Industrialisasi Agama


qurannn33.gif
Dunia kontemporer nyaris tidak bisa lagi dipisahkan dengan nilai-nilai dan kehidupan industrial yang kapitalistik. Setiap langkah, tindakan, dan kegiatan orang dan kelompok cenderung bersifat profit oriented. Kegiatan agama pun—sengaja atau tidak sengaja—juga berada dalam bingkai semacam itu.

Oleh Abd A’la*

Fenomena di sekitar kita memperlihatkan banyaknya ritual keagamaan—mulai istighatsah hingga zikir bersama—yang mengarah kuat dikemas dengan pola-pola yang sarat dengan ukuran layak jual tidaknya acara tersebut bagi masyarakat luas. Lihat saja, masyarakat lebih mengidolakan agamawan yang bergaya “selebriti”, yang menarik di panggung pertunjukan ketimbang tokoh yang benar-benar menguasai agama dan mengaplikasinya dalam kehidupan nyata.

Media massa—terutama elektronik—tidak menyia-nyiakan peluang ini. Dari saat ke saat, televisi menayangkan momen-momen keagamaan semacam itu melalui siaran langsung maupun tunda. Dengan pola ini, dana mengalir bukan hanya ke kantong agamawan selebriti, tetapi juga ke media massa elektronik. Masyarakat juga menikmati entertainment religion ini sama seperti mereka menikmati tayangan yang bersifat hiburan lainnya.

Agama Eksihibisionistik
Fenomena itu menyuguhkan kehadiran model keberagamaan yang kendati tidak sama sekali baru, tetapi memiliki perbedaan dengan pola-pola sebelumnya. Model keberagamaan ini sering (meskipun tentunya tidak selalu) berimbas pada terjadinya upaya mendulang “emas” dengan mengatasnamakan agama. Pada satu pihak, para da’i yang lebih menyerupai kaum selebritis—entah karena alasan manajemen atau lainnya—sering mematok harga cukup mahal untuk bisa hadir di suatu tempat atau tampil di depan kamera.

Di pihak lain, stasiun televisi yang menayangkan ritual tersebut mengalkulasi secara akurat untung rugi peliputan tersebut. Sebagai bagian dari gurita dunia industri—yang umumnya berkiblat ke dunia Barat yang kapitalistik—stasiun tersebut tentu tidak akan gampang meliputnya —apalagi secara live—jika hanya akan mengeruk keuntungan tipis. Industrialisasi agama ini kian lengkap melalui hadirnya event organizer dan sejenisnya yang akan mengatur ritual tersebut menjadi menarik dan layak ditonton.

Sebagai dampak atau bagian dari dunia industri, ritual keagamaan yang ekshibisionistik sangat tergantung pada kehadiran massa dan penonton yang banyak. Cara menarik orang lalu dikemas sedemikian rupa, misalnya melalui iklan dengan ungkapan-ungkapan cukup membuai. Orang dan penonton pun datang dengan latar belakang beragam dan bisa belum saling mengenal satu dengan yang lain, serta dengan tujuan berbeda. Ada dengan niat mencari Tuhan (bisa bertemu atau tidak, itu persoalan nanti), ada yang sekadar ingin lari dari kepengapan kehidupan, dan ada juga yang ingin menyambung hidup dengan berjualan di sekitar arena “pertunjukan”.

Minimalis
Hadirnya ritual keagamaan tersebut tentu tidak terkait dengan masalah boleh atau tidak boleh, apalagi halal atau haram. Persoalannya lebih merujuk pada ada-tidaknya nilai-nilai spiritualitas substantif yang terinternalisasi dan kemudian tereksternalisasi kepada “umat” yang melakukan upacara tersebut.

Melihat nuansa entertainment yang begitu kental dan keragaman yang hadir, di mana mereka tidak jarang membawa serta anak-anak mereka yang di bawah umur, sulit dipercaya ritual ekshibisionistik dapat memperkaya spiritualitas mereka, apalagi jika dilihat suasana seusai ritual. Koran-koran bekas tempat duduk dibiarkan bertebaran di sana sini, dan plastik bekas minuman berserakan. Selesai acara, mereka kembali ke kehidupan asal mereka. Mereka yang membawa motor ngebut dengan kendaraan mereka tanpa abai lagi dengan orang-orang sekitar, dan yang membawa mobil mewah tetap menunjukkan keangkuhan mereka. Selebihnya, korupsi tetap marak, dan kebejatan yang lain tetap merajalela.

Ritual—kata Catherine Bell (1997: 259)—memang bukan lagi tata cara yang mengatur suatu praktik (ibadah), tetapi merupakan bagian dari praktik yang terdapat pada semua agama dan di luar agama, yang melibatkan simbol-simbol ekspresif yang intrinsik dengan perasaan diri dan cara hidup suatu komunitas.

Dalam konteks ritual keberagamaan ekshibisionis yang menggejala kuat pada diri sebagian bangsa saat ini, hal itu merupakan penanda bahwa mereka (atau jangan-jangan bangsa ini secara keseluruhan) masih berada pada tataran kehidupan yang lebih mengedepankan simbol dan hal-hal yang bersifat permukaan, dan belum mampu menyentuh hakikat dan tujuan kehidupan yang sebenarnya.

*Abd A’la Pengajar Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya

Kompas, 14 Juni 2007

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s