Ber-Jihad Dengan Damai


Terdapat sekelompok ummat islam hari ini yang menafsirkan Jihad sebagai perang dan kekerasan. Dengan alasan Jihad mereka merasa wajib mengusir, membunuh dan mencerca orang lain yang tak sepaham dengan mereka. Dengan alasan Jihad pula mereka merazia kafe-kafe, merusak toko hingga menangkap ibu-ibu rumah tangga yang bekerja malam hari. Pemaknaan yang kering, rigit dan hitam putih. Benarkah tafsir jihad dengan cara demikian? berikut Achmad Jumaely mewawancarai Drs. H. M. Zaidi Abdad, MA., dosen tafsir dan ahli hadits IAIN Mataram. Selamat mengikuti!

Sebetulnya apa substansi makna dari konsep Jihad dalam Islam?
Begini, kalo kita lihat dari asal katanya Jahada.sebetulnya Jihad cukup diartikan sungguh-sungguh. Dalam Alqur’an dikatakan Wajahidu fi sabillahi haqqa jihadih. Dan ada kata Ijtihad yang menjadi turunan katanya yang berarti melakukan penggalian hukum secara sungguh-sungguh. Jihad menurut makna klasik lebih diorientasikan ke hal-hal yang bersifat fisik, seperti perang dan lain sebagainya. Sementara Ijtihad lebih pada pemikiran.

Kita juga mengenal konsep Jihad Sosial, bagaimana dengan ini pak?
Lha itu, jihad sejatinya bukan hanya diorientasikan ke fisik tapi juga non fisik. Misalnya, memberikan santunan kepada orang miskin, pengemis, gepeng atau semacamnya juga adalah jihad. Ini justru menurut saya lebih dahsyat dari jihad fisik karena realitasnya masyarakat kita masih banyak dibawah garis kemiskinan.

Namun, banyak kelompok-kelompok radikal yang merusak cafe, gereja dan tempat-tempat hiburan mengatasnamakan jihad, pendapat Bapak?

Saya tidak sependapat dengan itu, karena konsep jihad dalam Islam tidak demikian. Islam itu Rahmatan Lil Alamin. Islam cinta damai. Kalau kita lihat rasulullah misalnya tidak pernah melakukan atau menyuruh ummatnya melakukan perusakan atau tindak kekerasan terhadap orang luar Islam atau yang dianggapnya salah. Islam mengajarkan syari’at dengan cinta.

Lalu bagaimana aplikasi Jihad yang ideal dalam konteks kekinian?
Iya, jadi begini, kalau kita lihat sejarah turunnya Alqur’an, maka yang terjadi Allah memerintahkan kita untuk berjihad secara arif, damai, sopan, santun dan berangsur-angsur (tadarruj) sedikit demi sedikit. Jadi, tidak langsung menghakimi orang itu salah, kafir, sesat dan lain sebagainya. Contoh yang sangat baik misalnya dapat kita lihat dalam pengharaman khamr. Allah tidak langsung bilang “khamr itu haram” tapi secara pelan-pelan. Pertama misalnya Allah katakan khamr itu tidak baik. Kedua diturunkan ayat lagi, khamr itu mengandung mudhorat (penyakit). Ketiga khamr itu perbuatan dosa. Kemudian selanjutnya Allah mengatakan jangan mendekati sholat jika kamu sedang mabuk, sampai yang terakhir baru Allah dengan tegas bilang bahwa khamr itu haram.

Bagaimana jika kelompok-kelompok mengatakan bahwa semua proses itu sudah dilalui sehingga sekarang harus menempuh jalan terakhir, jihad itu?
Iya, tidak bisa rigit begitu. Allah mengajari rasulullah dalam merubah tatanan masyarakt dengan kata-kata begini Fabima rahmatin minallah linta lahum dst. Yang artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. (Ali Imron :159).[] Achmad Jumaely

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s