Rendah Diri Kaum Wahhabi


gse_multipart38944.jpg
Dalam sebuah diskusi di Paramadina beberapa waktu yang lalu, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut kelompok Islam Wahhabi adalah kelompok Islam yang memiliki rasa rendah diri yang sangat tinggi. Kelompok ini kemudian menutupi rasa rendah dirinya dengan melakukan aksi kekerasan, mudah tersinggung, dan gampang sekali mengkafirkan orang lain. Mereka kemudian menganggap diri dan kelompoknyalah yang memiliki otoritas kebenaran sejati. Kelompok-kelompok lain adalah kafir, penghuni neraka, dan harus dimusuhi bahkan dibasmi.

Oleh : SAIDIMAN*

Belakangan ini, ciri-ciri bentuk rendah diri seperti yang dikemukakan Gus Dur itu tampak mudah ditemui dalam praktik fatwa sesat, pengusiran, teror, dan pembakaran rumah-rumah kelompok al-Qiyadah al-Islamiyah dan kelompok-kelompok keagamaan lain di Indonesia. Tentu saja mereka tidak mewakili Islam secara keseluruhan. Meski mereka terus sesumbar mewakili kelompok mayoritas, kenyataannya mereka segelintir saja.

Ideologi yang dikembangkan oleh kelompok Islam yang gemar mengkafirkan dan mengeluarkan fatwa sesat ini sangat mirip dengan ideologi Islam yang sekarang dianut oleh kerajaan Arab Saudi, Wahhabisme. Bahkan kebanyakan pengamat mengatakan bahwa hampir semua gerakan Islam garis keras saat ini merupakan bagian dari, atau setidaknya dipengaruhi oleh, kelompok Wahhabi. Ideologi inilah yang dianut secara resmi oleh Taliban di Afganistan dan jaringan al-Qaidah yang beberapa tahun ini aktif melakukan kegiatan teror di pelbagai negara.

Gus Dur menyebut kelompok Wahhabi memiliki rasa rendah diri yang sangat besar karena ideologi ini berasal dari satu wilayah pinggiran di jazirah Arab, yaitu Najd. Najd adalah satu wilayah yang di dalam sejarah tidak pernah memunculkan intelektual atau pemimpin Islam yang diakui. Wilayah ini malah terkenal sebagai wilayah yang melahirkan para perampok suku Badui. Nabi sendiri mengakuinya dalam salah satu hadis. Orang-orang Najd juga adalah kelompok yang paling akhir masuk Islam. Bahkan Najd melahirkan tokoh oposan terhadap nabi Muhammad yang terkenal dengan nama Musailamah al-Kazzab (Musailamah Sang Pembohong). Musailamah mendeklarasikan diri sebagai nabi untuk menandingi popularitas kenabian Muhammad saat itu. Gus Dur menyebut pendiri ideologi Wahhabi, Muhammad Ibn Ab Wahhab, adalah keturunan Musailamah Sang Pembohong tersebut.

Selain Wahhabi, ideologi garis keras pada masa-masa awal Islam, Khawarij, juga didirikan oleh orang-orang Najd. Banyak orang yang menyimpulkan bahwa Wahhabisme sebenarnya hanyalah bentuk baru dari ideologi Khawarij. Orang-orang Khawarijlah yang mempopulerkan konsep takfir (pengkafiran) dan bahkan pembunuhan terhadap mereka yang tidak setuju dengan pendapatnya. Kelompok inilah yang kemudian membantai sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, Ali Bin Abi Thalib, dan melancarkan aksi yang sama terhadap Gubernur Damaskus saat itu, Amr Bin Ash.

Kaum Wahhabi menjadi kekuatan yang semakin merusak ketika mereka melakukan aliansi aneh dengan sekelompok bandit pimpinan Muhammad Ibn al-Saud dari wilayah Dir’iyyah. Al-Saud sendiri adalah keturunan Banu Hanifah, salah satu klan yang di masa lalu menjadi pendukung utama Musailama al-Kazzab. Sejak saat itulah Wahhabi terus melancarkan serangan dalam bentuk klaim pengkafiran dan pembantaian terhadap orang-orang yang mereka anggap kafir (yaitu kelompok Islam Syi’ah, mayoritas Sunni, dan orang-orang non-Muslim) sampai sekarang. Arab Saudi yang mereka kontrol, sampai saat ini, menjadi negara yang paling tertutup dan paling tidak bebas di seluruh dunia.

Wahhabi kemudian dikenal sebagai gerakan anti-ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu sumber keterbelakangan umat Islam. Mereka menolak apapun yang baru, seperti teknologi dan jaringan informasi. Dengan tegas mereka menolak demokrasi. Mereka mengurung perempuan di dalam rumah. Mereka mengharamkan nyanyian. Mereka membenci kesenian. Memanjangkan jenggot bagi laki-laki dewasa adalah kewajiban. Buku-buku tasawwuf dan filsafat yang merupakan salah satu kekayaan Islam adalah barang-barang haram. Praktik kehidupan sosial seperti ini tampak nyata dalam kehidupan masyarakat Afganistan di bawah kekuasaan Taliban yang berideologi Wahhabi.

Dengan keuntungan minyak yang seoalah tak ada habisnya, penguasa Arab Saudi kemudian mengekspor ideologi Wahhabi ke seluruh dunia, tidak hanya ke negara-negara Islam, melainkan juga ke Eropa dan Amerika. Menurut Hamid Alghar, dalam buku Wahhabism: A Critical Essay, kelompok ini berhasil meraih pengikut sekitar 10% dari keseluruhan umat Islam di seluruh dunia. Anak-anak muda yang menyediakan diri menjadi martir dalam kegiatan bom bunuh diri di Eropa dan Amerika Serikat beberapa tahun ini adalah generasi yang benar-benar terdidik secara “Barat.” Ideologi yang diekspor oleh penguasa Saud-Wahhabi telah menggerakkan anak-anak muda Islam didikan “Barat” untuk melakukan aksi terorisme.

Keluarga Saud dan Wahhab yang sekarang menguasai otoritas politik dan agama di Arab Saudi sesungguhnya bukanlah keluarga yang cukup saleh, bahkan boleh dibilang bejat secara moral. Stephen Sulaiman Schwartz, The Two Faces of Islam: The House of Sa’ud from Tradition to Terror, menyebut keluarga al-Saud sangat gemar menghambur-hamburkan uang untuk berjudi dan bermain perempuan. Dengan kelakuan semacam itu, pangeran Saudi saat ini mencapai 4.000 orang. Artinya, seorang raja yang memiliki ratusan isteri dan selir bukanlah dongeng di Arab Saudi.

Schwartz menyebut dukungan terhadap Wahhabi yang dilakukan oleh penguasa Arab Saudi saat ini adalah bentuk pengelabuan atas praktik tak bermoral yang mereka lakukan. Ideologi yang disebarkan oleh keluarga mantan bandit inilah yang kemudian dianut, atau setidaknya mempengaruhi, kelompok Islam Indonesia yang belakangan ini begitu gemar mengkafirkan dan mengeluarkan fatwa sesat terhadap mereka yang berbeda pendapat. Pengetahuannya terhadap Islam dan sejarahnya begitu dangkal, mereka bahkan adalah orang-orang yang sebetulnya tidak religius. Kekerasan tidak akan muncul dari religiositas. Rasa rendah diri itulah yang membuatnya brutal.

*Peneliti di Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)

Iklan

10 Komentar

Filed under Opini

10 responses to “Rendah Diri Kaum Wahhabi

  1. abu mifzal

    Waduh sebegitu rendahkah anda menganggap sauda seiman anda( orang wahhabi), dan tanpa disadari , anda sebagai orang liberal , ternyata tidak juga punya rasa toleransi terhadap kaum wahhabi yang memiliki pandangan berbeda dari anda, dan anda merasa benar sendiri. Mas kalo ngambil sumber mbok ya yang balance, jangan cuma dari orang-orang non muslim saja. yang nota bene punya “misi lain ” pada kita (ini yang bilang Qur’an lho), entah kalau anda menganggap Qur’an juga hasil buatan Wahabi.

  2. @ abu mifzal
    sebenarnya pertanyaan mengenai siapa yang tidak memiliki rasa toleransi lebih tepat ditujukan kepada kelompok Salafy Wahabi. Saya kira tulisan ini cukup berimbang karena memaparkan fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Siapa yang dapat membantah jika sistem kerajaan as-Sa’uud bukan hanya tidak demokratis namun juga bertentangan dengan ajaran Islam mengenai kepemimpinan? Mengapa tidak ada suara dari para ulama Wahabi yang biasa gencar menuding bid’ah kepada praktek-ptaktek yang dianggap tidak memiliki pijakan hukum yang jelas dan kuat? Bukankah sistem kerajaan otoriter yang diterapkan di arab saudi adalah bentuk kebid’ahan?

  3. abu mifzal

    Saya ingin mengomentari lagi tulisan anda,khususnya pada kalimat “Meski mereka terus sesumbar mewakili kelompok mayoritas, kenyataannya mereka segelintir saja.”. Sebenarnya yang mayoritas siapa ya, apakah kaum liberal merasa mayoritas?,Kita ingat pada bulan agustus kemarin, saudara2 kita dari HTI telah menyelenggarakan Konferensi Khilafah Internasional yang dihadiri lebih dari 100.000 orang, ingat itu baru dari saudara2 HTI, belum saudara2 dari salafy, ikhwani dan lain-lain yang anda anggap fundamentalis. Coba kaum liberal membuat suatu acara yang mengusung tema sipilis(sekularisme, pluralisme dan liberalisme) dan hadirkan pendukung anda, tidak usah sampai 100.000, cukup 50.000 orang (kalau anda merasa mayoritas), berani menerima tantangan?, (Karena mengklaim dengan mulut itu mudah (omong doang), tapi buktikan dengan kenyataan),

  4. Assalamualikum
    Menurut saya pribadi -tidak mewakili blog ini- islam tidak mengandaikan mayoritas-minoritas. Yang diandaikan islam adalah kebenaran Al-Haq. Jadi Jika anda semua merasa mayoritas lalu berhak mencederai hak-hak minoritas itu hal yang kurang arif walau itu benar.
    Islam adalah agama yang sungguh tak bisa samasekali di kerangkeng dalam mayoritas minoritas itu. Samasekali tak mungkin, karena Islam adalah agama untuk semua kaum, semua manusia.

    Salam

  5. Walah, kecewa saya dengan komentarnya mas Abu Mifzal. Seolah-olah kebenaran adalah milik mayoritas. Lagi pula, yang mas Abu Mifzal tuding sebagai kaum liberalis itu siapa? Apakah Nu dan warga Nahdhiyyin-nya?

  6. saidiman

    Seru sekali perdebatannya,
    Orang liberal atau pluralis itu tentu mempersilahkan semua orang untuk duduk berembuk. Semua bisa ditampung. Satu-satunya yang tidak bisa ditampung adalah mereka yang menentang prinsip dasar bahwa semua bisa ditampung atau semua bisa bersuara. Kaum pluralis tidak ada masalah dengan semua keyakinan, satu-satunya masalah adalah dengan yang non-pluralis. Karena yang non-pluralis itu ingin menutup ruang dialog, pengen menang sendiri. Wahhabi mewakili dengan baik kategori kaum non-pluralis itu. Tidak mungkin menerima mereka, la cita-citanya ingin menghancurkan yang lain.
    Salam kenal.
    Saidiman.
    http://www.saidiman.wordpress.com

  7. abu mifzal

    Lho kok jadi menyalahkan saya?, saya cuma menaggapi perkataan gus dur pada alinea ke 2 “Meski mereka terus sesumbar mewakili kelompok mayoritas, kenyataannya mereka segelintir saja.”(baca dong baik-baik jangan keburu nafsu., jadi seharusnya anda-anda menyalahkan gusdur karena menurutnya kebenaran dilandaskan pada mayoritas seperti halnya demokrasi , kebenaran pada suara mayoritas.
    Trus anda sudah berburuk sangka pada wahhabi, yang katanya tidak mau menampung pendapat yang lain, sedangkan anda tidak mau menampung pendapat wahhabi, gimana toh ini?, jadi binun saya , merasa pluralis tapi tidak mau menampung pendapat lain, mengaku demokratis, tapi merendahkan kelompok yang lain

  8. saya sedih karena bukankah Rasulullah pernah memperingatkan bahwa kelak umat islam akan terbagi berpecah menjadi 72 golongan, dan hanya satu golongan yang selamat, yaitu mereka yang mengikuti ajaran Quran dan sunnah Nabi.

    Angka 72 ini entah apa maksudnya tetapi buat saya adalah menunjukkan jumlah perpecahan yang besar. meskipun banyak sudah ulama2 besar terdahulu hingga yg ulama kontemporer yg mencoba mengurai-urai 72 golongan ini.

    tetapi alangkah sedihnya karena melihat umat islam seolah2 mewujudkan peringatan Rasulullah ini menjadi sebuah ‘ramalan masa depan yang pasti terjadi’, daripada berusaha mengisyafi dan mencegah terjadinya perpecahan didalam umat.
    Perpecahan ini justru menjadi terwujud karena ‘satu golongan yg selamat yaitu mereka yang mengikuti ajaran Quran dan sunah nabi’ menjadi alasan, patokan, landasan pikir utk menyatakan kebenaran diri/golongan. masing2 menyatakan dirinya sebagai pengikut ajaran Quran dan sunnah Nabi, sehingga masing2 itu kemudian menjadi wujud bermacam2 golongan dan label.

    Mengapa peringatan Rasulullah itu justru kita wujudkan menjadi ramalan masa depan? Bukankah berkali2 dikatakan dalam Quran bahwa Rasulullah hanyalah pembawa peringatan, bukan membawa berita ramalan. Seolah2 pecahanya umat islam menjadi 72 golongan ini sama mutlaknya dgn adanya hari kiatmat dan pengadilan di hari akhir padang mahsyar. =(

  9. Ketika Orang mengambil suatu artikel tidak langsung dari sumbernya,
    terkadang yang terjadi adalah fitnah, tudingan-tudingan.

    satu kaum menyalahkan kaum yang lain. hasutan di gabungkan dengan hasutan. yang akhirnya yang terjadi hanyalah fitnah, saling olok dan lain-lain.

    siapakah sebenarnya Abdul WAhab?

    tidak seperti yang ada dalam artikel ini. jika ada yang sama, karena ada alasan yang logis kenapa harus ia kerjakan hal tersebut.

    islam bukan dibangun dengan fitnah-fitnah.
    segala sesuatu yang keluar dari mulut kita akan dipertanggungjawabkan.

    ini adalah dunia maya. siapapun bisa membaca artikel ini.
    jika artikel ini benar, maka bermanfaaat,
    bagaimana jika artikel ini adalah fitnah orang tertentu?

    mari kita bersama2 untuk mengambil sesuatu artikel langsung dari sumbernya. bukan sekedar pendapat orang lain yang kita anggap mereka lebih mumpuni.

    Allah maha tahu atas apa-apa yang kita perbuat.
    ketika ada orang yang diberi kritik, kok yang ada hanyalah dengki, maka sudah bisa dipastikan bahwa aqidahnya rapuh.

    semoga Allah memberikan kelapangan hati kita untuk mengoreksi diri kita sendiri.

    jazakumullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s