Orientasi Perguruan Tinggi Islam Harus Diubah


dawam_rahardjo.jpg
Saat berkesempatan bicara dalam forum terbatas di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram, Prof Dr Dawam Rahardjo mengemukakan pendapatnya yang membuat Rektor IAIN Mataram Dr H Asnawi, MA, marah. Kata Dawam, jika Perguruan Tinggi (PT) Islam seperti Sekolah Tingi Agama Islam Swasta (STAIS), STAIN, IAIN atau UIN ingin maju maka sudah seharusnya beberapa mata kuliah yang kurang bermanfaat dihapus saja, misalnya fikih, tasawuf, dan ilmu kalam.

Oleh : ACHMAD JUMAELY*

Ilmu-ilmu itu menurutnya sudah tidak punya banyak manfaat lagi karena umat Islam hari ini sudah tidak lagi berhadapan dengan persoalan akidah keagamaan saja tapi lebih kompleks umat Islam bertemu dengan realitas sosial yang lebih beragam.

Karenanya menurut Dawam, ilmu-ilmu itu mesti diganti dengan ilmu umum yang lebih jelas manfaatnya seperti kedokteran, ekonomi atau sains. Lantas Rektor saya bilang dengan nada meninggi “Lalu mau diapakan mahasiswa saya, apa kata orang jika mahasiswa IAIN shalatnya tidak bener?”

Perbincangan -yang saya kira sudah tidak dalam suasana akademis- itu memperlihatkan betapa paradigma pikir beberapa petinggi PT Islam seperti Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta (STAIS), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), IAIN, dan Universitas Islam Negeri (UIN) belum terbuka perihal orientasi pengembangan PT-nya masing-masing.

Banyak yang masih konservatif memandang, keberadaan PT Islam hanya untuk mencetak kader-kader intelektual yang bermental ulama seperti yang biasa digembar-gemborkan dalam banyak pertemuan. Tanpa melihat bentangan tantangan ke depan, mereka berkutat pada pengembangan PT yang sesungguhnya terbatas pada wacana agama, khususnya fikih dan akidah saja.

Okelah, pada saat awal-awal keberadaan PT Islam ini, persoalan pembelajaran keagamaan -yang berorientasi konservatif- seperti itu masih dirasa relevan, karena saat itu kegelisahan awal para pendiri IAIN –menurut versi Atho Mudzhar- dikarenakan semakin gencarnya kristenisasi yang dilakukan umat kristiani dengan mendirikan universitas-universitas murah. Dan dikhawatirkan, gerakan ini akan -dengan cepat- memberangus akidah generasi muda Islam yang memang lebih condong pada rasionalitas yang ditawarkan dalam ilmu-ilmu umum seperti filsafat atau sosiologi yang hanya diajarkan di universitas-universitas Kristen.

Dr Satiman Wirjosandjoyo yang menjadi salah satu pencetus Sekolah Tinggi Islam (STI) -yang kemudian menjadi cikal bakal IAIN- pada tahun 1938 konon pernah berpendapat, pembelajaran keagamaan yang terpusat di pesantren-pesantren saat itu, tidak cukup mampu membendung gerakan ini terlebih lagi paska kolonial yang menawarkan westernisasi dan modernisasi.

Namun untuk saat ini, keberadaan IAIN tentu saja telah lewat dari persoalan-persoalan akidah dan fikih seperti itu. Generasi muda Islam sekarang dituntut mampu menjawab persoalan-persoalan terkini, terutama yang berkaitan dengan sains dan tekhnologi modern. Nah pemikiran Dawam -ketika ia mengusulkan mata kuliah agama seperti fikih, tasawuf dan ilmu kalam dihapus – saya kira masih dalam frame seperti itu.

Maka, upaya membuka fakultas-fakultas umum seperti kedokteran, ekonomi Islam, psikologi dan lainnya yang kemudian menuntut reformasi birokratis dengan konversi adalah upaya yang patut diacungi jempol. Karena Konversi akan menjadikan PT-PT Islam tersebut lebih leluasa dalam mengembangkan disiplin keilmuan selain agama guna mempertajam pisau ijtihad para mahasiswa dalam soal-soal kontemporer lebih lagi yang kaitannya dengan wacana keagamaan secara lebih komprehensif.

Namun kita tercekat ketika diawal tahun 2007 lalu Departemen Agama melalui Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni mengeluarkan kebijakan, mulai tahun 2007 konversi ditiadakan. Alasannya konversi yang sudah berjalan beberapa tahun itu mengakibatkan pendidikan agama di perguruan tinggi tidak lagi diminati calon mahasiswa -terutama yang lulus dari pesantren dan Madrasah Aliyah Negeri- karena lebih tertarik pada fakultas umum.

Saya tidak tahu indikator apa yang digunakan Menag sehingga menyimpulkan hal tersebut demikian cepat. Padahal baru-baru ini Pembantu Rektor (Purek) I UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Jamhari Makruf justru menyatakan kebalikannya bahwa setiap tahun mahasiswa yang masuk ke fakultas agama di kampusnya selalu meningkat (www.syirah.com).

Jikapun yang dikatakan Menag benar, bahwa popularitas fakultas agama menurun karena perubahan status itu, seharusnya Menag tidak mengkambinghitamkan upaya konvensi itu, karena sejauh ini konvensi bagi saya adalah ijtihad sangat progresif yag dilakukan dalam rangka menjawab tantangan zaman. Menag sejatinya harus instrospeksi ke dalam, apa sesungguhnya yang menyebabkan calon mahasiswa kurang berminat pada fakultas agama?

Stagnasi Kurikulum

Sejauh pengamatan saya yang kuliah di IAIN, memang kurikulum Fakultas Agama di PT-PT Islam belum beranjak dari orientasi lama yakni menitikberatkan pada dasar-dasar ilmu keislaman seperti fikih, tasawuf, tafsir dan hadis konvensional. Karenanya, sangat disesalkan mayoritas dosen –karena tidak kreatifnya- memberikan materi-materi tersebut secara normatif yang tidak menambah wawasan berguna bagi para mahasiswa

Rencana penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) baru-baru ini -yang juga akan diterapkan di PT-PT Islam- saya kira bisa menjadi pintu masuk untuk melakukan reformasi kurikulum tersebut. Dosen-dosen mesti lebih kreatif lagi meracik ilmu-ilmu keislaman itu supaya lebih sedap disantap para mahasiswa.

*MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASAARAB, FAKULTAS TARBIYAH, IAIN MATARAM DAN JUGA AKTIFIS JARINGAN ISLAM KAMPUS(JARIK) MATARAM

DIMUAT DI : http://syirah.com Tanggal 16 Mei 2007

Iklan

6 Komentar

Filed under Opini

6 responses to “Orientasi Perguruan Tinggi Islam Harus Diubah

  1. saipul kamal

    salam hidup…..
    Yang menarik untuk saya tanggapi adalah apa sesungguhnya yang menyebabkan calon mahasiswa kurang berminat pada fakultas agama?

    Manusia adalah hidup dengan akal yang dimilikinya. Secara ruhiyah saya meyakini bahwa fitrah itu yang mengada dan memanusiakan manusia (disini saya tidak bermaksud mengintroduksi keyakinan yang saya milik. hanya sebagai acuan). Ketikan ruang-ruang yang menuptup hingga dikatakan manusia itu lagi “off”, maka yang on adalah ruang non manusiawinya.
    Manusia berkembang dengan budaya yang dimillikinya membawa dan mengawal peradaban. Ukuruan untuk menyatakan tinggi rendahnya sebuah peradaban sangat tergantung dari cara pandang. Memandang sesuatu yang tidak secara holistik (menyeluruh), berdampak pada keberpihakan, jalan pintas, sesaat dan sangat pragmatis.
    AS maju dengan kemenangan ideologi yang rill dan diteladani bangsa-bangsa lain, Jepang maju dengan teknologinya karena nilai kearifan prinsip dasar hidup masing-masing individunya, China bangkit permainan ekonominya. Rata-rata mindset penduduk dunia seperti ini dan mengakui bahwa demikian adanya, sehingga dikatakanlah mereka memiliki peradaban tinggi. Akan tetapi, meninjau secara holistik apa benar demikian.????? di satu sisi mereka maju, namun difihak lain mereka berbuat kerusakan. eksploitsi dan eksplorasi sumberdaya alam yang berlebihan. tanpa mereka melarutkan diri untuk merenung dan berfikir tentang dampak buruk dari aktivitas mereka. Intinya adalah persoalan perut. Dengan kondisi ini bisakah dikatakan Khalifat di muka bumi. Apa kita mau menuju ke situ??? memang benar, saya akan menuduh sebenarnya ini adalah kerjaannya pendakwah-pendakwah kapitalis yang mampu meracuni bangsa kita, sehingga kita seolah-olah tidak punya pilihan lain. sadar tidak sadar. kita sedang perang Pak Dawam. dan kesadaran yang seperti ini yang perlu benar-benar disadari.

    Saya faham akan kerisauan Bang Dawam atas kondisi bangsa maupun ummat kita. Tapi, iming-iming dengan perekonomian, bukankah ini akan semakin menurunkan grit maindset bangsa yang sangat fragmatis dan saya melihatnya sebagai tingkat yang rendah. Kita jangan menambah saldo kerusakan lah di muka bumi ini.
    Tawaran Abang untuk merubah kurikulum seperti apa yang Abang tawarkan saya pikir bukan solusi….
    justru kalau saya melihat ini akan berdampak buruk pada
    Nah dari pandangan ekonomi, menurut saya… bagaimana kita menekan kapitalisme yang anti keummatan ini yang harus kita pikirkan….Negara harus berani menyatakan “tidak” ketika ada tawaran atau gaya-gaya kapitalis neo-libral sedang merajalela. dan ini yang harus kita demokan. karena masyaraka kecil semakin kecil dan yang besar semakin kuat ini. kita tegakkan pancasila lah.
    tidak apa-apa kita sakit untuk sementara…..

    walaupun tidak fulgar, harapannya penulis bisa menyerap apa yang saya maksudkan…….
    intinya jangan kita sepihak menilai sesuatu….

  2. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar, karena belajar teologi islam itu bukan berarti hendak menjadi bagian atau menyalahkan pendapat tersebut,tapi lebih menjadi ibroh atau pelajaran bagi kita. contohnya saja al-quran yang pada lembaran-lembaran sucinya juga bercerita tentang umat terdahulu, tapi tetap saja al-qurab bukan kitab sejarah.
    jadi sebenarnya hal semacam ini tidak usah ditanggapi serius, dan saya telah melakukan kesalahan itu dengan menanggapi wacana anda.
    maaf ya, jadi.. tidak sekali-kali lagi.

  3. Mas Nizar Al-Kadri
    Saya tangkap dua point dalam tanggapan anda, pertama anda bilang “belajar teologi islam itu bukan berarti hendak menjadi bagian atau menyalahkan pendapat tersebut,tapi lebih menjadi ibroh atau pelajaran bagi kita” Saya setuju dengan point ini. Memang, IAIN sebagai basis pendidikan masyarakat -islam-modern mestinya menjadi ‘pasar pemikiran’ yang menyediakan banyak jualan ‘ide’ secara bebas. Mahasiswa sebagai pembeli bebas atas keinginan dan pilihannya. Karenanya sangat tidak adil dan melanggar ‘kode etik pasar’ ketika ada seorang pedagang yang demi menarik pembeli harus menghujat dan mengejek barang dagangan penjual yang lain. Harus ada persaingan yang sehat, itulah sesungguhnya yang di inginkan.
    Namun saya kurang setuju dengan contoh anda “contohnya saja al-quran yang pada lembaran-lembaran sucinya juga bercerita tentang umat terdahulu, tapi tetap saja al-qurab bukan kitab sejarah.”
    Alqur’an tak bisa tidak dikatakan buku sejarah karena disitu memang mengandung “Alqisos” atau kisag-kisah para nabi. Sejarah yang di urai AlQur’an saya yakini sepenuhnya benar.
    Lalu sayapun heran dengan keheranan anda menanggapi tulisan saya..padahal tanggapan anda sungguh amat bagus dan patut diberikan apresiasi….
    terimaksih atas kunjungan anda ke blog kami

    Jhellie Maestro
    http://www.jhelliesite.blogspot.com

  4. hazim

    lanjutkan brow perjuangannya…
    jangan pantang menyerah key.

    saya minta maaf telah meniggalkan kalian semua

  5. Mudza

    Betul. setahu saya, dawam memang manusia yang tidak demokratis. buktinya, ketika pak din syamsuddin terpilih sebagai ketua muhammadiyah dia malah pulang sebelum acara muktamar selesai. pak dawam, mestinya kalau tidak terpilih ya legowo aja. pakai ngambek segala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s