Benarkah Turki Negara Sekuler?


musim_inspirationgifthumbnail.png
Salah satu tokoh Islam sekuler yang mengatakan bahwa Turki bukanlah negara sekuler adalah Syaikh Abdullah Ahmad An Na’iem. Ulama Islam yang kerap mengkampanyekan sekulerisme ini mengatakan bahwa sekulerisme adalah sebuah ideologi yang memisahkan urusan agama dan negara. Negara tidak boleh mengintervensi dan mengatur keyakinan hingga ritual keagamaan warganya. Sebaliknya, negara juga tidak boleh melakukan pengekangan terhadap pelaksanaan ajaran agama oleh warganya.

Oleh : Mukhlis Hasyim*


Sudah puluhan tahun Turki mengkampanyekan dirinya sebagai negara Sekuler sejak kemerdekaannya tahun 1923 M. Melalui tangan, Musthafa Kemal, Turki yang awalnya berdiri sebagai Khilafah Islamiyah di bawah kerajaan Turki Utsmani, tiba-tiba menjadi sangat anti Islam. Turki telah menganut sekulerisme semu.

Salah satu tokoh Islam sekuler yang mengatakan bahwa Turki bukanlah negara sekuler adalah Syaikh Abdullah Ahmad An Na’iem. Ulama Islam yang kerap mengkampanyekan sekulerisme ini mengatakan bahwa sekulerisme adalah sebuah ideologi yang memisahkan urusan agama dan negara. Negara tidak boleh mengintervensi dan mengatur keyakinan hingga ritual keagamaan warganya. Sebaliknya, negara juga tidak boleh melakukan pengekangan terhadap pelaksanaan ajaran agama oleh warganya.

Tidak demikian dengan Turki. Sejak memproklamirkan diri menjadi negara sekuler sebagai konvensasi atas penarikan pasukan Inggris dari Turki, Musthafa Kemal telah melampaui nilai-nilai sekulerisme. Bagimana tidak, masyarakat seolah dijauhkan dari symbol dan nilai-nilai agama. Pemakaian jilbab bagi wanita, dilarang, huruf-huruf Arab diganti dengan huruf latin, busana khas bagi laki-lakai diganti dengan busana ala eropa, dll. Singkatnya, semua yang berkaitan dengan symbol-symbol Arab dan Islam dilarang.

Musthafa Kemal benar-benar menginginkan Turki menjadi negara modern dan mengubur tradisi Turki. Melalui keberhasilan doktrinnya itu, Musthafa Kemal lalu diberi gelar ‘At Taturk’ yang berarti Bapak Bangsa Turki. Ideologi ini pun bertahan hingga sekarang meskipun ada riak-riak penentangan dari warganya. Hal ini dibuktikan dengan kemenangan partai berbasis Islam seperti Partai Refah dan AKP.

Alat Politik

Sekulerisme ala Turki telah menjadi kebanggaan elite. Belum ada seorangpun yang mampu menggeser ideologi ini, lebih-lebih karena dibentengi baik oleh militer maupun sistem politik Turki.

Partai Refah sebagai partai berbasis Islam pernah memenangkan Pemilu Turki namun akhirnya dibredel karena dianggap mengancam sekulerisme Turki. Juga Presiden Turki, Abdullah Gul sebelumnya pernah dijegal dalam pencalonannya sebagai calon Presiden. Istrinya yang mengenakan jilbab menjadi black campign untuk menolak pencalonan atas dirinya. Jilbab istrinya seolah menjadi symbol musuh sekulerisme Turki.

Turki telah menganggap bahwa setiap syimbol Islam adalah musuh sekulerisme. Akibatnya, masyarakat benar-benar dijauhkan dari Islam, sebab Islam adalah musuh mereka. Islam dianggap akan menghancurkan tatanan sekulerisme. Mereka tidak ingin berkhianat kepada sang bapak bangsa At Taturk.

*PB PMII Asal PC Mataram, Kini Mahsiswa Pascasarjana Kajian Wilayah Timur Tengah, Universitas Indonesia

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s