Islam Itu Sekuler!


waqifmosquedaytime.jpg

Perdebatan hubungan agama dan negara nyaris tak ada habis. Kelompok yang pro pusi atas keduanya menginginkan agama dan negara satu kesatuan seperti dua sisi dalam sekeping mata uang. Tapi yang kontra menolak, agama dan negara seperti minyak dan air yang selamanya takkan bisa berjalan seiring sejalan. Bagaimana pandangan pemikir lokal NTB tentang agama negara. Kita simak wawancara Achmad Jumaely dengan dosen IAIN Mataram Drs. M. Asyiq Amrullah, M.Ag. beberapa waktu lalu kantornya.


Sekarang ini, terdapat sekelompok ummat Islam yang tiba-tiba berupaya untuk melakukan formalisasi syari’at Islam, bagaimana bapak mencermati hal ini?

Ini memang fenomena baru yang disusung oleh beberapa Parpol dan ormas islam, tapi ini suara minoritas. Dalam konteks indonesia yang majemuk, hal ini tidak mungkin kita lakukan. Itu sebabnya para pendiri bangsa menyepakati pancasila sebagai asas negara.

Tapi, alasan mereka demi menegakkan syari’at Islam?

Iya, semua ummat Islam tentu saja punya keinginan yang sama, menerapkan syari’at islam. Tapi bukan dengan formalisasi syari’at. Formalisasi syari’at islam kan artinya menggunakan syari’at islam dalam undang-undang negara. Dan ini tidak mungkin, karena negara kita tidak hanya dihuni oleh ummat Islam saja tapi juga ada ummat agama lain.

Lalu bagaimana dengan kewajiban menerapkan syari’at oleh ummat islam sendiri?

Penegakan syari’at itu kan kewajiban setiap individu muslim bukan harus diurus oleh negara. Negara ya negara, islam ya islam.

Akibatnya jika agama (islam) dipaksakan masuk dalam struktur negara?

Ya, seperti negara Turki Ustmani itu. Kacau-balau, disana-sini terjadi pemberontakan dan pembunuhan. Raja Turki Usmani bermadzhab Hanafi dan karenanya semua rakyat dipaksakan bermadzhab Hanafi, akhirnya rakyat atau ulama yang bermadzhab lain jelas tidak setuju. Dan menolak hal itu. Daam konteks indonesia jelas lebih kompeks dan lebih rumit, karena disini tidak hanya ummat islam tapi juga ummat agama lain. Tidak mungkin kita menerapkan syari’at islam kepada mereka yang tidak beragama islam.

Jika demikian sepertinya islam lebih sepakat pada sekualarisasi?

Memang begitu, sekularisasi itu terjadi di eropa disebabkan agama (gereja) terlalu banyak mencampuri urusan negara dan sebaliknya. Para ilmuan seperti Galelio Galilei sampai dihukum mati karena dianggap menentang gereja. Ilmu pengetahuan yang mereka temukan justru dianggap mencederai eksistensi gereja. Maka saat itu disepakati gereja harus dipisahkan dengan negara. Dalam konteks indonesia juga demikian.

Tantangan penerapan syari’at Islam yang lain?

Banyak, salah satunya adalah persoalan madzhab tadi itu. Kita mau merapkan syari’at islam versi (madhab) apa? Sementara di negara ini hampir semua madhab hidup dan sama-sama mempunyai banyak ummat. Bahkan, saya kira akan lebih sulit lagi jika kita menyadari bahwa kita hidup dalam beragam agama, etnis, suku dan bangsa. Saya kira penerapan syari’at islam kita serahkan pada individu ummat Islam masing-masing. Nanti di akhirat kita akan tahu siapa yang terbaik diantara kita, yang penting hidup ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya, berlomba-lomba dalam kebaikan. []

Iklan

5 Komentar

Filed under Agama, Demokrasi, Islam, Lokal, Sasak, Sosial, Wawancara

5 responses to “Islam Itu Sekuler!

  1. abu mifzal

    Kok aneh ya, seorang dosen, dosen IAIN pula,megatakan tidak mungkin menerapkan syariah pada negara yang majemuk, setahu saya waktu Rasulullah mendirikan negara Madinah, juga banyak kaum Yahudi, Nashrani dan lain-lain, tetapi Islam tetap di jadikan landasan negara,pantesan murid-murid IAIN bukannya malah menrapkan Islam tetapi malah menggerogoti Islam dari dalam.Kalo non muslim yang anti syariah sih wajar, tapi ini mengaku Muslim kok anti syariah.

  2. penerapan syari’at islam tidak perlu. artinya yang penting itu substansinya dan bukan bentuknya (formalisasi). karena syari’at ISlam benar merupakan penerapan yang bersifat individu.

  3. Sudah saatnya kita meninggalkan “Islam Simbolis” kenapa kita hanya selalu menonjolkan simbol-simbol tanpa mencoba memaknai hakikat yang ada…

    Sebaiknya jangan cuma terpaku dalam Islam itu harus ini harus itu. konstitusi harus islam. Partai harus islam. tapi tingkah laku tidak menunjukkan bahwa kita seorang muslim sejati.

    Untuk saat ini yang terpenting adalah memaknai ajaran islam itu sepenuhnya. sehingga orang Non muslim dapat melihat bahwa Orang muslim itu adalah sosok yang menyejukkan. gak anarkis gak brutalis.

    Dengan demikian nantinya dengan sendirinya apabila kita kan menerapkan syariat Islam.. gak ada lagi Penolakan dari smua insan. Karena dia sudah merasakan sendiri betapa nikmatnya jika bertetangga dan hidup di bawah syariat Islam yang menjunjung tinggi “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”

  4. “@@@ Non muslim dapat melihat bahwa Orang muslim itu adalah sosok yang menyejukkan. gak anarkis gak brutalis.”
    Anda benar. Saya tetap menghargai, non muslim tapi untuk orang tertentu seperti G.W. Bush (tidak bisa) karena dia adalah musuh pribadi saya bukan musuh agama, dia telah membunu saudara saya di Iraq, yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidupku.
    walan tardhaa ankal yahuudu walaannashaara hattaa tattabi’a millatahum, maaf kalau salah ketik

  5. Dalam Islam sendiri muncul banyak mashab , aliran dan pemahaman, kalau negara ikut campur memihak salah satu mashab dan memaksakan kehendaknya pada mashab yang lain …wah bisa seruuu. Bisa bisa banyak ulama masuk penjara karena beda pendapat dengan penguasa.

    Itu baru masalah dalam Islam sendiri belum lagi dengan umat yang lain. Untuk pemahaman yang beragam ini sebaiknya memang dipisahkan masalah keyakinan dan negara. Negara mengatur hubungan antara manusia dan kelompok , saling menghargai dan menghormati agama, adat dan keyakinan nmasing masing. Negara melindungi masing masing kelompok menjalankan agama dan keyakinannya masing masing, tanpa menganggu keyakinan dan agama orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s