Perusakan Pure Sangkareang Di Keru Lombok Barat


image.jpg
– Sabtu, 12

Secara tiba-tiba (tanpapemberitahuan sebelumnya) Camat Keru Lombok Barat beserta kepala desa dan sejumlah tokoh masyarakat mendatangi lokasi pure Sangkareang di Keru Lombok Barat sekitar pukul 10.00 Wita. Mereka di terima pengurus pure, ketua renovasi pure dan panitia acara Pujewali di pure tersebut (Acara pujewali rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2008-hari ini).

Camat datang dengan mengaku ingin menanyakan beberapa hal terkait informasi yang ia terima dari masyarakat. Informasi tersebut diantaranya pertama: acara pujewali yang akan dilaksanakan di pure sangkareang disertai dengan penyembelihan babi secara besar-besaran. Kedua: informasi bahwa acara itu akan dihadiri juga oleh ummat hindu di luar lombok seperti bali. Ketiga: ada isu material pembangunan pure yang batal dilaksanakan di kaki gunung rinjani telah dipindahkan ke lokasi pure sangkareang. Keempat : Isu pure Sangkareang akan menjadi pusat penyebaran agama hindu di asia tenggara.

Keempat isu ini dibantah kebenarannya oleh panitia dan pengurus pure sangkareang. Namun sepertinya Kepalad desa Keru tidak puas dengan bantahan tersebut dan merasa perlu membicarakannya pada hari lain dengan rencana akan menghadirkan pihak pemerintah, toma, toga dan masyarakat setempat. Walau kurang setuju, dengan keterpaksaan pihak pure menyepakatinya dan pertemuan di rencanakan selasa 15 Januari 2008.

Ahad, 13 Januari 2008 pkl. 14.00 Wita

Melihat adanya ketidakberesan atas kedatangan camat dan warga secara tiba-tiba itu, pihak pure melakukan rapat dan memutuskan untuk mencari perlindungan ke pihak kepolisian sebagai langkah antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Mereka meminta secara resmi pada kepolisian resort narmada untuk menjaga mereka yang kemudian disetuji dengan di kirimnya 6 (enam) personel polisi yang berjaga malam itu.

Ahad, 13 Januari 2008 pkl. 22.30 Wita

Sekelompok massa yang di perkirakan berjumlah ratusan menyerbu pure tersebut dan merusak serta membakarnya. Enam aparat polisi yang ada disitu tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan konon para polisi nyaris di keroyok massa karena mencoba menghalangi. Massa berjumlah besar itu secara leluasa merusak apa saja yang ada di pure tersebut. Tidak ada korban jiwa tapi sejumlah ornamen seperti patung-patung serta tempat pemujaan hancur lebur oleh benda-benda keras. Kelambu dan kain sembahyangan nyaris habis terbakar serta tembok dan pembatas roboh..

Senin, 14 Januari 2006 pkl. 07.30

Pagi-pagi sekali, pure tersebut telah di penuhi wartawan dan polisi. Menurut pengakuan warga yang berhasil kami temui disekitar pure. Mereka samasekali tidak tahu menahu perihal orang yang merusak itu. Mereka hanya mendengar keributan-keributan, ucapan takbir serta teriakan jihad malam itu. Mereka juga tidak mengetahui jumlah persis kelompok massa tersebut. Tapi yang jelas banyak sekitar 100-an orang. Enam polisi yang menjadi saksi perusakan nampaknya akan mejadi kunci pembuka informasi perusakan ini.

Selasa, 15

Pengurus PHDI melakukan rapat internal dengan tokoh-tokoh hindu di kawasan pure tersebut. Sementara di tempat lain di cakranegara, ummat hindu telah berkumpul sekitar 300-an orang yang berniat “jihad” tandingan melawan aksi semalam. Namun dapat di cegah dengan pertimbangan konflik akan meluas. Tokoh-2 hindu menyarankan agar aksi diarahkan ke KAPOLDA NTB saja, mereka berhasil melakukan hearing disana dan mendesak POLDA untuk mengamankan pure tersebut serta acara puje wali yang akan di laksanakan 18 januari 2008.

Rabu, 16

Dilakukan rapat yang dihadiri sekitar 50-an yang terdiri dari Camat, PHDI, Kapolres, Kapolsek, FKUB Lobar, toga, toma dan masyarakat. Diskusi berlangsung sepihak. PHDI Dan pengurus pure seakan diadili di tempat dan tidak bisa banyak komentar. Tuntutan sepihak dari Kades dan warga yang kontra melayang di forum itu.
Adapun tuntutannya,

Pertama : Menolak keberadaan pure itu dengan alasan tidak ada ijinnya dari negara perihal pembangunan rumah ibadah.
Kedua: Pure tersebut harus di vakumkan dulu selama status hukumnya belum jelas.
Ketiga : Harus ada SKB dua menteri atas keberadaan pure tersebut.

Oleh tokoh-2 hindu tuntutan sepihak itu belum bisa diterima dengan alasan, pure tersebut telah ada sejak tahun1680-an dan sudah melakukan renovasi dua kali pada 1990 dan 2006 yang lalu. Dan renovasi yang ketiga kali ini.
Tidak ada undang-undang yang mengatur, renovasi harus ada ijinnya. Ijin hanya berlaku bagi rumah ibadah yang baru didirikan.
Karena tak berhasil menemukan apa solusi tepat. Pertemuan rencananya keeseokan harinya.

– Jum’at, 18

Belum ada informasi hasil pertemuan lanjutan itu.
Namun di tempat lain, pada pukul 16.00 wita. Sejumlah elemen mahasiswa berkumpul untuk membicarakan hal yang sama. Mereka tergabung dalam Koalisi Kebangsaan Untuk Perdamaian (KKUP) NTB terdiri dari PMII, JARIK Mataram, KMHDI, KMDI UNRAM, PPMI Dewan Kota Mataram, PHDI NTB, Lurah, BEM STAH Mataram, UKM-BKM. Rencananya aksi damai akan dilansungkan hari ini sebagai bentuk keprihatinan mereka pada NTB yang dalam darurat kekerasan. Mereka berencana menuju KAPOLDA NTB, orasi terbuka, menyebarkan selebaran dan press relese serta pernyataan sikap. Di perkirakan aksi akan di ikuti sekitar 150-an orang hari ini. Kabar selanjutnya ditunggu.

Salam Kebebeasan

TIM INVESTIGASI
Jaringan Islam Kampus (Jarik) Mataram

Iklan

45 Komentar

Filed under Agama, Berita

45 responses to “Perusakan Pure Sangkareang Di Keru Lombok Barat

  1. Pernyataan Sikap PP KMHDI
    tentang Perusakan Pura Sangkareang di Lombok Barat

    http://www.kmhdi.org/index.php?menu=news&id=121

  2. saya sangat tidak setuju dengan pengerusakan. tapi saya juga tidak setuju kalau teman-teman hindu membangun pure seenaknya di tempat yang tidak ada umat hindunya. bagaimana tanggapan umat hindu seandainya teman-teman muslim membangun masjid seenaknya di tengah pemukiman hindu padahal di sana tak ada umat muslim. jadi saya harap umat hindu juga tahu diri bahwa kita di sini adalah minoritas. jadi pandai-pandailah membawa diri.

    • Primadana

      untuk pak wayan, saya kira metode pembangunan sebuah pure sudah di atur dalam sebuah aturan khusus berdasarkan aturan dalam asta kosala kosali, serta akan selalu berpedoman pada konsep Tri Hita Karana, jadi tidak akan mungkin dibangun pure pada tempat yang tidak memiliki kriteria yang terkait dengan dua buah pedoman tadi.

      Lain hanya ketika pure tersebut termasuk katagori sebuah candi atau peninggalan sejarah yang dipugar untuk menjaga kelestariannya sebagai kekayaan dan bukti sejarah bangsa (yang pada umumnya disekitar lokasi hampir tidak ada umat beragama hindu).

      Terkait dengan keberadaan pure sangkareang (sepanjang yang saya ketahui dari media internet baik tulisan maupun photo), keberadaan pure tersebut dapat di lihat dari kondisi sebelum pemugaran, karena bahasa bentuk, bahan dan kontur lahan akan terlihat dengan jelas, apakah pure tersebut memang baru dibuat atau telah ada sejak jaman lampau.

      Adapun peristiwa perusakan yang terjadi adalah hal yang sangat disesalkan, adanya kesan bahwa rasionalisasi dan kejujuran akan keberadaan pure tersebut tertutupi oleh sebuah asumsi yang mengarah kepada tindakan vandalisme, seharusnya hal tersebut dapat dihindari jika para aparat lokal dapat memberikan pengayoman, perlindungan, dan tanggapan serius dengan mengedepankan kepedulian mereka terhadap kerukunan beragama dalam masyarakat yang plural namun harmonis, dan seperti harapan teman teman yang lain sayapun berharap kejadian seperti ini semoga tidak terulang lagi.

      Terimakasih untuk teman-tean Jarik atas media informasinya.

      Suksma

    • SHAH RUKH KHAN

      Browsing di Google internet bung,,,,, liat betapa kejamnya bangsa Hindu bali terhadap suku sasak pada zaman kerajaan Gelgel skitar tahon 1700san

    • made

      Tapi pada kenyataannya umat hindu tidak pernah melakukan pengrusakan pada masjid2 yang ada di bali meski bali mayoritas beragama hindu

  3. widiyasa

    saya asli orang cakranegara lombok…
    dalam hal ini temen2 hindu di lombok sangat kecewa sekali dgn terjadinya perusakn pure ini…
    kami tau diri bahwa kami minoritas disini..
    tapi keberadaan pure tsb sudah ada sejak tahun 1680 an.
    untuk sodara wayan mungkin bukan asli lombok hingga berkata begitu, keberadaan pure sangkereang
    merupakan erat hbungannya dgn suku sasak dulu disana dan terdapat mata air didalmnya dimana bisa memberikan kehidupan untuk masyarakat sekitarnya.
    kalo tidak ada keberadaan pure tsb udh dulu mata air itu akan hilang..
    Kami komunitas hindu lombok..cukup bersabar dgn kejadian demi kejadian yang terjadi di lombok…
    tapi saya merasakan kami akan mulai berbuat sesuatu untuk generasi kedepan hindu di kemudian hari..

    kami merasa di diskriminasikan selama ini…semoga untuk kedepannya kejadian ini tidak terulang lagi…!!!

    • SHAH RUKH KHAN

      Browsing di Google internet bung,,,,, liat betapa kejamnya bangsa Hindu bali terhadap suku sasak pada zaman kerajaan Gelgel skitar tahon 1700san…

  4. Sebenarnya hal seperti ini tidak perlu terjadi, kenapa kita tidak duduk bersama menyelesaikan persoalan dengan menggunakan akal pikiran kita bukan dengan kekerasan sebab islam tumbuh dan berkembang bukan dengan pedang tapi dengan hati nurani. Mari kita saling asah, saling asuh, menghargai dan menghormati keyakinan orang lain.

  5. jay khan

    sy orang hindu asli lombok,sy sangat prihatin dg pengerusakan pure sangkareang.Untuk suadara2 muslim di manapun berada,bukankah agama anda mengajarkan anti kekerasan,seperti yg dahulu dilakukan nabi anda.Sy sering mendengar khotbah ustadz2disetiap pengajian yg mengatakan”SEGALA PERBUATAN DAN TINKAH LAKU KITA HARUS MENGAMBIL CONTOH NABI MUHAMMAD”Tapi…perbuatan yg kalian lakukan tdk mencerminkan anda seorang MUSLIM pengikut MUHAMMAD.Anda seperti orang tdk beradab yg tdk punya agama,seharusnya semakin tinggi agama seseorang semakin jauh dia dari sifat menyakiti orang lain.Sy sangat bangga dilahirkan menjadi seorang HINDU,krn HINDU di penuhi dgn ajaran kasih sayang,toleransi.HINDU mengajarkan AHIMSA untuk tdk menyakiti siapapun.Untuk saudara2 ku umat hindu di lombok tetap pegang teguh ajaranTRI KAYA PERISUDHA,perdalam filsafat HINDU,karna filsfat hindu penuh dg ajaran suci kebanaran.INGAT hidup kt hanya senmentara,isilah hidip ini dg jln menyebarkan kebaikan,tanpa memandang SUKU AGAMA,RAS,spt yg diajarkan BHAGAWADGITA

    • Anonim

      SAYA SASAK TULEN SAYA SANGAT TERSINGGUNG DG UCPN SDR,SASAK ADALH ISLAM, ANDA ADALH PENDATANG DI PULAU INI WALAUPUN ANDA DI LAHIRKAN DI LOMBOK BUKAN BERARTI ANDA BS JD ORNG SASAK.SEKARANG SY BERTANYA APA MUNGKIN ORNG-2 HINDU BS MEMBANGUN PURE DI TENGAH UMAT ISLAM,..??INI LOMBOK TANAH KAMI…!!!

      • jay khan

        Klo anda mengklaim satu daerah hanya milik satu kelompok,ras,agama,berarti pemikiran anda sangat primitif,seperti katak dlm tempurung.pola pikir orang2 spt anda ini yang bisa memecah persatuan NKRI yg berazas PANCASILA.pasti anda pernah ke pulau BALI’pernahkah anda melihat satu kampung muslim yg hidup damai berdampingan dg umat HINDU disana,mrk diizinkan dg ikhlas mendirikan masjid,beribadah,lebaran,dsb.karna dlm HINDU disebutkan untuk menghormati dan menghargai jalan/agama apapun yg ditempuh manusia untuk bertemu dg TUHAN,disini menunjukan betapa toleransinya HINDU thp agama lain.trus..KENAPA…agama anda tdk bs spt itu?sy pernah membaca jaman dulu MUHAMMAD sangat meghargai musuh2nya yg orang kafir.tapi kenapa anda yg merupakan umatnya tdk bs menghormati bangsa anda sendiri yg krn beda agama?

      • kasta jingga

        Assalamualaikum wr.wb-Ooom swasti astu….wahai saudara saudarik kita harus sadar tidak perlu mencari kambing hitam dalam masalah ini karena saling hujat,caci maki,saling hina ,berbusung dada,angkuh,sombong pekerjaan setan.apalagi menghina satu agama dengan agama lainnya.semua agama itu baik,semua agama megajarkan tentang kebaikan,kedamaian manusia dari dunia sampe akhirat.orang BALI orang LOMBOK saudara yang membedakan hanya kepercayaan, jangan mudah terpancing dengan propokator alias DAJAL DUNIA yang mengajak saudara berpecah belah.kebenaran,kebaikan suatu agama ada pada lahir bhatin kita juga.aku suku sasak tapi aku sangat menyesalkan kejadian itu,bila ada salah paham kita selesaikan dengan bermusyawarah.saya harapkan dalam blog komentar ini kita cari jalan penyelesaian bukan saling hina dan aku malu dengan saudara seagama atas kejadian ini.semoga faham tentang indahnya beragama.(salam damai dari JEDDAH k.s.a)

    • SHAH RUKH KHAN

      orang asli lombok yaitu suku sasak islam

  6. Agus suparna

    Ini semakin menguatkan anggapan orang luar, bahwa Sasak itu adalah suku yg primitif. Tidak mengedepankan nalar dan logika dalam mengambil sikap. Malu2in aja.

    • garada sasak

      jgn anda mnghina suatu suku,apakh anda merasa orang hebat,jgn smpai anda menjadi propokator jika trjadi hal2 yg berbau sara,ingat saling menghormati.saya orang sasak tidak prnah mnghina suku anda.dan saya merasa terhina dengan ucapan anda.apakah anda sudah tau spa plakunya,apa motifnya.jgan maen tuduh.anda bisa dihukum penjara,ngerti nggaq loo.baka

      • jhony indo

        saudara garada,coba anda perhatikan kata2 dari saudara anonim.sy gak heran klo saudara agus berkomentar spt itu.lebih baik saudara nasehati orang2 sasak yg pemikirannya spt anonim,yg hanya mempermalukan orang sasak aja.sy jg orang sasak asli gerung.terus terang sy maluuuuu sekali dg tindakan orang2 sasak yg bertindak tanpa memakai akal sehat,yg gampang di provokasi,seolah2 kt adalah suku yg bodoh.

  7. cantik

    sombong sekali saudara anonim, mengatakan bahwa ini lombok tanah kami. memangnya apa yg telah anda berikan untuk tanah lombok? umat hindupun berhak hidup disana, tdk ada yg bisa melarangnya.anda jng hanya bisa bilang saya org islam. anda islam sebenarnya atw islam ktp?

  8. Agus suparna

    Sikap toleransi dan menghargai keyakinan orang lain adalah sikap seorang kesatria. Merasa diri paling superior dan menganggap orang lain inperior adalah sikap orang arogan dan berpikiran picik. Introspeski diri sebelum bertindak itu baru bijaksana..
    Memalukan sekali jika ada suku mayoritas yang bertindak sewenang-wenang terhadap suku minoritas, dan menganggap perbuatannya itu adalah sebuah kebenaran..
    Sangat memalukan,
    benar2 tak memiliki etika dan estetika budaya nusantara!

  9. Mahavhiro

    Hidup itu indah karena adanya perbedaan…
    Jika ada orang yang menganggap perbedaan itu adalah sebuah noda, dan ingin melenyapkannya untuk kemudian menyeragamkannya..
    Berarti orang itu sebenarnya buta,
    karena dimata dan hahatinya hanya ada satu warna yaitu,
    Hitam kegelapan!
    Jadi butuh cahaya kesucian dan ketulusan untuk meneranginya, supaya dia bisa tau betapa indahnya dunia ini jika dihiasi dengan warna-warni perbedaan.
    Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

  10. Cool man

    Dalam penyelesaian suatu masalah sebaiknya jangan mengedepankan emosi dan kekuatan otot, hendaknya rasio dan rasio atau kecerdasan otak yang diutamakan. Kami warga Hindu Bali, tidak akan ikut terpengaruh atau terprovokasi dengan peristiwa perusakan pura di Lombok.
    Kami juga tidak akan membalas dengan ikut merusak masjid saudara kami Sasak Muslim yang cukup banyak bermukim di Bali, khususnya di daerah Karangasem.
    Kami sadar jika kami ikut terbawa arus dengan mengikuti emosi, kami akan merugikan diri kami sendiri dan menyakiti saudara Sasak kami. Kami merasa kami sudah bersaudara dan kami tidak melihat perbedaan diantara kami sebai bahan untuk menyulut suatu pertikaian. Betapa indahnya dunia ini jika hidup damai berdampingan meski ada perbedaan.
    Tapi, sebagai rasa solidaritas kami kepada saudara kami, Hindu Lombok, kami sangat menyayangkan peristiwa perusakan pura ini sampai terjadi. Sangat disesalkan.
    Marilah kita hidup damai, meski kita terlahir berbeda. Dan hendaknya kita bisa menghargai keyakinan dan peninggalan sejarah agama lain, tanpa bermaksud mengusik apalagi sampai merusaknya.
    Damailah selalu!..

  11. lo and gue

    rahmatan lil alamin itu kata al quran ketika ada kerusuhan allah maha kasih masak manusia yang bahru tidak ada sifat kasih ketika ada pertikean masak manusia yg lemah tiak ada sifat sayang, apa pun agamamu apapun skumu apapun budayamu kita sama di matatuhan ingat tidak ada yang atau lo atau gue di surga ok.

    • Anonim

      saudaraku….keluargaku….saya orang indonesia!!!!bhineka tunggal ika,musuh sejati kita adalah diri kita sendiri…mari kita sama2 introspeksi diri untuk bangsa ini khususnya untuk lombok!!!!saya dengan keluarga dari tanah jawa ada niatan untuk hijrah kelombok…HAMEMAYU HAYUNING BUWONO!!!!!

  12. Sya mraza tkut jika, kruskan2 pura/kuil hndu trus,trjadi, , sgat disygkan umat hndu disana mendrita, , , tetpi mestiny warga di pemukiman dsana nyadar, , qta di dunia ini tdk ada yg smpurna, , menrma adlh ucpan blz trima kash qta, , jadi trimlah agama hindu disna, , ingat qta dgan pak sukarno, beliau jga stgah hindu sthh islam, jdi hormatilah kami sbg bgs indonesia, , tlog pemernth ikt mengatasi msalh ini. Trmksh

  13. Lalu lalang

    Lombok? Pulau apa tuch? Kayaknya ga pernah dengar sebelumnya dech… Aku cari di peta dulu ya, ada ga y?

  14. Putu Semadiyasa Bagoes

    Jeg nyante gen bli…
    De jeg tegang keto!!

    • Nusantara

      Marilah kita junjung tinggi NKRI yg berdasarkan Pancasila dgn motto : Bhinneka Tunggal Ika yg menjamin adanya perbedaan tetapi satu dan kebebasan beragama/beribadah sesuai UUD 45 yg diwariskan oleh para pendiri bangsa ini. Apabila hal di atas dipahami oleh semua pihak (masyarakat & pemerintah) dengan baik maka kejadian perusakan tempat persembahyangan tdk perlu terjadi.

  15. Primitive Runaway

    Tunggu saja… Lombok akan teggelam…

  16. PKI BARU

    AHHH KALIAN SEMUA LEBAY
    GA PENTING DEH

    AKUR-AKUR DONG KAYAK DI JAWA BARAT

    BUAT ANONIM YANG ORANG NGAKU ORANG SASAK FUCCKK YOUU DI TUNGGU DI PASAR BERAS

    TERUS TERANG SETELAH MEMBACA KOMENTAR DARI ANONIM SAYA JADI ILLFIIL AMA ORANG SASAK CUIHH,, UDAH CEWENYA JELEK-JELEK.COWONYA TONGGOS2 KULITNYA BURIKK
    MALES DEH

    SUNDELLL

    SAYA AJA YANG ORANG MUSLIM TRUS DATANG KE SINI BIASA AJA
    CUMA KOK MUSLIM DI SINI LEBAY SANGAT

    DASAR MUSLIM ORTODOK…YAHUDI LESEK

  17. Luciano Maccanrotti

    Buat orang2 munafik!!
    Sadarlah,,
    kalau ada cermin, bercerminlah dulu!
    Sudah baik kah dirimu?? Kalau belum… berhentilah menghujat orang lain!
    Camkanlah itu!!

  18. Anonim

    Buat orang2 munafik!!
    Sadarlah,,
    kalau ada cermin, bercerminlah dulu!
    Sudah baik kah dirimu?? Kalau belum… berhentilah menghujat orang lain!
    Camkanlah itu!!

  19. anonym

    PKI Baru: berarti jawa barat harus menyesal dengan kedatangan anda. sy jg orang yg tinggal di jawa barat,,saya sama sekali tidak melihat adanya sesuatu yang berlebihan,,,setiap agama ,engajarkan hal yang sama,,menjaga perdamaian dan cinta kasih, sungguh tercemar tanah kami menerima anda di sini, di bumi kami yang penuh damai dan welas asih, yang saling menjaga keharmonisan antar umat beragama

  20. kasta jingga

    Bila ingin dihargai maka belajarlah menghargai orang lain.saya pribadi mengajak saudara saudariku umat muslim pada khususnya,marilah kita tunjukan islam itu agama penyelamat,agama yang indah,agama yang lembut,agama yang mencintai kedamaian,agama bermasyarakat,agama yang tidak membedakan jabatan,suku ataupun ras dan bukan sebaliknya. agama isalam agama yang buat onar,perusakan,permusuhan,agama biang kerok.kalau tidak,marilah kita tunjukan perilaku islam yang sebenarnya,kalau dengan cara kekerasan,pemaksaan berlaku sewenang wenang bahkan sampe merusak tempat ibadah agama lain,jangan emosi kalau orang mengatakan agama ma,ap aja islam agama ANARKIS agama TERORIS.dan saya tidak heran kalau salah seorang bangsa eropa yang baru masuk islam bekunjung keindonesia belajar dan ingin tahu tentang negara yang punya julukan INDONESIAN MOESLIM POWER nyatanya ibarat kayu lapuk yang tidak mengerti kaedah islam.islam besar bukan dengan paksaan tapi islam besar dengan kedamaian,keselamatan dan kasih sayang. (kita sebagai umat islam mari kita tunjukkan pada dunia kalau islam bukan agama teror tapi islam agama yang membawa keselamatan.)prom jeddah k.s.a.

  21. kasta jingga

    Sekali lagi saya juga suku sasak,biarkan orang mengejek,menghina anggaplah mereka seorang anak kecil yang tidak mengerti tentang apa2. jangan mudah terpancing dengan emosi yang biasanya akan membawa perpecahan dan kehancuran dan buat apa,selama tidak melukai jasmani anda.anggaplah itu sebagai cambuk buat kita suku SASAK maupun SUKU BALI jadi pengalaman tuk bisa memperbaiki dan berbenah diri….harapan saya agar masalah ini cepat selesai adanya dan kedua suku bisa hidup rukun selalu.ingat….kedua suku ini terkenal dengan kepanatikannya beragama dan suku yang masih utuh adat istiadatnya……!!!!,jeddah k.s.a

  22. kasta jingga

    Maaf saudara PKI BARU dan PRIMITIVE RUNAWAY…orang yang baik tentu akan memberikan solusi yang terbaik pula karena lebih baik jadi penengah daripada berpihak tanpa mengerti akar persoalan.trima kasih .

  23. Aha

    Katanya agama damai??? Tapi koq terus terjadi kekerasan yg membawa panji2 Islam… Sudahlah… Biarkan kami yang menilai sendiri… Ga perlu promosi!!! Kami sudah muak…

  24. agung

    orang lombok yang bodoh itu tak juga bisa mengerti mengapa rejeki wisatanya tak kunjung lancar seperti tetangganya di bali…bahkan membedakan antara tanah lombok yang molek dengan tanah palestina yang airnya tak bisa diminumpun mereka tak mampu…bersiaplah menjadi tanah terkutuk dengan tindakan-tindakan semacam ini…saudara sekalian apakah anda semua menyadari bahwa tindakan anda barusan adalah promosi gratis bagi wisata flores??sadarkah anda sekalian bahwa seluruh hasil produksi apapun bentuknya dari lombok bahkan Indonesia sebentar lagi tak kan mampu berdiri dihadapan produk cina??lalu apa yang akan anda gunakan untuk hidup ke depan?? semangat aneh dua ribu tahun yang lalukah? bagaimana dengan jutaan pegawai dan buruh yang bekerja di perusahaan pengusaha keturunan cina di Indonesia? apakah juga anda anggap mereka makan dari keringat minyak babi? apakah anda juga belum mengerti facebook yang anda gunakan adalah ciptaan bangsa yahudi?? lebih pintarlah untuk mengetahui bahwa masyarakat juga bisa mengidap kegilaan yang disebabkan oleh kemiskinan, jenis skizofrenia masif yang kemudian diserap dalam bahasa perancis AMUK, karena dari seluruh budaya di dunia, hanya bangsa Indonesia terutama jawa yang mengidap gejala klinis ini. Jadi pintarlah agar hidup anda memutuskan pilihan yang sesuai dengan hidup layaknya manusia ditahun 2000

  25. gede labha

    apa yang kamu perebutkan sampai merusak tempat ibadad agama lain, kita ini satu nusa satu bangsa ,ingat bung hukum alam lebih kejam dari hukum manusia dan sangat menyakitkan.
    kami orang hindu cinta damai tidak suka di prokasi oleh manusia tidak beradab. salam damai

  26. Anonim

    Kami orang Bali di Lombok…ngga Takut mati,, karena kami dulu juga berperang ke tanah LOMBOK…kalo emang berani RUSAK aja PURE yang daerah mayoritasnya BALI….kami TUNGGU kamu yang bilang BALI TAEK..

    Kami siap berperang….

  27. SHAH RUKH KHAN

    ALLAHUAKBAR…………………
    TIADA TUHAN SELAIN ALLAH.

  28. SHAH RUKH KHAN

    1. Asal usul Suku sasak
    Pendahuluan
    Di Pulau Lombok agama yang paling besar penganutnya adalah agama Islam, sekitar 96% lebih. Setelah itu agama Hindu yang dianut oleh orang-orang pendatang, yaitu keturunan Bali 3%, barulah agama yang lain seperti Kristen dan Buddha. Selain keempat agama tersebut juga ada agama yang tertua berkembang dikalangan Suku Sasak, yaitu Sasak Boda. Sasak Boda adalah agama tertua suku sasak yang diwariskan oleh leluhur mereka.
    Sebelum kedatangan pengaruh asing ke Lombok, Boda merupakan kepercayaan asli orang Sasak. Orang Sasak pada waktu itu, yang menganut kepercayaan ini, menyebutnya Sasak Boda. Kendati ada kesamaan bunyi dengan Buddha, agama Boda tidak sama dengan Buddhisme karena orang Sasak tidak mengakui Sidharta Gautama atau Sang Buddha sebagai figur utama pemujaannya, maupun terhadap ajaran pencerahannya. Agama Boda orang Sasak terutama ditandai oleh animisme dan panteisme. Pemujaan dan penyembahan roh-roh leluhur dan berbagai dewa lokal lainnya merupakan fokus utama dari praktik keagamaan Sasak-Boda.

    Kerajaan Selaparang Lombok
    Kerajaan Selaparang adalah salah satu kerajaan yang pernah ada di Pulau Lombok. Pusat kerajaan ini pada masa lampau berada di Selaparang (sering pula diucapkan dengan (Seleparang), yang saat ini kurang lebih berada di desa Selaparang, kecamatan Swela, Lombok Timur.
    Sejujurnya minim sekali yang dapat diketahui tentang sejarah Kerajaan Selaparang, terutama sekali tentang awal mula berdirinya. Namun, tentu saja terdapat beberapa sumber objektif yang cukup dapat dipercaya. Salah satunya adalah kisah yang tercatat di dalam daun Lontar yang menyebutkan bahwa berdirinya Kerajaan Selaparang tidak akan pernah bisa dilepaskan dari sejarah masuknya atau proses penyebaran agama Islam di Pulau Lombok

    Sejarah
    Berdirinya Selaparang
    Disebutkan di dalam daun Lontar tersebut bahwa agama Islam salah satunya, pertama kali dibawa dan disebarkan oleh seorang muballigh dari kota Bagdad, Iraq, bernama Syaikh Sayyid Nururrasyid Ibnu Hajar al-Haitami. Masyarakat Pulau Lombok secara turun-temurun lebih mengenal beliau dengan sebutan Ghaos Abdul Razak. Nah, beliau inilah, selain sebagai penyebar agama Islam, dipercaya juga sebagai cikal bakal Sulthan-Sulthan dari kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Lombok Namun selain beliau, Betara Tunggul Nala (disebut pula Nala Segara) diyakini pula sebagai leluhur Sulthan-Sulthan di Pulau Lombok. Agama Islam adalah agama resmi Suku sasak, sebelum Islam datang, suku Sasak sebagian besar penganut agama Sasak Boda’ yg di tandai dengan Animisme dan Panteisme serta dinamisme. Yaitu penyembah roh roh para leluhur.
    Betara Nala memiliki seorang putra bernama Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rambitan yang bernama asli Sayyid Abdrurrahman. Beliau ini dikenal pula dengan nama Wali Nyatok, Kata “Nyatoq” artinya Nyata. Ia disebut sebagai pendiri Kerajaan Kayangan yang merupakan cikal bakal Kerajaan Selaparang. Namun, ketinggian ilmu tarekatnya telah mendorongnya untuk mengundurkan diri dari panggung Kerajaan Kayangan dan kemudian menetap di desa Rambitan, Lombok Tengah, sebagai penyebar agama Islam di wilayah ini. Wali Nyatok ini di Pulau Bali terkenal dengan nama Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Dang Hyang Dwijendra. Adapun di Sumbawa terkenal dengan nama Tuan Semeru, sedangkan di Pulau Jawa beliau bernama Aji Duta Semu atau Pangeran Sangupati. Wali Nyatoq dikenal juga di Lombok dengan nama Datu Pangeran Djajing Sorga yang dipercaya datang dari Majapahit, Kabangan, Jawa Timur, untuk menyebarkan agama Islam. Ia dikenal sebagai penyebar agama Islam, dia pun dianggap sebagai seorang Wali Allah. Ia mengarang kitab Jatiswara, Prembonan, Lampanan Wayang, Tasawuf dan Fiqh. Dalam proses menyebarkan agama Islam, salah satu media yang digunakannya adalah Wayang, sebagaimana yang dilakukan pula oleh Sunan Kalijaga. Adapun bentuk mistik Islam yang dibawanya merupakan kombinasi (sinkretisme) antara mistisme Islam (Sufisme) dengan salah satu ajaran filsafat Hindu, yaitu Advaita Vedanta.[4]
    Kembali ke soal Kerajaan Selaparang dan Ghaos Abdul Razak. Tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya beliau masuk ke Pulau Lombok. Namun pendapat terkuat menyebutkan bahwa beliau datang ke Pulau Lombok untuk pertama kalinya sekitar tahun 500-an Hijriyah atau abad ke-10 Masehi (antara tahun 1001 hingga 1201 Masehi). Ghaos Abdul Razak mendarat di Lombok bagian utara yang disebut dengan Bayan. Beliaupun menetap dan berda’wah di sana. Beliau kemudian menikah dan lahirlah tiga orang anak, ya’ni Sayyid Umar, yang kemudian menjadi datu Kerajaan Gunung Pujut, Sayyid Amir, yang kemudian menjadi datu Kerajaan Pejanggik, dan Syarifah Qomariah atau yang lebih terkenal dengan sebutan Ratu Dewi Anjani.
    Kemudian Ghaos Abdul Razak menikah lagi dengan seorang putri dari Kerajaan Sasak yang melahirkan dua orang anak, ya’ni seorang putra bernama Sayyid Zulqarnain (dikenal juga dengan sebutan Syaikh ‘Abdul Rahman) atau disebut pula dengan Ghaos ‘Abdul Rahman, dan seorang putri bernama Syarifah Lathifah yang juluki pula dengan Denda Rabi’ah. Sayyid Zulqarnain inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan Selaparang sekaligus pula sebagai Datu (raja) pertama dengan gelar Datu Selaparang atau Sulthan Rinjani.
    Nah, sampai disini sudah terdapat dua versi, yakni antara Nala Segara (Betara Tunggul Nala) dan Ghaos Abdul Razak yang sama-sama dipercaya sebagai penyebar agama Islam, menjadi cikal bakal Sulthan-Sulthan Lombok dan pendiri Kerajaan Selaparang. Pertanyaan yang agak menggelitik kemudian adalah: Tidakkah keduanya memang orang yang sama? Tidakkah yang dimaksud sebagai Nala Segara itu sebagai Ghaos Abdul Razak, dan Wali Nyatok adalah Ghaos ‘Abdul Rahman. Hal itu masih dimungkinkan mengingat pada masa dahulu seorang tokoh seringkali menggunakan nama-nama berbeda ditempat yang berbeda.
    Kejayaan Selaparang
    Kerajaan Selaparang tergolong kerajaan yang tangguh, baik di darat maupun di laut. Laskar lautnya telah berhasil mengusir Belanda yang hendak memasuki wilayah tersebut sekitar tahun 1567-1568 Masehi. Namun demikian, Kerajaan Selaparang harus merelakan salah satu wilayahnya dikuasai Belanda, yakni Pulau Sumbawa, karena lebih dahulu direbut sebelum terjadinya peperangan laut. Di samping itu, laskar lautnya pernah pula mematahkan serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gelgel (Bali) dari arah barat. Selaparang pernah dua kali terlibat dalam pertempuran sengit melawan Kerajaan Gelgel, yakni sekitar tahun 1616 dan 1619 Masehi, akan tetapi kedua-duanya dapat ditumpas habis, dan tentara Gelgel dapat ditawan dalam jumlah yang cukup besar pula.
    Setelah pertempuran sengit tersebut, Kerajaan Selaparang mulai menerapkan kebijaksanaan baru untuk membangun kerajaannya dengan memperkuat sektor agraris. Maka, pusat pemerintahan kerajaan kemudian dipindahkan agak ke pedalaman, di sebuah dataran perbukitan, tepat di desa Selaparang sekarang ini. Dari wilayah kota yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan sekali sapuan pandangan. Dengan demikian, semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ibukota Kerajaan Selaparang inipun memiliki daerah bagian belakang berupa bukit-bukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi, bertingkat-tingkat hingga ke hutan Lemor yang memiliki sumber mata air yang melimpah.
    Berbagai sumber menyebutkan, bahwa setelah dipindahkan, Kerajaan Selaparang mengalami kemajuan pesat. Sebuah sumber mengungkapkan, Kerajaan Selaparang dapat mengembangkan kekuasaannya hingga ke Sumbawa Barat. Disebutkan pula bahwa seorang raja muda bernama Sri Dadelanatha, dilantik dengan gelar Dewa Meraja di Sumbawa Barat karena saat itu (1613 Masehi) daerah ini juga masih termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Selaparang. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yaitu sekitar tanggal 30 November 1628 Masehi, putera mahkota Selaparang bernama Pangeran Pemayaman dengan gelar Pemban Aji Komala, dilantik di Sumbawa menjadi Sulthan Selaparang yang memerintah seluruh wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa.
    Keruntuhan Selaparang
    Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan tetangga, yaitu Kerajaan Gelgel, Bali, namun pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari bagian barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran gelap, petani liar dari Karang Asem (Pulau Bali) secara bergelombang, dan selanjutnya mendirikan koloni di kawasan Kota Mataram sekarang ini. Kekuatan itu kemudian secara berangsur-angsur tumbuh berkembang sehingga menjelma menjadi kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang berdiri sekitar tahun 1622 Masehi. Nah inilah awal datangnya suku Bali di pulau Lombok. Kerajaan ini berdiri lima tahun setelah serangan laut pertama Kerajaan Gelgel dari Bali Utara atau dua tahun sebelum serangan ke dua yang dapat ditumpas oleh laskar Kerajaan Selaparang.
    Namun, bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan akan tetap muncul secara tiba-tiba adalah kekuatan asing, yakni Belanda, yang tentunya sewaktu-waktu dapat melakukan ekspansi militer. Kekuatan dan tetangga dekat diabaikan, karena kerajaan Gelgel yang demikian kuat dan licik mampu dipatahkan oleh kerajaan Selaparang. Oleh sebab itu, sebelum kerajaan yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi dengan menempatkan laskar kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa.
    Dalam upaya menghadapi masalah yang baru tumbuh dari bagian barat itu yakni Kerajaan Gelgel, Kerajaan Mataram Karang Asem dan terutama sekali Belanda?maka secara tiba-tiba saja, salah seorang tokoh penting di lingkungan pusat kerajaan bernama Arya Banjar Getas, ditengarai berselisih paham dengan rajanya, raja Kerajaan Selaparang, soal posisi pasti perbatasan antara wilayah Kerajaan Selaparang dan Pejanggik. Pada akhirnya Arya Banjar Getas beserta para pengikutnya memutuskan untuk meninggalkan Selaparang dan bergabung dengan sebuah ekspedisi tentara Kerajaan Mataram Karang Asem (Bali) yang mana pada saat itu sudah berhasil mendarat di Lombok Barat. Kemudian atas segala taktiknya, Arya Banjar Getas menyusun rencana Licik dengan pihak Kerajaan Mataram Karang Asem untuk bersama-sama menggempur Kerajaan Selaparang. Pada akhirnya, ekspedisi militer tersebut telah berhasil menaklukkan Kerajaan Selaparang. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1672 Masehi. Kerajaan Selaparang di runtuhkan oleh kerajaan Gelgel dan juga bersama kekuatan asing Belanda.

    Suku Sasak
    Jumlah populasi
    kurang lebih 3 juta.
    Kawasan dengan populasi yang signifikan
    Lombok: 2,77 juta.

    Bahasa

    bahasa Sasak dan bahasa Indonesia.

    Agama

    Islam, Islam Wetu Telu dan sebuah minoritas kecil Hindu-Buddha Dan Kristen.
    96% Islam
    3% Hindu
    0,2% Budha
    0,57% Kristen
    Dan sekitar 1% masih menganut Islam waktu telu
    Kelompok etnik terdekat
    Suku Bali dan penghuni pulau Sumbawa.

    Suku Sasak
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Langsung ke: Data Sensus penduduk 2011

    Kampung adat Sade
    Suku Sasak adalah sukubangsa yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam, uniknya pada sebagian kecil masyarakat suku Sasak, terdapat praktik agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni Islam Wetu Telu, namun hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktek ibadah seperti itu.
    Asal Nama
    Asal nama sasak kemungkinan berasal dari kata sak-sak yang artinya satu. Dalam Kitab Negara Kertagama kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok. Yakni Lombok Sasak Mirah Adhi. Dalam tradisi lisan warga setempat kata sasak dipercaya berasal dari kata “sa’-saq” yang artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa’ Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. Lomboq Mirah Sasak Adi adalah salah satu kutipan dari kakawin Nagarakretagama ( Desawarnana ), sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan kepemerintahaan kerajaan Majapahit, gubanan Mpu Prapanca. kata “lombok” dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, “Mirah” berarti permata, “sasak” berarti kenyataan dan “adi” artinya yang baik atau yang utama. Maka Lombok Mirah Sasak Adi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.
    Adat
    Adat istiadat suku sasak dapat anda saksikan pada saat resepsi perkawinan, dimana perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan merarik atau selarian. Tetapi banyak pula keluarga Lelaki yang melamar si wanita dengan sebutan Belakoq. Dalam selarian Sehari setelah dilarikan maka akan diutus salah seorang untuk memberitahukan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anaknya akan dinikahkan oleh seseorang, ini yang disebut dengan mesejati atau semacam pemberitahuan kepada keluarga perempuan. Setelah selesai makan akan diadakan yang disebut dengan nyelabar atau kesepakatan mengenai biaya resepsi.

    2. Orang Lombok berguru watak pada Orang Bali
    Pemiskinan masyarakat Lombok tidak terlepas dari cerita masa silam yang pahit dan menyedihkan. Orang – orang Bali “menjajah “ suku Sasak bertahun –tahun lamanya. Penjajahan tersebut menyisakan keterpurukan ekonomi, social, dan budaya. Lihatlah betapa hari ini masyarakat Sasak menjadi tampak lelah dan putus asa, kecuali mereka yang “ berkhianat “ pada suku bangsanya .Jika saat ini orang sangat kesulitan menelusuri jejak sejarah Suku Sasak, itu juga salah satu akibat dari penjajahan yang berlangsung sangat lama tersebut. Dalam kondisi terjajah seperti itu, apapun sah dilakukan oleh orang-orang Bali terhadap Suku Sasak.
    Ahmad JD memperkirakan hilangnya situs kerajaan Selaparang sebagai kerajaan terbesar suku Sasak merupakan ulah para penjajah waktu itu (kerajaan Bali dan Belanda). Hal ini tidak mustahil jika melihat sejarah peperangan antar kerajan di pulau Bali. Mereka bisa membunuh membakar bahkan sampai perempuan hamilpun harus di bunuh bersama bayi yang dikandungnya. Cara ini di lakukan agar lawannya tak tersisa sampai anak cucunya.
    Yang ironi dari penjajahan yang berlangsung begitu lama, ada pula masyarakat suku Sasak yang “menikmati” keterjajahan kaumnya. Mereka adalah para bangsawan yang menjadi jongos kerajaan Bali. Saat ini masih banyak anak cucu keturunan mereka melanjutkan prilaku orang tua mereka di masa lampau. Orang- orang ini melakukan tindak “ penjajahan “ juga pada suku bangsanya. Tabiat mabuk – mabukan, berjudi, maen perempuan, adalah keseharian mereka. Sama persis seperti yang dilakukan orang-orang Bali. Sebagai Jongos Raja Bali mereka tidak kalah jahatnya. Dalam menarik upeti dan menerapkan kebijakan Raja Bali. Dalam sejarah, proses pemiskinan dimulai dari pemberlakuan hukum camput oleh Raja Bali di Lombok. Hukum ini berisi kebijkan “ orang yang meninggal maka seluruh kekayaannya menjadi hak milik kerajaan bukan anak cucunya “ .Hukum ini secara keseluruhan melahirkan orang – orang miskin secara terus menerus. Lihatlah tanah – tanah diwilayah Lombok Barat dan Mataram. Tanah yang strategi secara ekonomi menjadi milik orang Bali, kemudian orang Cina berbondong bondong menepati wilayah Mataram. Mungkin saja ini adalah bukti dari pemberlakuan hukum yang sangat menindas tersebut.
    Perjuangan membangun masyarakat Lombok yang mandiri dan maju adalah perjuangan yang berat. Perjuangan yang dihadapkan pada kondisi masyarakat yang fsikologisnya kalah. Dengar saja lagu – lagu dari musik Cilokaq sebagai musik tradisi masyarakatnya. Lirik-liriknya merupakan “ejakulasi “ dari kesedihan, keterpurukan, kemiskinan dan segala awalan ke yang menunjukkan hasil dari ketertindasan. Nada – nada yang muncul mengiris hati, mendayu, dan sangat irok asek didengar.
    Nah kalau beberapa hari terakhir orang – orang Sasak banyak muncul di media Bali sebagai pencuri dan prilaku kriminal. Jangan anda cepat-cepat menyalahkannya. Jangan pula melakukan kajian hanya di tingkat hulu. Kemiskinan, kebodohan, kekalahan dan kejahatan sebagian masyarakat Sasak merupakan hasil dari penindasan Bangsawan Bali di masa lalu. Burhanuddin tokoh muda NTB ber opini “ kalau di Bali banyak orang Sasak “ berpraktik “ mencuri dan merampas hak orang lain, sama saja dengan para siswa yang praktikum di rumah guru yang mengajarkannya merampas dan mencuri .

    Perang Praya
    Perlawanan Sengit Suku Sasak Terhadap Penindasan dan kekejaman bangsa kerajaan Bali

    Bali berkuasa atas Lombok dari tahun 1740. Selama itu, sampai kejatuhannya pada tahun 1894, kekuasaan Bali menjadikan Lombok sebagai lumbung untuk mengeruk sumber daya alam dan sumber daya manusia di daerah tersebut. Pengerahan tenaga manusia dalam membangun berbagai fasilitas kerajaan, menggarap lahan pertanian sampai pengiriman bantuan ke Bali untuk berbagai keperluan dilakukan selama penguasaan tersebut. Sedangkan pengerukan sumber daya alam jelas terlihat dalam kepemilikan tanah. Hak pemilikan bersama, yang pernah terdapat dalam masyarakat Sasak, telah diubah manjadi hak keseluruhan di tangan raja Bali. Hal ini menjadikan raja sebagai pemilik efektif dari semua tanah yang ada di Lombok.

    Dengan demikian, sebagian besar hasil hanya dinikmati oleh penguasa saja. Rakyat yang bekerja keras tidak hanya tidak mendapatkan hasil yang seimbang tetapi juga, selain itu, dibebani oleh pajak yang berat, perlakuan yang semena-mena dan kewajiban kerja paksa untuk kerajaan. Kekecewaan yang besar tidak hanya melanda rakyat kecil, tetapi juga mereka yang sebelumnya termasuk dalam kelas menengah ke atas (bangsawan, tuan tanah atau pengusaha). Inilah yang menyulut berbagai perlawanan rakyat Sasak di sepanjang penguasaan dan penindasan Bali tersebut, yang terbesar di antaranya adalah perang Sakra, perang Praya I, perang Kalijaga dan perang Praya II.
    Perang Praya II (selanjutnya disebut Perang Praya) yang berlangsung dari tahun 1891 sampai 1894 merupakan perlawanan rakyat Sasak terbesar yang berakhir pada runtuhnya kerajaan Bali. Jika perlawanan-perlawanan sebelumnya masih bersifat parsial dan berkelompok sehingga mudah dipatahkan, tidak demikian dengan perang Praya. Perang tersebut merupakan titik balik perlawanan yang melibatkan hampir seluruh rakyat Sasak. Perang inilah yang diceritakan dalam Babad Praya dan sedikit diulas dalam Babad Sakra.

    Ringkasan Cerita Dua Babad
    Kemungkinan besar Babad Praya (selanjutnya ditulis BP)ditulis ketika perang berlangsung atau mungkin setelahnya. Artinya, paling tidak, babad ini ditulis setelah tahun 1892. BP menceritakan awal mula pemberontakan pemimpin Sasak di Praya terhadap penguasa Bali. Penyulut pemberontakan adalah munculnya seorang Arab yang mengaku bangsawan Arab keturunan nabi Muhammad yang mengasut rakyat untuk melakukan perlawanan, karena seorang arab itu sangat perihatin dengan penderitaan yang di alami rakyat Sasak pada waktu itu. Kemudian pada saat yang bersamaan, kerajaan sedang dilanda konflik internal perebutan kekuasaan.
    Diceritakan ketika pasukan Bali mengepung Masjid, pasukan yang ribuan jumlahnya itu tidak mampu mengalahkan tujuh pemimpin Praya yang ada di dalam masjid tersebut. Setelah berlangsung berhari-hari, pengepungan itu mendapatkan simpati warga Praya yang mengungsi sehingga mereka berbondong-bondong membantu. Kini pasukan Bali yang terdesak. Tentu hal ini sangat memalukan bagi penguasa Bali.
    Pasukan Bali yang terdiri dari orang Bali dan beberapa orang Islam dinilai menjadi pemicu kegagalan karena pasukan yang Islam tidak bertempur sungguh-sungguh, ini dikarenakan kekejaman penjajah Bali, serta sewenang-wenangnya kerajaan Bali menjajah terhadap rakyat Sasak. Penguasa Bali pun merencanakan pembunuhan pemimpin Islam yang loyal kepadanya. Hal ini menyulut perlawanan yang luas dan menyebabkan hampir semua daerah mendukung perlawanan Praya. Pasukan Bali pun kewalahan.
    Sedangkan Babad Sakra (selanjutnya ditulis BS)cakupan ceritanya lebih luas. Selain menceritakan perlawanan rakyat Sakra terhadap penguasa Bali, Babad ini juga berisi peperangan di kalangan internal raja-raja Bali sendiri, yaitu antara Mataram dan Cakranegara. Selain itu, Babad Sakra juga menceritakan secara sepintas perlawanan Praya sampai dengan kedatangan Belanda dan runtuhnya kekuasaan Bali. Oleh karena itu, menurut A. Teeuw, Babad ini ditulis tidak oleh satu orang, atau setidaknya merupakan ringkasan terbaru dari fragmen-fragmen terdahulu.
    Perlawanan rakyat Sakra bermula dari provokasi seorang pejabat penguasa Bali dari kalangan Sasak bernama Raden Surya Jaya. Ia bukan orang Sakra, tidak jelas berasal dari daerah mana. Provokasi tersebut ia lakukan karena ketahuan menyelewengkan pajak dan upeti yang menjadi tanggung jawabnya. Perlawanan pun berkobar yang diakhiri dengan jatuhnya satu persatu kekuatan Sakra setelah sebelumnya merasa diri memenangkan peperangan.
    Selanjutnya, bermula dari peperangan di kalangan raja-raja Bali yang disebabkan karena perilaku seksual menyimpang dan skandal dengan bawahannya, peperangan pun meluas dan berkepanjangan. Keadaan konflik ini terus berlangsung sampai terjadinya perang Praya yang kemudian mengakhiri kekuasaan Bali di Pulau Lombok.
    Perang Praya 1891-1894
    Kedua babad menjelaskan waktu terjadinya peperangan tersebut. BP menggunakan tahun saka, sedangkan BS menggunakan tahun hijriyah.
    Tuting si bagus dewasa, bulan Muharam tanggal sai’, jelo Jumat manis kocap, aku warigadian malik, rah telu tenggek sai’, isaka siya bangsit sepuluh
    (Konon yang baik perhitungannya, bulan Muharram tanggal satu, wukunya warigadian, kepala tiga lenger satu, tahunnya 1810, BP: 7)
    Pengawit perang desa Praya, jelo Jumat tanggal sai’, nuju sedek bulan Muharam, uku nano ulung wangi, isakaa no meni, siyu telung ngatus sepulu
    (Orang Praya menyulut pemberontakan, hari Jumat tanggal satu, pada awal bulan Muharram, wukunya julung wangi, tahun 1310, BS: 709)

    Pajak, Kekurangan Pangan dan Penderitaan
    Penghasilan terbesar kerajaan Bali selama penguasaannya di Lombok berasal dari perdagangan, pajak tanah dan kerja korve. Tentunya, yang paling membebani adalah pajak tanah dan ini merupakan penghasilan kerajaan paling penting.
    Mengenai tanah ini, penguasa Bali membagi tanah menjadi dua: druwe dalem dan druwe jabe. Druwe dalem merupakan tanah-tanah yang dikuasai oleh raja secara langsung, dengan kekuasaannya di dalam istana (dalem). Sedangkan druwe jabe adalah tanah-tanah yang tidak dikuasai oleh raja secara langsung tetapi oleh orang-orang diluar (jabe) kerajaan, yaitu rakyat Sasak dan Bali. Druwe jabe inilah yang dibebani pajak oleh kerajaan. Pada akhir abad XIX jumlah tanah ini di Lombok Barat mencapai 15.170 hektar sawah irigasi, 1.680 hektar sawah tadah hujan dan 4.370 hektar kebun/tegalan. Sementara di Lombok Timur dan Tengah, 10.750 hektar sawah irigasi, 44.400 hektar sawah tadah hujan dan 20. 110 hektar kebun/tegalan. Tidak mengherankan jika pajak tanah menjadi penghasil terbesar kerajaan apalagi dengan sistem terpusat dan kepemilikan tunggal.
    Tingginya pajak yang ditarik pihak kerajaan dan tindakannya yang semena-mena terhadap rakyat Sasak sudah lama terjadi. Hal ini semakin menjadi-jadi ketika Ratu Agung-Agung Ngurah digantikan oleh Anak Agung Made. Ia semena-mena dalam menaikkan pajak sehingga rakyat Sasak memprotes dengan memboikot pembayaran pajak. Akibatnya pendapatan kerajaan sangat berkurang. Di sisi lain, kebencian rakyat semakin tinggi yang memuncak pada perlawanan Praya pada tahun 1891. Kebencian ini digambarkan dalam BP ketika sedang terjadi pertempuran:
    Soroh Praya bakuwih nde’ pegat-pegat, amaq Made ne sewinih, peti pajek pade, ara’ sopo’ punggawa, taeq baru’ lengan sewinih, mula juru tepas, nyikut bangket bagelining. Haran Gusti Nengah Gengsong seile’ Pajang…betrus kena tumbak lekan mudi.
    (Orang Praya berteriak tak putus-putus, amaq Made ini ambillah, upeti pajak padi, ada seorang punggawa, baru diangkat menjadi urusan pajak, yang tugasnya memuruskan, mengukur sawah berkeliling. Namanya Gusti Nengah Gengsong, Pajang…lalu kena tombak dari belakang. BP: 42,43)
    Siq ngamuk no muni negetah uta’ dara’, upeti pajak sawinih, banjur telut goncang, payu ya mate bangkang
    (Yang mengamuk berucap makanlah ini, upeti pajak sawah, segera ia dibacoknya, lalu mati terkapar, BP: 177)

    Selain karena cara memerintahnya yang sewenang-wenang, penarikan pajak yang terus meningkat juga seiring dengan perkembangan dan permintaan, terutama beras, dari luar Lombok. Pada akhir abad XIX perdagangan beras sedang mengalami kemajuan pesat, dan pesanan terus meningkat. Sampai pada tahun 1890 (setahun sebelum terjadinya peperangan), Lombok mampu menghasilkan sekitar 24. 120 ton beras pertahun, sebuah kemajuan besar dibandingkan masa-masa sebelumnya. Namun keuntungan tersebut hanya untuk kerajaan,, rakyat Sasak tidak mendapatkan apa-apa selain kenaikan pajak tiap tahun, kerja paksa, penyitaan harta benda dan perlakuan kejam bangsa Bali terhadap rakyat Sasak.
    Oleh karena itu, keputusan melakukan perlawanan merupakan pilihan terakhir ketika rakyat sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Penderitaan dan kelaparan sudah demikian parahnya sehingga pilihannya hanyalah melawan. Di luar itu, tidak bisa disangkal bahwa sebelum perlawanan meluas tidak sedikit rakyat Sasak yang membela penguasa Bali. Hal ini terutama disebabkan karena tawaran kesejahteraan yang lebih. Kesenjangan ekonomi antara dua kelompok ini (Sasak dan Bali) memang lebar sehingga tawaran materi menjadi godaan kuat. Jika dalam peperangan rakyat Sasak kekurangan makanan dan bertahan dengan merampas lumbung-lumbung padi di daerah pertahanan Bali (BP: 213-217, 282, 300-302,460-462), pasukan Bali disela peperangan justru berpesta poya dengan makanan, menyembelih berbagai macam binatang, memainkan beraneka permainan dan berjudi (BP: 283-287). Di bagian lain penderitaan rakyat sasak digambarkan sebagai berikut:
    Desa Praya nengka tekocapang malik, selapu’ pada susah, nasi’ kando’ jangan sakit, sisan api bwe’ ta jarah. Pade beras tutna ara’ sregem sakit, lamun masan dengan mangan, anak bagrias si nangis, nine mama tarik bariwa
    (Desa Praya dikisahkan, semua bersusah hati, nasi lauk serba sulit, sisa api habis dijarah. Padi beras segenggampun sulit, bila tiba waktu makan, anak ramai menangis, laki wanita memangku, BP: 245,246)

    Kekurangan makanan ini terus berlangsung selama Perang Praya. Laporan Belanda menunjukkan penderitaan rakyat Sasak yang jalan-jalannya hancur, bangunan yang runtuh, ladang tidak diolah, kelangkaan air dan sebagainya. Pada saat itu beras, jagung dan bahan pangan penting lainnya sangat langka. Oleh karena itu, selain mengirim bantuan pasukan, Belanda juga mengirimkan beras untuk mengurangi bencana kelaparan di Lombok.
    Wah dateng le Labuaji, tuan Lipring kicayang beras, le’ dengan si’ rarut lue’, pada tarik kican beras, sukur soroh rarudan, tuan lipring taek banjur, tiring isi’ budanda Sasak
    (Sudah sampai di Labuaji, tuan Lipring memberi beras, kepada mereka yang mengungsi, semua diberi beras, besyukur si pengungsi, tuan Lipring lalu naik, diiringi pembesar Sasak, BS: 1039)

    F. A. Liefrinck datang ke Lombok beberapa kali. Pada tahun 1886 dia dikirim untuk memantau keadaan akan berita mengenai Lombok yang kaya sumber alamnya. Kedatangan selanjutnya untuk menegoisasikan kepentingan Belanda pada penguasa Bali sampai kedatangannya bersama residen Danennbargh pada tahun 1894 untuk membantu menaklukkan kerajaan Bali
    Peperangan suku Sasak dan kerajaan Bali berlangsung selama berbuan-bulan di paruh kedua tahun 1894, peperangan ini juga dibantu oleh Belanda, karena Belanda sangat Jengkel dengan sewenang-wenangnya bangsa Bali terhadap suku Sasak. Peperangan ini berakhir dengan menyerahnya penguasa Bali pada akhir bulan November yang sekaligus menandai berakhinya kekuasaan Bali di Lombok.

    Beberapa Catatan
    BP dan BS sama-sama menguraikan Perang Praya walaupun dalam gaya dan porsi yang berbeda. Babad Praya menjelaskan lebih rinci peperangan disertai suka duka rakyat Praya dalam melakukan penyerangan dan mempertahankan daerahnya. Oleh karena itu, dalam uraiannya banyak didapatkan informasi, terutama mengenai kekurangan makanan dan penderitaan yang dialami, setelah dibandingkan dengan sumber-sumber lain. Sebagaimana historiografi tradisional lainnya BP, begitu juga BS, banyak menceritakan berbagai mitos-mitos yang perlu dikaji lebih lanjut relevansinya dengan kajian sejarah. Jika dilihat dari alur ceritanya, BP hanya menceritakan bagian kecil dari apa yang dikenal sebagai Perang Praya sekarang ini. Yakni berlangsung dari tahun 1891 sampai 1894. Walaupun demikian, informasi yang dikandungnya tetap penting terutama dalam melihat perspektif rakyat Sasak terhadap peperangan tersebut.
    Sementara itu, BS menjelaskan Perang Praya hanya secara sekilas. Namun pada bagian akhirnya diceritakan keputusan para pembesar Sasak untuk meminta bantuan Belanda karena keadaan yang sudah terjepit dan tidak adanya sumber makanan. Selanjutnya, gabungan kekuatan ini yang bersama-sama menghancurkan kerajaan Bali. Tidak seperti Babad Praya, BS lebih menitikberatkan pada fase-fase peperangan dan bagian akhir dari perang tersebut. Oleh karena itu, kedua babad ini sesungguhnya saling melengkapi dalam menceritakan Perang Praya.
    Mengenai pajak yang tinggi, kekurangan pangan dan penderitaan yang dialami dalam perang tidak diceritakan dengan bahasa yang vulgar dan nyata. Hal tersebut lebih banyak muncul dalam percakapan, umpatan atau uraian singkat sebelum menceritakan cerita selanjutnya. Walupun demikian, hal tersebut menjadi petunjuk keadaan yang dialami rakyat Sasak terutama dalam menggali segi-segi di luar peperangan. Pola cerita seperti ini menjadi ciri historiografi tradisional karena tujuan penulisannya memang bukan untuk menceritakan berbagai kekurangan dan penderitaan rakyat, tetapi lebih pada deskripsi peran penguasa dan kepentingan politik lainnya. Selain pengagungan tehadap raja tertentu, historiografi tradisional dapat juga memuat kisah tentang asal usul suatu kerajaan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan gambaran sejarah diperlukan perbandingan dengan sumber-sumber lainnya.
    Penutup
    Historiografi tradisional mengandung banyak informasi mengenai zamannya. Babad Praya dan Babad Sakra menunjukkan adanya informasi tersebut setelah dibandingkan dengan sumber-sumber yang lain. Dalam kedua babad yang harus dilihat sebagai kelanjutan cerita ini, kesenjangan ekonomi antara penguasa Bali dan rakyat Sasak mengakibatkan penderitaan. Hal ini diikuti oleh tingginya pajak dan perlakuan yang semena-mena. dan kejahatan Orang orang Bali pada saat itu.
    Kondisi ini menggiring rakyat Sasak untuk melakukan perlawanan walaupun dengan pengorbanan yang besar

    Current Articles | Categories | Search
    3. GENDANG BELEQ, MUSIK PERANG SUKU SASAK.

    Sasak adalah nama suku yang mendiami pulau Lombok, pulau yang ketika zaman Belanda bernama Sunda Kecil. Suku ini mempunyai tradisi kebudayaan berupa kesenian gendang beleq. Tentang kesenian ini masyarakat Lombok ada yang menyebut musik gendang beleq dan ada yang menyebut tari gendang beleq, hal ini dikarenakan sang penabuh menari sambil membunyikan gendang beleq. Kedua pandangan di atas ada benarnya, karena musik dan tari terekspresi melalui bunyi dan gerak dalam pertunjukan gedang beleq. Akan tetapi pada beberapa grup gendang beleq saat ini, penari dan penabuh gendang beleq dimainkan oleh orang yang berbeda.
    Gendang beleq merupakan sebuah alat musik tabuh berbentuk bulat panjang, terbuat dari pohon meranti yang dilubangi tengahnya, dengan kedua sisinya berlapis kulit kambing, sapi atau kerbau, dan jika dipukul (tabuh) akan berbunyi dang..dang atau dung..dung. Bunyi dang..dang itulah nampaknya yang diabadikan untuk menamainya. Adapun awalan gen hanyalah pelengkap untuk memudahkan penyebutan. Kata beleq dalam bahasa Sasak berarti besar. Dengan demikian gendang beleq berarti gendang besar, lebih besar ukurannya dari gendang yang dipakai di Lombok dan daerah lain umumnya. Menurut Mamiq Hidayat, salah satu pemerhati kesenian Sasak, dinamai gendang beleq karena ;
    “Selain bentuknya yang besar, serta suara yang paling keras, gendang dalam pertunjukannya menempati posisi paling depan sendiri, bahkan zaman dulu yang berdiri hanya gendang dan beberapa penari saja, alat musik yang lain dimainkan sambil duduk”(Wawancara, Maret 2009).
    Musik gendang beleq dilengkapi juga dengan gong, terumpang, pencek, oncer, dan seruling. Saat dimainkan sekilas akan terdengar tidak teratur bunyinya, dan ramai. Kesan pertama kali mendengar, irama, ritme dan suara serulingnya nampak mirip seperti pada musik Bali. Sejarah mencatat bahwa Lombok pernah dikuasai oleh Kerajaan Bali yaitu Klungkung (abad 17) dan Karangasem (abad 18) dalam rentang waktu sangat lama (Suhartono, 1970). Pada Abad 17, Lombok menjadi perebutan antar Raja Bali Karangasem dan Makasar dari Sumbawa. Pada permulaan abad 17, orang Bali dari Karangasem menyeberang Selat Lombok dan mendirikan beberapa perkampungan serta membangun kontrol politik diwilayah Lombok Barat . pada saat yang sama, orang-orang Makasar dari Sumbawa menyeberang Selat Alas dan membangun kontrol politik di wilayah Lombok Timur (Kraan, 1980 : 2). Latar belakang sejarah kolonialisasi Bali yang cukup panjang, tampaknya juga berbekas pada musik gendang beleq ini. Setyaningsih (2009) dalam tesisnya menulis bahwa tradisi sasak seperti merariq, gedang beleq, dan perisean merupakan pengaruh dari Kerajaan Bali.
    Musik gendang beleq konon pada zaman dahulu digunakan sebagai musik perang, yaitu untuk mengiringi dan memberi semangat para ksatria dan prajurit kerajaan Lombok yang pergi atau pulang dari medan perang. Musik gendang beleq difungsikan juga sebagai pengiring upacara adat seperti merarik (pernikahan), ngurisang (potong rambut bayi), ngitanang atau potong loloq (khitanan), juga begawe beleq (upacara besar). Gendang beleq dipertunjukkan juga untuk hiburan semata seperti festival, acara ulang tahun kota, dan ulang tahun provinsi. Para penonton biasanya akan berdiri menunggu di pinggir jalan, ikut-ikutan menari, atau hanya sekedar bersorak gembira.
    Musik gendang beleq dimainkan oleh dua orang pemain yang disebut sekaha. Pada zaman dahulu sekaha berasal dari masyarakat yang dipilih oleh sekaha senior. Saat ini sekaha direkrut dengan cara mengundang siapa saja yang ingin berlatih menjadi sekaha (biasanya di rumah pemimpin sekaha yang sudah ada), dari mulai anak muda sampai orangtua. Para sekaha ini kebanyakan adalah keturunan, artinya mereka saat ini menjadi sekaha karena dahulunya bapak atau kakeknya adalah sekaha juga.
    Satu hal yang menjadi keluhan para pelestari gendang beleq saat ini adalah sulitnya mencari sekaha, bukan memainkannya. Anak-anak muda Lombok sekarang, lebih banyak suka naik motor kebut-kebutan, nongkrong di jalan atau gang, menghabiskan waktunya di depan televisi menonton sinetron atau acara musik populer yang memang menjamur saat ini, bergaya pakai handphone atau mode baju atau kaos daripada diajak belajar musik gendang beleq.
    Musik gendang beleq dikelola sendiri oleh masyarakat secara mandiri, biasanya mereka mendirikan komunitas-komunitas budaya di beberapa kampung Lombok. Masyarakat membiayai aktifitas mereka dari hasil manggung seperti untuk festival budaya, ulang tahun kota, penggembira kampanye salah satu partai tertentu, dan yang paling sering untuk mengiringi upacara adat merarik. Ini berbeda dengan zaman dahulu dimana gendang beleq masih banyak terdapat di kampung-kampung Lombok.
    Musik gedang beleq sejak dahulu dipertunjukan dengan cara tradisional. Semua sekaha dalam pertunjukan gendang beleq harus memakai pakaian adat Sasak lengkap dengan atributnya. Namun sekarang karena pengaruh zaman modern, baju dan celana sekaha berbeda-beda warna antar kelompok gendang beleq, bahkan sesuai dengan pesanan sponsor. Namun demikian, yang tidak boleh ditingalkan dan harus dipakai serta bercorak batik adalah sapo‘ (ikat kepala), dodot (ikat pinggang), dan bebet (kain yang melapisi pinggang seperti pada pakaian Melayu Minangkabau). Kedua atribut ini diangggap penting, karena dianggap satu-satunya identitas yang membedakan dengan musik modern.
    Beberapa kelompok gendang beleq saat ini membuat seragam sendiri, dengan bordir atau sablon tulisan nama kelompok di belakang seragam. Melihat kondisi ini, masyarakat tertentu (baca : orangtua Sasak) memandang perilaku ini negatif. Mereka menganggap kelompok gendang beleq seperti ini tidak melestarikan budaya dengan utuh, karena tidak memakai seragam adat. Cemoohan juga sering ditujukan pada sekaha yang berusia muda, dimana ketika pertunjukan gendang beleq mereka memakai sapo‘, dodot, bebet sembarangan, memakai anting-anting atau hanya sekedar memakai kaos.
    Berikut mengenal alat-alat yang terdapat dalam musik gendang beleq :
    1. Gendang beleq, terbuat dari pohon meranti besar gelondongan yang dipotong, berbentuk silinder dengan lubang yang besar ditengahnya berdiameter kurang lebih 50 centimeter dan panjang 1,5 meter, lubang kayu ditutup dengan kulit sapi atau kambing yang telah disamak. Di ujung kanan kiri gendang dipasang pengait untuk memasang tali atau selendang agar dapat diselampirkan (digantungkan) di leher atau bahu. Bentuknya yang besar, panjang dan berat, terlihat tidak menyulitkan pemain untuk memukulnya.
    2. Terumpang, alat ini berbentuk seperti wajan besar yang tengahnya terdapat bundaran kecil yang berupa benjolan. Terumpang terbuat dari kuningan, dalam gendang beleq terdapat dua buah terumpang.
    3. Gong, hampir sama dengan terumpang hanya ukurannya lebih besar, terbuat dari kuningan atau tembaga, jika dipukul akan menghasilkan suara yang mendengung.
    4. Kenceng (dibaca seperti kata kelereng), terbuat dari kuningan juga, berbentuk seperti piring dengan tengah luarnya diberi tonjolan dan tali untuk pegangan. Kenceng ini terdiri dari dua pasang, masing-masing orang memegang sepasang. Bunyi dan irama kenceng inilah yang membuat musik gendang beleq terdengar sama dengan musik Bali.
    5. Suling atau seruling, dibuat dari bambu dengan lubang-lubang kecil di tubuh bambu untuk menghasilkan bunyi merdu. Terdapat dua model seruling yang di pakai dalam gendang beleq, yang panjangya kurang lebih 50 centimeter dan 30 centimeter.
    6. Oncer atau petuk, berbentuk seperti gong tetapi ukurannya lebih kecil dari terumpang, terbuat dari kuningan atau tembaga.
    7. Pencek, berbentuk seperti kenceng tetapi bentuknya kecil-kecil dan diletakkan pada sebuah papan kayu yang digantung di leher.
    8. Alat penabuh dan pemukul, alat tabuh gendang berupa kayu pohon kelapa sepanjang 50 centimeter dengan ujungnya dibalut kain, dirajut benang dan dilapisi lem agar kuat (bentuk mondol). Alat pemukul sama dengan penabuh hanya balutan kain agak kecil dan tipis.
    Pemain gendang beleq dalam bahasa Sasaknya disebut Sekaha. Jenis kelamin semua sekaha adalah laki-laki, dari mulai anak kecil umur 7 tahun sampai orangtua umur 60 tahun. Menurut keterangan beberapa sekaha, sejak dulu pemain gendang beleq pasti laki-laki, karena berat menggendongnya. Biasanya perempuan hanya sebagai penari tambahan saja.
    Dalam satu rombongan musik gendang beleq terdapat kurang lebih 17 sekaha, terkadang 20 atau lebih, dengan sekaha cadangan untuk penabuh gendang atau peniup seruling. Ada juga rombongan gendang beleq yang dilengkapi dengan kelompok penari khusus, sehingga terlihat banyak sekali personelnya. Lebih jelas uraiannya di bawah ini :
    Empat sekaha penabuh gendang beleq, biasanya dipilih sekaha yang berbadan besar karena dianggap kuat, namun tidak sedikit ditemukan penabuh gendang yang berbadan kurus.
    Enam sekaha pemukul kenceng, setiap sekaha memainkan sepasang kenceng. Kenceng dimainkan dengan cara ditepuk, seperti menangkupkan dua piring secara bersamaan. Satu sekaha untuk peniup suling atau seruling dengan satu peniup cadangan. Dua sekahan pemukul oncer atau petuk, dengan cadangan satu sekaha. Dari semua alat musik petuk mudah untuk dipukul, karena iramanya monoton.
    Saat pertama kali menyaksikan pertunjukan gendang beleq, cara memainkan musik ini terlihat begitu rumit dan harus hati-hati. Jika dicermati, secara umum memainkan musik gendang beleq terbagi dalam tiga proses, yaitu :
    Proses ini dimulai dengan menyiapkan mengecek alat dan sekaha, apakah sudah lengkap atau belum. Jika belum lengkap alatnya harus dicari, dan jika sekaha nya tidak hadir akan dicari penggantinya. Jika sudah lengkap semua, akan diteruskan pada proses selanjutnya.
    Proses latihan merupakan proses yang paling vital sebelum memulai permainan, karena proses ini bertujuan untuk melihat apakah para sekaha sudah siap semua, konsentrasi dan semangat, juga untuk mengecek apakah alat-alatnya bisa dipergunakan dengan baik, jika belum maka akan diperbaiki terlebih dulu. Apabila dalam proses latihan ini tidak bagus, maka umumnya itu akan berdampak pada pertunjukannya. Namun karena para sekaha itu sudah terbiasa memainkan, maka kesalahan itu dapat teratasi dengan cepat, yang sulit adalah jika sekaha yang mahir berhalangan dan diganti dengan sekaha baru, proses latihan ini akan mensiasitanya. Jika sudah dirasa memadai beranjak pada proses selanjutnya.
    Alat yang pertama dibunyikan adalah gendang beleq. Biasanya sekaha akan menabuh dua kali kanan dan satu kali kiri dengan pukulan berirama. Itu sebagai tanda untuk alat selanjutnya siap menyambut, dan akan disambut oleh kenceng dengan tepukan berirama langsung menghentak. Seterusnya diikuti oleh petuk, seruling dan lainya, semenjak itu seruling tidak pernah berhenti berbunyi.
    Jika dilihat dari alunan musiknya yang ramai, cara memainkan gendang beleq cukup perlu konsentrasi yang tinggi.
    Musik gendang beleq dimulai berdasar komando dari penabuh gendangnya, ibarat sebuah orchestra, penabuh gendang adalah konduktornya. Walaupun dalam permainannya didominasi oleh suara terumpang, seruling dan kenceng, namun karena bunyinya paling keras, musik ini tetap dikomando oleh suara gendang. Umumnya irama musik yang dimainkan adalah lagu-lagu Sasak, namun sekarang sering terdengar irama dangdut dan Melayu ikut mewarnai.
    Nilai adalah imajinasi orang atau komunitas terhadap perilaku atau lingkungan yang dialaminya (Anderson, 2002). Gendang beleq dalam bayangan manusia Sasak memiliki makna yang luhur. Musik gendang beleq memiliki beberapa makna, antara lain :
    Nilai filosofis. Melestarikan gendang beleq dimaknai manusia Sasak sebagai menata dan memelihara diri sendiri, karena di dalam musik gendang beleq terkandung keindahan, ketelitian, ketekunan, kesabaran, kebijakan dan kepahlawanan. Berdasar penilaian ini, musik gendang beleq bagi orang Sasak dianggap sakral. Musik ini tidak mungkin ada tanpa nilai-nilai filosofis tersebut difahami terlebih dahulu oleh nenek moyang Sasak. Mereka mentradisikannya agar difahami oleh keturunan mereka dan dipelajari muatannya.
    Nilai psikologis. Keterikatan akan satu imajinasi yang sama, yaitu sama-sama manusia Sasak yang memiliki berbagai kesamaan, seperti nenek moyang, geografis, budaya bahkan mungkin agama. Orang Lombok yang lama kuliah di Jogjakarta selalu membicarakan gendang beleq dan berbagai budaya mereka jika bertemu, bahkan sambil makan plecing (sayur khas Lombok). Di asrama mahasiswa Lombok di Condong Catur, Jogjakarta, juga terdapat alat-alat gendang beleq. Realitas ini tentu saja bertujuan untuk terus menyambung imajinasi Sasak sebagai manusia yang terikat secara psikologis dengan tanah leluhurnya.
    Nilai sosiologis. Seni musik gendang beleq dapat menjadi ajang untuk interaksi sosial yang terbuka tanpa sekat status sosial, pendidikan, atau keturunan. Mengenal dan mencari jodoh bagi muda-mudi, tidak sedikit mereka akhirnya menikah setelah berkenalan ketika bersama menonton gendang beleq. Pertemanan dan kekerabatan baru, sering terjadi jika ada pertunjukan gendang beleq. Bagi masyarakat yang apabila dalam perkawinan anaknya dimeriahkan oleh gendang beleq, pertunjukan ini akan menaikkan status sosial mereka di masyarakat (semakin naik statusnya jika pengiring kelompok gendang beleq lebih dari satu). Bagi golongan bangsawan Sasak (Lalu, Baiq, Raden atau Dende), gendang Beleq menjadi penanda (baca; identitas) penting dirinya dimata orang Sasak yang lain (kecuali bangsawan yang beragama Islam dan menganggap gendang beleq negatif).
    Nilai ekonomis. Gendang beleq dapat menjadi profesi yang menghasilkan, walaupun hasilnya tidak banyak, namun ketika sulit mendapatkan pekerjaan serta banyak pengangguran, ikut rombongan gendang beleq dapat menjadi alternatif untuk dapat uang walaupun hanya sekedar untuk rokok dan makan.
    Musik gendang beleq masih sering dipertunjukkan di Lombok hingga saat ini, bahkan tahun 2008 lalu atas sponsor rokok, di Lombok telah diselenggarakan festival gendang beleq sepulau Lombok. Peristiwa seperti ini tentulah sangat menggembirakan dan perlu terus digalakkan, agar keberadaan musik tradisional gedang beleq dapat terus terjaga. Pemerintah, pihak swasta dan pelaku budaya Sasak diharapkan dapat bergandengan tangan untuk terus mentradisikan musik ini, agar tetap diminati oleh masyarakat Lombok dan tidak kalah dengan musik modern. Dan semoga tidak hanya sekedar mementaskan saja, tetapi tentu saja dengan tetap berusaha menjaga kesakralannya, dari pada hanya sekedar hiburan semata.

    • hampir semua penjajah awalnya datangnya baik2, berdagang bertani ladang sambil mencari celah dan mengumpulkan kekuatan. hal ini terjadi hampir di seluruh belahan dunia. di jajah oleh bangsa asing atau bangsa sendiri sama-sama tidak enak karena hak2 di rampas paksa atau dengan aturan2 yang menguntungkan penjajah. Penjajah lebih pintar, terorganisir,persenjataan lebih maju dan lengkap walaupun jumlah mereka lebih kecil dapat mengausai daerah yang jumlh penduduknya lebih besar, TAPI NIAT MEREKA TIDAK BAIK MENGUASAI SEPENUHNYA ( MENJAJAH ) DENGAN SEGALA MACAM CARA PENJAJAHAN.

  29. SEMOGA TUHAN MENERANGI KITA SEMUANYA, OM SANTIH SANTIH SANTIH OM (^,^) _/\_…

  30. Anonim

    Dija kaden maan nuduk sejarah keto ,pedande sakti wawurauh to pendeta hindu yg menyebarkan hindu k lombok smpe sumbawa, bgni dah manusia yg senang memutar balikan sejarah, lengeh celenge

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s