Mahalnya Biaya Pemilu 2009


musim_inspirationgifthumbnail.png
Banyak cara menekan agar anggaran tidak membengkak, diantaranya dengan menghapus anggaran pengadaan kotak suara dan bilik suara. Sebab pada Pemilu 2004 kedua sarana itu sudah disiapkan dan disepakati dapat digunakan untuk beberapa kali Pemilu. tetapi sangat sulit melahirkan anggaran yang ideal kalau mengacu kepada Pemilu 2004. KPU telah mengeluarkan angka yang terlalu tinggi.

Oleh Muhlis Hasyim*

Penampilan perdana Komisi Pemilihan Umum (KPU) Periode 2007-2012 mempertunjukkan kebijakan yang kurang simpatik. KPU mengajukan anggaran yang sangat tinggi untuk menyelenggarakan Pemlihan Umum (Pemilu) 2009 mendatang.

Dibandingkan dengan Pemilu 2004 yang hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 3,5 triliun untuk Pemilu DPR, DPRD I, DPRD II dan DPD serta Pemilihan Presiden (Pipres), maka Pemilu 2009 mengalami lonjakan yang sangat tajam. Ketua KPU, Abdul Hafidz Anshori menyebutkan total anggaran KPU dan Pemilu 2009 sekitar Rp 47,9 triliun. Anggaran tersebut dialokasikan untuk kebutuhan KPU dan Pemilu masing-masing sebesar Rp 18,6 triliun untuk tahun 2008, dan Rp. 29,3 triliun untuk proses Pemilu 2009.

Menurut Ketua KPU yang baru dilantik ini, tingginya perbedaan jumlah anggaran dari biaya Pemilu 2004 dengan Pemilu 2009 itu disebabkan akibat perubahan dalam ketentuan Undang-Undang (UU) tentang Penyelenggaran Pemilu. Faktor eksternalnya, akibat kenaikan harga bahan-bahan dan peralatan untuk fasilitas Pemilu. Pihaknya mengakui bahwa anggaran proses Pemilu 2009 ini memang mengalami peningkatan yang laur biasa bila di bandingkan dengan anggaran Pemilu 2004 lalu. Tetapi itulah kenyataannya, dan usulan anggaran ini merupakan kelanjutan dari usulan KPU sebelumnya yang belum sempat direvisi oleh KPU yang baru karena belum lama dilantik.

Perubahan aturan penyelanggaraan Pemilu yang termuat dalam UU 22/2007 sangat mempengaruhi besarnya anggaran. Yang paling menonjol adalah akibat dari biaya Pemilu 2009 yang dibebankan sepenuhnya kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Berbeda dengan UU 32/2004 tentang penyelenggaran Pemilu tahun 2004 yang juga melibatkan konstribusi daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Secara rinci Abdul Hafiz menjelaskan, peningkatan anggaran itu disebabkan oleh sekitar sembilan komponen. Pertama, Pemilu 2009 tidak lagi berasal dari APBD, melainkan sepenuhnya menjadi tanggungan APBN. Kedua, sosialisasi Pemilu dilakukan oleh semua level penyelenggara Pemilu dari KPU Pusat hingga ke Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemilihan Suara (PPS). Ketiga, PPS harus mengangkat petugas untuk melakukan pembaharuan data pemilih.

Keempat, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) yang kini bernama Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) tidak lagi bersifat ad hoc, melainkan bertugas dengan masa kerja lima tahun. Kelima, banyaknya pemekaran wilayah yang berkaitan erat dengan penambahan jumlah KPUD. Keenam, pertambahan penduduk selama lima tahun terakhir secara otomatis menambah jumlah pemilih terutama pemilih pemula.

Ketujuh, meningkatnya daerah pemilihan anggota DPR dan DPRD. Juga, jumlah parpol peserta pemilu yang jika bertambah juga akan meningkatkan biaya Pemilu. Kedelapan, Tender harga barang dan jasa yang meningkat seiring meningkatnya harga bahan dan peralatan Pemilu. Kesembilan, bertambahnya tugas KPPS dengan menyerahkan data pemilih tetap.

Hitung Ulang

Wakil Presiden Yusuf Kalla mengingatkan agar KPU lebih hemat dalam menggunakan anggaran untuk Pemilu 2009. Pengehamatan dapat dilakukan sejak penyusunan anggaran dengan tidak memuat anggaran terlalu besar. Untuk melakukan kajian agar tercipta efisiensi anggaran, maka dalam waktu dekat, tim kecil akan segera dibentuk untuk menghitung kebutuhan biaya Pemilu yang rasional berdasarkan kebutuhan.

Banyak cara menekan agar anggaran tidak membengkak, diantaranya dengan menghapus anggaran pengadaan kotak suara dan bilik suara. Sebab pada Pemilu 2004 kedua sarana itu sudah disiapkan dan disepakati dapat digunakan untuk beberapa kali Pemilu. tetapi sangat sulit melahirkan anggaran yang ideal kalau mengacu kepada Pemilu 2004. KPU telah mengeluarkan angka yang terlalu tinggi.

Oleh karena itu, tentang anggaran Pemilu yang diajukan KPU tersebut banyak mendapatkan tanggapan dari pulik. Anggaran Pemilu yang diajukan KPU dinilai terlalu besar. Pengamat politik, Rizal Malarangeng, mempertanyakan anggaran Rp. 47,9 Trilyun yang diajukan KPU. Menurutnya, Pemilu cukup diselesaikan dengan Rp. 5 Trilyun. ”Ah, terlalu besar itu, Rp. 5 Trilyun cukup,” kata Rizal singkat saat ditemui seusai menjadi narasumber bersama Wakil Presiden Yusuf Kalla dalam dialog Tiga Tahun SBY-JK di Hotel Niko, Jakarta (01/11)

Membengkaknya anggaran Pemilu 2009 karena perubahan sistem dan ketentuan Pemilu dinilai hanya akal-akalan. ”Alasan KPU saja itu. Meskipun terjadi perubahan, tapi tidak semahal itu, kan?,” katanya mempertanyakan.

Hal senada diungkapkan oleh pengamat politik, Syaiful Mujanni. Direktur Eksekutif Lembaga Survey Indonesia (LSI) ini meminta KPU untuk menghitung ulang kembali kebutuhan anggaran untuk tahun 2008 dan 2009 itu. KPU semestinya banyak belajar dari Pemilu 2004. Anggaran yang lebih sedikit dapat mensukseskan Pemilu, bahkan diakui di dunia. ”Kalau Pemilu 2004 membutuhkan ongkos yang murah dan membuat Pemilu sukses, kenapa Pemilu yang akan datang tidak bisa,” katanya.

KPU saat ini benar-benar ditantang untuk mereka dapat menunjukkan kemampuannya. Kredibilitas KPU juga bisa diukur dari kemampuannya menyelenggarakan Pemilu yang sukses dengan anggaran yang tidak terlalu besar. Menurutnya, anggaran yang teralu besar akan membuat masyarakat antipati terhadap Pemilu. Apalagi dengan anggaran yang berlipat dari biaya Pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, harus betul-betul dihitung ulang serasional mungkin.

Menanggapi argumentasi KPU akibat perubahan peraturan Pemilu, Mujanni kembali mengajak Kpu untuk berhitung. Boleh saja anggaran itu dimodifikasi dengan adanya penambahan anggaran dari biaya 2004, tetapi tidak semestinya harus ekstrim. ”Kalau memang demikian, semesetinya setiap perubahan sistem pemlihan itu harus dihitung. Seberapa besar perubahan serta tanggungan biayanya. Hitungan saya tidak sebesar itu kok,” paparnya.

* Mahasiswa Pasca Sarjana UI, Konsentrasi Politik Timur tengah
BLOG MUSIM

Iklan

11 Komentar

Filed under Opini

11 responses to “Mahalnya Biaya Pemilu 2009

  1. Muhammad Taufiqqurrahman

    Gila ! Inikah hasil reformasi yang telah kita gulirkan bersama sejak 1999, akar dari masalah adalah ketidakadilan, ini tidak adil. Atas nama demokrasi dana untuk kesejahteraan rakyat dibuang, memang bukan percuma. Tetapi demopkrasi atau apapun namanya hanyalah alat, tujuannya adalah kesejahteraan, welfare staat ! Ketidakadilannya adalah karena rakyat tidak lagi menjadi tujuan melainkan komoditi politik. Yang dihitung oleh KPU untuk KPU sendiri, ayo kalkulasi biaya lainnya. Ada parpol cetak atribut kampanye di China. Aah cape’ dech !.

  2. SALMAN

    fotonya bagus,mas!!

  3. Assalamu alaikum wr. wb.

    Saudaraku tersayang,
    lihat kenyataan yang ada di sekitar kita!

    Uang Dihamburkan…
    Rakyat dilenakan…
    Pesta DEMOKRASI menguras trilyunan rupiah.
    Rakyat diminta menyukseskannya.
    Tapi rakyat gigit jari setelahnya.
    DEMOKRASI untuk SIAPA?

    Ayo temukan jawabannya dengan mengikuti!

    Halqah Islam & Peradaban
    –mewujudkan rahmat untuk semua–
    “Masihkah Berharap pada Demokrasi?”
    Tinjauan kritis terhadap Demokratisasi di Dunia Islam

    Dengan Pembicara:
    Muhammad Rahmat Kurnia (DPP HTI)
    KH. Ahmad Fadholi (DPD HTI Soloraya)

    yang insyaAllah akan diadakan pada:
    Kamis, 26 Maret 2009
    08.00 – 12.00 WIB
    Gedung Al Irsyad

    CP: Humas HTI Soloraya
    HM. Sholahudin SE, M.Si.
    081802502555

    Ikuti juga perkembangan berita aktual lainnya di
    hizbut-tahrir.or.id

    Semoga Ia senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua.
    Ok, ma kasih atas perhatian dan kerja samanya. (^_^)
    Mohon maaf jika ada ucapan yang kurang berkenan. (-_-)

    Wassalamu alaikum wr. wb.

  4. gerpasang

    Assalaamu’alaikum wr.wb,

    Harusnya dengan dana sebesar itu, tidak ada alasan bagi kita untuk Golput. Demokrasi memang bukan sistem yang hak, tapi untuk saat ini, mengikuti demokrasi mau tidak mau harus kita tempuh. Saatnya untuk berjuang lebih riil, daripada mengobarkan wacana-wacana. Di parlemen, banyak hal yang bisa dilakukan, termasuk mengubah sistem demokrasi tersebut.

    Wassalaamu’alaikum wr.wb,

  5. dare

    menuju perubahan lewat parlemen?
    omong kosong !!!
    kalo yang dimaksud adalah perubahan status ekonomi caleg sih emang bener. jadi mapan hidupnya…!!! daripada nganggur..

    aku bosan mendengar bualan tukang bual yang mau mengubah demokrasi dengan masuk parlemen.. dasar tukang bual semua!!!

  6. mas

    inikah demokrasi…
    kita sedang keracunan makanan dengan bahan pengawet yang bernama demokrasi…

    mbuh…

  7. Prabu

    Sejak pemili pertama kali,faktanya Partai Islam belum pernah menang?,artinya memang harus ada jalan lain bukan,dan sekali lagi perjuangan menegakkan Islam,akan begitu sulit tanpa dukugan dari negri-negri Islam yang lain..? jadi kenapa kita mau mendukung pra penegak kilafah?,rasakan dengan iman dan hati!..

  8. Prabu

    Sejak pemilu pertama kali,faktanya Partai Islam belum pernah menang?,artinya memang harus ada jalan lain bukan,dan sekali lagi perjuangan menegakkan Islam,akan begitu sulit tanpa dukugan dari negri-negri Islam yang lain..? jadi kenapa kita mau mendukung pra penegak kilafah?,rasakan dengan iman dan hati!..

  9. DARE

    pemilu tidak bisa menjadi jalan untuk menegakkan khilafah karena semua kontestan pemilu (parpol) tidak ada yang mencantumkan hal tsb dalam tujuan perjuangan partai..
    lalu??? masihkah kita berkhayal tentang sesuatu yang parpol islam pun tidak mencita-citakannya? yang logis doonk..

    once more..
    omong kosong kalo menegakkan khilafah dengan pemilu!!!

  10. Ping-balik: bubarkan saja dpr | Lintas Berita

  11. Ping-balik: Pemilu 2009 | Islam & Aliran Sesat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s