KELIRU, 1 MUHARAM AWAL HIJRAH RASUL


1170545410foto1.jpg
K.H. Dr. Jalaluddin Rakhmat,M. Sc

SEJARAH Islam seperti hijrah Nabi Muhammad harus segera diluruskan. Terjadi salah kaprah dan anggapan salah mengenai sejarah hijrah ini. Kalau Anda mengira peringatan 1 Muharam sebagai awal Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, maka keyakinan itu salah besar.
“Nabi Muhammad yang ditemani sahabat Abu Bakar hijrah ke Madinah pada 12 Rabiul Awal bukan pada 1 Muharam sebagai tanda dimulainya tahun hijriah,” kata Ketua Yayasan Muthahhari, K.H. Dr. Jalaluddin Rahmat dalam diskusi buku “Psikologi Agama” di Masjid Darul Ihsan PT Telkom Jalan Japati, beberapa waktu lalu.
Liputan


Menurut Kang Jalal, apabila umat Islam meluangkan waktu dua menit saja untuk membaca buku, maka Nabi Muhammad melakukan hijrah pada 12 Rabiul Awal bukan pada 1 Muharam. “Jadi, keliru besar peringatan 1 Muharam sebagai awal hijrahnya Nabi Muhammad,” tegas pakar Islam ini.

Kang Jalal mengatakan, peringatan tahun baru Islam tiap 1 Muharam juga baru dimulai sejak 25 tahun lalu atau sekira tahun 1970-an yang berasal dari ide pertemuan cendekiawan Islam di AS. “Waktu itu terjadi fenomena maraknya dakwah, masjid-masjid dipenuhi jemaah, dan munculnya jilbab hingga kemudian dikatakan sebagai kebangkitan Islam, Islamic Revival. Hal ini diperkuat dengan liputan majalah Times yang dalam sampul depannya memuat tulisan Islamic Revival,” katanya.

Untuk lebih menggelorakan kebangkitan Islam, lanjut Kang Jalal, akhirnya disepakati perlunya peringatan tahun baru Islam hingga menyebar ke seluruh Muslimin termasuk di . “Tidak ada landasan hukum baik Alquran maupun hadis soal peringatan tahun baru Islam. Saya menganggap bid’ah, tapi tak berani menyebut bid’ah dhalalah,” katanya.

Sedangkan peringatan Sura seperti di Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta merujuk kepada kata Asysyura atau 10 Muharam yang memiliki landasan hadisnya. “Anehnya di Indonesia peringatan 10 Muharam tidak banyak dilakukan malah ada sebagian umat Islam yang ingin mengecilkan malah meniadakannya. Di lain pihak, ada sebagian kecil umat Islam yang berusaha mengadakan peringatan Asysyura meski gaungnya belum besar,” timpalnya.

Bagi Ketua Umum Ikatan Jamaah Ahlul Bait (Ijabi) itu, peringatan 1 Muharam yang diidentikkan dengan kebangkitan Islam malah jauh dari tujuan yang diharapkan. “Saya terjebak kemacetan panjang di jalur selatan yang ternyata setelah diselidiki penyebabnya pawai 1 Muharam. Tampak anak-anak kecil diangkut truk bak terbuka hingga saya heran apakah ini yang disebut kebangkitan Islam?” ujarnya.

Kang Jalal juga mengkritik istilah kebangkitan Islam yang selama 25 tahun ini belum juga terwujud malah umat Islam di dunia termasuk makin terpuruk. “Boro-boro bangkit malah makin terpuruk dan tersingkirkan. Umat Islam malah dituding sebagai teroris hingga citranya negatif. Apakah ini yang disebut kebangkitan Islam?” tanyanya lagi.

Kang Jalal meyakini ajaran Islam merupakan rahmat bagi alam semesta, namun tak sedikit pula yang berbuat kezaliman dengan mengatasnamakan “bendera” agama. “Kadang saya dibuat heran. Di satu sisi Islam mengajarkan kasih sayang, namun tak sedikit pula Muslimin yang memfitnah, mengadudomba, bahkan membunuh saudaranya dengan mengatasnamakan agama,” katanya.

Ajaran Islam juga mendorong seorang Muslim untuk berbuat baik, membangun pesantren, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lain-lain yang didasarkan atas perintah agama. “Namun, tak sedikit pula yang membawa label agama lantas menyakiti, menyebarkan kebencian, dan lain-lain. Agama adalah kenyataan terdekat kita sekaligus terjauh,” katanya.(A-71)*** [R,11 Maret 2004]

RESOURCE : http://lpikbandung.blogspot.com/2008/01/i-muharam.html
dan http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0304/11/03×1.htm

Iklan

2 Komentar

Filed under Agama, Berita, Islam

2 responses to “KELIRU, 1 MUHARAM AWAL HIJRAH RASUL

  1. TGH.Nizar AL-Kadiri

    Apa mungkin begitu? mungkinkah para ulama kita mengalami kekeliruan yang fatal selama turun-temurun tanpa ada yang pernah menyadari kekeliruan tersenut. tahun baru hijriah mungkin iya baru diperiangati pada 25 tahun terakhir, tapi itu kan bagi pemerintah saja. saya sendiri yang wara indo asli meliat tradisi ini sudah lama dijadikan momentum dakwah bagi para tuan guru dilombok. misalnya saja bagi NW yang ada dilombok. yang disebut sebagai 25 tahun terakhir itu adalah bagi pemerintah, tapi bagi rakyat indonesia… itu sudah lama. apa lagi kita mengenal dalam tradisi islam itu untuk disunahkan membaca doa awal dan akhir tahun, sejak kapan dan dari mana tradisi ini berasal, kita tidak tahu karena mungkin karena saking jauhnya dari massanya kita.
    jadi bagi sya itu, masih juga diragukan.

  2. Bisa jadi kang Jalal mendapat rujukannya dari negeri Barat dan teman-temanya sehingga berkesimpulan seperti itu tentang I Muharram sebagai permulaan hijrah. Saya suka aneh kepada cara berpikir kang Jalal yang kadang-kadang suka picik dalam mengambil referensi. Kalau referensinya dari ulama Sunni tidak pernah diambil, tapi kalau dari orientalis dan Syiah dia ambil. Pikiran yang picik. Tidak objektif.
    Dia menyatakan seperti begini “Di satu sisi Islam mengajarkan kasih sayang, namun tak sedikit pula Muslimin yang memfitnah, mengadudomba, bahkan membunuh saudaranya dengan mengatasnamakan agama,” katanya.
    Bukankah yang suka menghujat dan mencaci maki sahabat nabi adalah orang-orang rafidloh batiniah yang sudah keluar dari tuntunan nabi Muhammad.
    Coba kang Jalal yang objektif dalam mengambil rujukan. bukan cari sensasi.
    Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s