Iman yang Kuat dalam Nalar yang Sehat


Perjalanan sejarah keberketuhanan manusia pada galibnya melangkah menuju titik yang sama: pembebasan masalah ketuhanan dari mitologi. Sejak pertama kelahirannya di Yunani, filsafat mengawali jalan kebertuhanannya lewat upaya pembebasan manusia dari mitologi dengan berusaha mencari phusis (asas segala sesuatu). Walau untuk itu ia harus menentang keyakinan tradisional para leluhurnya.

Di belahan dunia Timur, India misalnya, agama pun menjelaskan dirinya dalam filsafat yang mempertanyakan dasar segala sesuatu. Di dunia Islam para Nabi mengawali penghancuran berhala. Maka perbincangan masalah ketuhanan mengarah ke persoalan metafisika. Manusia mulai mengembangkan pemikiran kritisnya dengan memasukkan masalah ketuhanan ke dalam masalah metafisika, atas dasar suatu telaah ontologis tertentu, Tuhan selanjutnya menjadi obyek kajian keilmuan.

Bahkan, filsafat ketuhanan pun kemudian menjadi bagian yang penting dalam diskursus keilmuan. Di mana di dalamnya manusia punya dua kegelisahan: pertama, mereka tidak mau lagi meyakini kebertuhanannya hanya atas dasar warisan keyakinan atau tradisi leluhurnya; dan kedua, manusia harus bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan kepada Tuhannya secara rasional.

Bergeser ke Ateisme

Namun, seiring perkembangan peradaban, pemikiran manusia dan filsafat, terutama sejak terjadinya pergeseran pemikiran dari teosentrime ke antroposentrisme, manusia tak lagi menjadikan Tuhan sebagai obyek pemikiran. Manusia lebih suka memikirkan manusia dan pengetahuannya, bahasa manusia, masyarakat dan budayanya daripada memikirkan Tuhannya.

Tren pemikiran semacam ini berkembang hingga ke arah ateisme-rasional, setidak-tidaknya pasca-Hegel, filsafat ketuhanan mulai mengalami keterputusan. Para filosof, seperti Marx, Nietzsche, Feurbach, Freud, dan Sartre, mengikuti garis ateisme. Para filosof ateis abad ke-19-20 ini mengikuti keyakinan Wittgenstein bahwa kejujuran intelektual menuntut bahwa ”tentang apa yang tidak dapat diperkatakan, orang harus diam”.

Filsafat kaum ateis bertolak dari paradigma ilmu alam bahwa rasionalitas bukan lagi spekulasi filosofis tanpa pendekatan empiris. Oleh karena itu, bagi para filosof ateis pembahasan tentang Tuhan dianggap sebagai bukan obyek ilmu alam dan masalah ketuhanan berada di luar batas-batas wacana rasional.

Nalar percaya Tuhan

Pada dasarnya, menalar Tuhan atau menggapai pengetahuan tentang Tuhan lewat nalar adalah hasrat tertinggi setiap manusia (terutama para filosof dan teolog). Mereka memiliki satu obsesi: nalar diharuskan dapat mengikuti keimanan dan keyakinan hati, apa yang diyakini harus didasarkan pada tidak adanya pertentangan dengan nalar. Dengan demikian, keimanan manusia dapat melibatkan keseluruhan dan menjadikan akal budi juga beriman.

Hal ini sebagaimana perkembangan pemikiran di dunia Islam. Bagi para ilmuwan dan filosof Muslim, Tuhan dan diskursus pengkajian tentang-Nya adalah segala-galanya.

Fenomena perkembangan pemikiran di dunia Islam ini tentu saja berangkat dari prinsip tertinggi agama: iman kepada Tuhan. Perbedaan mendasar pandangan dunia ilahiah dengan dunia material terletak pada eksistensi keimanan ini.

Mengimankan nalar

Untuk mengimankan akal budi setidak-tidaknya sejarah filsafat ketuhanan mewariskan tiga jalan: ontologis, kosmologis dan teleologis. Sementara dari kalangan filosof Muslim menawarkan berbagai jalan—yang hingga kini terus berevolusi— mulai dari Tuhan sebagai sebab pertama (al-Kindi), Tuhan sebagai wujud niscaya (Ibn Sina), Tuhan sebagai cahaya (Sughrawardi), Tuhan sebagai wujud murni (Mulla Shadra).

Hingga dua metode mengenal Tuhan yang berkembang di kalangan sarjana Muslim Syiah, yaitu melalui khudhuri (presentasi): mengenal Tuhan dengan jalur hati dan batin tanpa perantara pemahaman konseptual dan tidak membutuhkan argumen rasional. Lalu khusuli (representasi): mengenal Tuhan melalui perantara konsep ketuhanan yang universal yang kemudian dikaitkan dengan pengetahuan khudhuri.

Sementara itu, Thomas Aquinas melalui teologi Kristen-nya menuturkan bahwa nalar atau rasio manusia dapat mengerti Tuhannya dengan jalan pembuktian via negasi, seperti Tuhan bukan manusia, Tuhan bukan alam, Tuhan bukan matahari, dan seterusnya.

A N Whitehead juga menawarkan metode yang menarik. Menurut Whitehead, meneliti konsep kefilsafatan tentang Tuhan adalah meneliti masalahnya secara organis dan integralis, yaitu melihat segala sesuatu secara tersusun, berproses dan tak terpisahkan dari keseluruhannya. Menurut Whitehead, studi tentang ketuhanan atau pemikiran metafisis justru dapat membantu mencapai pengetahuan tentang Tuhan sambil memperbaiki doktrin religiusitas (Leclerc, 1961).

Hal ini membuktikan bahwa keimanan terhadap Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Bahkan, pengkajian tentang ketuhanan justru sangat relevan dalam kondisi masyarakat seperti sekarang yang penuh dengan krisis moral, kepercayaan, dan semakin sesak dengan kekerasan.

Setidak-tidaknya ada dua jalan yang keberadaannya begitu penting dalam upaya mengimankan nalar atau akal budi: secara teologis dan filosofis. Secara teologis berarti memupuk keimanan terhadap Tuhan dengan dibuktikan lewat wahyu. Karena wahyu adalah sumber kebenaran suatu agama. Sementara secara filosofis dengan menunjukkan kebenaran keimanan pada Tuhan lewat penalaran. Dalam nalar yang sehat terdapat iman yang kuat.

* Mohammad Yasin, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina, Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta

Sumber :http://muhammad-yasin.blogspot.com/2009/03/iman-yang-kuat-dalam-nalar-yang-sehat.html

Iklan

1 Komentar

Filed under Opini

One response to “Iman yang Kuat dalam Nalar yang Sehat

  1. Iman yang dimaksud Mas Yasin kelihatannya adalah mengenal Tuhan, jadi bukan dalan pengertian umum yaitu kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu. Benarkah iman yang kuat berada di dalam nalar yang sehat, saya lebih sepakat “nalar yang sehat dapat memperkuat iman”. Banyak filosof dengan akal sehatnya kemudian cenderung atheis, sebaliknya banyak pula orang awam dapat mengenal Tuhan dengan nalar yang sakit. Karena, sebagaimana Mas Yasinn kemukakan ada beragam cara mengenal Tuhan, akal hanyalah satu cara yang dapat digunakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s