Islam dan Adat Lokal


ac834e0l.jpg
Kamrullah, MHI

SECARA teoritis, adat tidak diakui sebagai sumber hukum Islam. Tapi dalam prakteknya adat dijadikan rujukan dalam pembentukan hukum. Buktinya sekarang adat dipakai tidak hanya pada masalah yang ada rujukannya dalam Al-Qur’an dan Hadist. Hal ini menegaskan, bahwa sejak awal pembentukan hukum Islam, kontribusi adat lokal sangat besar.

Kata “ada” dan “urf” merupakan sinonim. Kata “Urf” merupakan derivasi dari kata “Arafa-ya’rifu-urfan” yang berarti mengetahui. Sederhana “Urf” didefenisikan sebagai sesuatu yang menetap dalam jiwa secara rasional dan diterima oleh akal sehat. Sedangkan “adah” berawal dari kata “ada–ya-uudu–Aadatan” yang memiliki arti pengulangan atau praktek yang dilakukan secara berulang-ulang. Perbedaan kedua kata ini terdapat pada tataran penekanannya saja. Urf lebih melihat sisi pelakunya, sementara Adah lebih menekankan aspek pengulangan pekerjaan.

Dalam metodologi Ushul Fiqh, adat diterima sebagai salah satu sumber hukum Islam yang dikembangkan dari akal Ra’yu, Qias, Istihsan dan Istislah. Sebuah hadis yang artinya mengatakan “Apa yang dipandang baik kaum Muslimin, maka baik pula menurut Allah”. Hadist ini membenarkan berbagai tradisi yang dipandang baik ditengah masyarakat layak dipertahankan. Alasannya, menghilangkan tradisi yang telah lama hidup ditengah masyarakat bisa menimbulkan kesulitan dan kesempitan sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Hajj ayat 78 : “Allah tidak menjadikan di dalam Agama itu suatu kesulitan”.

Imam Hanafi dan Imam Maliki berpendapat, hukum yang ditetapkan dengan adat yang Shahih (baik) sama kedudukannya dengan yang ditetapkan dengan dalil syar’i jika tidak ada dalil dari Nash yang membahas tentang hal tersebut. Hal serupa juga dijelaskan As-Suyuti dalam Kitab Al Asbah wa Alnaza’ir, dan Al -Syahsi dalam kitab Almabsut.

Dalam Usul Fiqh adat (Urf) dikalasifikasikan menjadi dua macam. Pertama. Urf Shahih -suatu tradisi yang sudah berlaku di masyarakat dan tidak bertentangan dengan hukum syara’ yaitu tidak menghalalkan yang haram dan mangharamkan yang halal. Seperti adat mendahulukan dan mengakhirkan pembayaran mahar dan atau kegiatan-kegiatan keagamaan yang memiliki aspek ibadah dan kemaslahatan. Kedua, Adat Fasid-tradisi yang berakar ditengah masyarakat namun bertentangan dengan hukum syara’. Misalnya, memakan harta riba, zina, judi, mencuri, minum khamr dan lain sebagainya.

Selain itu, Fuqaha’ ketika menulis kitab-kitab mu’tabarah yang membahas hukum Islam banyak dipengaruhi konteks sosial keagamaan masyarakat setempat. Ini misalnya, pada masa Tabi’in lahir tiga Mazhab Fiqh yang dikenal dengan Ahlul Iraq (Mazhab Iraq) Ahlus Syam (Mazhab Syiria) dan Ahlul Madinah (Mazhab Madinah). Berdasarkan tiga mazhab itu maka akomdasi terhadap budaya lokal tak dapat dihindarkan. Nah, dalam perlembangannya Aimmah Arba’ah memiliki pengikut yang dominan. Sebut saja Imam Malik (93-179 H) yang memiliki nama lengkap Malik ibnu Anas ibnu Abi Amr al Asbahi dalam menetapkan hukum selalu berpegang pada amal Ahli Madinah (kebiasaan yang terjadi di masyarakat Madinah). Hal serupa juga di ikuti oleh Imam As-Syatibi (W.790H) sebagai pengikut setia Mazhab Maliki dengan mendasarkan hukumnya pada lokalitas tradisi yang beraneka ragam.

Annu’man ibnu Tsabits ibnu Zuti- nama lain Abu Hanifah (80 -150 H/699 – 767 M) juga menggunakan tradisi Kuffah sebagai dasar penetapan hukumnya yang diakomodir dalam konsep Istihsan. Ini bisa dilihat misalnya perbadaan yang tajam antara keputusan hukum Kuffah dan Madinah. Abu Yusuf (112–166 H) berbeda pendapat dengan gurunya Abu Hanifah disebabkan perbedaan tradisi masing-masing.

Sementara, Imam Syafi’i (150 – 204 H) tidak menggunakan adat atau urf sebagai pijakan penetapan hukumnya, namun pada tataran faktual keputusan-keputusan hukum Imam Syafi’i lebih dipengaruhi oleh kultur sosial. Bisa dilihat bagaimana Imam Syafi’i meralat Qaul Qadim-nya di Baghdad dengan Qaul Jadid-nya ketika di Mesir, perbedaan cara pandang itu juga tidak terlepas dari situasi sosial masing-masing.

Imam Syafi’i ketika tinggal di Iraq pada kekuasaan Al-Amin terlibat perdebatan dengan para ahli Fiqh rasional Iraq, di tengah perdebatan itulah Imam Syafi’i menulis kitab Al-Hujaj yang memuat sikapnya secara konprensif terhadap persoalan pada masa itu. Ketika berada di Mesir, Imam Syafi’i mendapatkan kondisi sosial yang baru. Setting sosial budaya yang berbeda ini menginspirasikan Imam Syafi’i untuk menetapkan hukum yang baru pula sebagai refleksi dari dinamika yang muncul – bisa dilihat dalam kitab Al-Umm.

Setelah memahami besarnya kontribusi adat dalam pembentukan hukum Islam -Dasarnya, hukum bisa berubah disebabkan situasi dan kondisi serta budaya lokal. Maka sudah semestinya tidak ada keraguan lagi terhadap peran adat dalam memperkaya khazanah hukum Islam. Dimana, tradisi yang baik sudah sepatutnya dilestarikan sepanjang tidak bertentangan dengan dalil-dalil Syara’.

*Staf pengajar pada STAI Qamarul Huda Bagu, Loteng
dan pada MTS. Darul Qur’an Bengkel.

Adat telah mendorong munculnya diskusi yang berkepanjangan sejak awal sejarah Islam, tentang apakah ia dapat dipertimbangkan sebagai salah satu sumber dalam istinbath Hukum Islam ataukah Tidak?

Dengan demikian para ahli hukum Islam (Fuqaha’) pada akhirnya menerima berbagai macam bentuk adat tersebut. Oleh karena itu fuqaha’ memasukkan hukum adat dalam metodologi istinbath hukum Islam Dan ketika tidak ada dalil atau nash yang membahas status hukum suatu peristiwa , maka saat itu adat merupakan hal yang sangat diperhitungkan keberadaannya untuk dijadikan rujukan hukum Islam.

MASALAH adat (Urf) merupakan bahasan yang cukup lama dalam rancang bangun hukum. Sejak periode Rasul, Sahabat, Tabi’it tabi’in sampai periode ulama mazhab empat adat tetap dipakai sebagai salah satu metodologi Istinbath (penggalian) pengambilan hukum. Walau mereka tidak memandang adat sebagai sumber hukum utama. Namun mereka tetap menyadari memakainya dalam melakukan interpretasi hukum Islam.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, Islam, Kliping, Pluralisme, Sasak, Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s