Undangan Menulis



Berpijak dari sengkarut persoalan kebangsaan dan keberagaman di negeri ini yang ditingkahi pelbagai laku intoleran dalam beragama dan berkeyakinan, kami dari Buletin Kebebasan LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) kembali mengundang Anda semua membuat tulisan, untuk edisi ke-9 sampai ke-14, baik berupa artikel (opini) dengan analisisnya terhadap problem yang diangkat ataupun sekadar reportase dengan sedikit komentar atas problem sosial-politik-keagamaan yang terjadi di tingkat lokal ataupun nasional.

****
AGRESIFITAS masyarakat Indonesia akan hasrat fundamentalisasi keberagamaan (pada konteks ini: Islam) dalam satu dekade terakhir kian menguat dan meluas. Fenomena ini merentang dari soal teologi, fikih, sampai negara (politik), bahkan merangsek hingga kehidupan intim warga negara, seksualitas.

Tentunya, semua ini tidak muncul begitu saja. Ada proses di mana pelbagai unsur dalam negara dan masyarakat sipil menciptakan kristalisasi (framing) yang berorientasi pada eksklusivisme beragama dan berujung pada tindak diskriminasi, yang kerap dilakukan dengan kekerasan, terhadap setiap pihak atau kelompok dalam masyarakat yang dianggap berbeda. Stigma menyimpang, kafir, sesat dan sebagainya demikian banal dilabeli kepada warga atau kelompok yang menganut keyakinan di luar mainstream. Dan celakanya, hal tersebut beroleh legitimasi dari negara.

Sehingga, tidak sedikit saudara sebangsa setanah air yang terampas hak-hak dan kebebasan sipilnya, baik dalam berpendapat, berekspresi, beragama, berkeyakinan, berpendapat, sampai mengekspresikan orientasi seksualitasnya. Seluruh pangkal keprihatinan di atas dapat dilacak dari negara, masyarakat sipil (civil society), sampai institusi “quasi” resmi seperti MUI.

Pada negara, di samping aparaturnya abai terhadap amanat konstitusi, juga terdapat kontradiksi konstitusi dan pelbagai aturan serta kebijakan yang restriktif. Pada masyarakat, terutama sejak era reformasi, banyak tokoh-tokoh agama dan kelompok keagamaan tertentu, bahkan gerakan (Islam) yang cakupannya transnasional seperti Hizbu Tahrir, Ihwanul Muslimin, Jamaah Islamiyah dsb., yang demikian getol mendakwahkan kebenaran tunggal pandangan-pandangan keagamaannya. Sedangkan MUI sendiri bagai “kerasukan Tuhan” sehingga begitu mudah mengeluarkan fatwa-fatwanya – yang apa lacur, MUI kini beroleh persepsi, baik dari pemerintah ataupun masyarakat, sebagai lembaga yang otoritatif mewakili umat Islam dalam memutuskan setiap persoalan keagamaan. Dan, jangan lupa, media massa juga turut menyumbang dan mempercepat fundamentalisasi beragama, sekaligus memajalkannya.

Berpijak dari sengkarut persoalan kebangsaan dan keberagaman di negeri ini yang ditingkahi pelbagai laku intoleran dalam beragama dan berkeyakinan, kami dari Buletin Kebebasan LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) kembali mengundang Anda semua membuat tulisan, untuk edisi ke-9 sampai ke-14, baik berupa artikel (opini) dengan analisisnya terhadap problem yang diangkat ataupun sekadar reportase dengan sedikit komentar atas problem sosial-politik-keagamaan yang terjadi di tingkat lokal ataupun nasional.

Tulisan dibatasi tiga ribu sampai lima ribu karakter dan dikirimkan ke elsaf83@yahoo.com atau thowik_ab@yahoo.co.uk. Tulisan Anda yang kami muat akan mendapatkan imbalan yang, semoga saja, pantas.[]

Sumber:LSAF

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Informasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s