Mendamba Amerika yang Lain


images.jpg

Oleh : AKHMAD SAHAL

Sikap kaum liberal yang menampik glorifikasi diri mungkin bisa menjadi alternatif bagi Amerika sekarang. Kemauan untuk mengekang diri justru pada saat Amerika mempunyai kekuatan yang tak tepermanai niscaya akan menjadikan warga dunia menaruh hormat pada Amerika.

Pada 26 Oktober 1988 sebuah pembelaan terhadap liberalisme muncul dalam bentuk iklan satu halaman penuh di harian The New York Times. Iklan bertajuk ”Reaffirmation of A Principle” itu ditandatangai oleh 63 intelektual dan tokoh publik terkemuka, di antaranya Arthur Schlesinger, Irving Howe, John Kenneth Galbraith, Clifford Geertz, Robert K Merton, dan George Soros. Melalui iklan ini, mereka menyerukan agar Amerika mengukuhkan kembali pertautannya dengan liberalisme, di tengah ancaman yang datang dari ekstrem kiri dan kanan yang menempatkan liberalisme sebagai musuh bersama. Padahal, di mata para intelektual tersebut, prinsip-prinsip liberal seperti kebebasan dan hak-hak sipil merupakan jiwa dari revolusi dan konstitusi Amerika. Prinsip-prinsip inilah yang menjadi alasan mengapa ”warga dunia menaruh hormat terhadap Amerika”.

Meski terbit dua dasawarsa yang lalu, seruan iklan tersebut terasa semakin relevan belakangan ini, ketika Amerika terlibat dalam perang melawan terorisme. Karena dalam usahanya memerangi musuh yang mereka anggap mengancam tatanan liberalnya, Amerika justru menempuh cara-cara yang justru mencederai prinsip liberalisme itu sendiri. Pelanggaran terhadap hak-hak dan kebebasan sipil pada masa pemerintahan George Bush, misalnya, tercatat mencapai skala yang menurut Arthur Schlesinger terparah dalam sejarah kepresidenan Amerika secara keseluruhan. Kamp penahanan Guanatanamo Bay, kebrutalan di penjara Abu Ghraib, dan pemberlakuan Patriot Act hanyalah sekian contoh yang bisa disebutkan di sini. Sementara itu, Amerika jelas melanggar hukum internasional ketika menggelar Perang Irak, yang ternyata terbukti ditopang oleh dusta yang berlapis-lapis dan sekarang semakin tampak kehilangan tujuan.

Mengapa ini terjadi? Ketika sekelompok teroris menabrakkan pesawat ke gedung kembar di New York, publik Amerika, dengan mengikuti Bernard Lewis, bertanya, apa yang salah dengan Islam. Kini setelah apa yang terjadi di Irak, kita perlu bertanya balik, apa yang salah dengan Amerika.

Merayakan keagungan Amerika

Akar masalahnya terletak pada bagaimana Amerika melihat diri sendiri dan memersepsikan musuhnya. Perang Amerika melawan terorisme bertolak dari apa yang lazim dikenal dengan ”Doktrin Bush” (perang pre-emptive, unilateralisme, dan ekspor demokrasi ke seluruh jagat). Acuan doktrin adalah semacam kejelasan moral: Amerika merepresentasikan pihak yang benar dalam pertempuran melawan yang batil. Oleh karena itu, Amerika tak akan segan-segan menggunakan kekuatan militernya demi menyebarkan nilai-nilai Amerika yang berwatak universal, seperti demokrasi dan kebebasan, ke seluruh jagat, sampai kekuatan gelap di dunia terkalahkan.

Yang segera terasa dari keyakinan ini adalah manikeanisme moral yang sepenuhnya hitam putih, dikombinasikan dengan pandangan tentang keagungan diri, dan misi revolusioner untuk membentuk dunia berdasarkan gambaran sendiri. Pandangan semacam ini mungkin saja terkait dengan persepsi pribadi George W Bush, Kristen new born yang membelah dunia berdasar dikotomi kekuatan Tuhan dan kekuatan setan. Tetapi, menurut saya, manikeanisme moral ini bukan semata-mata soal opini pribadi seorang presiden karena jejaknya bisa kita temukan dalam gerakan neokoservatisme, yang pengaruhnya dalam kebijakan luar negeri Amerika sangat kentara dalam dua dekade terakhir.

Akan tetapi, neokonservatisme bukanlah melulu soal politik luar negeri Amerika mutakhir. Riwayat hidup gerakan ini sebetulnya bermula pada tahun 1960-an, khususnya pada masa Perang Vietnam. Neokonservatisme dirintis oleh Irving Kristol pada tahun 1960-an sebagai perlawanan terhadap maraknya gerakan Kiri Baru dan Counterculture di Amerika. Kristol suatu kali menggambarkan sosok neokonservatif sebagai a liberal mugged by reality, sosok liberal yang dibegal oleh kenyataan. Kristol merasa dibegal oleh kenyataan karena ia masygul demi melihat Kaum Kiri Baru yang menyebarkan kecurigaan, bahkan sinisme terhadap Amerika sehubungan dengan katastrofi Perang Vietnam. Kristol juga resah melihat kalangan muda Amerika saat itu yang dikuasai oleh relativisme moral dan hedonisme. Karena itu, ia kemudian bercerai dari liberalisme dan merintis neokonservatisme.

Dalam arti tertentu, Perang Vietnam adalah semacam batas air bagi Amerika. Sebelumnya, Amerika dicitrakan sebagai lambang progresivisme, tempat eksperimen demokrasi dan cita-cita pencerahan bisa tumbuh subur. Padahal, di tanah kelahirannya di Eropa, pencerahan sempat terancam punah akibat Perang Dunia dan naiknya fasisme dan totalitarianisme. Bukan tanpa alasan kalau Amerika lantas dijuluki the last best hope of mankind.

Namun, katastrofi Perang Vietnam, plus kemelut di dalam negeri seperti rasialisme, meruntuhkan optimisme tersebut. Di kalangan para penyokong Kiri Baru dan Counterculture, Amerika bukanlah lambang bagi progresivisme. Sebaliknya, ia justru menjadi contoh sempurna dari fenomena repressive tolerance, untuk meminjam istilah Herbert Marcuse, filosof aliran Mazhab Franfurt yang menjadi idola gerakan Kiri Baru. Yakni, situasi ketika demokrasi, kebebasan berekspresi, dan toleransi yang tadinya berwatak membebaskan kini menjelma menjadi instrumen yang dimanfaatkan oleh pihak elite penguasa, the Establishment, untuk membungkam suara-suara radikal yang menghendaki perubahan sejati. Di mata mereka kebijakan Amerika di Vietnam dan dukungannya terhadap rezim-rezim diktator di Asia dan Amerika Latin dalam melawan komunisme membatalkan gambaran progresif Amerika sama sekali. Amerika tak lebih dari negeri yang dikuasai oleh hasrat imperial, yang eksploitatif dan reaksioner.

Nah, neokonservatisme adalah sebentuk perlawanan terhadap sinisisme dalam melihat Amerika yang disebarkan oleh gerakan Kiri Baru. Dalam pandangan Kristol, sinisisme semacam itu berbahaya karena bisa menularkan virus keraguan-diri yang dengan mudah menjelma menjadi simpati terhadap pihak musuh. Akibatnya, mereka menjadi relativis yang tidak mampu membedakan kawan dan lawan.

Demikianlah, sejak akhir tahun 1960-an, Kristol, melalui jurnal Public Interest yang ia pimpin, dengan gigih memberikan pembelaan moral terhadap kapitalisme demokratik seperti yang berkembang di Amerika karena, menurut dia, itulah satu-satunya sistem yang konsisten dengan kebebasan manusia. Bagi Kristol, tidak ada alasan untuk meragukan superioritas moral Amerika karena ia ditakdirkan sebagai teladan bagi dunia, sebagai ”kota di atas bukit.”

Sementara itu, sekondan Kristol bernama Norman Podhoretz, melalui majalah Commentary, lebih mencurahkan diri pada penghujatan terhadap musuh Amerika saat itu, yakni rezim komunis Uni Soviet. Di mata Podhoretz ancaman komunisme bukan hanya menyangkut isu keamanan nasional, melainkan juga moral karena baginya, komunisme adalah ideologi totalitarian yang batil. Pandangan semacam ini kemudian menjadi begitu dominan ketika Ronald Reagan berkuasa. Reagan bahkan memopulerkan sebutan Uni Soviet sebagai evil empire.

Setelah komunisme tumbang, kaum neokonservatif getol mendesakkan perlunya Amerika tampil sebagai pemimpin global, sebagai sang benevolent hegemony. Ini tecermin dalam proyek mereka yang dikenal dengan ”Project for the New American Century” (PNAC). Ini adalah tangki pemikiran neokonservatif yang berdiri tahun 1997 dan dikomandani oleh William Kristol dan Robert Kagan. Dalam pandangan mereka, Amerika praktis menjadi superpower tunggal yang tak tepermanai di muka bumi. Dengan posisi seperti ini, Amerika perlu mengoptimalkan kekuatan militer dan politiknya untuk meneguhkan posisinya sebagai teladan moral bagi dunia. Bukankah Amerika adalah negara yang berdiri di atas nilai-nilai moral universal? Atas dasar itu, kaum neokons kemudian merayakan apa yang mereka sebut sebagai ”Abad Amerika”.

Menariknya, meskipun kalangan neokons melantunkan sikap antipati yang militan terhadap komunisme, semangat misionaris mereka dalam menyebarkan demokrasi merupakan adopsi dari ide tokoh komunis Leon Trotsky tentang ”revolusi permanen”, yang intinya adalah menyebarkan sosialisme ke seluruh jagat melalui revolusi tanpa henti. Kaum neokons mengambil oper gagasan Trotsky dan mengganti ”sosialisme” dengan ”demokrasi”.

Keyakinan tentang Abad Amerika semakin diperkokoh setelah serangan 11 September. Dalam Terror and Liberalism, Paul Berman mengklaim bahwa perang melawan terorisme bukanlah bentrok antara Islam melawan Barat, bukan fenomena clash of civilizations, melainkan perang antara liberalisme dan musuh lamanya, yang pernah dihadapinya di Eropa awal abad lalu, yakni fasisme dan totalitarianisme. Hanya saja kali ini sang musuh tampil dengan wajah Islam.

Berman menandaskan, ideologi radikal di Timur Tengah, baik itu yang sekuler seperti Ba’athisme maupun yang religius seperti Islamisme mengandung ciri-ciri DNA yang mirip dengan Nazisme, fasisme Mussolini dan Stalinisme. Fasisme dalam hemat Berman terdiri dari dua hal pokok: pemurnian masyarakat dari unsur-unsur yang dianggap mencemarinya, dan glorifikasi terhadap kematian. Itulah yang tampak pada Nazisme. Dan itulah yang juga terlihat pada Al Qaidah dan gerakan radikal Islam lain yang mengadopsi pemikiran Sayyed Quthb. Menurut Berman, ide Quthb tentang pemurnian masyarakat Islam dari Jahiliyyah modern dan konsepnya tentang jihad hanyalah variasi atas tema yang sama yang dulu menjadi ciri fasisme di Eropa.

Oleh sebab itu, untuk mengalahkan Islamofasisme, Amerika harus memperlihatkan militansi dan ketegasan dalam menarik garis antara kawan dan musuh. Contoh ideal dalam hal ini adalah Churchill, yang memilih sikap konfrontasi total dalam melawan Hitler. Cara-cara lunak seperti dialog, diplomasi, atau menggandeng PBB adalah simtom dari sikap lembek dalam menghadapi musuh. Dalam bahasa Norman Podhoretz, perang melawan Islamofasisme adalah ”perang dunia keempat”, yang menuntut penggunaan jalan militer sebagaimana dalam perang dunia sebelumnya.

Tapi, di sinilah justru letak soalnya. Kasus Irak membuktikan bahwa optimisme yang berlebihan terhadap kekuatan jalan militer sebagai sarana menyebarkan demokrasi dan kebebasan terbukti hanyalah waham yang gegabah. Anjuran neokons agar Amerika memosisikan diri benevolent hegemony tidak lain adalah dalih bagi imperialisme yang pasti ditentang publik dunia. ”Abad Amerika” justru terdengar ironis karena sekarang anti Amerikanisme beredar di mana-mana.

Itulah sebabnya, Francis Fukuyama, salah satu pentolan neokonservatisme, menyatakan bercerai dari lingkaran grup ini. Ia mengibaratkan hubungan dirinya dengan neokons seperti hubungan antara Marx dan Lenin. Marx berteori tentang komunisme sebagai tahap akhir dari sejarah perjuangan kelas, dan Lenin yang tidak sabar mempercepat proses menuju komunisme melalui revolusi. Hasilnya kemudian adalah komunisme Soviet yang totalitarian. Begitu juga antara Fukuyama dan kalangan neokons. Fukuyama berteori tentang ”akhir sejarah”, yakni proses ketika pada akhirnya demokrasi liberal yang akan menang. Kalangan neokon mengimani teori Fukuyama, tapi tidak sabar dan mempercepat prosesnya melalui kekuatan militer. Akibatnya adalah katastrofi seperti terjadi di Irak sekarang.

Liberalisme dan Amerika yang lain

Sayangnya, sekarang ini kisah tentang perang melawan terorisme yang dipertontonkan Amerika hanyalah versi yang disutradarai oleh kaum neokons. Padahal, Amerika punya cerita lain yang bisa menjadi alternatif, yakni liberalisme pada awal Perang Dingin seperti ditunjukkan oleh Reinhold Niebuhr, George Kennan, dan Arthur Schlesinger.

Pada masa itu kaum liberal Amerika menghadapi ancaman dari kekuatan totalitarian Uni Soviet. Namun, berbeda dengan neokons yang betolak dari pemujaan keagungan dan kekuatan Amerika, kaum liberal justru berangkat dari kecemasan akan pemujaan semacam itu. Jika kalangan neokons cemas kalau bangsa Amerika tidak lagi mampu melihat kebesaran Amerika, maka kalangan liberal Perang Dingin justru cemas kalau mereka hanya melihat kebesaran sendiri.

Kaum liberal juga menggambarkan Amerika secara berbeda. Barangkali Amerika memang sedang memerangi kekuatan jahat. Tapi, tidak berarti lantas otomatis ia merepresentasikan kekuatan baik. Keunggulan nilai-nilai Amerika atas musuhnya bukanlah sesuatu yang muncul hanya karena diujarkan, melainkan mesti diuji dalam kenyataan. Amerika bisa lulus, tapi juga bisa gagal dalam ujian itu. Karena itu, kaum liberal saat itu menekankan pentingnya Amerika mengekang kekuatannya.

Dalam pidatonya beberapa saat setelah berdirinya PBB, Harry Truman, Presiden Amerika saat itu, menyatakan, ”Kita semua harus mengakui, betapapun hebatnya kekuatan kita, kita tidak punya lisensi untuk melakukan apa saja yang kita maui”. Pada kali lain, George Kennan, arsitek kebijakan Truman dalam urusan Uni Soviet, menekankan ke-bisa-salah-an (fallibility) sebagai dasar kenapa Amerika perlu menahan diri. ”Betapapun”, kata George Kennan, ”ada benih totalitarianisme yang bersemayam dalam diri setiap kita.”

Di sini perlu dicatat peranan Reinhold Niebuhr, teolog Protestan kelahiran Jerman, yang pandangan keagamaannya punya pengaruh kuat di kalangan liberal saat itu. Kennan menyebutnya sebagai father of us all (bapak bangsa?). Pandangan Niebuhr yang lazimnya disebut ”realisme Kristen” kira-kira demikian: ”Kita adalah hamba Tuhan yang berdosa. Tapi, itu tidak menjadikan kita bebas dari tugas untuk melawan kejahatan di dunia. Dosa membikin kita untuk selalu rendah hati dan tidak merasa lebih unggul dibanding yang lain. Tapi, tugas memerangi kejahatan membikin kita tidak kehilangan harapan akan masa depan yang lebih baik”. Realisme Kristen, dengan kata lain, adalah pleidoi tentang manusia yang terbatas. Oleh sebab itu, dalam mengemban tugas untuk berjuang melawan kezaliman, ia perlu menyadari bahwa dirinya punya peluang untuk menjadi zalim.

Pandangan tentang keterbatasan diri sendiri pada gilirannya berimbas pada bagaimana musuh direpresentasikan. Niebuhr, misalnya, sependapat bahwa Amerika perlu melawan komunisme. Tapi, ia buru-buru mengingatkan dalam melawan komunisme, Amerika punya peluang untuk tidak adil. Karena itu, Amerika mesti waspada dengan ilusi tentang keagungan dan kesempurnaan diri, karena semua itu akan bermuara kepada absolutisme. Niebuhr mewanti-wanti Amerika agar jangan sampai meniru jejak absolutisme musuhnya.

Arthur Schlesinger, sejarawan pemenang Hadiah Pulitzer sekaligus juga intelektual yang pernah menjabat sebagai asisten John F Kennedy, suatu kali pernah menyatakan bahwa liberalisme tidak lain adalah versi sekuler atas pemikiran keagamaan Niebuhr. Ide-ide Niebuhr berimpit dengan liberalisme dalam satu ihwal: penghargaan terhadap ironi dan paradoks manusia.

Sikap kaum liberal yang menampik glorifikasi diri mungkin bisa menjadi alternatif bagi Amerika sekarang. Kemauan untuk mengekang diri justru pada saat Amerika mempunyai kekuatan yang tak tepermanai niscaya akan menjadikan, meminjam iklan liberalisme di The New York Times, ”warga dunia menaruh hormat pada Amerika”.

AKHMAD SAHAL Mahasiswa Program Doktor Universitas Pennsylvania dan Peneliti Freedom Institute

RESOURCE : Rabu, 6 Februari 2008 | 02:25 WIB
http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.06.02253842&channel=2&mn=46&idx=46

Iklan

1 Komentar

Filed under Demokrasi, Kliping, Nasionalisme, Politik, Sosial

One response to “Mendamba Amerika yang Lain

  1. SALMAN

    Amerika memang ga salah pilih..!!!
    ha..ha..ha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s