Menunggu Jum’at Punya Manfaat


jhelly-came.jpg
jhellie [dot] teka

Sejak keluar pondok tiga tahun silam, aku merasa tidak perlu lagi ikutan sholat jum’at. Alasanku, selain malas juga karena provokasi nakal anak-anak Ma’had Ali Situbondo yang bilang, gak wajib jum’atan bagi orang yang musafir. Musafir dalam madzhab Syafi’i di definisikan “orang yang akan kembali ke rumah”. “Aku kan musafir” kataku ikut-ikutan nakal.

Tapi Jum’at kemaren, entahlah! Aku tiba-tiba merasa perlu sholat jum’at. Panggilan ilahi kali!!! Hehe..!! Aku sengaja datang lebih awal, bahkan aku mendapat shaf paling depan. Duduk disampingku bapak-bapak haji lengkap dengan surban dan menggantung di leher. “Keren” fikirku sesaat.

Dengan sopan, aku bersiap-siap menyimak isi khutbah sang khatib yang baru saja naik mimbar. Namun, sekitar lima menit khutbah itu berjalan, saya tidak menemukan bahasa yang saya fahami. Si Khatib ternyata berkhutbah dengan bahasa arab. Sementara itu, Pak Haji yang disampingku membuatku tekejut. Dia tidur!. “Sialan ne pak haji” gerutuku.

Kecewa berat, selesai shalat aku meninggalkan masjid tanpa ikut dzikir segala. Perjalanan dari masjid ke kost aku manfaatkan untuk mengingat-ingat isi kitab Fathur Qarib pada Bab Shalat yang sempat ku kaji di pondok sekian tahun silam. Di kitab itu ada pertanyaan yang cukup bermakna dan melekat di kepalaku, mengapa sholat jum’at di diskon menjadi dua rakaat saja? Padahal sholat dzuhur yang memiliki waktu sama itu jumlahnya empat rakaat?

Pertanyaan itu dijawabnya sendiri oleh pengarang kitab itu. Katanya, adanya pendiskonan sholat jum’at itu karena yang dua rakaatnya lagi telah digantikan dengan khutbah jum’at. Guyon pula alasan itu! (Maaf, salam juang Eko Medan). “Berarti khutbah jum’at semestinya yang berkualitas dong” fikirku kemudian.

Akhirnya, sesampai di kost aku sholat lagi, Sholat dzuhur seperti biasa, empat rakaat. Aku merasa tadi itu rugi banget. Aku gak rela sholat dua rakaat tergantikan oleh omongan sang khatib yang artinya tidak ku mengerti bahkan mungkin juga oleh khatibnya sendiri. Konyol!

Aku menemukan dhalil sendiri, mengapa aku tidak perlu lagi sholat jum’at. Untuk alasan yang menyejarah, seperti jum’atan sebagai ajang silaturahim antar ummat muslim. Aku semakin tidak percaya hal itu, karena orang-orang yang menjadi jama’ah jum’at tak pernah mengajakku komunikasi sedikitpun. Bukankah inti dari silaturrahim itu komunikasi???[]

Iklan

6 Komentar

Filed under Opini

6 responses to “Menunggu Jum’at Punya Manfaat

  1. coz

    Jum’at bagian bagian dari Iman

    Maaf Bung Jhelli kayaknya untuk shalat jum’at ini aku tidak sepakat dengan dengan pendapat anda walaupun dalam berbagai hal wacana kita sejalan. Masa’ kita harus menunggu shalat jum’at punya manfaat sih?. Saya pikir, jalani sajalah itukan printah agama bukan printah imam syafi’i, bukan pula printah nurkhalis majid. Kenapa kita mesti risau dengan adanya shalat jum’at bukankah jum’at itu bagian dari kepercayaan kita kepada agama. Saya ingat perkataan anda yang mengatakan, agama itu mesti kita yakini. Benar apa yang bung jhelli katakan itu sangat logis sekali kalau semua ajaran agama yang kaitannya dengan ibadah mahdoh kita logikakan kapan kita bisa menyakini agama?. Justru membawa kita menjadi orang yang tidak bener beragama. He…hee sory bung jhelii . coz khair

  2. coz

    Jum’at bagian bagian dari Iman
    Maaf Bung Jhelli kayaknya untuk shalat jum’at ini aku tidak sepakat dengan dengan pendapat anda walaupun dalam berbagai hal wacana kita sejalan. Masa’ kita harus menunggu shalat jum’at punya manfaat sih?. Saya pikir, jalani sajalah itukan printah agama bukan printah imam syafi’i, bukan pula printah nurkhalis majid. Kenapa kita mesti risau dengan adanya shalat jum’at bukankah jum’at itu bagian dari kepercayaan kita kepada agama. Saya ingat perkataan anda yang mengatakan, agama itu mesti kita yakini. Benar apa yang bung jhelli katakan itu sangat logis sekali kalau semua ajaran agama yang kaitannya dengan ibadah mahdoh kita logikakan kapan kita bisa menyakini agama?. Justru membawa kita menjadi orang yang tidak bener beragama. He…hee sory bung jhelii . coz khair

  3. ikhwan

    yahc gitu ajha kok repot kalo ga’pengen shalat, ya udah jangan shalat lagian shalat jum’at kan nyapein.

  4. Admin

    Ceritanya lucu juga mas… Biasanya orang nggak sholat alasanya karena belum “tergerak hatinya”, “belum sreg” dan semacam itu.

    Lha ini? Cuma karena kecewa dengan khutbah Jum’at akhirnya kapok nggak sholat Jum’at lagi.

    Nanti di akherat kalau ditanya Gusti Allah kenapa nggak sholat Jum’at kira-kira mau njawab apa?

  5. Admin

    Kenapa nggak sekalian saja begini, “Sholat Jum’at lagi? Kan minggu kemarin udah… Malas aaah…”

  6. terima kasih sharingnya…
    semoga bisa menjadi ilmu yg bermanfaat & Multi Level Pahala (MLP), amin…

    agar jamaah tdk mengantuk/tidur/bosan ketika khutbah Jum’at, saya membuat tulisan tentang “Bagaimana Menjadi Khatib Efektif?”
    silakan berkunjung ke:

    Bagaimana Menjadi Khatib Efektif?
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link bagaimana menjadi khatib efektif?)

    tulisan ini ttg : teknik berpidato/retorika/khithabah & dakwah (bukan sekadar berkata-kata)…

    semoga bermanfaat..
    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s