Rekaman Diskusi di Millis JIL


liberalism-79294.jpg
Sayapun tersenyum maya pada mas Trisno. Ulil yang cerdas itulah yang memulainya bukan saya. Saya hanya membagi informasi berita copy paste. Tapi saya senang karena ternyata berita itu ditanggapi ulil dan ulil membuka diskusi itu. Hingga hari ini, sekitar 26 massage telah terlempar di ruang diskusi itu dan saya kira akan terus berlanjut. Sungguh diskusi itu begitu bermakna buat saya.

Oleh : Achmad Jumaely

Karenanya saya ingin menampilkan rekaman diskusi itu sampai hari ini dengan redaksi apa adanya. Semoga bermanfaat buat temen-temen yang gak ikutan millisnya JIL
Pada 28 Oktober 2007 jam 23:06 lalu saya surfing pengen tau berita Alqiyadah Islamiyah. Saya buka-buka Google.com dan saya temukan sebuah berita yang baru saja di posting http://www.antara.co.id. Judul berita itu mengejutkan saya, “NU dan LDII Sepakat Perangi Ajaran Sesat”. Pertanyaan yang muncul di benak saya saat membaca judul itu “kok bisa NU yang saya kenal moderat, tiba-tiba ikutan memvonis kesesatan kelompok yang konon mengakui adanya nabi baru itu?”. Pertanyaan itu terjawab jelas setelah saya tuntas membaca berita itu. “Memang iya, dan ini harus di di tahu sama temen-temen yang lain” fikir saya seketika.

Karenanya saya serta-merta membuka email berniat mengirimkannya pada teman-teman.
Baru saja saya akan mengklik Write Massage, saya teringat millis JIL yang kuikuti sejak sebulan yang lalu. Mengapa saya tak mempostingnya di millis itu? Fikir saya. Di millis JIL saya faham perdebatan apapun pasti seru, dan sayapun yakin berita ini juga akan mendapat respon yang sama.

Akhirnya berita itu saya posting di Mailing List (Millis) Jaringan Islam Liberal (JIL). Pertanyaan sederhana yang muncul mengiringi email singkat itu adalah “Inikah Akhir dari masa moderatnya NU?”. Harapan saya sebenarnya, dengan pertanyaan itu, teman-teman anggota Millis akan dengan seru memperdebatkan kondisi NU hari ini. NU, bagaimanapun juga adalah organisasi tempat saya dan keluarga saya bernaung. Saya ingin mendiskusikannya. Saya lalu teringat satu wasiat diantara lima wasiat kiai saya di Situbondo KH. Raden As’ad Syamsul Arifin. Wasiat itu kira-kira bunyinya begini “Santri-santriku, jika kalian mau sukses, jangan sekali-kali lupakan NU”.

Yach, demikianlah, seperti warga NU yang lain, di tubuh saya seakan-akan NU itu telah mendarah daging. Seperti orang Madura yang, lebih militan dalam ber-NU daripada beragama. Bahkan NU lebih di taati daripada agama. Saya bukan orang Madura, tapi kurang lebih saya juga demikian.

Kembali ke millis, tanpa disangka-sangka, beberapa hari setelah posting, Ulil Abshar Abdalla pertama-tama menanggapinya dari Amerika.

Bung Jumaely,
Umat Islam mungkin masih butuh waktu untuk sampai pada
suatu kesadaran bahwa apapun yang diyakini oleh
seseorang, kita harus menghormatinya, walaupun
keyakinan itu bertentangan dengan ajaran yang kita yakini

Apa yang ditakutkan oleh umat Islam jika ada nabi
setelah Nabi Muhammad. Apakah agama Islam akan hilang
jika nabi baru datang? Jika umat Islam ketakutan pada
nabi baru yang akan “mengamandemen” ajaran Islam,
kenapa mereka melakukan hal yang sama pada agama-agama
sebelum Islam? Bukankah umat Islam (maksud saya,
mereka yang percaya pada doktrin ortodoks) percaya
bahwa Islam membatalkan syariat agama-agama sebelum
Islam? Jika Islam tak mau diamandemen oleh nabi baru,
ya jangan mengkleim diri sebagai pengamandemen
agama-agama sebelumnya dong.

Saya pernah menyebut ini sebagai “arogansi”.

Ulil

Saya tertegun membaca email Ulil yang luarbiasa itu seraya saya juga kecewa kenapa pertanyaan-“Inikah Akhir dari masa moderatnya NU?”- tidak menarik ditanggapi. Tapi kekecewaaan saya segera terbayar dengan posting pertama Ulil itu.

Pertanyaan-pertanyaan nakal Ulil yang khas itu membuat energi nalar saya terkuras. Saya memaksa diri membaca buku-buku yang membahas kemungkinan adanya nabi baru, saya mendiskusikannya dengan teman-teman di sekret Jarik Mataram, di kampus dan di sekretnya LPM RO’YUNA. Saya semakin bisa menerka-nerka fikiran Ulil dan menerka-nerka pula jawabannya. Beberapa hasil bacaan, diskusi Millis, dan diskusi dengan teman-teman di kampus dan Jarik itu sedang saya tulis serius. Mudah-mudahan saya bisa posting di blog juga nantinya.

Diluar itu, Millis JIL akhirnya rame banget dengan diskusi berkat provokasi Ulil itu. Namun entah, seorang eksponen JIL Trisno S. Sutanto menyempatkan dirinya berkunjung ke Blog saya, mengisi buku tamu dan bilang “Posting anda di milis Jil membuka diskusi baru saya dengan Ulil. Kunjungi juga blog saya”.

Sayapun tersenyum maya pada mas Trisno. Ulil yang cerdas itulah yang memulainya bukan saya. Saya hanya membagi informasi berita copy paste. Tapi saya senang karena ternyata berita itu ditanggapi ulil dan ulil membuka diskusi itu. Hingga hari ini, sekitar 26 massage telah terlempar di ruang diskusi itu dan saya kira akan terus berlanjut. Sungguh diskusi itu begitu bermakna buat saya.

Karenanya saya ingin menampilkan rekaman diskusi itu sampai hari ini dengan redaksi apa adanya. Semoga bermanfaat buat temen-temen yang gak ikutan millisnya JIL. Trims.
Berikut rekamannya…
—————————————————————————————
Salam Kebebasan
Saya terkejut membaca berita yang di posting Berita
Antara.
Nahdlatul Ulama diwakili KH. Said Aqil Siradj berstatemen bersama dengan
LDII tentang sesatnya Qiyadah Islamiyah. Inikah Akhir dari masa moderatnya
NU? saya sungguh sedih membacanya….
Mohon komentar anggota millis JIL

Salam,
Jhellie Maestro

ANTARA 28/10/07 20:45
NU dan LDII Sepakat Perangi Ajaran Sesat

Kediri (ANTARA News) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) dan DPP Lembaga
Dakwah Islam Indonesia (LDII) bersepakat memerangi ajaran sesat yang selama
ini berkembang di Indonesia.

“Aliran itu harus kita perangi bersama karena mereka telah menyebarkan
konflik di antara umat Islam,” kata Ketua PBNU KH Said Aqiel Siradj saat
ditemui dalam acara Halal Bihalal di Ponpes LDII, Kediri, Jawa Timur,
Minggu.

Lebih lanjut dia menilai, ajaran yang dikembangkan Qiyadah Islamiyah
mengenai adanya nabi baru bagi umat Islam selain Nabi Muhammad SAW merupakan
ajaran yang memancing konflik di antara umat Islam.

“Kalau hanya ikhtilaf (perbedaan pandangan) seperti soal hari raya saja
tidak jadi soal, tapi kalau sudah soal nabi itu sudah menyangkut syariah dan
sama halnya dengan mengajak pertentangan,” kata lulusan Universitas Ummul
Qura, Arab Saudi itu.

Sementara itu Ketua Umum DPP LDII KH Abdullah Syam sependapat dengan
pernyataan KH Said Aqiel Siradj. “Oleh sebab itu, pemerintah dan MUI
(Majelis Ulama Indonesia) harus bersikap tegas terhadap Qiyadah Islamiyah,”
katanya.

Baik Said maupun Syam sepakat meminta pemerintah segera membubarkan ajaran
sesat, termasuk yang dikembangkan oleh Qiyadah Islamiyah, namun dengan
terlebih dulu dilakukan pendekatan dan pencerahan.

“Kalau mereka sudah tidak mempan lagi dengan pendekatan dan pencerahan,
maka sudah tidak ada jalan lain, kecuali membubarkannya secara paksa,” kata
Said didukung Syam.

Menanggapi maraknya ajaran-ajaran baru dalam agama Islam, Said menyatakan,
sebagai bagian dalam eforia di era kebebasan sehingga orang dengan mudahnya
membuat ajaran baru.

“Disinilah pemerintah diminta pertanggungjawabannya, karena bisa saja
munculnya ajaran-ajaran baru ini sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap
pemerintah dalam hal ini MUI,” katanya.

Selain itu, lanjut Said, beberapa ormas Islam di Indonesia, seperti NU,
LDII, dan Muhammadiyah dituntut berperan strategis untuk menangkal
perkembangan ajaran sesat.

Syam menambahkan, maraknya ajaran sesat di Tanah Air ini tak bisa lepas
dari pengaruh globalisasi yang dilancarkan negara-negara barat untuk
memecah-belah umat Islam di Indonesia.

Namun demikian Said dan Syam juga sependapat, bahwa ajaran sesat itu
adalah sebuah tren yang hanya berkembang sesaat di suatu tempat tertentu
saja.(*)
—————————————————————————————
Bung Jumaely,
Umat Islam mungkin masih butuh waktu untuk sampai pada
suatu kesadaran bahwa apapun yang diyakini oleh
seseorang, kita harus menghormatinya, walaupun
keyakinan itu bertentangan dengan ajaran yang kita
yakini.

Apa yang ditakutkan oleh umat Islam jika ada nabi
setelah Nabi Muhammad. Apakah agama Islam akan hilang
jika nabi baru datang? Jika umat Islam ketakutan pada
nabi baru yang akan “mengamandemen” ajaran Islam,
kenapa mereka melakukan hal yang sama pada agama-agama
sebelum Islam? Bukankah umat Islam (maksud saya,
mereka yang percaya pada doktrin ortodoks) percaya
bahwa Islam membatalkan syariat agama-agama sebelum
Islam? Jika Islam tak mau diamandemen oleh nabi baru,
ya jangan mengkleim diri sebagai pengamandemen
agama-agama sebelumnya dong.

Saya pernah menyebut ini sebagai “arogansi”.

Ulil
Ulil Abshar-Abdalla
Department of
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University
—————————————————————————————
Ulil,
Saya setuju. Sedikit sekali dan butuh waktu yang sangat panjang dalam sejarah untuk belajar lebih dari sekedar yang diyakini turun temurun. Masih merupakan kemewahan intelektual-moral untuk mengakui bahwa agama dan keberagamaan tidak ada yang murni tanpa pengaruh agama dan kepercayaan sebelumnya. Bahwa semua agama itu ternyata sinkretik dan berubah. Ortodoxy, heterodoxy, sekte, adalah konstruk kaum yang berkuasa. Yang murni dan yang sesat adalah ciptaan kalangan mainstream. Indonesia bukanlah contoh unik dan satu-satunya dalam hal praktek penyesatan, terutama dengan preteks “boleh berbeda dalam cabang, tapi tidak dalam “aqidah”. Malaysia lebih parah secara komparatif, Pakistan, dan negara-negara mayoritas Muslim. Secara komparatif, proses labelisasi sesat secara formal justru sangat minim di negara-negara yang dikenal “sekuler”, dan karena itu, di sanalah berkembang berbagai agama, aliran, dan apapun namanya, dengan relatif bebas. Sementara Indonesia, tampaknya masih
belum jelas, bukan negara sekuler, bukan negara agama. Masih jadi negara yang bukan-bukan….

Salam,
M.Ali
—————————————————————————————
ulil,
kadang membaca berita seperti ini membuat kita frustasi. apalagi orang-orang seperti kita yang sudah dan suka membaca begitu banyak informasi. sebab, belajar dari sejarah kekristenan, dibutuhkan ratusan, atau bahkan ribuan tahun, untuk menyadari secara sungguh-sungguh dan melakoni prinsip yang kamu sebut bahwa “apapun yang diyakini oleh seseorang, kita harus menghormatinya”.

apakah kita masih punya nafas cukup panjang untuk membiarkan proses itu berlangsung, hingga suatu saat kita dapat berkata (sembari tersenyum): “akhirnya, sampai juga!”? ataukah ada “jalan pintas” untuk mempercepat proses tersebut? menanti ratusan–malah ribuan–tahun lagi, mungkin pulau jawa sudah nggak ada, karena ambles gara-gara lumpur lapindonya bakrie!

saya pribadi merasa bahwa tidak ada jalan pintas bagi proses tersebut. apa yang disebut “enlightenment” dalam sejarah eropa juga bukan sesuatu yang berlangsung tiba-tiba, tetapi hasil dari pembibitan panjang sebelumnya yang berdarah-darah. penemuan “otonomi tafsir” lutherian yang membongkar dominasi gereja juga hasil dari proses panjang sebelumnya, dan “an essay on toleration” locke harus ditulis setelah perang 30 tahun yang mengerikan–yang justru berlangsung DI DALAM kekristenan sendiri–demi sekadar memahami, bahwa “apapun yang diyakini oleh seseorang, kita harus menghormatinya”. sejarah memperlihatkan itu, dan agaknya tidak ada jalan pintas.

memang, “enlightenment” sangat penting untuk mencapai kesadaran yang kau, aku, dan teman2 lain inginkan. tetapi “enlightenment”, belajar dari sobrino, teolog pembebasan amerika latin, harus dilihat dari tiga aspeknya: penemuan sang subyek (human agency), pemikiran kritis (warisan kantian), dan dimensi sosial-politik yang memberi jaminan terbentuknya public reasoning. singkatnya, “pencerahan” bukan proyek intelektual semata, tetapi harus punya kaki politik (ini marx).

saya tidak tahu, dimensi mana yang sekarang bisa direbut untuk memperluas proses pencerahan yang sedang berlangsung di negara kita (di mana jil memegang peranan). belajar dari pengalaman luther, dibutuhkan raja frederick agung yang “tercerahkan” agar luther dapat melakukan pembaharuan dan tidak kena “fatwa mati”. jadi, ulil, apakah kita membutuhkan “the enlightened despotism” baru? atau ada cara lain?

mungkin sebagai pemikiran kritis, banyak sumber yang kini terbuka untuk penjelajahan lebih jauh. milis jil, misalnya, bisa ditunjuk sebagai contoh par excellence. tetapi dua aspek lain, human agency dan jaminan public reasoning, rasanya, masih sangat kedodoran. kita baru bisa bernafas lega di “republik mimpi”, alias ya mimpi aja. kadang mimpinya terlalu asyik, sehingga kita pun “mimpi basah”!

kalau tak ada jalan pintas, apakah kita layak putus asa? saya selalu percaya pada “proses”. marilah kita kerjakan bagian kita, dan menyerahkan sisanya pada Sang Misteri yang mengundang kita untuk masuk ke dalam dinamika misteri menuju pada Sang Misteri itu. mungkin yang dapat dilakukan, kata mas goen dulu, hanyalah “menyalakan lilin di malam gelap”. dan lilin itu bisa habis. tetapi, setidaknya, kita sudah berusaha menyalakan lilin itu dan menjaga apinya…

tapi maaf, saya lancang memakai kata “kita”. semoga kamu setuju, sehingga “kita” itu bisa dipakai.

tabik,
obelix
—————————————————————————————
Mas2,
Sejauh yang saya pahami, dan sering dengar/alami, umat muslim memang paling ketat menjaga agamanya dan “tuhan” nya. Umat muslim akan sangat mudah sekali terbakar, marah bila ada kritik/perbedaan pandangan terkait islam, terutama apabila itu datang dari “luar”. Saya pernah mempostingke sebuah milis tulisan gus dur : Cinta Konseptual dan Cinta Kongkret yang saya ambil dari http://www.gusdur.net. Alih2 menjadi diskusi bermutu, malah ada yang sampai bilang : “itu pasti bukan tulisan gusdur. Musuh2 islam mah rela pake peci untuk dapat menghancurkan islam…”. waduh, bingung saya. Sejujurnya, umat lain (khususnya di indonesia), sudah menjadi terbiasa karena teramat sering dipaksa dengan suka rela menerima label kafir melalui toa2 di masjid–sebuah label yang sangat merendahkan, bukan hanya karena berarti secara harfiah “non muslim”, tetapi juga klaim neraka pedih dan kekal bagi mereka…
Mengenai sesat-menyesatkan, saya kira tidak sesimple ‘menerima perbedaan”. Kalau aliran itu tidak mengatasnamakan islam, saya kira teman2 muslim akan legowo. Masalahnya adalah aliran itu tetap dalam bingkai islam–berpegang pada qur’an–tetapi menolak Muhammad sebagai nabi terakhir. Bila ini tidak sesat, lalu bagaimana dengan klaim nabi muhammad sebagai nabi terakhir ? bila klaim se-mendasar itu saja bisa dikompromikan, maka seluruh bangunan teologi yang bernama islam bisa runtuh, bukan ?
Bukankah klaim2 seperti : 1) qur’an lengkap, sempurna dan tanpa kesalahan, dijaga olleh allah sehingga dari lahirnya sampai kini tanpa perubahan apapun, dan allah menantang tidak ada satu manusia yang bisa membuat satu ayatpun yang serupa; 2) umat muslim adalah umat terbaik dengan kepastian passport surga, 3) agama2 lain adalah bid’ah dari islam (termasuk agama yang terlahir duluan) 4) hindu-budha dan “agama2 timur” adalah agama bumi dan islam (dan agama2 rumpun semitik) adalah agama langit, 5) dll, itu semua adalah klaim2 yang umum bahkan beberapa diantaranya masuk dalam kurikulum universitas ?
Maka, saya kira, pemikiran2 yang dibangun oleh teman2 JIL akan berbenturan dengan sangat keras dengan faham2 yang terpatri dan terorganisir kuat tersebut, meskipun itu tetap tidak mengurangi rasa bahagia saya dengan apa yang disuarakan oleh teman2 JIL—tentu ini hanya saya sampaikan dihadapan audiens JIL, karena bila musim mainstream itu mendengarnya, maka meraka dengan mudah akan bilang : anda, pastinya suka bila islam hancur oleh perbedaan2 itu…

Muhamad Ali
—————————————————————————————
Saya kira kita tidak sedang menuju enlightenment, melainkan sebaliknya, sedang menjauhi itu. baru nanti kalau sudah ancur-ancuran, perang saudara dll., seperti juga terjadi di eropa abad-abad yang lalu, baru kita akan sadar dan baru balik menuju ke sana. jadi masih jauuuhhhh sekaliiiii. Masalahnya, mungkinkah memperpendek proses ini? Itu yang saya tidak tahu,

Suaedy
—————————————————————————————
Proses itu memang telah diperpendek. Sejarah telah membuktikannya.

Dengan menjadi anggota Jemaat Ahmadiyah, jutaan orang – selama lebih
dari 1 abad, dengan lisan, tulisan dan perbuatan – dengan wajah ceria
dan hati yang damai mengatakan dengan suka cita: “apapun yang diyakini
oleh seseorang, kita harus menghormatinya”.

Bukan hanya menghormatinya, Pendiri Jemaat Ahmadiyah bersabda:

“Prinsip yang kita anut adalah kita harus menunjukkan rasa kasih
terhadap khalayak Bani Adam seluruhnya. Andaikata ada orang melihat
rumah tetangganya yang Hindu tengah terbakar dan ia tidak bangkit dari
duduknya untuk menolong padamkan api, maka dengan bersungguh-sungguh
aku katakan bahwa orang itu bukan dari golonganku. Seandainya salah
seorang di antara murid-muridku melihat seseorang yang akan membunuh
seorang Kristen dan ia tidak berusaha membantu menyelamatkannya, maka
aku berkata dengan sungguh-sungguh bahwa dia bukan dari golongan
kita.” (Ruhani Khazain, jld. 12, hlm. 28; Sirajum Minir, hlm. 26)

Salam,
MAS
—————————————————————————————
Bung Ketut.
Saya, sebagai Muslim yang percaya kepada kebenaran
agama Islam, tetap tidak bisa memahami, apa yang
ditakutkan oleh Islam jika ada nabi baru setelah Nabi
Muhammad. Tentu saya bisa memahami apa yang dipikirkan
oleh umat Islam dengan doktrin finalitas kenabian.
Saya belajar doktrin ini sejak kecil. Yang saya maksud
“saya tidak bisa memahami” di sini adalah saya tidak
bisa menerima asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik
doktrin itu.

Lihat saja, agama Yahudi dan Kristen. Kedua agama itu
tidak langsung pudar dan hilang karena datangnya nabi
atau rasul baru yang membawa Islam. Bahkan agama
Kristen malah menjadi agama dengan jumlah pemeluk
terbesar di dunia saat ini.

Doktrin finalitas Nabi Muhammad, buat saya, tidak bisa
lain kecuali sebentuk arogansi teologis. Saya katakan
“arogansi” karena dampak dari doktrin ini sungguh
tidak ringan. Kalau umat Islam sekedar percaya saja
bahwa Muhammad adalah nabi terakhir, bagi saya masih
okelah. Tetapi, jika kepercayaan itu dibarengi
tindakan destruktif, seperti terhadap kelompok
Ahmadiyah, saya tidak bisa lain kecuali mengatakan
bahwa ini adalah keseombongan agama.

Buat saya, kebesaran dan keagungan Islam tidak hancur
hanya karena ada nabi baru, agama baru, syariat baru,
bahkan jika nabi itu mengkleim membatalkan syariat
Islam, seperti kleim yang diajukan oleh Lia Aminuddin
(dalam hal ini, saya juga menganggap bahwa kleim Lia
adalah sebentuk arogansi yang lain).

Bagi saya, ada tidak harus ada dengan menidakan ada
yang lain. Ada bisa duduk berdampingan dengan ada-ada
yang lain yang banyak itu. Dengan kata lain,
eksistensi Islam tidak perlu dibangun dengan cara
meniadakan yang lain. Saya tahu, modus eksistensi yang
paling mudah dan banyak ditempuh adalah modus
eksistensi negatif, yakni seseorang merasakan diri ada
setelah menolak yang lain. Bagi saya, modus eksistensi
yang bisa membuka diri pada eksistensi yang lain lebih
sehat bagi kemanusiaan.

Ulil
—————————————————————————————
Bung Suryawan,
Saya menyertai ajaran Ahmadiyah dalam hal ini. Andai
orang-orang bisa menyeberangi prasangka mereka sendiri
dan melihat apa yang menjadi inti dari ajaran kelompok
atau agama lain, tentu banyak pertengkaran bisa
dihindari.

Ulil
—————————————————————————————
Dear rekan-rekan,
Menurut John Shelby Spong (Jesus for the Non-Religious, 2007), sumber kemarahan orang beragama, kepada sesama orang beragama, adalah teisme. Teisme mengajar orang untuk membenci diri sendiri yang berdosa, lalu bergantung seperti kanak-kanak kepada suatu allah adikodrati di atas sana untuk allah ini memberi rakhmatnya dan belas kasihannya. Membenci diri sendiri karena dosa akan diproyeksikan kepada orang lain, sehingga orang lain menjadi sasaran kemarahan religius kita. Barangkali perspektif ini menolong kita memahami, mengapa agama yang mengajar cinta kasih bisa juga menghasilkan kemarahan dan kebencian kepada orang yang berbeda. Agar dunia agama-agama damai, kita harus melangkah beyond theism. Itu kata Spong. Setuju?

Eh, kalau pemerintah sampai jadi hakim agama, berabe deh!
Harus dicegah!

Salam,
Ioanes
—————————————————————————————
Mas Ulil
Membaca postingan mas ulil saya jadi membuka lagi Filsafat Ilmu Yuyun S., Sumantri. Disitu saya membaca bahwa ilmu (konteks filsafat) dan agama mempunyai wilayah garapan yang berbeda. Ilmu diperoleh secara rasional dan empiris. sementara agama diperoleh dari keyakinan (pasnya dari wahyu dan intuisi). Karenanya, akhirat misalnya menurut Sumantri tak bisa di rasionalisasikan dengan jalan apapun.

bagaimana seandainya benar bahwa keyakinan terputusnya kenabian pasca Muhammad atau finalnya syari’at sampai syari’at Muhammad itu dari tuhan, maka persoalan terpiutsanya kenabian ini tak bisa di rasionalisasikan karena masuk di wilayah agama. Dan jika rasionalisasi mengabsahkan potensi adanya nabi pasca Muhammad berarti agama sebetulnya tidak ada. Yang ada adalah rasionalisasi-rasionalisasi. Samasekali tak akan ada keyakinan karena semua termentahkan oleh rasio.

Lalu sebetulnya, sejauhmanakah rasio itu menjamin kebenaran karena probalitas kesalahan didalamnya selalu ada? Kapan saatnya kita mesti menyakini agama yang katanya bersumber dari tuhan itu? dan bukankah hanya tuhan yang memiliki kebenaran absolut?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar konyol, tapi sungguh saya ingin belajar. ini juga di pertanyaakan kawan2 saya di Jaringan Islam Kampus

Salam
Jumaely
—————————————————————————————
Saya mendukung istilah ‘kita’ nya bung Trisno, karena ‘kita’ adalah sesama makhluk ciptaan Nya. Ke-‘kita’-an ini yang seharusnya dipupuk agar tujuan penciptaan manusia mencapai sasaran. Kata ‘sesat’ bermakna menyalahi aturan yang disepakati bersama, sementara ‘kita’ bermakna kebersamaan yang akan membuat penyesatan akan hilang. Selanjutnya dengan konsep ‘kita’ masalah penyesatan ditataran konseptual tidak lagi akan menjadi issue.

Salam
Adli
—————————————————————————————
Di dalam Al-Qur’an dan hadits juga banyak sabda-sabda seperti itu. Juga di pidato-pidato para pemimpin di mana saja. Tapi kata-kata itu ada konteks, ada usaha dan ada arus sebaliknya. Setiap usaha untuk itu penting, tapi ya perlu kita buktikan di dalam kenyataan.
Suaedy
—————————————————————————————
Maaf jika saya ikut komentar

Saya merasa perihatin jika fenomena sesat menyesatkan menjadi kebudayaan baru dalam kehidupan beragama, bukankah sebaiknya pelajari dahulu kenapa timbul pemahaman baru dari suatu kelompok terhadap kelompok yang pernah ada.

Disini saya mengambil suatu kesimpulan tersendiri tentang masalah suatu kelompok mengucapkan kata “SESAT” kepada kelompok yang “DISESATKAN”, saya juga perihatin jika hal ini menjadi buah genetik kepada anak cucu bangsa indonesia.

Adanya atau timbulnya aliran baru, mungkin diakibatkan kejenuhan dari realitas tokoh-tokoh pemuka agama yang kehidupan pribadinya menjadi panutan sesuai sunah rasul tapi dalam kehidupan kesehariannya tidak berbeda dengan orang biasa yang suka berbuat curang, haus akan kekuasaan, cuma pandai bersilat lidah, bahkan lebih parah lagi banyak tokoh agama yang terjun ke politik praktis dan terkadang tanpa disadari masuk kepada fitnah.

Dikampung saya untuk memanggil seorang penceramah bisa mencapai 1 juta bahkan ada yang lebih, padahal isi materinya layaknya ketoprak bahkan bicaranya sering diselipkan kata-kata yang sedikit porno, bahkan juga kehidupan pribadinya layaknya preman yang dengan mudah kawin hanya dengan memakai ayat tentang poligami.

Saya pikir fenomena seperti ini yang membuat banyak orang-orang yang intelektualnya mulai terasah ingin membuat suatu kelompok yang berbeda, para tokoh agama yang seperti saya sebutkan tadi lebih populer dari pada tokoh-tokoh agama yang benar-benar mursyid, tokoh mursyid ini tidak pernah tampil bahkan jarang sekali tampil dimedia.

Disinilah terlahirnya sebuah jurang antara kelompok pembaharu karena buah pikiran dari realitas kehidupan para tokoh agama yang diuntungkan dari media tenyata kehidupan sehari-harinya tidak berbeda seperti preman-preman.

Jika kata-kata sesat dan menyesatkan tidak didasari oleh penelitian sosial yang mendasar dan mendalam, niscaya sangat susah untuk mencapai jalan keluar untuk kebabasan dalam berkeyakinan yang penuh kedamaian.

Akhir kata, maaf jika ada kata-kata yang menyakitkan atau menyinggung.

FIRMAN ZULHANSYAH
—————————————————————————————
muna, aku nggak ge’er. yang kumaksud, toh sejarah eropa modern itu dibentuk dari proses-proses yang aku omongin. dan, belajar dari sejarah itu, semakin tampak bahwa agama tidak bisa diperbaharui dari dalam (“reformasi dari dalam” hanya omong kosong), tetapi harus DIPAKSA berubah oleh situasi dan kondisi zaman yang berubah.

jadi, muna, mohon maaf aku nggak bicara di indonesia, tapi “nenek-moyang berkulit putih, londo abang-ijo-kuning” yang di seberang itu. di indonesia ceritanya pasti beda bangettttt. salah satunya, faktor jebakan “etnisitas” yang bikin parah: berita injil yang liberatif telah dikangkangi dan didomestikasi oleh adat-istiadat etnis, sampai kamu saja –ketika ngomongin kebangkitan daging–
harus merujuk pada adat batak yang dagingnya bangkit terus itu (hi hi hi).

benernya ini bisa jadi subyek disertasi yang mengasyikkan: kenapa proses kristenisasi (protestan) di indonesia bertumpang-tindih dengan kesadaran etnis? (pertanyaan itu pernah diajukan oleh alm. sumartana, tapi dia keburu mangkat sebelum menjawab.) apakah ini strategi misi yang, melalui kepala adat, lalu seluruh masyarakatnya bisa “dipertobatkan”? atau ini bagian dari strategi kolonial untuk memecah-belah? atau ini “kecelakaan sejarah”? atau ini…??? banyak pertanyaan bisa lahir dari subyek ini. karena, mungkin, (begitu hipotesa saya, yang pasti bisa salah, jadi mohon dikoreksi), HANYA protestantisme di indonesia yang bertumpu dengan kesadaran etnis. mungkin sifat protestan yang anti-hierarkhi salah satu kuncinya? tetapi mengapa islam tidak melalui proses yang sama? dst, dst

tabik,
obelix
masih menanti kiriman celeng panggang dari muna…
—————————————————————————————
Mas Suady dan Suryawan,
Masalahnya bukan ada atau tidaknya ajaran atau sabda yang menyejukkan dalam teks suci, melainkan apakah umat–dengan bimbingan para pemimpin atau tidak–memilih sabda seperti itu atau memilih sabda lain yang mendukung peniadaan orang lain, yang juga dapat mudah ditemukan dalam kitab suci. “Wisdom” merupakan satu istilah yang kelihatannya dilupakan dalam pendekatan umat terhadap ajarannya dan keberadaan ajaran-ajaran lain serta umat yang memeganginya. Pendidikan yang membangun kematangan jiwa dalam mengambil sikap sehubungan dengan sesama sebaiknya dibangun di negeri yang mulai diramaikan jajanan eksklusivisme ini.
Selain itu, pencerahan dalam menimbang ajakan-ajakan siapa pun –apa lagi yang berbaju agama– juga perlu dilakukan. Siapa yang berani memasang genta di leher kucing? (man yu’aliq al-jaras).
Salam,
Machasin
—————————————————————————————
Mas Machasin,

Memang benar, persoalannya bukanlah pada adanya ajaran atau sabda
yang menyejukkan. Persoalannya adalah, seberapa jauh sabda atau
ajaran itu dapat mempengaruhi dan diwujudkan dalam lisan, tulisan dan
perbuatan.

Saya ambil contoh Jemaat Ahmadiyah sebagai sebuah jamaah Muslim yang
memiliki anggota jutaan orang di seluruh dunia – yang telah tampil di
panggung sejarah dunia lebih dari 1 abad – dengan tulus disertai
wajah ceria dan hati yang damai mengatakan dengan suka cita: “apapun
yang diyakini oleh seseorang, kita harus menghormatinya.”

Contoh itu saya tampilkan untuk membuktikan bahwa proses itu sudah
diperpendek dan berjalan dengan baik dalam bentuk lisan, tulisan dan
perbuatan di negara manapun Jemaat Ahmadiyah berada.

Diharapkan, proses yang sudah dilaksanakan oleh Jemaat Ahmadiyah itu
bisa diikuti oleh saudara-saudara Muslim lainnya dimanapun berada.

Salam,
MAS
—————————————————————————————
Siapa bilang demokrasi yg makan waktu ratusan atau ribuan tahun untuk
memetik hasil itu pilihan yg terbaik ?.

Mungkin dibutuhkan revolusi dengan kekuasaan … tapi akan lahir
rezim otoriarian baru… yg harus ditumbangkan lagi.. dengan rezim
lain…

Jangan2 kebebasan ( spt rezim devisa bebas ) juga satu rezim… yg
harus ditumbangkan.. diganti yg lebih effektif dan effisien

Muso
—————————————————————————————
koq sepertinya saya sedang mendengar “republik mimpi (di siang bolong)” ya? jangan lama-lama mimpinya, mas, nanti keburu “mimpi basah”, lho

obelix
suka celeng beneran, kaga mimpi
—————————————————————————————
setuju! tapi prof machasin dan syaikhul terlalu menyederhanakan. masalahnya bukan sekadar teks dan konteks, tetapi jauhhh lebih luas.

setiap pembacaan atas “teks” sebenarnya selalu melibatkan ketegangan dialektis antara “de-kontekstualisasi” (teks dilepaskan dari konteks semula) dan “re-kontekstualisasi” (teks dimasukkan ke dalam konteks yang baru). tanpa ketegangan dialektis itu, teks tidak lagi punya makna, karena hanya sekadar repetisi bebal.

yang jadi masalah, teks-teks “keagamaan” sering dianggap sebagai suatu peraturan abadi, karena asumsi yang jadi author adalah tuhan sendiri. selimut-selimut yang menutupi teks dan menjadi auranya begitu tebal dan sangat alot dibongkar. kadang, belajar dari sejarah kekristenan lagi, dibutuhkan dobrakan justru dari luar “lingkaran suci keagamaan” untuk MEMAKSA perubahan yang cukup radikal.

misalnya bagaimana teks-teks alkitab diredaksi, dirumuskan, dan ditransmisikan dari generasi ke generasi memperlihatkan hal itu. mula-mula adalah “teks yatim” yang diproduksi komunitas (makanya ada banyak “injil” yang aneh-aneh, seperti “injil yudas”). lalu ada kanonisasi, di mana teks-teks yatim disingkirkan, karena sudah ada yang dianggap “teks-teks kanonik” (yang diterima sebagai “wahyu”). berikutnya, teks-teks kanonik ini dibahasakan secara tunggal, yakni alkitab berbahasa latin (vugata), sehingga “langit suci” kekristenan dapat dipertahankan dan dikontrol oleh magisterium gereja. baru di abad xvi, luther membuat terobosan dengan menerjemahkan vulgata ke dalam bahasa jerman, sehingga seluruh struktur dominasi bahasa latin dibuang, dan penciptaan negara-bangsa dapat berlangsung (karena “bahasa menemukan bangsa”).

tetapi terobosan luther membawa persoalan panjang: komunitas kekristenan (corpus christianum) tidak lagi bisa tunggal, melainkan terpecah belah dalam seluruh proses penafsiran, dan akibatnya problem “sekte” mencuat. konon, sekarang, kekristenan terpecah belah menjadi lebih dari 20.000 aliran/denominasi yang tidak lagi mungkin dipersatukan. di situlah masalah “toleransi” muncul. anda sudah tahu selanjutnya: dibutuhkan perang saudara berdarah-darah sebelum masalah “keyakinan pribadi” harus dihormati.

moral cerita pendek di atas adalah: pertama, seperti diingatkan nasr abu zayd, pergulatan tafsir sesungguhnya bukan saja dalam tataran teks dan tafsir, tetapi pertarungan POLITIK PENAFSIRAN yang melibatkan perangkat-perangkat dan mekanisme-mekanisme di luar teks. di sini, kepentingan tafsir menjadi bagian dari “efek-efek kekuasaan” yang membentuk “diskursus dominan” sebagai “episteme” untuk membungkam dan menyingkirkan teks-teks yang tidak sesuai (saya meringkaskan the archeology of knowledge-nya foucault). kedua, kasus luther menunjukkan dibutuhkan tidak saja keberanian individual (martin luther) dengan kejeniusan sebagai ahli tafsir, tetapi juga DUKUNGAN KEKUASAAN yang melindungi upaya dia. itu sebabnya saya mengajukan pertanyaan ke ulil, apakah kita membutuhkan “the enlightened despotism” agar proses pencerahan dapat berlangsung di negara ini? ketiga, walau harus diakui luther-si-jenius-tafsir memegang peranan penting, akan tetapi proses perubahan
radikal baru berlangsung setelah ada PAKSAAN dari luar “lingkar suci keagamaan”. artinya, agama-agama HARUS DIPAKSA oleh perkembangan zaman, sehingga mau tak mau menemukan fitrah dan suruhannya lagi (tanpa itu, agama adalah artefak masa lampau yang lebih baik dibuang saja).

tiga soal itulah yang harusnya dibicarakan dengan lebih mendalam, untuk menjawab pertanyaan dasar: mungkinkah proses yang berabad-abad lamanya itu dipercepat di indonesia, sebelum pulau jawa ambles karena lumpur lapindo? kalau mungkin, pada ranah mana sebaiknya proses tersebut didorong?

tabik,
obelix
celeng panggang lebih enak ketimbang tafsir keagamaan
—————————————————————————————
Kalau melihat tehnologi informasi yang semakin berkembang, mungkin proses
itu bisa dipercepat. Sayangnya yang getol memakai tehnologi informasi dengan
cara yang populer, mudah dibaca (mudah dibaca belum tentu isinya bermutu)
dan mudah diserap adalah teman-teman yang “menjauhi enlightenment”.

Seharusnya dengan kemajuan ilmu manajemen dan ilmu organisasi,
“pengorganisasian” gerakan pencerahan bisa lebih dipercepat, namun sayangnya
lagi yang pintar memanfaatkannya justru mereka yang mengorganisir kekerasan
dan kepicikan.

Akhirnya saya juga tidak tahu,

Salam,
aquino
—————————————————————————————
Salam,
Mas Syaikhul dan Trisno, janganlah disebut gelar yang sebenarnya memberikan lebih banyak beban formalitas daripada makna kesejatian itu. Aku jadi kikuk seperti teks yang harus ditafsiri menurut aliran tafsir tertentu. Lebih enak jadi teks liar yang bisa memberikan arti apa saja.
Ketedasan (kemasukakalan) semula saya pikir dapat menolong dalam memperoleh tafsir yang lebih dekat kepada kebebasan manusia. Akan tetapi, kemudian teringat juga kenyataan bahwa ketedasan selalu nisbi: tergantung pada akal siapa yang hidup dalam lingkungan apa serta bagaimana pola pikirnya terbentuk. Bagi orang yang dibentuk dalam cara berpikir normatif, bahasa hitam putih yang berujung pada sesat-tidak sesat bisa jadi masuk akal, seperti yang sebaliknya bagi orang yang dibentuk dalam pemikiran bebas diskursif.
Namun, ketedasan masih merupakan satu-satunya pilihan, bagi saya. Hanyasaja, ini mesti ditaruh dalam keterbukaan sehingga dapat dikritisi dan diuji oleh sebanyak-banyak orang. Pada akhirnya, memang kesepakatan di antara orang-orang yang memegangi kemasukakalanlah yang semestinya maju ke depan.
Tanggung jawab sosial yang disebut Mas Eka Kertajaya dapat dilakukan dengan menyebar-nyebarkan penggunaan ketedasan plus kesepakatan ini–yang semestinya mewujud dalam kedewasaan orang dalam menentukan pilihan–, di samping aturan-aturan untuk menangkal terjadinya “kerusakan yang tidak dapt diperbaiki”, seperti penghilangan nyawa dan penghancuran lingkungan yang mungkin timbul dari mengikuti pikiran atau ajaran tertentu.
Machasin

Mas Suaedi,
—————————————————————————————
Saya sebenarnya sedih sekali setelah melihat video yang dipertontonkan di acara yang Anda diskusikan tadi malam. Saya sedih, mengapa umat Islam ini buas terhadap sesama umat Islam.

Munculnya berbagai aliran di dalam Islam sebenarnya konsekuensi logis dari hadis tentang adanya Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa. Lha, MUI memahami bahwa Imam Mahdi dan Nabi Isa itu kan turun di akhir zaman. Persoalannya, kapan yang disebut akhir zaman itu? Bukankah bagi yang mengklaim Nabi Isa telah turun, ya lantaran mereka menganggap sekarang ini sudah akhir zaman.

Mengapa MUI menolak sekarang ini sebagai akhir zaman? Karena, hal ini menyangkut nasibnya perut…..

Wasalam,
chodjim
—————————————————————————————
Mas Ulil yang Budiman,
Terima kasih telah menanggapi email saya yang “bukan siapa2” diantara pemikir2 luar biasa dalam jagad JIL ini.
Saya tidak tahu, apakah doktrin finalitas nabi muhammad hanya merupakan “konsensus” yang dibuat umat muslim, ataukah ia merupakan dasar kepercayaan yang secara jelas dituliskan dalam alquran atau hadist sahih. Bila dikaitkan dengan keyakinan umat muslim bahwa alquran adalah kitab sempurna yang lengkap dan tiada cela, dan bila klaim finalitas nabi merupakan bagian dari sesuatu yang “sempurna” tersebut, maka saya kira logikanya jelas kenapa klaim ini harus dijaga : alias yang menentangnya harus diberi label sesat.
Kecuali, umat muslim bisa terbuka sebagaimana umat kristiani : saat ini semua orang tahu bahwa bumi ini bulat, tetapi toh itu tidak mengurangi keimanan seorang kristen.
Pertanyaan yang menggelantung dikepala saya adalah : mengapa MUI begitu bersemangat mengeluarkan fatwa sesat atas ahmadiyah, al qiyadah, lia eden, sementara disisi lain, tidak mengeluarkan rekomendasi apa2 atas jamaah islamiyah ? apakah itu dapat diartikan, apa yang dilaukan (dan diyakini) oleh lia eden, ahmadiyah, al qiyadah, itu tidak sesuai dengan ajaran islam, sementara apa yang dilakukan (dan diyakini) oleh jamaah islamiyah sesuai dengan ajaran islam ?

Ulil Abshar-Abdalla
—————————————————————————————
Ulil, bagaimana dengan ayat dibawah ini, apakah anda punya penafsiran yang lain?

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. AL Ahzab 40).

Zburhan
—————————————————————————————
Bung Ketut.
Pertanyaan anda juga menjadi pertanyaan saya: kenapa
MUI tidak “mengutak-atik” Jama’ah Islamiyah yang sudah
jelas membawa kerusakan di muka bumi (maksud saya
tentu hanya beberapa bagian saja dari bumi yang maha
luas ini)? Sikap MUI yang mendiamkan Jamaah Islamiyah
jelas bisa dibaca sebagai persetujuan-diam-diam atas
kelompok ini.

Jamaah Ahmadiyah jelas-jelas tidak membawa kerusakan
apapun bagi umat Islam, sebaliknya malah “dirusak”
oleh umat Islam.

Tetapi Bung Ketut, ini masalah yang tidak saja menimpa
umat Islam. Apa yang terjadi sekarang ini hanyalah
secuil dari kebangkitan agama-agama konservatif yang
terjadi di banyak tempat di seluruh dunia.

Kemarahan umat Islam pada kelompok-kelompok minoritas
adalah refleksi dari situasi mereka yang terdesak di
banyak segi kehidupan sosial. Tetapi, ini bukan
penjelasan untuk membenarkan tindakan kekerasan
mereka.

Ulil
—————————————————————————————

Iklan

4 Komentar

Filed under Opini

4 responses to “Rekaman Diskusi di Millis JIL

  1. bajol getas

    assalamualaikum….
    klo saya boleh ketik ….. maslah agama…dan semua agama pada dasarnya baik…. yang tidak baik adalah orang 2 yang tidak menjalankan semestinya aturan2 yang telah di tetapkan …memang islam lah agama terahir dan yang bisa di pahami dari hal kecil maupun besar di kehidupan sehari 2…..
    mengenai tentang aliran2….. itu tidak penting……… jelas tidak penting…… yang penting islam…….. dan menjalankan ajaran 2 ….menurut alquran dan hadis…….nabi muhammad.. rusullullah saw.. saya sarankan jangan terpancing dan terkecoh oleh aliran 2……. yang belum tentu baik …… jadi pegangglah alquran dan hadis oke…… sudah terjamin…….. insallah mudah 2han kita selamat dunia ahirat… klo blom selamat itu cobaan di dunia moga di ahirat kita selamat………….. dapat safaatnya ……nabi muhammad … saw.
    wasalm

  2. Mari kita perbaiki diri kita…galang persatuan umat…kita semua maklum kalo semua orang yang kita banggakan MABES PORLI MUI DEPAG DLL Tidak punya taring apa emang ada kontrak politik ya ???ko aliran yang jelas2 menyimpang dibiarkan saja…selamat berjuang …Allahu Akbar

  3. Zanubah

    To The point.

    Analisa ulil terkesan agak tolol.. masak dia tidak tau kalau Ahmadiyah itu numpang agama pada Islam sekaligus merusak aqidah ummat Islam? kalau Ahmadiyah itu Agama, artikel ulil bisa dibenarkan, tapi ahmadiyah itu kan isme? jadi kalau diibaratkan datangnya Islam berarti wujudnya Nabi baru, ya ga nyambung jika dikatakan Islam berbuat hal yang sama terhadap ummat sebelumnya. sebab Nabi Muhammad SAW membawa Syari’at Islam, bukan mendeklarasikan Nabi baru…!

    Yaaa tapi kita maklumi aja, sebab ulil kan bukan ummat Nabi Muhammad SAW.. kita kan hanya waspada aja ama musuh2 Nabi Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s