Konflik Mazhab di Pulau Seribu Masjid


20041221.jpg
Religion can be as emotional support an as psychoteraphy. Religion offer consolation to oppressed peoples by giving the hope that can achieve salvation and eternal happines in an after life
(Mredith B. McGuire)

Beberapa tahun belakangan ini, media sering memberikan kita hidangan pagi dalam berita kriminal. Mulai dari penganiayaan antar pelajar, antar kelompok warga, antarkomunitas, antarsuku, bahkan antaragama. Konflik yang terakhir ini terkesan lebih menarik, sebab semua orang merasa terlibat secara psikis, walaupun secara fisik tidak. Tentunya karena semua manusia beragama, dan ketika terjadi konflik antaragama, maka tiap-tiap pemeluk agama, disadari atau tidak, pasti akan membela orang-orang yang terlibat dalam konflik dan se-agama dengannya. Perasaan ini tidak bisa dihilangkan begitu saja, sebab sudah menjadi naluri manusia mempercayai apa yang diyakininya benar. Tetapi bagaimana dengan konflik yang terjadi dalam intern suatu agama? Sebut saja Islam. Bukankah para penganutnya memiliki sumber yang sama, Al-Qur’an dan As-Sunnah?

Fathurrahman Tulus*

Bak api, jika tidak ada yang menyulutnya, maka ia tidak akan menyala. Begitu juga dengan sebuah konflik. Dalam sebuah komunitas pun, konflik tidak bisa hilang begitu saja. Bahkan dalam diri seorang manusia. Ketika terjadi pertarungan batin antara bisikan nafsu dengan naluri fitrah manusia, secara otomatis telah terjadi konflik yang akan melahirkan tindakan atau perbuatan pada diri manusia itu sendiri.

Pun demikian dalam intern umat Islam. Konflik telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam sejarah peradaban umat Islam. Pada masa perjuangan Rasulullah saw, konflik sering terjadi dan bahkan menjadi suatu warna yang selalu ada. Sebut saja konflik antara umat Islam dengan khalifah Utsman bin Affan yang bersumber dari asumsi kolusi yang dilakukan Utsman. Konflik yang terjadi antara pengikut Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah. Serta sederet sejarah kelam umat Islam yang berakhir dengan pertumpahan darah.

Konflik intern umat beragama, khususnya dalam Islam, biasanya disebabkan oleh perbedaan paham (baca: mazhab) tentang ajaran Islam itu sendiri. Beberapa madzhab yang ada dalam Islam berpotensi melahirkan perbedaan paham, dan akhirnya akan melahirkan perbedaan pendapat, saling klaim salah benar, dan berujung pada legalisasi kebenaran versi masing-masing kelompok. Jika telah demikian, maka akan melahirkan tindakan-tindakan pembenaran menurut versi di atas. Penganut madzhab yang satu akan mengkalim diri mereka benar, dan yang lainnya keliru, begitupula sebaliknya. Dan berakhir dengan konflik antar madzhab, dalam intern umat Islam sendiri.

Ketika agama menjadi sumber atau pembenar konflik, sesungguhnya agama itu sedang berperan atau diperankan menganjurkan kekerasan. Tetapi masalahnya semua orang tahu, semua agama mengajarkan perdamaian. Di sinilah dilemanya. Rupanya citra suatu agama, lebih spesifik lagi madzhab dalam satu agama itu sebagai penganjur kekerasan atau kedamaian, bukan hanya terletak pada ajaran agama itu saja, tetapi juga pada kelembagaan dan kepemimpinan pendukung agama itu. Eksperimen Mahatma Gandhi di India yang anti kekerasan telah membuat citra agama Hindu sebagai agama yang anti kekerasan, meskipun orang agama Hindu lain di negeri yang sama juga berbuat kekerasan terhadap orang-orang islam. Islam dicitrakan oleh sebagian orang Barat sebagai agama penganjur kekerasan, karena segelintir pelaku kekerasan yang dihadapi oleh orang Barat di dunia ini adalah kebetulan orang Islam.

Agama menjadi penganjur kekerasan, baik dari sudut pandang ajaran agama atau kelembagaan dan orang-orang yang mendukung suatu ajaran agama tertentu. Sebuah survey yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta pada Maret 2006 lalu, memberikan gambaran bahwa seringkali agama dituduh menjadi penyebab timbulnya tindak kekerasan. Tuduhan ini sebenarnya sangat beralasan. Buktinya berapa banyak ketegangan dan konflik yang disulut oleh agama di Indonesia. Sejumlah konflik yang terjadi di Tanah Air ditengarai disulut oleh sentimen keagamaan. Sebut saja misalnya konflik Ambon dan Poso, dua konflik keagamaan yang sampai sekarang belum tuntas.

Di samping menyulut konflik antar kelompok agama, agama juga memupuk budaya kekerasan inter-pemeluk agama. Untuk kasus Islam, ada sejumlah ayat al-Qur’an dan hadis Nabi yang “membolehkan” para suami untuk “memukul” istrinya. Demikian pula hadis yang membolehkan para orang tua untuk “memukul” anaknya untuk mendidiknya shalat.

Dari hasil survey tersbut ditemukan indikasi bahwa masyarakat Muslim memang memiliki potensi besar untuk berbuat kekerasan berdalih ajaran agama. Ditemukan 18,4% masyarakat Muslim yang menyetujui penggunaan kekerasan (dengan cara dibakar atau dihancurkan) dalam menyikapi gereja yang didirikan tanpa ijin. Demikian pula jumlah proporsi masyarakat yang bersedia (29,3%) mengusir kelompok “sesat” Ahmadiyah.

Pertanyaannya adalah, sejauh mana. peran agama dan budaya dalam mendorong tumbuhnya budaya kekerasan ini? Dari sudut mana agama dapat mengatur pemeluknya dalam segala urusan kehidupan di dunia ini? Setidaknya ada lima pandangan yang kiranya bisa disebut sebagai pandangan ideologis tentang agama. Sebagaimana dikemukakan M. Soleh Isre dalam bukunya Konflik Etno Religius Kontemporer menyebutkan lima pandangan di atas.

1. Pandangan Sekularistik Penuh.

Pandangan ini mengatakan bahwa agama tidak diperlakukan dalam kehidupan di dunia ini, karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan manusia, termasuk tentang arti dan tujuan hidup di dunia.

2. Pandangan Sekularistik Publik.

Pandangan ini mengatakan bahwa agama hanya diperlukan dalam kehidupan pribadi, sedangkan dalam kehidupan publik, agama tidak boleh ikut campur. Pandangan ini disebut juga dengan privatisasi agama.

3. Pandangan Sinkretik.

Pandangan ini menyatakan bahwa agama memang mengatur kehidupan dunia dan akhirat, tetapi dalam pengaturan tersebut agama tidak berperan sendirian. Berbagai ajaran agama dapat dijadikan menjadi satu yang diyakini sebagai agamanya. Bahkan juga praktik-praktik budaya lokal dapat ikut bergabung dengan ajaran agama dan membentuk suatu agama sinkretik yang kemudian diperankan mengatur kehidupan mansuia di dunia ini.

4. Pandangan Fundamentalis.

Pandangan ini mengatakan bahwa seluruh kegiatan manusia di dunia ini, termasuk kegiatan politik, harus diatur oleh agama. Bahkan, yang disebut agama yang harus mengatur itu bukan hanya agama sebgaimana tertera dalam kitab sucinya, tetapi juga mengikuti secara harfiah apa yang dilakukan oleh pendiri agama itu.

5. Pandangan Substantif.

Pandangan ini menyatakan bahwa agama harus mengatur kehidupan manusia di dunia ini, tetapi hanya pada tataran substantifnya. Adapun pada tataran praktisnya disesuaikan dengan perkembangan zaman dan perkembangan ilmu dan teknologi.

Dari kelima pandangan tentang agama di atas, nampaknya pandangan substantif lebih tepat untuk zaman sekarang yang pluralistik. Karena pandangan ini sanggup menjaga nilai lama yang luhur dengan kemasan baru yang lentur. Pandangan ini biasa dipegang oleh kaum modernis dan liberalis. Ajaran agama yang lentur, disesuaikan dengan kondisi zaman yang sedang berkembang tanpa merubah substansi yang terkandung dalam ajaran agama itu sendiri, menjadikan kehidupan masyarakat akan lebih semarak dalam bingkai pluralisme. Ajaran agama pun akan termanifestasikan dalam berbagai bentuk kehidupan manusia. Paling tidak secara sosiologis, ia terwujud dalam tiga cara pengungkapan universalnya, yakni; sebagai belief of system, system of workship dan system of social relation. Dalam realitasnya ia juga memiliki tiga fungsi mendasar, fungsi edukatif (mendidik), fungsi salvatif (penyelamatan), dan fungsi kontrol sosal (pengawasan sosial).

Peran agama di atas akan semakin nampak jika didukung oleh komponen yang ada di dalam ajaran agama itu. Mulai dari pribadi penmeluk agama sampai pada kelembagaan suatu agama. Sehingga beragam konflik, baik yang terjadi antar umat beragama ataupun intern umat beragama akan semakin dapat dikikis dan dieliminir.

Menggali Akar Pro-Kontra Paham Salafi di Desa Sesela
Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat

Tragedi ini bersumber dari perbedaan paham warga tentang ajaran Islam. Bermula pada sebuah upacara pemakaman meninggalnya seorang warga Desa Dopang Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat NTB. Dalam prosesi pemakaman tersebut, seorang tuan guru (sebuah istilah yang lebih familiar pada masyarakat Lombok, Kyai di Jawa) kemudian membacakan talqin untuk si mayit. Upacara pemakaman berjalan sebagaimana mestinya, namun usai acara seorang warga desa tersebut yang bernama Mashuri, menegur tindakan sang tuan guru kaitannya dengan talqinul mayyit. Menurut Mashuri –salah seorang penganut paham salafi– dalam Islam tidak dibenarkan adanya talqinul mayyit saat pemakaman, yang ada hanya ketika seorang muslim hendak meninggal dunia atau saat-saat kritis menjelang maut, atau sakaratul maut.

Melihat kejadian tersebut, warga Desa Dopang kemudian meminta agar Mashuri segera meminta maaf atas tidakannya. Secara sosio kultural, permintaan masyarakat tersebut sangat beralasan. Sebab, sosok tuan guru menjadi suat posisi yang sangat sakral dan dimuliakan. Sehingga ketika terjadi hal sepele seperti di atas, tetap saja melahirkan respon besar dari pengikut sang tuan guru. Dampaknya pun semakin meluas, yang semula hanya bersumber di Desa Dopang, kemudian merebak ke berbagai desa tetangga, salah satunya adalah Desa Sesela, yang sekaligus pusat salafi di Kecamatan Gunungsari.

Fathoni Moehtadi mengutip perkataan DR. Tamrin Amal Tomagola mengatakan dalam sebuah konflik sosial yang bernuansa agama biasanya terjadi akibat pertemuan empat elemen utama dalam waktu yang bersamaan. Keempat elemen tersebut adalah facilitating contexts (konteks pendukung), core (roots) of conflict (akar konflik), fuse factor (sumbu), dan triggering factors (pemicu).

Dalam kasus salafi di desa Sesela, konteks pendukung konflik adalah pola pemukiman yang terpisah dari masyarakat sekitar dan pemisahan ajaran agama dari ajaran agama yang biasanya dilakukan oleh masyarakat setempat. Para pengikut salafi secara terang-terangan menunjukkan jati diri mereka dengan identitas dan ciri khas yang sangat berbeda dengan masyarakat setempat. Melihat fenomena tersebut, masyarakat yang mayoritas awam, hanya mempercayai sosok tuan guru pun merasa terganggu. Sebagai imbasnya, masyarakat tidak bisa menerima kehadiran paham salafi dengan perbedaan pendapat dalam masalah fiqh.

Dalam beberapa pandangan yang dikemukakan oleh paham salafi, seperti talqinul mayyit, zikir syarih, ziarah makam dan lain sebagainya sebagai amalan yang tidak memiliki dasar. Salafi melihat ‘tradisi’ keagamaan yang dilakukan masyarakat setempat telah menyimpang dari ajaran Islam yang haq, yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Klaim ini kemudian direspon negatif oleh masyarakat yang menganggap pengikut salafi sebagai aliran ‘sesat’ yang ingin merusak tatanan kehidupan beragama masyarakat yang telah sekian lama terbangun. Respon negatif masyarakat tersebut akhirnya berujung pada tragedi perusakan dan pembakaran dua rumah warga salafi serta sebuah pondok pesantren yang menjadi pusat aktivitas warga salafi. Selain itu, pengikut salafi mesti rela meninggalkan Desa Sesela mencari tempat yang aman.

Alternatif Solusinya

Konflik, apapun dan dimanapun terjadi selalu menimbulkan dampak, entah negatif ataupun positif. Kebanyakan konflik memang menimbulkan dampak negatif jika dilihat dari tinjauan sosial ekonomi, sebab hanya akan mewariskan kerugian dari sudut finansial semata. Tetapi, terkadang konflik juga dapat memberikan dampak positif jika dilihat dari sudut sosio-kultural. Pasca konflik, masyarakat akan dapat mengambil teladan yang akan dijadikan pijakan untuk selanjutnya melangkah membenahi akar konflik terdahulu.

Dalam kasus salafi di Desa Sesela, secara finansial ekonomi memang telah meninggalkan kerugian yang cukup signifikan. Namun secara sosio-kultural, masyarakat dapat mengambil suatu hikmah mendasar tentang indahnya hidup dalam perbedaan, khususnya perbedaan paham (baca: madzhab). Perbedaan paham tentang suatu ajaran agama, lebih-lebih dalam satu agama mesti diarifi dengan bijaksana, sebab madzhab boleh saja berbeda, tetapi substansinya serupa dan memiliki tujuan yang sama. “Banyak jalan menuju Roma”, begitu pepatah memberikan tamsil.

Namun, seberapa besar atau kecil dampak yang ditimbulkan oleh sebuah konflik, tetap saja akan mengakibatkan perubahan yang mendasar dalam tatanan kehidupan masyarakat dimana konflik berlangsung. Sehingga, peran mediasi menjadi sebuah alternatif problem solver. Mediasi bisa saja diperankan oleh masyarakat setempat, namun disangsikan netralitasnya sebagai mediator. Sehingga, peran beberapa lembaga di luar komunitas yang berkonflik menjadi pilihan strategis. Mediasi ini bisa diperankan oleh pemerintah dalam hal ini MUI, lembaga swadaya masyarakat (LSM), namun sejauh ini masih belum ditemukan LSM yang concern di lahan tersebut. Begitupula dengan peran ulama sebagai corong pemersatu umat. Peran mereka mesti diperankan lebih aktif lagi untuk memberikan pemahaman agama secara sosiologis-teologis. Sebab tidak menutup kemungkinan, ulama atau tuan guru dalam masyarakat Sasak (suku Pulau Lombok), akan menjadi sumber konflik jika tidak pintar dalam mengemas ajaran agama dalam bentuk yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa harus mengklaim salah satu golongan dengan golongan yang lain, satu madzhab dengan madzhab yang lain.

Peran ini bukan hanya bisa dilaksanakan oleh salah satu elemen saja, tetapi jika dilaksanakan secara bersama dengan memperhatikan kompetensi masing-masing komponen mediator, maka dampak negatif konflik dapat diminimalisir. Tentunya dengan duduk bertemu dan berdialog guna mencari jalan tengah dari perbedaan paham yang ada. Bukankah Rasulullah saw telah mengisyaratkan “perbedaan umatku adalah rahmat?”

Referensi:
Isre, M.Soleh., Konflik Etno Religius Indonesia Kontemporer (Jakarta: Balitbang Depag RI, 2003).
Jamhari dan Jahroni, Jajang, Gerakan Salafi Radikal di Indonesia, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Perkasa, 2004).
Kurtz, Lster, God in the Global Village (California-London-New Delhi: Pine Forge Press, 1995).
McGuire, Meredith B., Religion in the Social Context (California, 1981).
Moehtadi, Fathoni, Konflik Poso: Suatu Anatomi, dalam Jurnal Dinamika Masyarakat (Jakarta: Kementerian Riset dan Teknologi, Juli 2002).
Yinger, J. Milton, The Scientific Study of Religion (New York: Macmillan, 1970).

* Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Mataram. Tinggal di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s