Debat Sadar “Tuhan Juga Manusia”


tuh_nas_jkt_manusia-menjadi-tuhan_2005_dodo_150s.jpg
Yup, aku pernah posting tulisan “Tuhan Juga Manusia” ini di forumlingkarpena@yahoogroup.com, dan aku betul-betul malu+dongkol+jengkel, sebab mereka menghujatku habis-habisan. Mereka bilang aku kafir, murtad, sudah keluar dari Islam dan masih banyak lagi. Aku betul-betul menyesal telah mem-posting tulisan ini di millis itu. Hingga datang sebuah komentar yang mencerahkan. Sungguh aku seperti mendapat setitik air di tengah gurun pasir.
Kawan-kawan bisa lihat koleksi milis itu dibawah ini :

Oleh : JHELLIE
Dari:”satriyo” Tambahkan ke Buku Alamat
Tanggal:Thu, 10 May 2007 02:15:45 -0000
Topik :[FLP] Re: Tuhan Juga Manusia

Kenapa gak sekalian (alternatif) judulnya …:
– Tuhan juga Iblis
– Tuhan juga Kambing
dll?

“Tuhan” juga pernah keliru menghalalkan yang haram kepada seorang
ulama salaf … tapi dengan sigap si ulama mengambil terompahnya dan
melemparkannya ke “Tuhan” dan sadarlah si “Tuhan” bahwa dirinya
adalah Iblis…! Hehehe

Tanpa bekal yang memadai, “Tuhan” memang bisa dihadirkan dan
dirasakan … tapi Allah? Nanti dulu bung …

Tasauf itu memang dari Islam ya?

salam,
satriyo

Dari: “nugon19” Tambahkan ke Buku Alamat
Tanggal: Thu, 10 May 2007 04:14:20 -0000
Topik: [FLP] Re: Tuhan Juga Manusia

Liberal….. yg orang Kristen …. yg menuhankan Yesus sang Anak
Manusia saja…. mereka tidak pernah menerima dan membenarkan
Liberalisme! !!

Mestinya orang Islam yg agamanya sudah jelas benar dan selamat dunia-
akhirat pasti tidak akan pernah menerima dan membenarkan
Liberalisme! !!

Belum pernah mengikuti tasawuf yg mu’tabaroh (sesuai tuntunan Al-
Quran dan As-Sunnah), hanya baca buku, main filsafat, merenung2
sedikit… lalu langsung mengaku sebagai orang yg paham tasawuf atau
bisa menjustifikasi tasawuf yg semestinya?? ? Aneh!!!!

Sebelum ane memberikan pendapat lebih lanjut… ane mohon kepada
moderator utk mengkritisi topik seperti ini… ini lebih berbahaya
dari topik joke diskriminasi gender… atau sekedar topik apakah ini
Syar’i apa bukan..

Topik yg terkait aqidah, keyakinan, penentu keselamatan dunia-
akhirat. Apalagi topik yg nyeleneh kayak begini sebaiknya tdk
dimunculkan disini, selain menyimpang dari visi misi mailing list
ini … juga kagak nyambung dgn topik sastra (ini menurut ane
pribadi).

Next…Allah berfirman:
(#) QS 42:11 sbb:
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis
kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak
pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan
jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah
yang Maha Mendengar dan Melihat.

(#) QS 112:1-4 sbb:
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Ini ucapan Allah, yg diterima Nabi Muhammad saw.. silahkan
nilai…siapa yg lebih benar, cerdas, diberi petunjuk oleh Allah…
apakah Nabi Muhammad saw atau Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar???

Tiada satupun yg sama dgn-Nya, yg sebanding dgn-Nya. Jika tdk bisa
dibandingkan, mengapa memberi komentar berlebihan sampai tahap
wihdatul-wujud? ? Apalagi habis dapat pemahaman maka disuruh diam?

Padahal Allah berfirman dlm QS 93:11 :
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.

Jika pemahaman ini rasakan adalah nikmat dan kebenaran… kenapa
menentang Firman Allah utk dipublikasikan? ??

Nabipun mendapat wahyu, ilham, disuruh menyebarluaskan, contoh dlm
QS 28:46 sbb:
Dan tiadalah kamu berada di dekat gunung Thur ketika Kami menyeru
(Musa), tetapi (Kami beritahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari
Tuhanmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang
sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum
kamu agar mereka ingat.

Lagian menyebarkan email ini bertolak belakang dgn pendapat jangan
menyebarluaskan paham ini (yg ada di akhir email, kalo ane tdk
salah)… mana berani pula melebihi Allah, bilang : ” …karena
yakin saya Tuhan tidak akan senang diceritakan pada orang lain
seperti Musa di Gunung Tursina…”. Kontradiksi dan Kontroversial! !!

Allah berfirman mengenai penciptaan baik alam semesta maupun manusia:

(#) QS 87:1-3
1. Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi,
2. yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan- Nya),
3. dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,

(#) QS 40:57
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada
penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

(#) QS 3:190-191
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.

(#) QS 2:164
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya
malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang
berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa
air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya
dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran
angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan.

(#) QS 18:51
Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk
menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan
diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang
menyesatkan itu sebagai penolong.

(#) QS 32:7
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan
Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

(#) QS 2:30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

(#) QS 91:1-15
1. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
2. dan bulan apabila mengiringinya,
3. dan siang apabila menampakkannya,
4. dan malam apabila menutupinya,
5. dan langit serta pembinaannya,
6. dan bumi serta penghamparannya,
7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) ,
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya.
9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
11. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka
melampaui batas,
12. ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,
13. lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah)
unta betina Allah dan minumannya.”
14. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan
mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah
menyama-ratakan mereka (dengan tanah),
15. dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

Kalau kita renungi… tidak ada ucapan Allah yg memberikan
keterangan ttg wihdatul-wujud. Jika ucapan Allah dan Rasul-Nya tdk
menyuarakan wihdatul-wujud, janganlah kita mengucapkan sesuatu yg
berlebihan, melebihi penjelasan Allah dan Rasul-Nya!!

Yg diminta adalah kita merenungi jati diri kita sebagai makhluk
Allah, hamba Allah, kholifah di Bumi… serta diminta merenungi
semua ciptaan Allah, dan berusaha mensucikan diri.

Itu baru tasawuf!!! Derivasi dari kata shuf yg beraneka ragam, mulai
dari bulu domba, hingga penyucian/pemurnian , lepas dari ikatan
materil/duniawi dan ke-akuan, termasuk menilai, mengukur Allah dgn
barometer pemikiran kita (termasuk wihdatul-wujud, hulul) atau paham
materialistik (atheis, hedonisme).

Yg benar dari Allah semata, yg salah dari ane pribadi semata!!!

Wassalam,

Nugon

Jawabanku atas komentar Nugron dan Satriyo

Untuk Mas Nugon dan Mas Satriyo
Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Pertama untuk mas Satriyo,
Tasawuf memang tradisi islam. Walau tidak ada
referensi yang menunjukkan nabi dan para sahabat
bertasawuf, tapi dari praktek ritualitas keagamaannya
dapat kita simpulkan banyak diantara para sahabat
yang sudah bertasawuf. Ali Karramallahu wajhah
misalnya, suatu ketika di tantang oleh Rasulullah
untuk solat dengan khusuk. Ali di janjikan oleh nabi,
jika ia dapat solat dengan khsuk maka ia akan diberi
surban. Dan Ali-pun mencoba melakukannya, namun ia tak
berhasil. Khusuk dalam konteks ini,jelas adalah upaya
ali dalam kejernihannya hatinya bertemu tuhan (atau
allah-sama persis, hanya berbeda bahasa bung, di
Lombok kami sebut Allah sebagi Nenek Kaji, di Jawa
Gusti Allah-saya tidak percaya Sayyidina Ali tidak
bisa solat khusuk seperti kita, dia termasuk ahli
syurga. tapi Ali sungguh gagal dalam proses
perjumpaannya dengan tuhan sehingga warna surban yang
dijanjikan rasulpun ia ingat hingga selepas sholat.
yang dilakukan ali tiada lain adalah proses ber
Tasawuf.

untuk perkembangannya saya kira beAwal ketika
berakhirnya kepemimpinan Sayyidina Utsman Bin Affan.
Saat itu, selepas Ustman Bin Affan ummat Islam
bersilisih pendapat perihal siapa yang berhak
mengganti Ustman. Muncullah Syi’ah, disusul khawarij
dst. Mereka berdebat dari soal politik ke soal teologi
keagamaan hingga soal ketuhanan itu.

Untuk mas Nurgon
Saya kira anda perlu lebih banyak membaca sejarah
Islam, sejarah nabi-nabi, dan sejarah auliya’u allah,
sejarah para filosof dan sejarah orang-orang yang
rajin melakukan taqarrub kepada Allah.

ketika anda menjastifikasi artikel yang saya posting
tidak layak dibaca oleh anggota milis ini,
sesungguhnya anda tengah menutup diri dalam kayanya
khasanah intelektual islam itu sendiri. Islam itu amat
kaya dengan perdebatan ritualitas dan spritualitas.
saya kira kita perlu berdiskusi panjang tentang apapun
dalam islam. Dalam islam tidak ada yang jumud, paten
dan anti perubahan. tapi sebaliknya justru islam
sangat pro perubahan.
saya khawatir generasi seperti anda yang diramalkan
nabi sebagai ummat islam yang banyak tapi kualitas
fisik dan intelektual serta spritualnya seperti buih
dilautan. saya tunggu tanggapan anda!

Achmad Jumaely

Mereka menjawab saya seperti ini :

Dari: “satriyo” Tambahkan ke Buku Alamat
Tanggal: Thu, 10 May 2007 09:14:24 -0000
Topik: Balasan: [FLP] Re: Tuhan Juga Manusia

Terima kasih atas respond anda.

[1] Dalam kalimat anda ini “yang dilakukan ali tiada lain adalah
proses ber Tasawuf” anda tidak secara langsung menunjukkan bukti
adanya praktik tasawuf, malah anda mengambil asumsi atau dugaan, dan
masalahnya anda terlebih dahulu atau tidak berusaha juga menjelaskan
apa tasauf itu, dan apakah jika memang nantinya bisa anda buktikan
wujud tasawuf di masa Rasul, apakah bentuknya memang sama dengan yang
ada sekarang, yang [a] sangat megnkultuskan syiekh, [b] menganggap
mereka di luar tasawuf tidak ‘sah’ sanad pembelajaran keislamannya
atau terputus karena hanya via syeikh saja sanad itu diestafetakan,
[c] beragam praktek ritual dan zikir/wirid yang bahkan bersumber
bukan pada warisan/contoh Rasul, tapi dari karangan para syeikh, dll.

[2] Sekali lagi dalam kalimat ini “untuk perkembangannya saya kira
beAwal ketika” anda tidak tegas dan pasti menyampaikan suatu data
melainkan asumsi/dugaan anda saja.

terima kasih … lagi.

salam,
satriyo
;-]

Dari: “nugon19” Tambahkan ke Buku Alamat
Tanggal: Thu, 10 May 2007 09:55:43 -0000
Topik: Balasan: [FLP] Re: Tuhan Juga Manusia

Ane mengerti bahwa tradisi tasawuf sudah ada sejak zaman
Nabi/sahabat Nabi… ane pun suka membaca/menelaah kajian tasawuf…

Tapi tdk ada satupun dari Nabi dan Sahabat Nabi yg menganut
paham “Tuhan itu Manusia” seperti yg anda tulis!!!

Tidak ada satupun yg mengatakan wihdatul wujud itu benar!!! Apalagi
sebagaimana versi al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar!!!

Ada banyak pengikut tasawuf.. Syekh Junaid al-Baghdadi, Syekh Hasan
Basri, Syekh Abdul Qodir Jailani, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari,
Syekh Abul Hasan As-syaddzili, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad,
Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Imam al-Ghozali, dsb…. tapi walau hati
mereka peka, Qolbu mereka lembut… mereka tdk berani/lancang/ pernah
sampai mengatakan Tuhan itu Manusia, dan mereka tdk
berani/lancang/ pernah Wihdatul Wujud itu benar!!! Apalagi
sebagaimana versi al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar!!!

Sedalam apapun samudera tasawuf yg mereka arungi, tetap menapak dan
berlandaskan al-Quran dan as-Sunnah. Ini yg sering dibicarakan oleh
para ‘Ulama dari komunitas NU dan Habaa-ib sebagai Tasawuf yg
mu’tabaroh, sesuai tuntunan al-Quran dan as-Sunnah!!

Kalo kata teman2 ane yg udah mondok di Jombang, Bangil… mereka
bilang kesalahan terbesar orang adalah mencoba belajar mendalami
Tasawuf, tanpa terlebih dulu kuat fondasi Aqidah/Tauhid dan
Fiqihnya. Jiwanya haus, tapi yg diminum bukannya air putih, namun
langsung ke anggur yg memabukkan.

Apalagi jika akal dan kepekaan hatinya sulit utk memahami makna
simbolis… bisa2 malah menafsirkan yg melanggarkan kaidah2 yg jelas
(muhkamat) yg tercantum dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Cenderung ke makna samar, simbolis (mutasyabihat) sehingga berani
menafsirkan, melampaui penjelasan Allah, Rasul-Nya, para
pengikutnya. .. terutama yg menyimpang/berbeda dari para pemuka/ulama
tasawuf yg mu’tabaroh merupakan tanda2 cenderung ke kesesatan.

Lihat QS 3:7 sbb:
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara
(isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al
qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang
yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti
sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk
menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada
yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang
mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang
mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat
mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang
berakal.”

Wong Malaikat Jibril pun mengajarkan Rukun Iman (Aqidah), lalu Rukun
Islam (Fiqih), baru kemudian Ihsan (Akhlak, Tasawuf). Urutannya
jangan dibalik, kalo kagak ya rusak. Jangan membebaskan urutan
pembelajaran yg telah dicontohkan oleh para malaikat, Nabi, Sahabat,
Tabi’in, Tabi’it-Tabi’ in… dan orang2 yg mengikuti mereka.

Ane bukan jumud, anti perubahan, dan sejenisnya.. . atau anti tasawuf
sebagaimana sebagian dari komunitas yg memang tdk suka tasawuf
karena terlalu ekstrim dlm memberantas bid’ah…

Tapi dari beberapa kajian keagamaan, terutama yg terkait dgn
Tasawuf… menyatakan Aqidah itu pengikat!! Itu bhs Arab, artinya
ikatan. Ikatan tdk bisa dilonggarkan, apalagi dibebaskan/lepaskan .
Inilah Hakikat.. Tauhid… Aqidah!

Dan Aqidah telah menjelaskan Allah itu bukan manusia, tdk
terbayangkan, tdk dpt disandingkan, disatukan dgn sesuatu pun! Allah
pencipta segala sesuatu, berbeda dgn segala sesuatu… termasuk
manusia! Ini jelas menentang wihdatul wujud/hulul yg anda bilang
telah dicapai oleh al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar!!

Junaid pun mengingkari al-Hallaj!!! Padahal sesama orang yg
mengklaim mendalami tasawuf!!!

Fiqih, itu pemahaman… selama ada koridornya, apalagi dalam hal
Ibadah Ghoiru Mahdhoh, silahkan bebas bergerak… selama dalam
kaidah yg Syar’i. Fiqih juga sering dibicarakan sebagai Thoriqoh,
jalan… jalan utk mencapai Allah sesuai petunjuk-Nya, baik dalam Al-
Quran, maupun melalui As-Sunnah! Pemahaman adalah hidup, dinamis,
applicable!! !

Ihsan, akhlak, yg banyak dikaji dalam kajian tasawuf, sudah jelas
terinspirasi dari pembelajaran Ihsan yg disampaikan dlm dialog
Malaikat Jibril dgn Nabi Muhammad saw… Beribadah seakan melihat
Allah… inilah ma’rifat tertinggi, tapi bila tdk bisa, maka
yakinlah Allah selalu melihatmu… inilah ma’rifat!! Dgn Ma’rifat..
maka menjadi lembut qalbunya, sehingga berakhlak mulia, baik
terhadap Allah, dirinya sendiri, sesamanya, dan lingkungannya (alam).

Prinsip ihsan ini yg diperkuat/difokuska n dlm kajian Tasawuf,
sehingga nanti ada istilah waro’, qona’ah, khouf, roja’, fana,
dzauq, hubb, dan sebagainya!

Nah, kembali misi mailing list ini, utk memajukan sastra… kalau
dikaitkan dgn tasawuf… akan bagus jika kita mengkaji hasil karya
para pemuka tasawuf… yg melimpah tertuang dlm banyak puisi, prosa,
syair, baik dalam bentuk fabel maupun yg lainnya.

Akan memperkaya wawasan sastra kita!!!

Bukan malah menyebarkan paham Tuhan itu Manusia versinya al-Hallaj
dan Syekh Siti Jenar.

Akan mempermiskin keimanan dan keyakinan yg benar thd Allah!!!

Mohon maaf bila kurang berkenan!!
Yg benar dari Allah semata, yg salah dari ane semata!!!

Wassalam,

Nugon

Dari: “riza almanfaluthi” Tambahkan ke Buku Alamat
Tanggal: Thu, 10 May 2007 16:18:04 +0700
Topik: Re: [FLP] Re: Tuhan Juga Manusia

Saya setuju dengan Nugon dan Satriyo. Saya mengambil jalan tasawuf di
pertengahan. Tidak yang berlebihan seperti yang Saudara Achmad Jumaely
pegang.
Bagaimana mungkin Allah bisa disamakan dengan makhluknya, kecuali mu’tazilah
masa lalu yang berkata demikian.
Di saat penulis berlindung di balik sebuah
ekspresi, maka FLP depok punya sebuah keberpihakan. Keberpihakan terhadap
sebuah tulisan yang mencerahkan. Keberpihakan terhadap manhaj yang telah
masyhur di negeri kita ini. Mencerahkan kepada sesama. Bukan sebuah tulisan
perdebatan yang sudah usang berabad-abad lamanya. Bila moderator FLP tidak
selektif demikian maka akan ada pula sebuah kreatifitas dari karya tulis
yang mengusung pornografi masuk dalam milis ini. ada sebuah visi yang
diungkapkan secara jelas di FLP:
FLP mengkader penulis agar mampu *berprestasi dan mencerahkan umat.*

Itu saja. Semoga moderator milis dapat bersikap bijak terhadap postingan
demikian.
Riza

Dari: “pramono setiya purwanto” Tambahkan ke Buku Alamat
Tanggal: Thu, 10 May 2007 20:52:09 +1000 (EST)
Topik: Re: [FLP] Tuhan Juga Manusia

maaf telat komentarnya. tetapi sepertinya ndak afdol kalau tidak ikut nimbrung. tapi ini bukan ngrasani tuhan lo

menemukan Tuhan harus dengan jalan yang benar. Dia tidak bisa diwujudkan hanya dengan dzikir, tasbih semalam suntuk, bertapa dalam gua, atau melegalkan semua agama. Tuhan bisa ditemukan oleh mereka yang telah berhasil masuk ke dalam islam dengan sopan, santun, hormat, takzim. mewujudkan kecintaan dengan Tuhan adalah suatu pekerjaan yang superkompleks yang harus dipelajari sepanjang hayat. bukan tidak mungkin kita berlaku baik seperti apa yang diharapkannya. kebenaran harus diluruskan mas. mungkin Tuhan akan tersenyum melihat kita yang begitu konyolnya mendekat kepada Dia tapi dengan jalan beraneka macam yang aneh2 dan gelap. cinta kepada Tuhan merupakan wujud dari rahmatan lilalamin. membantu orang, menjadi kaya yang benar, bermasyarakat, bersosialisasi, adalah wujud cinta Tuhan yang sejati. dan ini memang cobaannya jauh lebih besar daripada sekedar ber-laaillaha illallah dalam gua. islam mengajarkan keseimbangan yang begitu cerdas dan jenius. begitu tinggi ilmuNya hingga
seumur hidup kita pun tidak akan pernah cukup mempelajarinya.

semoga bermanfaat

Komentar Eful di Blog ini

EFUL berkata,
Mei 18, 2007 @ 7:52 pm · Ubah

teriring salam kebijaksanaan dari langit

aku hanya ingin tahu siapa tuhan itu yang kau persepsikan itu?
adakah dia itu atau hanya ada dalam imajinasimu saja?
tuhan kamu dan tuhanku sangatlah berbeda,
janganlah kau pikirkan tentang tuhan itu karena tuhan tidak memikirkan siapa dirimu selama kamu tidak memikirkannya, jadi tuhan itu siapa, apa dia juga makhluk sama denganmu atau dia itu sesungguhnya tidak ada.
pada dasarnya tassawuf itu tidak menyelesaikan tentang tekateki wujud tuhan karena hanya berupa persepsi saja, karena manusia memiliki batas kemampuan.
maka dari itu banyak orang yang menyatakan telah menemukan tuhan didalam dirinya termasuk Alhallaj dengan jargonnya yang berbunyi “ana al haqq” sesungguhnya itu hanya kebohongan karena apa yang dipersepsikan oleh alhallaj hanya dirasakan olehnya saja bukan olehku, kamu bahkan kita’

“aku adalah salah seorang yang banyak memikirkan tentang TUHAN dan AGAMA tapi menurutku tuhan dan agama hanyalah BEBAN saja”. itulah salah satu ucapan Pramudia Ananta Toer sebelum dia ter bebas dari belenggu kehidupan dan menuju pada hierarki yang sempurna.

ini bukanlah sanggahan, argumen, atau kritik.
apalah seorang eful yang hanya bisa diam dan termenung melihat phenomena yang terjadi selama ini, temen2 mataram salam perjuangan selalu dari balik dunia yang aku simbolkan dengan tai ini.
irvan n jhelly; aku titip salam buat kawan2 qta yang ada di mataram

Iklan

21 Komentar

Filed under Opini

21 responses to “Debat Sadar “Tuhan Juga Manusia”

  1. irvan wahid

    Allah dan tuhan tidak ada bedanya… allah adalah bahasa arab yang sebutan ini digunakan jauh sebelum risalah nabi muhammad. dalam sejarah agama-agama kehadiran kata tuhan termasuk dalam islam adalah sebagai upaya untuk melepas manusia dari lilitan interpretasi manusia lain yang membuatnya tidak bebas menentukan pilihan sesuai dengan yang diyakini. semua ilmu adalah hasil pemahaman manusia termasuk ayat alkur’an di atas adalah hasil kreasi muhammad yang perlu ditelaah secara kritis. tidak ada satupun yang dapat menjelaskan bahwa alkur’an adalah benar wahyu tuhan kecuali kita meyakini (alhamdulillah saya masih yakin).
    saya sangat hawatir teman-teman justeru terjebak dalam paganisme dalam bentuk lain. wahyu tuhan bukan kata-kata…. karena itu setiap yang berbentuk kata-kata adalah kreasi budaya manusia. karena itu liberalisme menurut saya adalah ajaran islam yang paling hakiki (tauhid)
    ilmu akidah, tauhid dan termasuk teologi bahkan fiqh adalah kreasi manusia, tidak ada salahnya kita melanggar dan membuat teologi baru yang sesuai dengan “perkembangan pemahaman manusia”.

  2. Assalamualaikum wr. wb.
    buat Jhelly “TUJAN JUGA MANUSIA”
    SAYA BELUM PERNAH BACA TULISAN anda tentang. tapi saya cukup kagum dengan keberanian anda untuk punya sikap dan pilihan hidup serta keyakinan yang anda miliki hingga berani mengeluarkan judul tulisan anda sebagaimana yang di atas. tentunya jika anda konsisten dengan itu.
    saya pikir maknanya terlalu luas. walaupun demikian saya tetap akan berkomentar mengacu pada terminologi judul “Tuhan Juga Manusia”.
    dalam konteks saya sebagai observer, anda dan yang lainnya sebagai pelaku, saya tidak sepakat kalau anda mengklaim bahwa “Tuhan Juga Manusai”.

    Pemaknaan Tuhan itu sendiri harus kita perjelas juga posisi kita menilainya, apakah ketika kita memberi pengertian, kita dalam posisi sebagai obeserver atau pelaku????. memaknai Tuhan secara intrinsik tentu akan berbeda dengan makna tuhan secara fungsi, sarana, manfaat atauipun kepentingan-kepentingan lainnya dalam posisi kita sebagai manusia. Nah, kita jangan terjebak disitu.
    cara melihat yang berbeda tentu memberikan makan yang berbeda pula.

    Analoginya gini, uang kertas yang secara intrinsik tidak memiliki makna apa2, tidak ada bedanya dengan kertas koran atau kertas-kertas yang lainnya. tapi uang memiliki nilai nominal menurut kesepakatan.

    Nah, terkait dengan munculnya Syi’ah, Sunny, khawarij
    dst. Mereka berdebat dari soal politik ke soal teologi
    keagamaan hingga ke ketuhanan itu sebenarnya persoalan sosial politik. tidak ada kaitannya dengan ketuhanan karena itu wilayah transendental masing-masing. Nah, kerancuan menempatkan diri ini lah yang memberi dampak pada buruknya pencitraan terhadap agama. Jadi, faktor pengalaman. bahkan bagi masyarakat yang pernah mengalami kondisi yang katakanlah kritis ekstrim seperti itu melihat agama sebagai candu-lah, pelarianlah etc. yah… seperti ucapan Pramudia Ananta Toer kutipan dari mas Eful, “aku adalah salah seorang yang banyak memikirkan tentang TUHAN dan AGAMA tapi menurutku tuhan dan agama hanyalah BEBAN saja”.
    Terbentuknya sekta-sekta ini kan atas dasar kondisi soisial hubungan antara Ali dengan Muawiyah. lalu nambah ke persoalan politik. sekta ini ditingkatan pengikut. Syi’ah adalah funs-nya Ali, khawarij adalah kelomok yang kecewa dengan Ali maupun Muawiyah, sunny adalah kelomok yang mengklaim diri sebagai Ahli-ahli sunnah yang mengakui 4 khalifah pasca Rasulullah yang kemudian menetapkan 4 imam untuk urusan-urusan syariat (hukum).

    Ya. saran saya untuk penulis supaya tulisannya direvisi kalaupun pemahamannya tidak mentok, kalau anda merasa diri seorang filsuf, lakukan perenungan lebih mendalam dan mungkin harus banyak revisi.
    dan saran saya buat yang baca “Tuhan Juga Manusia” supaya tidak terpancing dengan isu-isu sosial seperti ini yang seolah-olah ini murni persoalan agama dan keyakinan, padahal dalam waktu yang bersamaan yang dominan adalah persoalan sosial; bagaimana kita berintraksi, siapa dengan siapa, reaksi, aksi, hubungan dll. yang namanya keyakinan itu, lekat dalam diri individu. keyakinan tidak bisa digeneralisir. claim-claim yang menyatakan diri satu golongan atau kelompokkpun kalau bisa diteliti masing-masing secara personal belum tentu sama. hanya kebetulan saja secara emosional mereka dekat.

    Nah, coba anda teliti Organisasi anda di sekitar kampus anda! yang ekstrim ya organisasi eksternal karena keberadaannya atas dasar ideologi (islam, pancasila, sosialis, kapitalis). Tapi, amatilah apa yang terjadi di sekeliling anda. apa yang membuat mereka satu sama lain saling terikat dan betah? pola hubungan yang terjalin baik antar sesamanya ada kaitan tidak dengan ideologi organisasi? kira-kira seperti itu lah men……

    Judul di atas adalah memiliki dua kemungkinan yaitu;
    1. benar secara subyektif bagi yang yakin apabila penulis atau pembaca jujur terhadap dirinya, dan
    2. salah apabila sedang membuat kebohongan publik.
    Kalaupun kita yakin ini salah, tidak seharusnya kita seperti orang kebakaran jenggot yang akhirnya menciptakan konflik, perpecahan dimana-mana, genosida, dll. atau memunculkan argumen-argumen yang sudah tidak berusaha obyektif lagi seperti proses awal.

    mengintervensi wilayah keyakinan orang dan menganggap diri merasa palng benar tanpa memberikan ruang kepada orang lain untuk punya keyakinan sendiri, itulah yang keliru.

  3. Untuk bang eful
    Saya tidak pernah merasa diri seorang filsuf, saya hanya ingin berfikir merdeka karena ini adalah fitrah kemanusiaan. Tuhan tidak pernah melarang saya untuk berfikir medeka, malah sebaliknya Tuhan sendiri yang membuatkan saya otak agar saya berfikir dan berbeda dengan makhluk-makhluknya yang lain. Puji Syukur Alhamdulillah atas hal ini.

    Memperjelas posisi dalam menilai tuhan. Apakah dalam posisi obeserver atau pelaku saya kira tidaklah terlalu penting. Yang penting adalah penghayatan terhadap nilai-nilai ketuhanan yang universal berupa keadilan, persamaan, kasih sayang, kejujuran dan lain sebagainya itu. Sebetulnya ada tulisan lanjutkan saya –yang saya elaborasi dari pemikiran Ibnu Arabi dan Arkoen- tentang wajibnya sifat-sifat tuhan terefleksi dalam kehidupan riil manusia, hanya saja terus terang saya masih ragu mempostingnya.

    Kata Ibnu Arabi dalam kitab terekenalnya Fushush al-Hikam, konsepsi mengenai Tuhan dan ketuhanan sesungguhnya absurd saja, karena Tuhan tetap tak terbatas. Karenanya sangat mustahil Tuhan bisa dikurung dalam sebuah definisi. Tuhan, kata dia berada di luar jangkauan kata dan kalimat.

    Dan saya kira, upaya manusia-manusia untuk mencari tetap akan mentok di konsep wahdlatul wujud, ketika ruang tak ada lagi dan tuhan menyatu dalam diri (ego). Dan yang terefleksi adalah nilai-nilai.

  4. iznuwardi

    Hingga detik ini belum ada kajian ilmiah yang menyatakan Tuhan itu ada atau tidak, apalagi sampai ke pertanyaan bagaimananya. Tentang Tuhan itu wilayah keyakinan.
    penghayatan terhadap nilai-nilai ketuhanan yang universal berupa keadilan, persamaan, kasih sayang, kejujuran dan lain sebagainya itu tidak perlu mengambil garis/menarik konsep dari tuhan, karena itu bisa muncul menurut apa yang terjadi di sekitar, pengamatan atau pengalaman empiris pada wilayah-wilayah hubungan sesama manusia.tapi, membahasakan Tuhan yang adil, Tuhan yang Pengasih dan Penyayang dan sifat2 Tuhan yang lainnya itu kan bahasa keseharian kita ditingkat hubungan kita sesama manusia yang kemudian kita substitusi ke wilayah2 ketuhanan. Itu adalah rahasia ilahi yang oleh manusia membuat penafsiran-penafsiran yang kira-kira seperti ini atau seperti itu.. Coba lihat penafsir2 itu. mesti itu berbeda2 karena bisa jadi pendekatannya beda, cara pandangnya beda, pengalamannya beda.
    saya juga sepakat kalau kebenaran itu relatif dipembahasaan kita sebagai pengamat. tapi, sebenarnya itu mutlak dari sang Kudus bagi manusia. Nah, untuk mengakui nilai-nilai yang mutlak itu tidak ada jalan lain kecuali dengan meyakininya….
    Nah, apa yang secara tekstual diberikan kepada kita itu kan sering kita menurut apa yang menurut kebanyakan diterima. tapi memang itulah nilai obyektivitas yang paling tinggi sebelum ada kebenaran baru yang lebih tinggi dan syarat untuk itu adalah selama sesuatu itu di level Obyek (benda-benda). Tuhan bukan benda yang harus diobyekkan, hingga pendekatan-pendekatan dalam proses pencarianpun bukan pendekatan-pendekatan seperti yang kita lakukan pada obyek.
    Silahkan bebas berfikir, selama itu hal-hal yang memang wilayah untuk difikirkan. Tentang Tuhan adalah wilayah2 religi…

    tapi,.. apa yang anda maksudkan itu sebenarnya kalau menurut saya adalah bagian dari metodelogi lah…..

  5. iyya maliya

    aku merasa….
    tuhan itu menakutkan.
    pendendam.
    bukankah maha adil?
    kenapa ada neraka?
    surga?
    ah ada yang bisa investigasi kesana?

    maaf.
    tuhan begitu besar akan maknanya.
    jheli go 4 U.

    seandainya saja ada,….
    saya telah kehilangan raga saya pada detik ini.
    entah melayang kemana.
    melebur kemana.
    dengan siapa.
    di keyboad ini ada aku.
    m-a-l-y-a

  6. jhellie

    Buat iya , Love 4 u hehe
    “jika syurga dan neraka tak pernah ada masihkah kau menyembah padanya”
    Jalaludin Rummi & Crisye
    Gini iya, gmn kalo kita suruh chrisye investigasi ke syurga….. ?

  7. fadly

    manusia mengaku tuhan itu suda biasa yang luar biasa “tuhan juga manusia”
    banyak orang yang mencari-cari dimana tuhan itu, yang jelas Allah tidak di dapati oleh penglihatan mata kepala dan pintu menuju kepada Allah adalah maut. jika anda ingin mencapi Allah tempuhlah yang namanya maut itu. pengenalan kepada Allah tidak semudah kata-kata yang keluar dari mulut, tetapi dengan perjuangan dan keridaanNya pula. Allah tidak melihat hasil tetapi usaha yang kita lakukan.
    wasalam…..Fadly manado

  8. Assalamualikum
    Selamat malam dan terima kasih atas tanggapan akhi fadhly….
    Sekadarnya saya menanggapi anda. begini……….
    Pertemuan antara tuhan dan kita jangan anda bayangkan seperti bertemunya anda dengan saya atau anda dengan ibu anda. Tuhan yang transenden itu tak bisa di serupakan dengan apapun. Terdapat sifat tuhan yang menegaskan hal itu “mukhalafatu lil hawadits”.
    Nah, dalam konteks “tuhan juga manusia” anda harus fahami bahwa yang di alami oleh orang-orang seperti Alhallaj, Syeck Siti Jenar, Syech Juneid dan lain sebagainya adalah eksplorasi spritual yang dalam.
    Jallauddin Ar-Rumi menjelaskan dengan antusias sikap Al-Hallaj itu. Bahwa sesungguhnya ketika Alhallaj mengatakan “ana Al-Haq”/”saya tuhan”, maka sesungguhnya disaat itulah ekspresi ketundukan al-hallaj yang paling dalam kepada tuhan.
    Lebih gamblangnya rummi menjelaskan bahwa Alhallaj sudah berfusi habis dengan tuhan itu sehingga ia mengatakan “yang ada hanya Tuhan/Allah, tidak ada yang lain”
    Dalam makam yang seperti ini, Alhallaj sudah tidak berani mengakui keberadaan dirinya dihadapan tuhan. “Ana-Alhaq” (yang ada hanya tuhan…iya hanya tuhan”
    Demikian terima kasih

    Wassalamualikum
    http://www.Jhellie.tk

  9. Datuk Sanggul

    LAILAHAILALLAH,” AKU mengaku tiada TUHAN selain AKU,AKU TUHAN”.Jika tubuhku,hatiku,nyawaku,rahasiaku semua milik Tuhan,maka hilanglah diri hamba terganti dengan Tuhannya,seluruh dzat,sifat,asma dan af”al adalah milik Tuhan maka yang mana milik hamba,tentunya tidak ada,jika ada yang mengatakan ilmu makrifat adalah sesat maka sesatlah Nabi Muhammad yang telah mengajarkan makrifat kepada Sayidina Ali.

  10. Alkautsar

    Mas jariiiiiiiik! semakin keren aja nih? tapi ada ndak tema yang lebih bermanfaat untuk kita? salam kenal

  11. Datuk sanggul dan mas Alkautsar!
    Terimakasi atas kunjungannya ke blog kami, tapi sayang sekali anda tdk mencantumkan email atau alamat Url, kami tidak bisa mengontak balik komentar anda.

    terimakasih
    Jhellie dkk.

  12. ........

    APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN?

    Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?
    Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini,
    “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

    Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul,Dia yang menciptakan semuanya”.
    “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

    “Ya,Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

    Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita
    bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

    Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
    Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

    Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

    “Tentu saja,” jawab si Profesor

    Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor,apakah dingin itu ada?”

    “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

    Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu-460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

    Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”
    Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
    Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

    Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
    Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

    Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah,

    Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan.
    Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.

    Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

    Profesor itu terdiam.

  13. Ucup

    Boleh nimbrung cak, tulisan anda boleh dikata sangat berani. Dengan mengatakan “Tuhan Juga Manusia”, singkatnya dapat dikatakan dengan bahasa lain “Dinamisme Ketuhanan.” Dalam arti, manusia mengenal Tuhan dari prespektifnya sendiri yang tentunya berasal dan berdasar pada paradigma kebudayaan masing-masing. Kalo boleh bantu nich, Eliade menulis dalam bukunya, Sakral dan Profan, bahwa manusia dari awal kehidupannya menyadari akan keberadaan Yang Maha Agung, dalam perkembangannya ia berusaha mencari dan memahami siapa Yang Agung Sebenarnya. Tak jarang, dikemudian hari melahirkan konsep-konsep teologi yang “berbaju” bahasa budaya. Dalam Qur’an, pencarian akan Yang Agung dilakukan pertama kali oleh Ibrahim AS, manakala ia merasakan “kekeringan spiritual” dari agama yang dianut bangsa Babilonia kala itu. Pencarian Ibrahim, menjadi cikal-bakal Tasawuf Islam dikemudian hari. Rumi, Malik bin Dinar, dan Rabi’ah merupakan “perpanjangan tangan” dari ajaran Tasawuf Islam yang digubah dalam bentuk syair teosofi.

  14. Ucup

    Selanjutnya, Tasawuf ini pula yang menjadi pondasi ajaran Islam di Indonesia. Walaupun hingga hari ini masih menjadi misteri siapa yang sebenarnya membawa Islam ke nusantara, namun ada konsensus umum sejarawan Islam bahwa, tasawuflah yang menjadi penggerak perkembangan Islam. Salah satunya adalah, term wajh Allah, kalimat ini menjadi kata kunci dalam khasanah Tasawuf. Ibnu Arabi, bahkan mengatakan bahwa ia telah memahami tentang wajh Allah dalam setiap rumah berhala, gereja, masjid dan Sinagog. Dengan kata lain, Tuhan yang dipahami manusia seringkali adalah wajh Tuhan dari sekian wajh Tuhan yang ditampakkan-Nya pada semesta alam. Bila menggunakan analogi Taurat, setiap makhluk akan mendeskripsikan “bagaimana wajh Tuhan” yang dikenalnya. Maka, inilah alasan mengapa dalam setiap sholat setelah membaca takbiratul ihram kita mengucapkan, “….inni wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros samaawati walardho hanifan musliman….” Aku hadapkan wajahku kepada wajah (dzat) yang meilngkupi langit dan bumi. Jadi, bila kita merasakan bahwa “konsep” Tuhan kita paling benar dan agama lain salah, maka sebenarnya kita tertipu dan “lupa” memahami “wajah-wajah Tuhan.” Dalam agama Hindhu, hal ini dijelaskan dalam Bhagawad Gita, “….janganlah kau ragu wahai Pandhunata, pusatkan pikiran-Mu padaku, sebab segala apa yang manusia pikirkan tentang Aku dijelaskannnya dalam beragama nama, oleh karenanya Aku memiliki banyak nama (sahasranama)…”

  15. Armin Alimuddin

    Konsep TAUHID yg sebenarnya menurut saya justru TIDAK ADA TUHAN (Lailahaillallah)… pertanyaannya apakah Allah itu Tuhan? Kalau menurut keyakinan saya Allah itu bukan Tuhan, kenapa karena kalau posisi TUHAN pasti masih ada HAMBA padahal Allah itu ESA….

    Pertanyaan yang timbul :

    – ALLAH itu yang mana?
    – Kenapa Mesti ada kata TUHAN??

    Menurut Pemahaman Saya :
    Allah itu adalah AKU ( Innani anallah, lailahailla ana…), dimana antara hamba dan tuhan telah lembur menjadi satu ( mesra ), sedangkan “Tuhan” itu berlaku dialam keasadaran, dimana ada yang menyembah dan ada yang dsembah tetapi sesunnguhnya SATU.

    TUHAN….itulah sebenranya MUHAMMAD / NUR MUHAMMAD( Halaktusyai’an liajlika ya muhammad, wahalaktuka minni ).

    Jadi saya sependapat yang mengatakan bahwa TUHAN ITU MANUSIA ( bukan rupa manusia, tetapi insan sejati ).

    wassalam,,

  16. Dzunnun Al-Mustafa

    Seringkali Rasulullah dalam tafakkurnya mengatakan “Ana Ahmad Milla Mim” kalau begitu Muhammad itu siapa? Halaktusya’an liajlika ya Muhammad, wahalaktuka minni….

    jadi,,,
    – Muhammad : TUHANNYA segala sesuatu ( Manusia YANG SEBENAR-BENARNYA MANUSIA ), kita hanya
    Rupa manusia.
    – Allah : Tuhan Yang SATU / AHAD
    – Allah & Muhammad : Hanya beda nama, seperti panas dan api, air dan basah, dll
    – Allah : AKU……………..

    wassalam,
    nuno2008@ymail.com
    South Sulawesi

  17. Anonim

    Kenapa manusia tidak bs melihat jin atau setan sedangkan jin bisa melihat manusia dan bagaimana cara manusia melihat mahluk halus tersebut “mhn d beri penjelasan”

  18. Ass wr wb

    Tuhan juga manusia???…kalau yang anda maksud Tuhan selain Allah ya mungkin juga . Soalnya memang banyak Tuhan tuhan selain Allah, Ada Tuhan patung,lata dan uzza, tuhan dari batu’ ada manusia yang mengaku tuhan . Tapi Allah…tidak ada yang menyamainya. Dia penguasa tertinggi tidak bisa di umpamakan dengan apapun karena tidak ada satupun yang meyerupaiNya. Keberadaan dan kehadiranNya hanya bisa dirasakan oleh orang yang percaya dan yakin padaNya. Orang yang tidak percaya dan yakin padaNya tidak akan pernah bisa merasakan keberadaan dan kehadiranNya.

    Orang yang yakin dan percaya pada Allah pasti akan merasakan perjumpaan dan pertemuan dengan Nya, di dunia ini….tidak harus menunggu diakhirat nanti. Sudah banyak orang yang mengalami ini. Namun orang yang tidak percaya denganNya , tidak akan pernah merasakan kenikmatan bertemu, berdialog, dan curhat denganNya.

  19. FPI

    pake logika sederhana saja.
    Allah Itu pastinya ada. Karene tidak mungkin semua keajaiban yg ada di dunia, alam semesta dan tubuh kita sendiri ada dengan sendirinya. contoh saja dari kasus kanker terjadi berbagai mutasi genetik yang mengenai gen tumor supressor,gen apoptosis, dll yang mengatur pertumbuhan sel. jika kita logikakan tidak akan pernah mungkin gen kita yang tidak memiliki akal pikiran mampu mengatur diri sedemikian rupa. coba kita bayangkan jika mutasi gen terjadi pada kita semua. mungkin saja telinga kita lebih besar dari badan kita karena kerusakan gen pengatur pertumbuhan sel. dll

    allah adalah pencipta kita
    allah mewajibkan kita beribadah
    Allah akan menghisab kita
    dan kita akn bertemu dengannya untuk pertanggungjawababn perbuatan.

    logika sederhana ini cukup untuk kita

  20. FPI

    seharusnya ditampilkan artikel full nya biar kita komentari. bukan hanya mengomentari komentar. jadinya semakin menjauhkan kita dari konteks yang ingin didiskusikan penulis. mohon artikelnya ditampilkan biar kita nilai apakah ilmiah atau tidak.

    karena setiap saya membuka situsnya JARIK, saya menemukan sebuah sindrom compleks yang kronis dan memiliki tingkat moebiditas yang sangat mengkhawatirkan. sindrom yang saya maksudkan adalah sindrom euphoria kebebasan.

    sindrom tersebut memiliki kerancuan dalam konsep dasarnya. yaitu orang yang terkena sindrom ingin membuat tulisan yang bebas dari semua standar doktrin dan dogma termasuk dogma agama. sehingga banyak tulisan memuat utak-atik akidah. namun satu hal yang dilupakan bahwa konsep BEBAS DARI SEMUA DOGMA DAN DOKTRIN adalah sebuah doktrin juga!. yaitu doktrin sinkretisme.

    hal lain yang perlu menjadi otokritik bagi kita para penulis di dunia maya adalah bahjwa kita walau bagaimanapun akan tetap butuh satu standar dan otoritas tertentu dalam berbuat atau menulis sesuatu. misalnya jika ingin menulis dalam bahasa indonesia, ada otoritas bahasa yang kita tidak mungkin bisa melanggarnya agar tulisan kita tetap diakui sebagai tulisan berbahasa indonesia. misalnya kita tidak mungkin menggunakan kalimat yang dalam bahsa indonesia tidak memiliki makna yang tertentu. konsep ini juga berlaku ketika menulis artikel tentang AGAMA. ada sebua otoritas AGAMA yang mau tidak mau harus kita patuhi agar tulisan kita masuk kategori agama. jadi otoritas inilah yang harus kita uji dan kita patuhi dalam penulisan artikel.

    sama juga ketika kita belajar fisika, kita harus tunduk kepada rumus-rumus baku misalnya E=mc2. jika tidak, kita wajib melakukan eksperimen ulang untuk menghasilkan rumusan yang sepadan sebagai gantinya. dan kita tidak akan pernah bisa tamat SMP apalagi S1 jika kita MELAKUKAN EKSPERIMEN ULANG DI LUAR OTORITAS DISIPLIN ILMU FISIKA YANG BAKU. demikian juga dengan tulisan islami, tetap ada otoritasnya.

  21. Yahudi

    Maaf dan saya mohon ampunan ALLAH Semata He he he ………….. lebih baik jadi manusia yang Bodoh dan tidak tahu apa – apa ngaku pandai thasawuf tapi he……..he……..HA….HI…..HU……Tertawa anak anak selamat dan sejahtera semua buat saudara saudara KU di rubrik yang sangat SAYA Sukai ini WAlau terlambat ikut nimbrung di saran tuhan juga manusia bukan bukan TUHAN JUGA MANUSIA pesan Yahudi Pandai – pandailah menyimpan Rahasia ALLAH maka IA juga akan sayang padamu WASALAAM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s