Pocong vs Descartes


descartes.jpg
“Kalau fisik sudah mati, apakah pikiran bisa tetap hidup?” demikian kurang lebih salah satu tagline dari Pocong 2, film terkiwari Rudi Soedjarwo. Tulisan ini juga tercantum dalam kaos yang menjadi merchandise film ini. Di film produksi Sinemart itu, agaknya, Rudi dan Monty Tiwa, penulis skenarionya, ingin menunjukkan kalau film mereka walau pun bergenre horror, seperti belasan judul film lainnya yang beredar, tetapi sangat berbeda. Maka, mereka pun ingin melakukan “rasionalisasi” cerita, lewat filsafat. Berhasilkah?

Justru di sinilah masalah berawal. Jika tidak ada perbincangan seputar filsafat—khususnya “pendekatan epistemologis” menjelaskan eksistensi alam ghaib—maka film ini boleh jadi menjadi film horror dengan logika cerita terkuat tahun ini. Lepas dari berbagai persoalan “non-filosofis” yang akan di bahas di akhir tulisan, Pocong 2 menjanjikan berbagai adegan menakutkan—dan bukan mengagetkan seperti yang terjadi dalam kebanyakan film Indonesia.

Problematika timbul saat cerita dihubung-hubungkan dengan filsafat, apalagi dengan pemikiran Rene Descartes. Sebelum kita menontonnya sekali pun, seorang awam yang bahkan baru mengenal filsafat pun akan bertanya:” Setan? Dihubungkan dengan filsafat Barat? Mana bisa nyambung?”. Apalagi Descartes terkenal sebagai Bapak Filsafat Modern, dan pendiri Rasionalisme yang mementingkan akal pikiran.

Dari kekayaan belantara ilmu pengetahuan, mengapa memilih filsafat sebagai pendekatan kepada dunia ghaib? Mengapa tidak menjelaskan gejala anomali itu dengan, umpamanya, psikologi,antropologi, bahkan teologi atau studi agama?

Dan dari lautan samudera filsafat, mengapa memilih Filsafat Barat, lebih-lebih lagi Bapak Filsafat Modern? Mengapa tidak ke filsafat Timur, misalnya.

Berawal dari curhat seorang Asisten Dosen (diperankan oleh Revalina S Temat) kepada Dosen Filsafatnya (Henidar Amroe) mengenai hantu pocong yang menganggu adiknya. Maka dimulailah diskusi yang berpusat pada kata-kata terkenal Descartes: “Cogito Ergo Sum”, Aku Berpikir Maka Aku Ada.

Bagaimana mengetahui dan membuktikan dunia hantu? Dalam khazanah filsafat, hal ”mengetahui” termasuk dalam tataran epistemologis—yang mencakup logika dan filsafat ilmu. Bagaimana kita bisa mengetahui tentang hantu? Bagaimana membuktikannya. Maka, jawaban dari sang dosen adalah memberikan definisi, dan ini adalah gaya Socrates, bukan Descartes. Maka, metode Descartes yang tadi dibangun sebagai bingkai pemikiran tiba-tiba diruntuhkan dan diganti dengan Filsafat Kebidanan dari nenek moyang filsafat Barat itu. Dan, kemudian, tak lama kemudian sang dosen menjawab dengan pendekatan non-filosofis: Sejarah lokal.

Apakah fikiran tetap hidup kalau tubuh mati? Hal ini yang mendasari film ini. Agaknya, asumsi sederhana yang ingin diraih adalah: bila tubuh kita mati dan hancur lebur, apakah pikiran kita yang marah dan penasaran bisa selalu hidup dan menjadi hantu yang gentayangan seperti halnya pocong—karakter inti di film itu?

Di sini, Sang Dosen Filsafat sepertinya merancukan antara mind, soul, dan spirit. Kalau kita menengok sejarah munculnya adagium legendaris, itu, ingatan kita akan segera segar kembali bahwa yang disebut Cogito itu bukanlah arwah atau hantu, melainkan sebuah kesadaran diri. “Aku Berpikir Maka Aku Ada”, adalah hasil dari sebuah pencarian, yang ditempuh dengan cara kesangsian. Apakah aku ada? Apakah aku tidak di dalam mimpi? Descartes mencari suatu titik teguh yang tak tergoyahkan oleh keraguan: Aku ada. “Tidak mungkin aku tidak ada karena aku berpikir, aku berpikir maka aku ada”. tidak mungkin meragukaan keberadaan kita sendiri sebab kita haruslah ada untuk bisa meragukan sesuatu. “Aku berpikir” adalah sebuah kesadaran diri akan eksistensi manusia, dan kemudian Filsafat Barat Modern ini menemukan bentuknya dan bermuara pada antroposentrisme, sebuah pandangan yang mematok manusia sebagai pusat.

Sebenarnya, “metode kesangsian” itu sudah pada tempatnya.Apakah sang tokoh ingin memperteguh keyakinannya akan pocong? Ya, ia sangsi akan eksistensi pocong, dan ingin meyakinkan dirinya. Karena itu, ia dibimbing sang dosen untuk selalu bertanya dan bertanya, meragukan dan menyangsikan, demi mencapai sebuah keyakinan yang kuat. Tetapi, sepertinya, metode pencarian itu digunakan tidak pada tempatnya.

Yang menarik, mereka menggunakan Cogito Ergo Sum ini sebagai pendekatan contoh kasusnya. “Apakah pikiran mati jika fisik mati?”. Pikiran, Arwah, Ruh, Jiwa, Kesadaran, sepertinya bukanlah sinonim satu sama lainnya. Apakah “Cogito” itu?

Filsuf Prancis itu menunjukkan Cogito sebagai titik tolak bagi filsafat. Cogito bermakna pemikiran sekaligus kesadaran. Bagi Descartes, kesadaran adalah hakikat manusia. Manusia menyadari bahwa dia adalah manusia, dan apa saja yang diperbuat manusia, ia menyadari bahwa dialah yang memperbuatnya. Demikian Bertens dalam Filsafat Barat Abad XXI Jilid II. Dengan kesadaran, manusia secara langsung hadir pada dirinya. Lain halnya dengan binatang yang tak menyadari bahwa dia anjing, dan tak menyadari apa yang diperbuatnya. Dengan demikian, Descartes menganggap kesadaran sebagai inti sebenarnya manusia. Kesadaran membuat manusia menjadi manusia, manusia adalah subyek karena kesadarannya.

Mengenai metode. Dalam Discourse on Method, Descartes menampilkan empat kaidah yang memberi kita pengetahuan dan merupakan dasar-dasar dari seluruh pencarian filsafat. Pertama, jangan pernah menerima kebenaran sesuatu kecuali anda bisa mengetahuinya sebagai sesuatu yang terbukti benar dengan sendirinya. Hindari semua prakonsepsi dan jangan memasukkan apa pun dalam kesadara Anda kecuali ia menghadirkan dirinya sendiri dengan begitu jelas dan tajam (clear and distinct) sehingga tak ada keadaan yang memungkinkan Anda meragukannya. Jadi, Descartes menginginkan sesuatu yang jelas dan tajam, menurut kesadaran-diri manusia, sesuai pikiran rasional (Cogito) manusia.

Mungkin penulis skenario dan sutradaranya ingin menonjolkan dualisme Mind-Body seperti yang dicetuskan Descartes? Memang, Descartes berpandangan bahwa manusia adalah kesatuan dari dua substansi terpisah dan berbeda: pikiran dan tubuh. Yang pertama merupakan “substansi pikir“ (res cogitans), sedangkan yang kedua merupakan “substansi ekstensi“ (res extensa). Namun demikian, rasionalisme yang ia anut lebih mengacu pada gagasan bahwa pengetahuan bisa diperoleh dengan pendekatan akal pikiran (rasio), karena empirisme yang mengutamakan pembuktian indrawi dianggap kurang akurat dan sering tertipu.

Tapi,sekali lagi, permasalahnya adalah soal definisi—seperti yang disebut-sebut oleh Sang Dosen Filsafat tadi. Apakah arwah, roh, setan, hantu, termasuk dalam kategori Cogito, benak pikiran, atau kesadaran diri? Mohon maaf, terpaksa kita harus menjawab: Tidak.

Selain kasus filsafat di atas, ada beberapa hal yang patut dicermati. Apakah wajar bila mengantar jemput anak SMA yang kalau malam selalu menyelinap keluar untuk clubbing dan mabuk-mabukan? Lantas soal telat menjemput menjadi masalah yang sangat krusial dan menjadi salah satu raison d’etre kisah ini?

Gaya-gaya kakak adik juga masih seperti relasi yang sama dengan seperti Mendadak Dangdut atau juga American Sweetheart. Dan apakah kamera harus senantiasa hand held, bahkan di saat scene-scene yang tak perlu untuk bergoyang sekali pun?

Memang, film horor menjadi lebih logis dan natural dalam film ini. Bahkan boleh jadi, inilah film horor paling mengerikan setelah Jelangkung. Adegan-adegan menyeramkannya pun begitu khas—walau ada “tempelan kesamaan” sana sini, seperti inspirasi dari The Eye dari Pang bersaudara saat sang tokoh bisa melihat alam ghaib.

Terakhir, ada pernyataan dari sang Dosen Filsafat bahwa mahasiswa filsafat harus selalu mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan. Padahal, yang terpenting bagi filsafat adalah pertanyaan. Akan selalu ada pertanyaan bagi jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Demikian seterusnya. Bagi orang yang belajar filsafat, ada ketentuan (baca: joke) tak tertulis, bahwa pertanyaan lebih penting dari jawaban.

Sebaiknya tim pengembangan cerita Pocong 2 juga berpikiran yang sama, yaitu selalu bertanya dan mempertanyakan jawaban. Ini penting bila ingin melakukan pendekatan filsafat.

eimanjaya@yahoo.com,
(penulis adalah lulusan S2 Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Budaya UI)

RESOURCE : www.layarperak.com

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s