Madzhab Itu Bernama “Ahlussunnah Wal Jaarik”


jjj1.jpg
“JARIK adalah madzab pemikiran” demikian kata teman saya, tidak ada bedanya JARIK dengan Madzhab Hanafi, Maliki, Hambali, Syi’ah, Ahmadiyah atau Syafi’i. Posisi JARIK sama. Sama-sama berpotensi masuk syurga.

Oleh: Achmad Jumaely

Iseng saja, hari itu tanggal 5 Maret 2007, saya mampir melihat papan pengumuman di depan kampus IAIN Mataram. Di pojok kanan atas papan bercat putih itu, sebuah famplet dengan tulisan menyala menyita perhatian saya. Bunyi tulisan itu “PELATIHAN JARINGAN ISLAM KAMPUS (JARIK) MATARAM”.

Karena badan saya kurang tinggi, untuk melihat tulisan itu, terpaksa saya menjungkalkan kepala dan badan saya lebih dekat lagi. Satu kata, “Jaringan”, yang tertulis di famplet itu langsung mengingatan saya pada komunitas Jaringan Islam Liberal (JIL) dan satu nama manusia melintas di kepala saya “Ulil Abshar Abdalla”. “Wah apa-apaan nih?” kata saya bertanya dalam hati.

Saya perhatikan baik-baik, ternyata famplet itu berisi pengumuman pelatihan untuk mahasiswa sebagai bagian dari kampanye demokrasi dan penguatan hak-hak sipil keagamaan di indonesia. Beberapa sub yang disebut difamplet singkat itu adalah prinsip-prinsip kebebasan beragama, pluralisme, sekularisme dan liberalisme dalam Islam. Di beberapa paragraf lainnya famplet itu juga menyinggung kasus Usman Roy, Kasus Ahmadiyah dan Lia Eden di Jakarta.

Sejauh itu, sebetulnya tidak ada yang luarbiasa dari famplet tersebut karena diskursus keislaman –terutama wacana kebebasan beragama bahkan sekularisme- jauh-jauh hari telah saya baca di beberapa buku para pemikir Islam seperti Fazlur Rahman, Farid Esack dan Asgar Ali Engineer.

Kebebasan beragama yang berarti memberikan ruang kreatifitas beragama bagi orang lain (the others) dalam konteks sosio-religius. Dan Islam, menurut para pemikir yang saya sebut itu, meniscayakannya ada.

Bahkan lebih jauh, nama-nama seperti Nasr Hamid Abu Zaid, Mohammad Arkoen, Abed Al-Jabiri, Hasan Hanafi dan Muhammad Sahrur –telah dengan radikal- mengelaborasi gagasan prinsip-prinsip kebebasan itu dengan kajian-kajian teks yang tentu saja memperkuat rasionalitas mereka menjadi lebih “shahih”. Sahrur misalnya dalam Islam wal Iman bahkan dengan teliti menguliti makna setiap kata dalam terminologi yang selama ini dianggap ummat islam sebagai sesuatu yang final. Dalam soal terminologi “Islam” Sahrur menyimpulkan –seperti juga kita dengar keluar dari Cak Nur- bahwa Islam tidak hanya milik ummat Muhammad tapi juga ummat nabi-nabi selain yang jumlahnya ratusan itu.

Di Indonesia, diskursus semacam ini telah banyak di bumikan oleh dua intelektual islam terkemuka Nurkholis Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (gusdur). Caknur membumikannya dengan Islam Inklusif dan Gusdur dengan Islam Rahmatan Lil’alaminnya. Substansi pemikiran mereka sama, bagaimana agar kebebasan beragama menjadi sebuah madzhab yang diyakininya mampu menciptakan inklusifitas, toleransi serta rasa damai dalam beragama.

Okey, apa hubungannya dengan Jarik? Ini nih. Sebuah segmen menarik dari Intermediate Training (IT) yang kami ikuti beberapa waktu lalu di Jakarta, nampaknya perlu menjadi cerita saya. Segmen itu ketika Prof. Dr. Dawam Raharjo (Mas dawam) mengungkapkan keputusasaanya pada dua organisasi besar NU-Muhammadiyah yang menurutnya itu, sudah loyo, tua sempoyongan, hidup segan mati tidak mau alias tidak produktif memproduk pemikiran-pemikiran tentang kebebasan beragama di Indonesia. “NU dan Muhammadiyah, kita ganti saja dengan JARIK” kata Dawam menegaskan.

Segmen menarik lain yang tidak akan saya lupa –dan barangkali juga oleh teman-teman peserta yang lain- adalah ketika Dawam bilang, “Karena Agama cenderung menimbulkan malapetaka, kerusuhan, amuk massa dan kekerasan, maka sudah seharusnya Agama dicekal saja”.

Entah apa yang ada di fikiran kawan-kawan tentang cerita saya itu, yang jelas saya ingin katakan bahwa prinsip-prinsip kebebasan beragama di JARIK arahnya ke situ, seperti dua segmen menariknya Dawam. Lebih dari itu, JARIK adalah ISLAM yang membebaskan, Islam yang -pinjam bahasanya kawan-kawan LMND-mampu “mendobrak”. Islam yang memosisikan agama sebagai patner hidup bukan agenda kehidupan itu sendiri.

“JARIK adalah madzab pemikiran” demikian kata teman saya, tidak ada bedanya JARIK dengan Madzhab Hanafi, Maliki, Hambali, Syi’ah, Ahmadiyah atau Syafi’i. Posisi JARIK sama. Sama-sama berpotensi masuk syurga.

Oke! Sampai disini betulkah demikian?. Ini sesungguhnya menjadi Pe er kita bersama sekarang, perumusan epistemologis dan ontologis JARIK itu harus betul-betul nyata dan mapan. Dan itu belum kita lakukan hingga hari ini. Pertanyaan besar buat saya –karena di Jakarta hanya menghasilkan MANIFESTO ala kadarnya- mampukah JARIK menjadi Madzhab?.[]

Iklan

13 Komentar

Filed under Opini

13 responses to “Madzhab Itu Bernama “Ahlussunnah Wal Jaarik”

  1. Mungkin http://www.islamalternatif.net juga bisa menjadi alternatif buat ‘Jarik-‘Mataram…silahkan berkunjung!?

  2. Mas mau nanya, itu di blogroll Syi’ah atau Syir’ah? Makasih.

  3. Anonim

    maaf, yang bener syir’ah, tapi setelah kami berkunjung ke islam alternatif kayaknya perlu juga di taruh di blogroll..makasih

  4. abu mifzal

    Waduh jadi orang kok sombong banget yach, Imam Syafi’i saja yang sudah mebuat beratus-ratus buku handal masih rendah diri, nggak mau orang mengikutinya secara sembarangan tanpa dalil.Kok ini anak kemarin sore yang kalo disuruh bikin cerpen saja belum tentu bagus sudah mau bikin mazhab segala, waduh dunia sudah edan .Astaghfirullah hal Azhim , Nauzubillah min dzalik.

  5. Achmad Jumaely

    Tanggapan buat abu mifzal!
    Entah siapakah anda, sayang anda tidak mencantumkan nama lengkap dan email yang bisa di hubungi…..
    Jika anda terlalu risau dengan pernyataan dalam tulisan saya sebetulnya anda mengkritisinya dengan baik dong. bukan dengan nada emosional kayak komentar anda di atas. Ingat Allah hanya senang pada manusia yang bermudzakarah? bukan bermujadalah?
    Untuk wacana itu, saya ingin memberi informasi untuk anda yang mungkin saja anda belum tau hingga hari ini karena yakin saya anda tak terlalu menganggap penting nahwu dan sharf. .
    Begini, kata madzhab itu sebetulnya adalah mustaq (asal kata) dari kata Zahaba, Yudzhibu yang artinya pergi/migrasi. maka ketika kita bermadzhab, sesungguhnya yang sedang kita lakukan adalah perpindahan. Perpindahan dari satu pemahaman ke pemahaman yang lain. Pemahaman itu bahasa Arabnya Fiqh (liat sabda rasulullah “tafaqquh fi ddin). Nah dhalil itu masih bagian dari fiqh.
    Anda yang terlalu sok alim, imam syafi’i saja tak pernah mengecam orang untuk membuat madzhab baru di dunia ini. Anda tidak tahu Syafi’i selalu mengatakan di semua kitabnya bahwa “pendapat saya benar dan tidak menutup kemungkinan pendapat anda juga benar”. Jelas jika anda tidak tau ini anda samasekali tak representatif untuk bicara islam. Lebih baik anda tulis cerpen saja lah…… bukankah demikian?

    Salam jhellie

  6. abu mifzal

    Okelah, nanti saya akan buat cerpen tentang jarik yang baru kemarin sore tau-tau mau disamakan kedudukannya dengan imam-imam ahli sunnah yang mereka saja takut kalo-kalo mereka nggak akan masuk syurga, eh ini anak kemarin sore udah yakin bakalan masuk syurga, cuma karena bisa nerjemahin kata mazhab dan fiqh

  7. Achmad Jumaely

    Silakan Bung…debat yang progresif memang harus di lalui dengan menulis….key…thanks atas kunjungannya ke JARIK kami.

  8. ari

    jarik ga bsa bedain mana aqidah dan madaniyah

  9. Mas Ari yang baek….
    Menurut anda akidah dan madaniyah itu apa? saya balik nanya. Pas kah kata Akidah di lawankan dengan Madaniyah? atau malah anda menganggap derivasi, atau apa? Sayang sekali anda kritik saya dengan tdk menyertai alasan anda ? Makasi atas kunjungan anda di blog kami….

    salam, Jhellie Maestro di http://www.jhelliesite.blogspot.com

  10. only a simple human being

    he10x aku sich paling males berdebat sama orang macam saudara (sudah syukur aku masih mau tulis saudara) Achmad Jumaely. coz gak ada untungnya n aku yakin di belakang dia ada “ahli2 ngawur” lain yang bantuin. lagipula ini kan blog dia, trus pengertian dia tentang mazhab dllsbg secara arti bahasa bener2 ngawur dan khas orang2 “liberal progresif” yang banyak aku kenal.
    yawdahlah, orang macam ini sepertinya udah gak bisa lagi diingetin, coz gimana mau masuk dinasehatin kayak mana juga, sebelum dikasih tau aja dia udah duluan mencounter dirinya serta mengklaim kalo yang ngasih tau itu orang yang “RADIKAL” dan pantas ditangkep polisi n dibui
    akhir kata aku mau bilang kalo aku setuju bahwa sebenarnya ISLAM itu bisa ditelaah secara logika dan semuanya masuk akal dan tidak ada satu bagianpun dari ISLAM yang perlu direvisi ataupun apalah istilah kerennya.
    nah kalo temen2 dari jarik merasa ada bagian dari ISLAM yang perlu direvisi karena tidak masuk akal n tidak up to date maka bukan salah ISLAMnya tapi salah kalian (baca:jarik) karena otak (baca:logika) anda yang belom nyampe untuk menterjemahkann kbenaran itu (alias BEGO bin BLOON bin GUOBLOK) he..he..he..B-)
    thanks ya atas dimuatnya komentar aku ini, sorry kalo ada salah2 kata, tapi sepertinya gak ada yang salah dech. kalaupun salah aku minta maafnya juga bukan ke kalin (baca:jarik) tapi langsung ke Gusti ALLAH swt

  11. cos

    aku sepakat dengan pendapat bung jeheli. sesungguhnya mazab itu bukan sejatinya kekal, jadi tidak menutup kemungkinan jika ada mazhab baru sesua idengan konteks zaman.

  12. oke anda boleh saja berkat bahwa anda akan membangun mazhab baru di indonesia tapi ingat bung agama itu bukan bahan mainan,ingat bung Allah itu maha tau apa yang diperbuatkan hambanya apabila anda ingin mencari popularitas dengan cara membangun mazhab baru maka lebih baik anda jadi maling aja percuma bung karna hudup kita hanya semetara yang ada itulah yang dipikirkan mau di kemas bagaimana itu islam mau ?

  13. Hidup sekali kok coba-coba ! Umur terbatas buat main-main,makanya beragama mengikuti bimbingan ulama,kasian…tersesat tanpa beban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s