Sudah Dimaafkan


news41181808713.jpg
Disebutkan bahwa pada bulan suci Ramadhan anugerah Allah dibagi menjadi tiga bagian; sepuluh hari pertama berupa rahmah, sepuluh hari kedua maghfirah, dan hari-hari selebihnya I’qun minnaar.

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri


Mukmin yang berutung, setelah mengisi Ramadhan dengan berbagai amalan yang
dianjurkan, akan mendapat ketiga-tiganya : rahmat Allah, pengampunan-Nya,
dan bebas dari api mereka. Mudah-mudahan kita semua termasuk yang beruntung
itu, minal faaizin ! Amin.

Apalagikah yang mendapat kita jadikan tumpuan harapan kalu bukan
mudah-mudahan atau semoga? Nabi Muhammad SAW saja tidak berani mengandalkan
amalan, hanya nyodong rahmat-Nya.

Bagaimana pula kita yang kadang hanya berpuasa menahan makan dan minum?
Lebih jauh hanya berpuasa menahan syawat kelamin maksimal 12 jam. Kita
sering menahan mulut dari dusta, berbicara buruk dan membicarakan keburukan
orang lain; mengabaikan puasa menahan mata dari memandang hal-hal yang
haram; mengabaikan puasa menahan tangan dari berbuat jail; dan mengabaikan
kaki dari melangkah kewilayah-wilayah yang menjerumuskan kemaksiat.

Lebih sering lagi mengabaikan puasa menahan diri dari amarah, hasut, dengki,
takabur, mengangap diri paling baik, paling hebat.

Memang ada dawuh yang mengatakan bahwa puasa adalah antara kita dan Allah.
Namun yang acap kali kita lupakan ialah bahwa “antara kita dan Allah” itu
hanyalah berkaitan dengan “kita’ yang berpuasa dan “Allah” yang mengajarnya.

Puasa itu sendiri tidak semata-mata amalan individual. Puasa tersebut
menjadi ringan justru karena kita melakukan bersama-sama. Demikian pula,
salat tarawih dan salat witir. (Berapa diantara kita yang biasa melakukan
salat witir sendirian ?)

Ketika kita berbuka hingga kekenyangan dan tenaga kita tak menemukan
sesuatau untuk berbuka, kita tahu betapa beratnya ancaman. Kelaparan dan
kehausan kita di siang dari semestinya mendarkan kita bertapa beratnya
saudara kita yang lapar dan haus siang dan malam.

Kedermawanan kita pun diharapkan dapat menaklukan yang melekat pada diri
kita. Karena itu, -wallahu a’lam- kegiatan memberikan santunan zakat
mengikuti dan mengiring kegiatan puasa.

Puasa sebagai latihan menahan diri bukan saja berkaitan dengan pengekangan
nafsu dan syahwat dari dan untuk kita sendiri. Apalagi kita sudah menahan
syahwat dan nafsu pribadi untuk tidak makan dan minum dan bersetubuh, tapi
kita tidak bisa menahan diri dari marah, dengki dan menyakiti hati orang
lain, kita khawatir termasuk mereka yang menurut khadis tersebut- disebut
puasa hanya mendapatkan lapar dan haus belaka. Na’uzu billah.

Ya kepada, Allah kita berharap banyak, “Ana ‘inda zhannai’ abdi bii” firman
Allah dalam sebuah hadis Qudsi, “Aku mengikuti keyakinan hamba-hamba-Ku”.
Bila seorang hamba yakin akan menerima amalnya. Bila ia yakin Allah akan
mengampuni dosanya, Allah pun akan mengampuninya. Demikian sebaliknya.
Disamping itu, Allah maha baik. Tidak hanya suka memberi, tapi juga suka
dimintai hamba-hamba-Nya. Ia Maha pengampun yang suka mengampuni hamba-Nya.
Ia berbuat baik dan memberi ampun tanpa pamrih apa pun.

Berbeda dengan manusia yang betapa pun baiknya tidak sebaik itu. Bahkan
mungkin lebih banyak yang mengembalikannya. Kebaikannya pun sering
berpamrih’ oleh karena itu saya sering mengatakan, bergaul dengan Allah jauh
lebih baik jika bergaul dengan manusia. Allah gampangan sedangkan manusia
umumnya sulit dan menyulitkan.

Kurang-kurang sedikit pekerjaan yang kita lakukan atas perintah-Nya, asal
kita benar-benar berusaha mengepa-ngepaskan kerja kita sesuai perintah-Nya,
insyaAllah, Allah akan memaklumi dan memaafkan kekurangannya. “Saddiduu wa
Qaaribu !” sabda Rasulullah SAW; Pas-paskanlah, kalu tidak pas betul,
minimal mendekati.

Bandingkan dengan umumnya majikan manusia. Jangankan kurang sedikit
kadang-kadang sudah pas pun masih menampakan kekurangpuasannya. Anehnya,
sikap kita sering terbalik. Terhadap Allah yang mengampangkan begitu kita
malah sok pethenthengan. Kepada hamba yang sembahyang kurang pas sedikit
saja menghadap kiblat, kita marah-marah. Ada orang buka warung memang
pekerjaanya warungan di siang bulan Ramadhan saja kita marah. Seolah-olah
kita khawatir tergoda makan jika ada warung buka. Berlebaran tidak sesuai
hisab atau rukyat saja geger. Seolah-olah Ied adalah hak kita, bukan hak
Allah.

Sementara terhadap manusia yang tidak gampang, menganggap gampang. Enak saja
kita berbuat sesuatu tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Bahkan
sudah tahu kita tidak suka dibohongi, dengan gampang kita membohongi orang
lain. Kita tidak suka dilukai dengan gampang kita melukai orang lain. Kita
tidak suka hak kita dirampas dengan gampang kita merampas hak orang lain.

Padahal, kesalahan kita kepada sesama ada hisabnya dan tidak otomatis
terampuni tanpa kita mendapatkan pemaafan dari yang bersangkutan. Betapapun
baiknya sikap kita terhadap Allah kita berlaku semena-mena kita perlu mulai
khawatir akan nasib kita kelak di kemudian hari.

Waba’du, beruntunglah kita punya tradisi unik dalam memeriahkan Idul fitri.
Di dalamnnya ada acara silaturohmi diantara kita. Marilah kita gunakan
kesempatan silaturohmi itu sebaik-baiknya. Kita gunakan saling mengakui
kesalahan dan memohon maaf sekaligus berjanji dalam hati, untuk selanjutnya
akan lebih berhati-hati dalam pergaulan. Mudah-mudahan dengan demikian kita
akan menjadi manusia fitri kembali. []

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s