Meluruskan Pemahaman Islam Kaffah



Semua kita yakin dengan kebenaran dan keluhuran Islam. Kita juga yakin Islam sebagai sistem yang paripurna dan terbaik. Keyakinan itu metinya ditunjukkan dengan sikap menjunjung nilai-nilai Islam bukan dengan ‘ribut’ menghujat ide atau pemikiran yang dianggap nyeleneh berbau Barat atau sekuler.

Muhammad Sa’i, MA.

TULISAN singkat ini merupakan ikhtiar tadabbur yang dihajatkan untuk menggugah kesadaran kita agar bersedia melakukan Tazakkur, tentang pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Tazakkur dimaksudkan agar kita bisa berlapang dada untuk membebaskan diri dari pemahaman yang sempit tentang tentang Islam. Tentunya juga di iringi dengan menghentian pengamalan ajaran Islam secara parsial. Ini sebagai wasilah membebaskan diri dari slogan-slogan rasional dalam pencapaian, realistis dan kritis dalam berpikir.

Meski tulisan ini tidak memberikan alternatif praktis untuk memahami dan menyikapi Islam, tapi setidaknya sebagai bahan perenungan awal. Saya berharap, kita umat Islam Islam dapat berkontemplasi dan berintropeksi diri sebelum merencanakan aksi yang lebih strategis.

Semua kita yakin akan kebenaran dan keluhuran Islam. Kita juga yakin Islam sebagai sistem yang paripurna dan terbaik. Keyakinan itu ditunjukkan dengan sikap kita untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Untuk itu kita kadang sampai ‘ribut’ bila ada pemikir Islam yang melontarkan ide atau pemikiran yang dianggap nyeleneh berbau Barat atau sekuler.

Sebagai bahan renungan, ada dua pertanyaan sebagai Tazakkur kita. Pertama, sejauhmana pemahaman umat Islam terhadap kebenaran, keparipurnaan dan keluhuran ajaran Islam ?. Kedua, sejauhmana pengamalan dan kebenaran pengamalan umat Islam selama ini terhadap ajaran Islam ?

Tanpa kita sadari, sering kali kita memahami Islam secara parsial atau sepotong-potong. Akibatnya, jika ada pemikiran yang mengajak untuk melakukan pembaharuan sering ditanggapi sebagai pemahaman yang tidak Islami. Sementara, sebagian umat Islam muncul pemahaman yang subyektif. Mereka memahami Islam dengan ukuran, situasi dan kondisi subyektif mereka. Dampaknya, mengamalkan Islam berdasarkan mood yang mereka rasakan.Tragisnya kemudian termakan oleh semboyan kaum sekuler, “al-din lillahi wa al-wathanu li al-jami’- Agama untuk hubungan pribadi dengan Allah, sedangkan tanah air untuk semua.

Ada juga sebagian umat Islam memahami suatu nilai atau norma Islam sebagai upaya ‘pemaksaan’ atau menjustifikasi pemikiran atau perbuatannya. Kelompok ini juga paling suka mencocok-cocokkan dalil-dalil Al-Qur’an atau sunnah berdasarkan kepentingannya. Terjadinya pemahaman Islam yang sempit (parsial) sehingga sering terlupakan sikap tasamuh atau menghargai pendapat orang lain. Kita sering terhanyut dalam perselisihan paham masalah khilafiah akibatnya persatuan dan kesatuan umat terabaikan.

Pertanyaan kedua diajukan, mengingat sikap kita dalam memahami Islam hanya sebatas sebagai ‘urusan pribadi dengan Tuhan’ sehingga pengamalannya pun hanya ibadah mahdlah (murni hubungan individu dengan Allah). Sedangkan sistem norma yang terkait dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan diabaikan karena sistem Islam dianggap sudah kadaluarsa dan usang. Argumen mereka, sistem itu sebenarnya lahir sebagai pedoman bagi masyarakat Arab Jahiliyah 14 abad yang lalu, saat Nabi Muhammad SAW dilahirkan dan hidup ditengah budaya mereka.

Dari sini dapat kita ajukan beberapa pertanyaan, bukankah al-Qur’an merupakan kitab suci yang general, mujmal. Sedangkan perinciannya untuk kepentingan pengamalan sangat relevan dengan keadaan zaman ? Bukankah persoalan kemasyarakatan yang muncul 14 abad yang lalu subtansinya sama hanya versinya yang berbeda ?.Allah SWT pernah menegaskan “al-yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu’alaikum ni’mati …”. Dengan dalil itu, sudah pasti bahwa tidak ada yang kurang dalam Islam. Yang kurang hanya kemampuan berpikir yang kurang mampu memahami dan menangkap keseluruhan ajaran Islam.

Walaupun saat ini telah muncul konsep-konsep Islam tentang sistem sosial semuanya terkesan hanya merupakan pasau tumpul yang tidak dapat dipergunakan untuk mengatur tatanan sosial. Ironisnya, para pemikir Islam malah larut dalam perdebatan tentang konsep-konsep itu sendiri.

Kini umat Islam dituntut untuk mampu bersikap kritis, realistis dan tidak emosional dalam menyikapi berbagai problem masyarakat. Pertanyaan diatas diajukan untuk mendapat jawaban ‘kebenaran’ atas pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. “Ibda bi nafssika”– Mulailah dengan dirimu sendiri, kata Nabi. Kemudian Allah SWT juga mengingatkan, “Wa al-tandzur nafsum ma qaddamat li ghad”- Hendaklah setiap diri melakukan intropeksi tentang kesalahan dan kekurangan apa yang telah diperbuat kemarin untuk merencanakan hari esok yang lebih baik. (Qs. 59 :18).

Maka, bersadarkan uraian diatas kita dituntut untuk bersikap bijak dan tidak emosional dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan dalam menafsirkan Islam harus dimaknai sebagai khazanah ke-Islaman yang tidak perlu ditakutkan. Sebaliknya, disini diuji kedewasaan kita dalam memaknai Islam yang kaffah dalam kehidupan bermasyarakat.

* Ketua Ikatan Alumni Ponpes Nurul Hakim, Kediri-Lombok Barat

Iklan

3 Komentar

Filed under Agama, Demokrasi, Islam, Pluralisme

3 responses to “Meluruskan Pemahaman Islam Kaffah

  1. InsyaAllah tulisan Islam Kaffah saya ikut menambah khasanah ilmu bersama :

    Link :

    Islam Kaffah 1 : http://arsiparmansyah.wordpress.com/2007/10/17/kaffah-1/

    Islam Kaffah 2 :
    http://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/02/11/orang-kafir-tapi-islam/

  2. Ass wr wb

    Salut…kita butuh artikel kaya gini, yang menyejukan hati, yang mengajak berfikir rasional, tidak emosi. Kita harus membangun umat Islam yang bersatu, merasa bersaudara. Tidak terbelenggu dalam pemikiran yang picik dan sempit.

  3. Ehendayat

    Yeahh..
    Memang dg ketenangan jiwa dan bathin kita dpt melihat Dunia ISLAM scr utuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s