LIA EDEN dan Masa Depan Agama


eden
Syaefudin Simon

Sastrawan Danarto, sewaktu masih aktif di komunitas Lia Eden, pernah bertanya kepada saya. Seandainya sosok yang mengaku Jibril itu bukan Jibril yang sebenarnya, apa yang akan terjadi pada komunitas Kerajaan Eden? “Bubar. Komunitas Lia Eden tidak ada artinya sama sekali!” jawab saya.

Danarto tampaknya perlu mempertanyakan sosok yang mengaku Jibril yang konon “selalu” menyertai Lia Aminudin dan mendominasi seluruh urusan Kerajaan Eden tersebut. Sosok yang mengaku Jibril inilah yang sesungguhnya menjadi “episentrum” yang mengendalikan jemaah Lia Eden sehingga ketika Jibril memberikan instruksi yang aneh-aneh, seperti menyebarkan surat-surat yang berisi wahyu penghapusan semua agama, anggota Komunitas Eden tak bisa berbuat lain kecuali menaatinya tanpa reserve.

Ketaatan buta terhadap Jibril ini bagi Komunitas Eden adalah sebuah keniscayaan, karena Jibril adalah “tangan kanan” Tuhan dan penyampai wahyu Tuhan kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya . Itulah sebabnya, bila seseorang melanggar perintah Jibril, sama artinya melanggar perintah Tuhan. Bagi para pengikut agama-agama Semit seperti Islam, Kristen, dan Yahudi–meminjam istilah Karen Amstrong–konsekuensi tersebut bisa dimengerti karena Jibril adalah sosok sentral yang menjadi perantara wahyu dan pembimbing para rasul. Tapi sejauh manakah orisinalitas Jibril yang hadir dalam sosok Lia Eden, itulah yang menjadi pertanyaan para pengikut agama-agama Semit di atas.

Dengan latar belakang inilah–di mana Jibril menjadi episentrum Jamaah Lia Eden–kita bisa memahami sepak terjang Komunitas Eden tersebut. Lia Aminudin, seperti diceritakan dalam ceramah-ceramah, risalah-risalah, dan buku-bukunya yang dikirimkan kepada publik, dinyatakan telah dipilih Tuhan untuk memimpin sebuah era baru bahwa umat manusia akan diperintah langsung oleh Jibril melalui sebuah Kerajaan Tuhan (Kingdom of God). Kehadiran Kingdom of God ini, menurut Lia Eden, merupakan penggenapan wahyu Tuhan dalam kitab-kitab sucinya yang pernah dibawa para rasul (Al-quran, Injil, Taurat, Zabur, Veda, Avesta, Tripitaka, Tao The King, Lun Yu, dan kitab-kitab suci yang lain).

Dalam agama Islam maupun Kristen, misalnya, kehadiran Kerajaan Tuhan ini telah lama dibicarakan orang. Dalam Islam, misalnya, ada kepercayaan bahwa kelak di akhir zaman akan muncul Imam Mahdi dan Isa Al-Masih yang akan memerintah umat manusia dengan keadilan yang sempurna. Dalam agama Kristen, kepercayaan seperti itu juga muncul, yakni Yesus akan menjadi raja dalam Kingdom of God yang akan menegakkan keadilan yang sempurna kepada umat manusia.

Membubarkan agama

Menurut “wahyu” yang turun kepada Lia Eden, kekacauan dunia disebabkan oleh konflik-konflik yang muncul dalam umat beragama. Umat beragama dengan keimanan terhadap tuhannya masing-masing telah menyebabkan bumi penuh pertikaian, peperangan, dan ceceran darah. Karena itu, untuk menciptakan perdamaian di dunia, maka faktor penyebab kekacauan itu–yaitu agama–harus dibubarkan. Dalam konteks inilah, mengapa Lia Eden mengirimkan surat-surat yang berisi deklarasi penghapusan agama-agama di dunia. Dalam kaitan ini, agama Islam dituduh sebagai “biang kerok” dari munculnya kekerasan dan terorisme di dunia saat ini. Karena itu, wahyu tentang penghapusan agama pertama-tama ditujukan kepada agama Islam. Setelah itu, agama-agama lain juga harus dihapuskan karena, bagaimanapun, agama adalah faktor pemicu konflik dan kekerasan di tengah kehidupan manusia.

Jamaah Lia Eden sendiri telah lama diperintahkan keluar dari “agama-agama” formal, seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, dan Buddha. Mereka memilih “Bertuhan tanpa agama”. Dengan cara demikian, manusia bisa dipersatukan tanpa hambatan perbedaan label keimanan; tanpa hambatan perbedaan label agama yang sering menimbulkan kekacauan dan peperangan.

Bertuhan tanpa agama sebetulnya sudah lama menjadi fenomena keberagamaan modern. Kaum perenialis–yang juga menjadi klaim diri dari Komunitas Eden–telah lama melakukan pendekatan keagamaan seperti itu. Meski demikian, ada perbedaan yang menonjol antara fenomena perenialisme modern dan perenialisme Komunitas Eden.

Kaum perenialis modern merefleksikan keimanannya terhadap Tuhan (yang tak bernama ) dengan memperbesar cinta kemanusiaan (humanisme), menegakkan demokrasi, dan memperjuangkan tegaknya HAM. Kaum perenialis modern adalah orang-orang yang bekerja keras dengan mengedepankan profesionalisme untuk mempertinggi kualitas hidup manusia. Bagi kaum perenialis modern, bekerja untuk mewujudkan cita-cita (tegaknya humanisme, demokrasi, dan HAM) adalah sebuah keniscayaan dalam membentuk dunia baru yang damai dan sejahtera. Tanpa adanya kemakmuran ekonomi, intelektualitas, dan kedewasaan kultural, perenialisme modern tidak akan berkembang. Dengan demikian, demokrasi dan HAM merupakan tujuan utama gerakan perenialisme. Karena itu, jika pun akan lahir agama baru dari rahim perenialisme modern, agama baru itu niscaya akan mengusung demokrasi dan HAM sebagai basis keimanannya. Lebih jauh lagi, seperti ditulis Neale Donald Walsch dalam bukunya yang inspiratif, Conversation with God, agama baru di masa datang haruslah agama yang mengedepankan prinsip-prinsip keimanan untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Karena itu, basis keimanan agama masa depan adalah kesadaran manusia terhadap pentingnya penegakan demokrasi, HAM, dan perbaikan lingkungan hidup.

Ini berbeda dengan Komunitas Eden. Di satu sisi, mereka memperjuangkan perenialisme–bahkan secara ekstrem mendeklarasikan pembubaran agama demi tegaknya perenialisme–tapi di sisi lain mereka mendeklarasikan kehadiran Kingdom of God, dengan pemimpinnya “Bunda Maharaja Lia Eden” yang setiap kata-katanya harus ditaati tanpa reserve. Dalam Kingdom of God, prinsip-prinsip demokrasi dan HAM justru dienyahkan. Titah Maharaja Lia Eden sebagai “personifikasi Jibril”, yang merupakan “tangan kanan” Tuhan, tak bisa diganggu gugat. Mereka, para pengikut Kingdom of God, hanya tahu satu kata: sami’na wa ato’na (kami dengar dan kami taat) apa yang diperintahkan oleh Sang Raja, betapapun perintah itu tidak rasional, tidak demokratis, dan tidak humanis. Itulah anomali perenialisme Komunitas Eden: gagal merespons dan memberikan perspektif agama masa depan. Kegagalan ini terjadi karena perenialisme yang diusung Komunitas Eden melawan arus peradaban manusia saat ini.

Kita tahu, sejarah kemunculan agama-agama baru di dunia selalu memperbaiki kondisi-kondisi agama yang ada sebelumnya dengan fokus memberikan “penghargaan” terhadap manusia yang makin rasional, dewasa, dan mempercayai kedaulatan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, apa yang dilakukan Komunitas Eden? Mereka lebih mempercayai ramalan-ramalan masa depan, menghidupkan kultus, dan puncaknya meyakini kedatangan Sang Mesiah yang mempunyai otoritas tunggal dalam menyelamatkan bumi dan mengatur kehidupan manusia. Dan Sang Mesiah itu, menurut Komunitas Eden, kini sudah hadir dalam sosok Lia Aminudin.

Dari perspektif inilah kita bisa memahami pertanyaan Danarto di atas. Siapakah sosok yang mengaku Jibril itu jika dia bertindak anomalis terhadap perkembangan dan arus peradaban manusia modern? Bukankah kehadiran Jibril pada masa-masa lalu selalu tepat merespons perkembangan zaman dengan menghadirkan agama-agama yang membebaskan manusia dari kejumudan dan kultus individu? Jibril, dalam Kingdom of God, sayangnya, justru datang dengan isu-isu yang sebaliknya: mengenyahkan demokrasi dan menghidupkan kultus. Sebuah isu yang tidak akan laku dalam komunitas manusia modern saat ini. *

*Mantan pengikut Komunitas Eden

SUMBER : KORAN TEMPO

Iklan

17 Komentar

Filed under Agama, Demokrasi, Islam, Opini, Pluralisme

17 responses to “LIA EDEN dan Masa Depan Agama

  1. zuriatul

    Agama dapat lahir dari kebutuhan yang kemudian melahirkan kepercayaan. Kelahiran agama Lia, dapat dilihat dari dua sisi, kebutuhan Lia, dan kebutuhan pengikutnya. Apa sesungguhnya yang diharapkan Lia dari deklarasinya? tentu kita tidak dapat mereka secara tepat, tetapi setidaknya meninjaunya dari ajaran dan perintah yang dilahirkannya. Dari sisi pengikut, lihatlah alasan pengikut mengikutinya. dari alur psikologi, kita dapat menggunakan teori sugestibelitas. Dari pengamatan kedua sisi ini peneliti akan mampu memprediksi kelanjutan agama ini. Jika terdapat kesesuaian masyarakat dengan ajaran agama, agama diprediksi akan berkembang pesat. Namun sebaliknya jika agama itu dikafiri masyarakat, sulit agama tsb untuk berkembang.
    Agama-agama yang muncul, baik menggunakan lebel lama atau dengan berani membuat lebel baru, pada dasarnya lahir dari ketidakpuasan terhadap agama yang sudah ada.
    Oleh karena itu ke depan dapat dilihat semakin banyaknya sekte agama bahkan agama baru yang akan lahir.
    Agama Lia mungkin dipandang tidak rasional oleh banyak orang, tetapi jika pengikutnya mendapatkan kepuasan dari agama ini, tidak mustahil agama ini akan terus berkembang, meskipun pemimpinnya dipenjara.

    • Muh. Luthfi, SH

      Agama itu datrangnya dari langit, berupa wahyu kepada kekasihnya yang dipilih ALLAH SWT… Nabi Muhammad SAW adalah pembawa risalah agama yg terakhir, cukup jelas tersirat dan tersurat dalam ayat Al Quran…. jd LIA EDEN jgn ngarang2 lah, segera bertobat kembali ke ajaran yang Hak dan bersumber dari Allah SWT dan bukan dari JIN DAN SYETAN….

      Ingat siksa Allah SWT sangat pedih.

  2. TEGOR

    Masalah munculnya agama baru tersebut ketika agama yang diturunkan Tuhan sudah sempurna sehingga selalu dapat diukur benar salahnya ajaran yang muncul mengeklaim sebgai agama baru penyempurna tersebut,Alhamdulillah ajaran Nabi Muhammad saw yang memang sudaah sempurna ini mampu menunjukkan kesempurnaannya,
    Sebenarnya ajaran Islam ini sudah menjadi agama terakhir sempurna menjaddi tolok ukur agama modern yng dapat di jadikan wadah akhir tempat berkumpulnya semua agama, hanya karen mnusianya yang memang tidak bisa bersatu berdasar egoisme pribadi kelompok golongan,kemudian bermunculan ketidak puasan penganut agama yng pada ujungnya mendirikan agama agama baru,
    Apa si kurangnya agama ajaran agama yang dibawa Nabi Muhmmad saw ini sehingga perlu agama lain lagi ?????Alyauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu alaikum ni’mati warodhitu lakumul islama dina,
    Maha Benar Allh dengan segala firmannya,

  3. zuriatul

    Menurut konsep nash, Islam (Muhammadism) telah sempurna, karena wafatnya sipembawa(Muhammad saw)menyebabkan tuntasnya ajaran agama, inilah yang harus dipahami Mas Tegor. Namun kemudian orang yang mengaku penganut Islam itu merasa tidak cukup dengan Muhammadism. Menurut mereka banyak yang harus ditambahkan ke dalam agama ini, maka dikemukakanlah beragam tambahan terhadap Islam itu. Saat ini mayoritas penganut Islam meyakini bahwa Islam itu tidak cukup hanya Al-Quran dan Hadis, tetapi ia juga wajib ditambah dengan teologi, fikih, tafsir, akhlak, tasawuf, dsb. Oleh karena itu, Islam yang dianut mayoritas muslim saat ini bukanlah Islamnya Muhammad saw(Muhammadism), tetapi Islam yang beragam namun mereka tidak berani menyebutnya sebagai agama baru. Alasannya mungkin sederhana karena mereka percaya dengan pandangan yang mereka terima bahwa agama yang dianut musti Islam, namun mereka tidak berkenan mengkaji Islam.
    Sebagai contoh; Islam Muhammadiyah dan Islam NU adalah dua agama yang berbeda. Perbedaan kedua agama ini sangat mendasar, yaitu perbedaan kepercayaan terhadap Al-Quran, kepercayaan yang menyebabkan kepercayaan terhadap hal lain (Tuhan, malaikat, rasul, akhirat,takdir) juga akan berbeda. Muhammadiyah pada masa awal menyakini Al-Quran sebagai dasar penetapan hukum Islam, sementara NU semenjak dahulu hingga sekarang menjadikan Mazhab sebagai dasar penetapan hukum sementara Al-Quran dan Hadis adalah dasar bagi ulama Mazhab. Oleh karena itu implementasi kedua agama ini berbeda, dan suatu yang wajar ketika orang NU melarang anak-anaknya menikah dengan orang Muhammadiyah, beda agama gitu loh. Meskipun ini tidak kita temui pada warga Muhammadiyah dan NU yang tidak fanatik, sebagaimana halnya kita lihat banyak wanita orang Islam yang menikah dengan orang Kristen, Katholik, Budha, dll.

  4. Arif

    Zuriatul..zuriatul..

    Terutama untuk poin 3, omongan anda sangalah ngelantur..Khas orang sipilis. Belajar lagi mas, biar tidak bikin malu dan menyesatkan.

  5. Makasih Mas Arif, hanya perlu dijelaskan point 3 itu apa. Semoga tidak menyesatkan anda. Jika kita kembali kepada dasar setiap agama, terlihat bahwa setiap agama didasari kepercayaan (iman). Kepercayaanlah yang membedakan agama-agama itu, demikian pula lahirnya sekte-sekte dalam agama itu. Kesimpulan sederhana akan kita peroleh jika coba menganalisa latarbelakang lahirnya NU. Jika para pendiri NU memiliki kepercayaan yang sama dengan kepercayaan Muhammadiyah tentang Al-Quran dan Hadis, NU tidak akan lahir. Kepercayaan Muhammadiyah bahwa QH harus diterima secara langsung sebagai hukum tidak dipercayai kalangan NU. NU mempercayai pemahaman ulama mazhab terhadap QH, oleh karena itu mengikuti mazhab adalah kewajiban. Inilah kepercayaan dasar yang membedakan mereka, meskipun mereka sama-sama menyatakan Al-Quran sebagai sumber utama hukum Islam.
    Jika ditelaah agama Islam secara keseluruhan, Umat Islam terbagi dua: Islam yang menjadikan QH sebagai agama, dan Islam yang menjadikan pemahaman terhadap QH sebagai agama. Saya memasukkan diri pada kelompok pertama, Mas Arif milih kelompok mana.

  6. HASAN

    Zuriatul Sok Tahu

    jangan dikira komentarnya bermutu lantaran belum ada yang melawan.

    teori-teori anda sudah keliru dari awal:
    anda berkata: “Jika terdapat kesesuaian masyarakat dengan ajaran agama, agama diprediksi akan berkembang pesat. Namun sebaliknya jika agama itu dikafiri masyarakat, sulit agama tsb untuk berkembang”
    teori ini OMONG KOSONG TERBESAR YANG PERNAH SAYA DENGAR!!

    mungkin semua manusia di muka BUmi ini mengetahui dengan jamak bahwa ketika muncul, semua agama yang ada sekarang DIKAFIRI oleh masyarakat. Pertanyaannya: kok bisa agama Islam, nasrani, budha, Hindu bisa merambah semua benua padahal DIKAFIRI MASYARAKAT????? anda mungkin buta dengan data penyebaran agama?!

    bersambung

  7. HASAN

    anda menulis :”Saat ini mayoritas penganut Islam meyakini bahwa Islam itu tidak cukup hanya Al-Quran dan Hadis, tetapi ia juga wajib ditambah dengan teologi, fikih, tafsir, akhlak, tasawuf, dsb”

    ini kalimat aneh ,ga ilmiah, ga tsansparan dan membingungkan.

    mengenai hal-hal yang anda sebut TAMBAHAN itu sudah ada sejak Rasulullah masih ada walaupun mungkin istilahnya berbeda.
    Diambil dari Ensiklopedia Islam, secara bahasa, fikih berarti paham, yang dalam arti pengertian atau pemahaman yang mendalam yang menghendaki pengerahan potensi akal. Para ulama usul fikih mendefinisikan fikih sebagai mengetahui hukum2 islam (syarak atau syar’i) yang bersifat amali (amalan) melalui dalil-dalilnya yang terperinci. Sedangkan ulama fikih mendefinisikan fikih sebagai sekumpulan hukum amaliah (yang sifatnya akan diamalkan) yang disyariatkan dalam Islam. jadi jika ibnu mas’ud melakukan shalat sesuai dengan shalatnya rasulullah kemudian dia mengajarkan kepada orang yang blom paham maka ini secara hakikat masuk ke dalam fikih.

    tentang akhlak perhatikan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad berikut ini: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia (makaarima ‘l-Akhlaaq).”akhlaq-nya menggunakan Alif-lam yang sama dengan ‘the’ dalam bahasa Inggeris, jadi sudah spesifik apa yang dimaksud dengan Al-Akhlaaq disitu, dan tentunya bukanlah semata-mata etika, sopansantun atau moral. Ibunda ‘Aisyah ra menerangkan: “Adalah akhlaq beliau (RasululLaah SAW) itu Al-Qur’an.” Al-Qur’an telah menegaskan pula bahwa:”Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlaq mulia (khuluqin ‘adhiim).” (QS. Al-Qolam:4). Dari hadits-hadits dan ayat diatas dapat dipahami bahwa Al-Akhlaaq, sebagaimana Islam itu sendiri, bersifat menyeluruh dan universal. Ia merupakan tata nilai yang memang diset-up oleh Al-Khaliq bagi manusia untuk kemudahannya dan kesejahteraannya dalam menjalankan missi kekhalifahannya dimuka bumi ini. Ia merupakan tata nilai yang selalu selaras dengan fitrah kemanusiaannya dan sudah pasti sinkron/nyambung dengan Al-Qur’an dan Sunnah RasuluLaah SAW. jadi akhlak itu bukan tambahan, mas. anda NGAWUR dalam hal ini.

    bersambung..

    • mas Hasan, jika anda punya tulisan yang agak panjang saya sarankan anda untuk menulisnya dalam bentuk artikel dan saya hendak memuatnya seperti artikel-2 pada umumnya. Mohn permakluman suapaya kolom komentar tidak terlalu panjang-panjang. Terima kasih.

  8. HASAN

    mengenai tafsir para shahabat juga adalah ahli tafsir bahkan ada diantaranya yang sangat mumpuni seperti Ibu Abbas.. anda NGAWUR LAGI NEY

    SEMENTARA ITU AJA DULU..
    UNTUK DIKETAHUI TULISAN ANDA SEMUANYA KELIRU JADI SAYA HARUS ONLINE DILAIN WAKTU UNTUK MENGOMENTARI TULISAN GA BERMUTU NAMUN MENYESATKAN INI.

  9. Ma kasih Mas Hasan.
    Banyak riwayat yang menyatakan bagaimana Rasul toleransi terhadap berbagai pemahaman shahabat dalam berbagai masalah pelaksanaan ibadah. Namun dapatkah hal ini disimpulkan sebagai teologi, fikih, dll. yang ada pada masa sekarang. Ada ayat yang ditafsirkan, manakah yang yang benar, ayat atau tafsirnya?.
    Mungkin banyak orang yang tidak menyadari bahwa ketika ia mengagungkan yang satu, sesungguhnya ia telah mengabaikan yang lain.
    Mas Hasan, cermatilah Surat Ali’Imran ayat 7. semoga Allah senantiasa menunjuki kita.

  10. HASAN

    pernyataan anda tetap tidap dapat menutupi kesalahan kalimat anda sbb:
    ” Saat ini mayoritas penganut Islam meyakini bahwa Islam itu tidak cukup hanya Al-Quran dan Hadis, tetapi ia juga wajib ditambah dengan teologi, fikih, tafsir, akhlak, tasawuf, dsb”

    berarti dari kalimat tsb anda berkesimpulan bahwa teologi, fikih, tafsir, akhlak, tasawuf, dsb adalah TAMBAHAN dari generasi sekarang.. ini bulshit menurut saya dan tidak layak untuk diputer2 lagi karena memang kalimatnya salah. kalo jantan antum minta maaf aja di forum ini.

    sekali lagi yang saya kritisi pertama kali adalah BUKAN TAFSIR MANA ATO FIQH MANA YANG BENER tetapi apakah teologi, fikih, tafsir, akhlak, tasawuf, dsb adalah TAMBAHAN dari generasi sekarang ato bukan…

  11. HASAN

    Ali’Imran ayat 7 tentang ayat mutsabihat justru membuka kedok liberal. jadi apa yang mau dibahas?

  12. HASAN

    zuriatul ngelantur..mungkin lagi mabok..
    sapa yang sedang membahas ikhtilaf???

  13. Mas Hasan terima kasih, mungkin saya memang ngelantur.
    Nmaun jika penbicaraan mau klop, anda juga harus ngerti benar, yang anda maksud agama itu apa sih. Jika anda mengatakan agama Islam, apa yang anda maksud dengan agama Islam, apalagi anda tambah dengan “agama Islam itu sudah sempurna” apa yang anda maksud sempurna?. apa anda sepakat dg paham liberal yang mengatakan “Al-Quran itu sempurna, karena konsepnya yang qath’i yaitu keadilan, yang lain dzanni karena itu perlu ditafsirkan.
    Itu semua hak anda.
    Saya sendiri tidak tahu apakah Tuhan itu bodoh sehingga firmannya kabur, dan para mufassir jauh lebih pinter dari Tuhan sehingga ia mampu menjelas apa yang dimaksud Tuhan, sementara Tuhan tidak mampu menjelaskannya.
    Silahkan baca surat Fussilat.
    Salam, makasih mas Hasan.

  14. HASAN

    zuriatul memang tukang ngelantur.
    saya ga membeahas iktilaf termasuk istilah anda tentang agama. terserah mau agama itu nama kue ato apa lah terserah.

    yang saya kritik adalah kalimat anda yang menyatakan bahwa teologi, fikih, tafsir, akhlak, tasawuf, dsb adalah TAMBAHAN GENERASI SETELAH ROSUL MUHAMMAD.

    ilmu liberal anda ga usah dikeluarkan semua. ga penting…

  15. Mas Hasan, jika percaya bahwa Islam itu agama wahyu, perlu mengerti apa wahyu itu. Untuk memahami istilah wahyu, perlu mengerti istilah yang menjadi lawan kata wahyu itu, yaitu budaya. Oleh karena itu ada istilah agama wahyu dan agama budaya. Jika sudah dapat memahami apa itu wahyu dan budaya barulah kita dapat melihat Tafsirul Quran, Fiqh, Ilmu Kalam, Tasawuf, dsb.
    Shahabat hidup bersama Rasulullah saw, mereka memahami Al-Quran langsung dari Rasulullah saw, maka merekapun melakukan memahami ayat bil ayat was sunnah.
    Sebagai contoh:
    Ulama mengonsep ahkamul khamsah yang tidak ada dasar jelasnya dari nash, kelihatannya benar. Tapi apa akibatnya? Mungkin mas Hasan termasuk orang yang paham arti hukum sunat sehingga mas Hasan adalah orang yang rajin mengerjakan shalat sunat, puasa sunat, zakat sunat, dan perbuatan-perbuatan sunat lainnya. Namun saya mengamati sebagian besar pengaku Islam yang iman dengan ulama ahkamul khamsah tidak suka mengerjakannya karena pengertian sunat adalah berpahala jika mengerjakannya dan tidak berdosa jika tidak mengerjakannya.
    Demikian pula ketika mereka membuat syarat syahnya shalat, yaitu menutup aurat yg tidak ada dasar hadisnya (maaf,mungkin saya yg tidak menemukan, jika mas tahu mohon diralat),kelihatannya benar, tapi apa akibatnya, saya melihat mayoritas orang yg mengaku Islam (maaf, ini mungkin hanya di lingkungan saya saja) iman dengan ulama ini, sehingga ia menutup auratnya ketika mau dan sedang shalat, dan setelah shalat auratnya mereka buka lagi.

    Makasih mas Hasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s