tujuan kami,rasulullah teladan kami,jihad jalan kami,mati syahid cita2 kami,daulah islamiyah adalah harga mati.

  14. hadi putra

    berhukum kepada hukum selain Allah adala syirik,apakah mungkin orang islam memakai aturan kafir? apakah mungkin islam akan tegak di negara yang bukan isalam?mari kita renungkan pertanyaaan ini “innaddiina ‘indallaahil isalam” sesungguhnya dien yag diridhoi Allah hanyaalah islam.

  15. hadi putra

    mari kita telaah sila2 pancasila ,salah satunya “ketuhanan yang maha esa” yang perlu digaris bawahi adalah kata KETUHANAN dalam bahasa indonesia awalan KE_AN berarti banyak misalnya dipakai untuk kata pulau menjadi kepulauan yg artinya banyak pulau,jika dipakai untuk kata tuhan akan menjadi berarti banyak tuhan,nah kalau ditelaah semua sila pancasila semua mengambang,ini yg kita jadikan aturan hidup?ini yg dijadikan warga NU yg katanya islam untuk jadi aturannya,istighfar kepada Allah!

  16. kasman

    Masyarakat muslim tidak punya harapan lain kecuali kepada NU menganut paham Ahlussunah waljama’ah, dengan berpedoman pada al-Qur’an, sunnah, juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas dengan mengembangkan metode yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.NU adalah satu-satunya kekuatan umat Islam yang akan mampu melakukan menegakkan kembali Khilafah. Hanya Nu lah yang akan bisa menerapkan Syariah dan Khilafah, bukan HT atau yang lain-lainnya itu.

  17. gugid

    Berbagai wacana tentang khilafah telah meyakinkan bahwa problematika umat manusia sekarang ini, butuh solusi tuntas. dan solusi tuntas itu butuh suatu motor yang beraqidah benar separti para ulama NU dan kadernya. Yang patut kita garisbawahi bahwa khilafah hanya akan bisa ditegakkan oleh ulama-ulama seperti kader-kader NU. Kalau khilafah berdiri di negeri ini, maka NU-lah yang akan menegakkannya bukan yang lain.

  18. Ijang Permana Sidik

    “Sesungguhnya tiap orang muslim adalah bersaudara. Janganlah satu golongan mengolok2 golongan yang lain, boleh jadi orang yang diolok2 itu lebih baik dari orang yang mengolok2.”

    Akhirnya jadi ingin ikut berkomentar.
    1. “Menurut Hasyim, organisasi-organisasi tersebut telah menjadikan Islam sekadar sebuah ideologi politik, bukan jalan hidup.” =>lho kok rancu ya? apa nggak kebalik.

    2. “Semua tahu, NU adalah salah satu ormas keagamaan yang ikut mendesain berdirinya republik ini. Indonesia tegak, salah satunya, karena darah dan air mata para kiai dan warga nahdiyyin. Kaum nahdiyyin berjuang memanggul bambu runcing dan tongkat untuk mengenyahkan para penjajah. Kaum nahdiyyin bukan hanya berkorban harta, bahkan jiwa pun mereka pertaruhkan untuk rumah bernama “Indonesia”.” => sepakat, mereka berjuang untuk berdirinya sebuah rumah bernama “Indonesia” dan bukan untuk pancasila dan UUD ’45. Padahal soekarno sendiri udah ngaku kok kalau uud ’45 adalah uud sementara (Baca buku konstitusi karya bagir manan).

  19. Anonim

    hidup Gus Dur!!!!!!!!!!!!!!!

  20. Ini lucu sekali ada orang Islam takut pada penerapan Islam. Lucu sekali.

  21. kusairi

    Yang takut penerapan Islam tu siapa, coba Antum cek lagi deh. Islam memang cocok pada segala situasi dan jaman. Tapi Islam yang mana? yang jelas Islam yang rahmatan lil Alamin. Islam yang rammat Lil alamin tentunya harus disesuaikan dengan konteks kekinian dan kedisinia, bukan Islam asal jiplak ala Timur tengah yang tak pernah lepas dari konflik berkepanjangan.
    Menurut saya maqasid Syariahnya harus dipahami secara seksama, jangan serta merta menerapkan tanpa ada penafsiran yang jelas. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s