Mewaspadai Islam Timur Tengah



Kencangnya penetrasi Wahabi dan Islam fundamintalis tentunya menjadi ancaman serius bagi ormas Islam moderat (Ummatan Washato) di Indonesia. Kuantitas umat Islam terbesar di dunia tentunya menjadi daya tarik menggiurkan untuk menyebarkan paham keagamaan mereka. Peluang mereka sangat besar untuk masuk mengingat taraf pendidian serta ekonomi umat Islam Indonesia paling rendah didunia. Oleh sebab itu, sudah saatnya aktivis Islam membuka mata dan telinga membaca fenomena keagamaan yang terjadi.

Yusuf Tantowi*

Kini tantangan Ormas moderat seperti Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan (NW) dan Muhammadiyah semakin berat. Tantangannya bukan hanya bagaimana mempertahankan jamaah dan jam’iyah semata. Namun bagaimana ketiga ormas terbesar itu mampu menghalau derasnya penetrasi Timur Tengah yang ingin ‘memurnikan’ Islam Nusantara. Gejolak sosial keagamaan yang merebak belakangan ini menjadi bukti bahwa penetrasi Timur Tengah dengan ideologi Wahabi-nya mulai menggerogoti jamaah ormas besar tersebut.

Rupanya mereka tidak hanya datang membawa doktrin keagamaan baru ala Timur Tengah, tapi juga didukung support dana yang tidak kecil. Bersamaan dengan itu, idiom-idiom jihad dan penegakan syari’at ditebar kemana-mana. Dan seolah-olah Islam Nusantara sudah menyimpang dari syari’at bahkan penuh dengan perbutan bid’ah. Lalu dengan berbagai cara mereka tanpa lelah menjajakan ideologinya untuk menjaring pembeli (pengikut) sebanyak mungkin.

Ketika NU, NW dan Muhammadiyah masih menggunakan strategi ‘bertahan’ dalam menjalankan roda organisasi, kelompok ini malah memakai strategi ‘menyerang’. Guna menjaring pengikut. Mereka tak segan bergerilia kekantong jamaah NU, NW dan Muhammadiyah sampai kedesa-desa. Makanya jangan kaget kalau ada kelompok keagamaan yang begitu semangat melakukan ekspansi memperbanyak pengikut dan pengaruh.

Jika fenomena ini tidak mampu dibaca oleh tokoh NU, NW dan Muhammadiyah, maka bersiaplah menjadi ormas yang akan ditinggal ‘hijrah’ oleh jamaahnya. Bila mereka berhasil mengambil hati jamaahnya lalu meninggalkan tradisi yang selama ini mereka bangun, maka bersiaplah menjadi ormas yang tinggal logo dan bendera.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat Indonesia begitu mudah beralih ideologi keagamaan ? Sedikitnya ada tiga penyebabnya. Pertama, dari segi usia ketiga ormas tersebut sudah memasuki usia senja. Geraknya mulai lamban dan gagap merespon perubahan yang terjadi disekitarnya. Ia pun tidak sigap menjawab kebutuhan umatnya. Pada hal problem sosial keagamaan semakin rumit dan konflek. Diluar juga terus bermunculan berbagai aliran baru yang geraknya sangat lincah dan agresif menjajakan ideologinya.

Kedua, menjadikan masjid sebagai basis gerakan. Kelompok baru ini memang lihai. Ditengah pengurus ormas yang sudah mulai meninggalkan masjid dan musholla karena sibuk dengan agenda-agenda lain. Mereka begitu gencar ‘memakmurkan’ kemudian mengambil alih masjid. Dengan begitu perlahan mereka menguasai, lalu menghilangkan tradisi-tradisi lama di masjid tersebut. Gejala penguasaan masjid ini sudah banyak terjadi dikampung-kampung basis NU dan NW.

Ketiga, penyebab kemandulan ormas lama ini, selain sudah mapan secara materi juga sudah mendapatkan prevelese yang sangat besar dari masyarakat termasuk dari pemerintah. Disamping itu keterlibatan tokoh-tokoh ormas mapan ini dalam perebutan posisi-posisi politis ditingkat daerah sampai nasional. Akibatnya energi mereka habis untuk merebut dan mempertankan kekuasaan di pemerintahan. Konsekuwensinya, jamaah mereka ditingkat bawah terabaikan. Celah ini dimanfaatkan oleh kelompok lain untuk menawarkan model keagamaan baru yang klaim paling murni dan otentik.

Kondisi diatas menjadi otokritik kedalam bagi ormas NU, NW dan Muhammadiyah agar tidak jemu mengopeni jamaahnya diakar rumput. Tantangan lain yaitu merebaknya fundamentalisme agama. Masalah ini bukan saja menjadi tantangan Islam moderat tapi juga tantangan serius bagi masa depan demokrasi di Indonesia. Belakangan, para aktivis demokrasi menegarai kelompok fundamentalisme agama juga bersuara lantang atas nama demokrasi.

Dari pembacaan diatas, pentingnya tokoh NU, NW dan Muhammadiyah bergerak bersama untuk merapatkan barisan agar Islam moderat tetap menjadi roh perjuangan bersama. Saat ini Islam moderat menjadi jawaban ditengah gencarnya manuver-manuver Islam fundamentalis untuk mengganti azas negara. Islam moderat membawa harapan bagi terpeliharanya tradisi keagamaan yang sudah ratusan tahun terpancang bumi khatulistiwa ini.

Belajar dari Pasar
Saya mengibaratkan ormas Islam seperti NU, NW dan Muhammadiyah ibarat pasar tradisional berhadapan dengan super market. Sekarang super market menjamur dimana-mana. Tumbuh subur sampai sudut-sudut konplek perumahan. Super market selain dikelola dengan manajemen pemasaran modern, juga didukung modal besar dari perbankkan dengan jaringan pemasaran luas. Guna memancing pembeli mereka tidak segan memasang iklan dimedia massa dengan biaya puluhan sampai ratusan juta. Belum cukup, ditawarkan juga berbagai iming-iming diskon yang menggiurkan.

Super market juga dibangun diatas lingkungan yang bersih dan barang yang higinis. Sementara pasar tradisional dikenal dengan tempat yang kumuh, becek dan bau. Dari konsepnya saja bisa kita amati, kalau pasar tradisional itu karakternya menunggu pembeli. Meski sama-sama bertujuan mencari laba, bedanya pasar tradisional masih menggunakan ‘strategi menunggu’ sedangkan supermarket sudah memakai ‘strategi menjemput untuk menggaet pembeli.

Belakangan ini para pedagang dan pengamat pasar tradisional menghawatirkan banyaknya pasar tradisional yang tutup. Ini terjadi bukan hanya karena sepinya pembeli, tapi juga disebabkan oleh serangan pasar modern yang semakin gila-gilaan. Fenomana ini jelas menjadi ancaman bagi pedagang kecil (bakulan) dan menengah. Pada hal sekian juta penduduk negeri ini menggantungkan penghidupanya dari pasar stradisional. Bukankah fenomena ini juga menimpa ormas-ormas Islam besar Indonesia ?.

Kencangnya penetrasi Wahabi dan Islam fundamintalis tentunya menjadi ancaman serius bagi ormas Islam moderat (Ummatan Washato) di Indonesia. Kuantitas umat Islam terbesar di dunia tentunya menjadi daya tarik menggiurkan untuk menyebarkan paham keagamaan mereka. Peluang mereka sangat besar untuk masuk mengingat taraf pendidian serta ekonomi umat Islam Indonesia paling rendah didunia. Oleh sebab itu, sudah saatnya aktivis Islam membuka mata dan telinga membaca fenomena keagamaan yang terjadi.

Bagi saya, ancaman ini sangat serius. Ia sangat berpotensi mengancam keberagaman dan demokrasi yang mulai tumbuh dinegeri ini. Bila kelompok ini semakin besar tidak menutup kemungkinan untuk mengubah dasar negara Pancasila dan UUD 45 kemudian diganti dengan ideologi ke-Islaman yang mereka anut. Jika ini berhasil, sudah tentu kita akan kembali pada perdebatan panjang diawal pendirian negara ini.

Dan kita tahu perdebatan itu sangat melelahkan. Ini yang ditakutkan berbagai kalangan yang selama ini menolak diberlakukannya syari’at Islam ditanah air. Ormas Islam moderat bukan menolak syari’at Islam, tapi menolak politisasi syari’at Islam. Menurut para pegiat Islam, syari’at cukup sebagai pegangan hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa tekanan dan paksaan dari institusi negara. Bukankah demikian ?.

* Wakil Ketua PW.IPNU-NTB dan Koord.Kajian LeNSA NTB

Iklan

13 Komentar

Filed under Demokrasi, Islam, Nasionalisme, Pluralisme, Sosial

13 responses to “Mewaspadai Islam Timur Tengah

  1. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Jangan mudah dengki kepada sesama muslim, karena muslim itu bersaudara. Bila seseorang ingin mempraktekkan Islam sebagaimana dipraktekkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, berilah ia kesempatan. Bukankah kita semua (muslim) mencintai Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW, dan jihad di ‘jalan’ Allah SWT (lihat QS.9:24).
    Jadi NU, NW, Muhammadiyah, dan Wahabiyah jangan bersitegang, nanti dimanfaatkan oleh orang-orang kafir, fasiq, munafik, dan musyrik.
    Mari belajar happy! khan don’t worry be happy!
    Jangan marah yaa……
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
    Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com

  2. Abu Shafiyyah Huda Al Bantuly

    he he he emang sebenere Islam yang bener tuh versi siapa sih yah??..apa versi orang indonesia…apa versi orang timur tengah??apa versi Rosululloh dan Shohabat serta ulama ahlus Sunnah lainnya??

  3. Wah seru juga ne…
    Ada yang pernah baca bukunya Ahmad Wahib gak…
    Kalo gak salah dia sempat bilang ingin bikin islam ala ahmad wahib saja, coz islam yang kita kenal hari ini tak lain hanyalah islam versi orang-orang…..
    Aku nampaknya ada sepakat dengan Wahib, aku juga ingin bikin islam yang cocok buat diri saya aja….
    Kawan-2 tau substansi islam di turunkan tuhan? untuk kemaslahatan kita ummat manusia, jika Islam dirasa tak menemu maslahat bagi saya tak apa-apa mengambil langkah, keluar dari islam yang sekarang dan mencari islam yang lain, entahlah!!!!

    Salam kebebasan
    Jhellie

  4. wah ne …..nyindir bener tulisan ya saya sepakat sih mas dengan mewaspadai menjamurnya islam timur tengah namun jangan terlalu dideramatisir. apa yang dikatakan jhelle itu saya sudah baca dan saya juga punya bukunya mas namun jangan menerima begitu saja coba baca ulang lagi pandangan- pandangan ahmat wahib karna tidak semua itu bisa diterima emank islam yang ada sekarang ini versi orang-orang namun kenapa kemudian kita ikuti ini pertanyaan yang harus kita jawab dulu sebelum kita mengkelaim atau bersetatemen ok……..all right kawan hidup libralisme, sekularisme dan peluralisme ingit!!!!!!!! jangan hanya di ucapkan tapi buktikan!!!!!!!!

  5. Wah kenapa nih jadi pada takut ame Islam Timur tengah ..??
    Sebenarnya kan dalam islam gak ada pemisahan dalam Islam.. Gak ada nama Islam Wahabi.. apalagi sampe dibilang (maaf) islam muhammadiyah dan NU.

    mudah mudahan ini gak matiin ijtihad yee… yang penting tetap berpegang pada Al’quran – dan Sunnah rasul.

  6. hahaha, orang2 pro satatus quo baik muhammadiyyah, NU, NW mulai ketakutan ama wahhabi, biarkan orang lain memilih apa yang menurut mereka benar! Biarkan pilihan2 mereka menentukan bagaimana jalannya sejarah! Katanya pro kebebasan beragama, mengapa harus takut sama wahhabi? absurd!

  7. sausaraku seiman sebelum kailan mengomael dengan omelan yang kurang jelas,tlong ketahui dlu,akar permasalahannya,sadarlah wahai kawanku dari pengaru2 filsafat barat………………………..

  8. firmansyah

    sebuah perumpamaan yang menarik, kaum islam moderat diibaratkan pasar tradisional yang kotor dan acak -acakan sementara kaum fundamentalis dan wahabi diibaratkan Supermaket yang meyajikan barang barang pilihan, yang sangat diperhatikan higienitasnya demi melindungi konsumen, ini adalah pengakuan yang jujur dari kaum moderat karena mereka secara tidak langsung mengakui bahwa pemahaman ajaran islam yang mereka dakwahkan diragukan higienitasnya dan pola mereka sudah acak acakan semerawut seperti apa yang kita saksikan di pasar pasar tradisional, sementara yang mereka sebut kaum fundamental dan wahabi membawa ajaran yang higienis serta sangat memperhatikan kepentingan konsumenya, saya sangat setuju dengan per umpamaan yang penulis gambarkan darisana sebetulnya penulis telah membantu pencerahan bagi umat islam, untuk memilih antara pemahaman islam moderat yang diragukan kemurnianya ato ajaran islam yang mereka juluki wahabi ato fundamental yang konsistem menjaga kemurnian pemahaman ajaran rosululloh. wallohu’alam bissowab.

  9. adi

    I LOVE WAHHABI
    Mari kita taubat besar-besaran, karena islam tanah air adalah islam yang tidak murni lagi, sudah mengalami sinkretisasi, dimana pelaku sinkretisasinya diragukan kemampuannya dalam mendialogkan islam dengan realitas lokal, mari pertanyakan dengan kritis sinkretisasi selama ini. Liahatlah apa Indonesia bisa maju dengan islam lokal yang selama ini mendiami Indonesia. Aneh bin ajaib yang menerima islam wahhabi adalah orang-orang terdidik di perkotaan, sedangkan islam tradisional diterima oleh orang-orang yang tidak berpendidikan

  10. Klo sy sih kajian dr ajrn islam itu sendri prlu diangkt dn didiskusikn kalgn elit msg2 kubu islam hslx psti akn jls mna islm yg sesungguhx dn mempunyai referensi akurat.dn klo sy lihat msg2 kubu pst menganggap plg bnr dn refrensix sahih krn msg2 punya pigur vertikal yg menyiapkn refrensix .dn sy sndiri ada pd slh st kubu tsb tentux stlh meliht refrensi atau sanad ajrn yg dibawax scra mutawatir smp nabi dn bsa dpertggung jwbkn .gmn dg antum?jdilah muslim minimal dg iman ilmu bukan taklid atu iman KTP.

  11. thamrin

    kalo ngaku pengusung liberalisme,pluralisme boleh dong orang lain milih jalannya sendiri.kenapa mesti takut??

  12. SALMAN

    ha..ha…
    judulnya buagush : WASPADAI ISLAM TIMUR TENGAH…
    emangnya Rasul ente itu dari mana, mas?
    opo dari Zamaika?
    ato dari Washington?
    Rasulullah khan dari Timur tengah????!!! (ato saya yang salah baca ya?)
    MAdinah dan Makkah itu Timur Tengah khan?
    kenapa harus fobi?
    kelihatannlah belang antum..
    Giliran ada harokah yang kiblatnya timur tengah dihujat, giliran ditawari ide liberal dan hermeneutika dari AS orang2 JIL nrimo aja..

    piye tha?

  13. Saya hanya berpesan kepada diri saya khususnya dan jama’ah pembaca umumnya, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah … kemudian laksanakan tiga pokok ajaran Islam yaitu Iman, Islam dan Ikhsan … untuk mempelajari Iman dengan ilmu Taukhid, Islam dengan Fiqih dan Ikhsan dengan tasauf / tarekat … kemudian berijtihadlah … Berpeganglah dengan tali Allah dan jangan saling menyalahkan … Niscaya kita menjadi orang yang menang …. 🙂 Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s