What Next Palestina?, Belajar Sampai Ke Negeri Cina


gaza_swimming_pool-by-latuffSejarah ribuan tahun akan menunjukkan masalah Palestina adalah masalah ruwet yang memusingkan kepala. Baik bangsa Israel maupun bangsa Palestina memang sama-sama pernah berdiam di situ. Klaim kedua bangsa ini akan sama-sama benar.

Pada bulan Maret 2004 sekelompok aktivis Cina mendarat di pulau Senkaku/Diaoyu yang disengketakan Jepang, Cina dan Taiwan. Pulau ini diperkirakan kaya akan minyak dan ketiga negara ini sangat membutuhkan minyak. Penjaga pantai Jepang menangkap kelompok aktivis, tapi kemudian memulangkannya ke Cina. Dan … sampai sekarang mereka tak pernah – bahkan tak ingin – berperang.

Ternyata Palestina dan Israel tidak sendirian dalam mempermasalahkan wilayah. Sampai saat ini pun Jepang, Cina termasuk Taiwan mempermasalah kepemilikan pulau Senkaku/ Diaoyu.

Cina (dan Taiwan) merasa memiliki pulau itu dengan merujuk pada dokumen Dinasti Ming (1368-1644) termasuk dokumen pertahanan laut dinasti Ming dan dinasti Qing (1644-1911). Sementara Jepang menganggapnya sebagai pulau tak bertuan. Dan kemudian warga Jepang terbukti telah membangun pulau itu.

Tentu masalah ini juga tidak mudah diselesaikan. Selain menyangkut kepentingan ekonomi, hal ini juga menyangkut harga diri bangsa. Jepang dan Cina sudah layak berperang, tapi mereka tak mau melakukannya.

* * *

Begitu juga masalah tanah Palestina. Semua ini adalah masalah geografis, perebutan wilayah dari dua bangsa yang sama-sama pernah menduduki wilayah tersebut. Adapun masalah agama adalah sekedar bahan bakar untuk melakukan pembenaran terhadap pihak sendiri. Jika Israel didirikan di Afrika Selatan atau di Jerman, tentu saja tidak akan ada masalah konflik agama antara Islam dengan Yahudi.

Sejarah ribuan tahun akan menunjukkan masalah Palestina adalah masalah ruwet yang memusingkan kepala. Baik bangsa Israel maupun bangsa Palestina memang sama-sama pernah berdiam di situ. Klaim kedua bangsa ini akan sama-sama benar.

Masalah utama adalah karakter bangsa yang berdiam di wilayah ini. Konon kabarnya Tuhan menurunkan banyak Nabi di Timur Tengah, karena kehidupan di sana selalu penuh kekacauan. Saya pikir Tuhan memang benar. Karakter darah tinggi tiap bangsa di sana memang gampang menyulut perang. Perang memang ada di mana-mana, tapi yang pasti selalu ada di Timur Tengah.

Perang Palestina – Israel terbukti tak pernah bisa menyelesaikan masalah. Bagi Palestina yang lebih lemah, rakyat akan menderita karena dibombardir siang malam. Bagi Israel yang lebih kuat, kemenangan saat ini adalah tabungan untuk mendapat perlawanan lebih dahsyat di masa depan. Orang tua yang kehilangan anaknya akan menginginkan balas dendam. Dan – ini yang paling fatal – anak-anak yang dibombardir siang malam ini kemungkinan besar hanya memikirkan satu hal: bergabung dengan Hamas dan balas dendam!

* * *

Mengapa Cina dan Jepang tak mau berperang? Itu karena pemimpin kedua mengedepankan pembangunan negara daripada berperang. Sikap bijak itu terutama datang dari Cina. Tahun 1985, pemimpin Cina ketika itu, Deng Xiaoping mengatakan: “Pertanyaan mengenai (status) pulau Diaoyu dapat kita kesampingkan untuk sementara; mungkin generasi mendatang akan lebih cerdas dari kita dan akan menemukan solusi praktis”. Lihatlah betapa pragmatisnya Kamerad Deng!

Tanpa kepemilikan pulau tersebut, bangsa Jepang tetap bisa hidup, begitu pula bangsa Cina dan Taiwan. Di mata pemimpin ketiga negara itu, perang bukanlah pilihan yang terbaik. Perang hanya memastikan satu hal: kesengsaraan rakyat.

Palestina memang bukan Senkaku/Diaoyu. Tapi solusi rasional pragmatis ala Kamerad Deng yang menghasilkan kebaikan bagi semua pihak bukan tidak bisa dilakukan.

Bangsa Palestina memang harus mengalah. Inisiatif damai harus datang dari bangsa Palestina. Bangsa Palestina harus menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan. Ada 2 (dua) hal utama yang dapat menjadi modal bangsa Palestina untuk memulai hidup baru, yaitu: (1) Keberadaan Otoritas Palestina, (2) Dalam globalisasi batas wilayah adalah semu.

Walaupun tidak memadai dan ideal, bangsa Palestina sebenarnya bisa bersandar pada Kesepakatan Oslo yang menghasilkan Otoritas Palestina. Bangsa Palestina sebenarnya sudah memiliki wilayah, pemerintahan sendiri, sudah bisa memilih wakil rakyat. Semua ini jika ditambah dengan suasana damai dan tentram, maka secara perlahan akan menghasilkan negara yang benar-benar Negara.

Otoritas Palestina memang bukan negara sungguhan, namun bangsa Palestina tetap bisa hidup layak dengan landasan ini. Taiwan bukanlah negara. Cina menganggap Taiwan bagian dari Cina. Tapi Taiwan memiliki wilayah, memiliki pemerintahan sendiri, maka Taiwan tetap bisa bergerak mensejahterakan rakyatnya.

Di jaman ini batas negara adalah semu. Pekerjaan sudah bisa dilakukan di mana-mana, tidak tergantung batas negara. Orang India bisa mengambil pekerjaan di Amerika, orang Jepang bisa membangun pabrik di Cina. Yang terpenting semua negara meningkatkan kapasitas penduduknya sehingga bisa berkiprah di mana saja. Singapura hanya mempunyai secuil wilayah, tapi gerak rakyat Singapura bisa ada di seluruh dunia.

Dengan modal otoritas Palestina ini dan fenomena globalisasi, bangsa Palestina bisa menjadi semacam Taiwan ataupun semacam Singapura.

Akhirnya, solusi Palestina memang mudah kita pikirkan di negara relatif damai seperti Indonesia. Apakah bangsa Palestina yang sehari-hari melihat kekerasan, desingan peluru, hantaman rudal, darah dan air mata bisa memikirkan alternatif ini?

Iklan

5 Komentar

Filed under Agama, Islam, Kliping, Opini, Pluralisme, Sosial

5 responses to “What Next Palestina?, Belajar Sampai Ke Negeri Cina

  1. bukanya jepang ga mau berperang tapi dia takut ama china. kalo ga takut mungkin dah kaya dulu lagi dijajahnya daratan china.

  2. SALMAN

    ANALISIS INI JAUH DARI FAKTA DAN AKAR MASALAH.

    Menganalisis masalah politik (seperti pada artikel diatas), setidaknya memerlukan beberapa keahlian, minimal : (1)penguasaan fakta, bukan hanya menguasai kaidah asumsi, silogisme dan analogisme, dan (2) objektivitas

    saya ingin mengkritisi tulisan tersebut dari dua segi tersebut. ada beberapa kalimat janggal yang saya simpulkan hanyalah asumsi (bukan fakta politik) yang disajikan, diantaranya :
    a. artikel tsb menulis :”Begitu juga masalah tanah Palestina. Semua ini adalah masalah geografis, perebutan wilayah dari dua bangsa yang sama-sama pernah menduduki wilayah tersebut” pernyataan tsb tidak ada faktanya sama sekali karena pada faktanya, palestina adalah suatu wilayah yang dicaplok oleh pendatang (Israel) dengan rekomendasi PBB dan presiden AS yang pada saat itu Mr. Thruman. sekali lagi bukan perebutan wilayah seperti yang diklaim dalam artikel tersebut.
    b. kelanjutan dari kalimat tersebut adalah :”Adapun masalah agama adalah sekedar bahan bakar untuk melakukan pembenaran terhadap pihak sendiri”. justru kalimat tersebut sangat konyol menurut saya. karena yang menjadi background Israel ngotot memilih palestina adalah karena kitab suci mereka mengatakan palestina (yerusalem) adalah tanah yang dijanjikan. obsesi mereka menguasai palestina justru memiliki background agama. coba deh l;ebih tajam lagi faktanya!!. dan semangat israel membantai warga palestina (anda hitung sendiri aja jumlah korbanya) justru karena pemahaman aqidah mereka yang menyatakan bahwa yahudilah bangsa terbaik dan bangsa selain itu (termasuk palestina) adalah sama dengan binatang (silahkan cek di literatur agama mereka).
    c. pada artikel tersebut tertulis :”Mengapa Cina dan Jepang tak mau berperang? Itu karena pemimpin kedua mengedepankan pembangunan negara daripada berperang”. justru kalimat ini sekali lagi hanyalah asumsi. faktanya adalah bahwa mereka tidak berperang karena : 1. mereka tidak terancam dari segi kesempatan hidup!!. hal tersebut beda dengan palestina. bagaimana mungkin warga palestina perpendapat seperti kedua negara tersebut sementara pesawat tempur israel mengintai setiap saat? (cuplikan pembantaiannya boleh anda lihat di situs-situs berita nasional maupun internasional. 2. mereka tidak berperang karena pertimbangan ekonomis, bukan dari segi ideologi murni. mana yang menguntungkan itulah yang mereka ambil..

    bersambung…

  3. SALMAN

    d. artikel tersebut :”Bangsa Palestina memang harus mengalah. Inisiatif damai harus datang dari bangsa Palestina. Bangsa Palestina harus menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan.” sekali lagi ini konyol!. tampaknya penulis kurang paham tentang masalah yang dia tulis. Semua pihak di dunia, paham bahwa yang dilakukan oleh warga palestina adalah “perlawanan” bahkan HAMAS dll dimasukan kategori kelompok perlawanan oleh dunia internasional. karena mereka memang pihak yang diserang. dan inisiator serangan adalah Israel. saya tidak bisa membayangkan jika ada seorang perampok yang masuk rumah anda, kemudian anda menawarkan damai. tetapi inti argumentasinya bukan itu, dari segi fakta apakah menurut anda palestina tidak ingin hidup damai?????. siapa pun yang pikirannya masih waras, pasti berkesimpulan bahwa semua manusia ingin hidup aman dan tenang termasuk warga palestina. namun apakah israel memahami hal tersebit? bukankah pada serangan terbesar terakhir (start tgl 27 des 08) seruan damai datang dari semua negara bahkan PBB?. namun apakah Israel mendengarkan????. apakah anda sulit memahami fakta ini?

    e. artikel :”Ada 2 (dua) hal utama yang dapat menjadi modal bangsa Palestina untuk memulai hidup baru, yaitu: (1) Keberadaan Otoritas Palestina, …..
    modal tersebut sudah ada!! HAMAS menang Pemilu terakhir lebih dari 60% dari total suara. namun apa yang terjadi? mereka tidak diakui walaupun sudah memakai kaidah pemilihan “demokratis” bahkan mereka diboikot dan diembargo (jangan mengatakan kalau anda tidak mendengar hal tersebut). seakan-akan mereka (HAMAS dan penduduk palestina) dibiarkan mati perlahan dengan embargo tersebut. dengan demikian patut dipertanyakan apakah keberadaan otoritas palestina menjamin masalah akan selesai?.
    pada titik inilah anda harus jeli melihat akar masalahnya, sehingga solusi tuntas dan konkret bisa dilaksanakan…

    bersambung…

    tampaknya penulis kurang paham tentang masalah yang dia

  4. SALMAN

    f. opsi kedua menurut artikel :”2) Dalam globalisasi batas wilayah adalah semu.”
    pertanyaannya adalah : siapa yang akan menjadi negara superior dan mana yang menjadi persemakmuran?. saya lebih setuju jika justru pendapat ini semakin menguatkan argumentasi bahwa keberadaan negara global yang akan menyatukan tidak hanya Palestina ke dalam satu wilayah namun negeri-negeri muslim yang juga tertindas semacam kasmir, pakistan, pattani (thailand), moro, adalah keniscayaan!! bukankah “Dalam globalisasi, batas wilayah adalah semu.”?????

    bersambung…

  5. SALMAN

    Penutup
    saya sungguh memahami mengapa artikel “konyol” seperti ini bisa muncul. kegagalan kaum muslimin dalam menganalisis masalah dengan epistemologi yang benar menyebabkan hal tersebut terjadi. semua analisis, argumentasi, kesimpulan yang ada dalam artikel tersebut dibangun dari kaidah “sinkretisme dan objektivitas semu”

    sang penulis ingin berperan sebagai orang “netral” namun sayang justru kaidah berfikirnya mengadopsi kaidah berfikir kapitalis-sekuler dimana justru pihak tersebutlah yang menjadi biang kerok dari isi artikel yang dia tulis (bukankah negara yang mem-Veto resolusi Damai dan “gencatan senjata dari PBB untuk agresi Israel ke Gaza adalah Amerika Serikat?)

    pada kalimat pembuka :
    “Sejarah ribuan tahun akan menunjukkan masalah Palestina adalah masalah ruwet yang memusingkan kepala. Baik bangsa Israel maupun bangsa Palestina memang sama-sama pernah berdiam di situ. Klaim kedua bangsa ini akan sama-sama benar.”

    ini adalah kalimat khas dari disorientasi penulis untuk menentukan dia akan memulai dari mana. bahka posisinya sebagai muslim (muslim ya?) tidak dipakai dalam analisis. saya bukan membawa nama agama dalam permasalahan politik (hal yang dibenci oleh kaum liberal dan pembebek liberal), namun cuma mengingatkan tentang keshahihan referensi dalam menganalisis harus dikaji terlebih dahulu.

    semua muslim pastinya sepakat bahwa perselisihan dalam masalah agama (Palestina adalah masalah aqidah, jihad, ukhuwah islam, imamah, daulah, dll.) harus dikembalikan ke allah dan Rasul-Nya
    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berselisih tentang suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir; yang demikian itu lebih utama dan lebih baik kesudahannya�?. [Q.S. 4:59]

    kecuali jika penulis bukan termasuk orang yang beriman ……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s