Hidup Bersama, Demikianlah Pesan Nabi


online1_041.jpg
Ketika dunia menyaksikan letusan kekerasan antara Sunni dan Shiah di Irak dan dihadapkan dengan pesan-pesan yang menyebar secara acak dari pihak-pihak berseteru yang menyerukan kekerasan maupun tidak terhadap musuh-musuh mereka dalam masyarakat Muslim. Banyak orang yang tak akrab dengan Islam dan Muslim mungkin bisa dimaafkan kalau memikirkan hal terburuk terhadap kedua agama tersebut dan para pengikutnya. Dalam dalam sejarah Islam dan umat Muslim sendiri, preseden bagi koeksistensi relijius merupakan hal yang dari awal telah ada.

Oleh : Hisham al-Zoubeir*

Pandangan Al Qur’an tentang tukang kayu dari Nazareth jelas: Yesus disebut Roh Allah, dan Imam Mahdi. Musa digambarkan sebagai nabi yang diajak oleh Allah berbicara secara langsung, tanpa ada pembatas. Umat Muslim masih mentakzimkan mereka, dan para pengikutnya dianggap memiliki tempat khusus dalam Qur’an.

Nabi berbangsa Arab, Muhammad, menurut tradisi Islam diturunkan sebagai “pembawa keselamatan bagi dunia”, menunjukkan kepada kita bagaimana ringkasan teologis ini dicontohkan secara praktis dalam pertemuan antar agama pertama antara umat Muslim dan Kristen – yang berlangsung sekitar 14 abad silam.

Delegasi enam puluh orang Kristen dari masyarakat yang berada sekitar 450 mil di selatan kota Nabi, Madinah, menemuinya pada tahun 631. Selama pertemuan tiga hari antara perwakilan dari satu kaum agama dengan pendiri agama yang lain ini, teladan bagi etika Muslim dalam berhadapan dengan umat agalam “lain” telah ditegaskan untuk sepanjang zaman. Ada banyak pelajaran yang dapat ditarik dari pertemuan ini, tetapi tiga di antaranya yang paling nyata.

Pertama tak satu pun umat Kristen maupun Muslim yang berpura-pura menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan mereka. Umat Kristen menegaskan Trinitarianisme mereka, dan Rasul menolaknya sebagai keyakinan. Kedua pihak percaya bahwa Kristus adalah Imam Mahdi, bahwa ia dilahirkan tanpa seorang ayah, dan bahwa ia menerima wahyu dari Allah. Tidak ada upaya menghindari perbedaan, dan pencarian landasan bersama merupakan hal yang utama. Mengingat budaya pada saat itu – Rasul memiliki keuntungan sebagai seorang pemimpin dari sebuah masyarakat yang berkuasa – tetapi ia tetap menghormati para tamunya yang secara politis lemah.

Kedua, perbedaan tersebut tidak menjadi alasan bagi sebuah konflik relijius – ketika umat Kristen mengusulkan agar mereka pergi ke padang pasir untuk melaksanakan misa, Rasul mengundang mereka untuk melaksanakannya di dalam masjidnya. Ia tidak ikut serta dalam ritual-ritual mereka, tetapi ia mengundang mereka ke tempatnya peribadatannya sendiri untuk melaksanakannya. Ini bukan sekedar sebuah toleransi: ini adalah rasa hormat, jika bukan penerimaan. Ia bertemu mereka dengan pandangan bahwa mereka adalah orang-orang saleh sejati, bukan fanatik.

Generasi-generasi Muslim kemudian melaksanakan teladan tindakannya dengan sungguh-sungguh: ketika ia mengatakan bahwa hak-hak kaum non-Muslim di bawah perlindungan masyarakat Islam adalah sesuatu yang suci, bahwa ia akan menjadi saksi mereka pada Hari Perhitungan, umat Muslim mendengarkannya. Jutaan kaum non-Muslim yang masih merupakan bagian dunia Muslim menjadi saksi terhadap hal itu. Keadaannya tidaklah sempurna, tetapi para ahli sejarah non-Muslim mencatat bahwa hal tersebut merupakan teladan terbaik pada masanya.

Ketiga, perbedaan tidak berarti bahwa koeksistensi pada tingkat sosial dan politik tak mungkin terjadi. Umat Kristen tetap menerima Rasul sebagai penjamin mereka dalam bidang politik, dan selama 14 abad masyarakat-masyarakat Kristen telah menerima para pemimpin Muslim sebagai penjamin mereka, terhadap hidup, harta benda, dan agama mereka yang terjaga sebagai pertukaran dengan atas pajak, yang sama dengan pajak yang dibayarkan umat Muslim kepada pihak pemerintah mereka.

Pertemuan dengan umat Kristen dari Najran di atas, biar bagaimanapun merupakan peristiwa khusus dalam kehidupan Rasul yang menunjukkan hubungan antar agama yang terus berlangsung. Sebuah perjanjian awal, yang dokumentasinya masih ada, dan bukti pelaksanaanya oleh umat Kristen Sinai.

“Ini adalah pesan dari Muhammad putra Abdullah, sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk Nasrani, jauh dan dekat: kami dengan mereka. Sesungguhnya saya, pelayan, penolong (rakyat Madinah), dan para pengikut saya membela mereka, karena umat Kristen adalah warga saya; dan demi Allah! Saya dengan tegas melarang segala sesuatu yang menyusahkan mereka. Tidak ada paksaan bagi mereka. Tidak juga para hakim mereka dipecat dari pekerjaan mereka atau para pendeta mereka dari biara mereka.

Tidak seorang pun boleh menghancurkan rumah peribadatan mereka, merusaknya, atau membawa apapun dari dalamnya ke rumah-rumah umat Muslim. Jikalau ada orang yang melakukan satu saja dari hal tersebut, ia telah melanggar perjanjian Tuhan dan tidak menaati Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutuku dan memiliki janji keamanan dariku terhadap segala sesuatu yang mereka benci.”

Jangan salah, ini bukan seruan abad pertengahan bagi sinkretisme, atau penolakan bahwa Islam, sebuah agama universal, menyerukan umat Muslim untuk menjadi saksi bagi agama mereka. Memang, dalam banyak peristiwa, Rasul justru melakukan hal tersebut. Namun, ini ditetapkan sebagai kebutuhan etika Muslim untuk menghormati umat agama lain dengan melibatkan mereka.

Orang yang menyatakan dirinya tidak dikirim “kecuali untuk menyempurnakan akhlak” tersebut menunjukkan teladan penghormatan dan koeksistensi yang sekarang telah menjadi sesuatu yang jarang ada di berbagai belahan dunia. Sebagian pengikutnya melupakan hal itu setelah wafatnya; tetapi biar bagaimanapun, sunnahnya telah memberi preseden yang tetap kita butuhkan dewasa ini, dengan komitmen yang diperbarui tentunya.

Penulis peneliti pemikiran Islam klasik. Ia mendapat gelar Ph.D. dalam sejarah Muslim Eropa, dan menulis tentang hubunganon Islam-Barat.

Artikel ini adalah bagian dari serial apostasy and proselytism, didistribusikan oleh Kantor Berita Common Ground dan dimuat di http://www.syirah.com dapat dibaca di http://www.commongroundnews.org dan http://www.syirah.com

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s