NILAI ILMU


NILAI ILMU
(Sebuah Refleksi Filosofis)
Oleh: Jamaluddin Rahmat

Satpam marah.”Apa-apaan saudara ini?” ia membentak. “Saudara ini telah menghina tuan rumah!”
“Menghina bagaimana!” jawab Nasruddin, “Saya telah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Yang di undang ke pesta ini adalah pakaian yang saya kenakan tadi, sehingga dia pulalah yang saya persilakan makan-minum, dan saya pulang…..”
Apa nilai dari cerita di atas atau bernilaikah cerita di atas? Ilmu yang membentuk moralitas atau moralitas yang membentuk ilmu? Sejauh mana keterkaitan ilmu dengan nilai atau seberapa penting nilai bagi ilmu?

Nilai-nilai itu…
Betapapun ia penting
Tapi kini ia menguap entah kemana,
menghilang entah dimana
Bertahan pada nilai itu susah
Ketika zaman menggerus nilai…

KEILMUAN seseorang mesti menjadi pemrakarsa perubahan dan reformasi bagi bangsanya.

Pada suatu hari Nasruddin Hoja-seorang sufi yang humoris-di undang untuk ikut pesta di kediaman seorang bangsawan. Dengan pakaian seadanya dan sederhana pergilah ia ke tempat pesta itu dilaksanakan ketika akan masuk ia langsung ditolak oleh satpam penjaga pesta dengan alasan: pakaian Nasruddin Hoja kurang sopan dan tak memenuhi syarat.

Maka pulanglah Nasruddin dan mengambil pakaian resmi. Ia nongol lagi ke pintu gerbang istana si bangsawan, dan dengan tersenyum satpam menyilahkan ia masuk untuk bergabung dalam pesta. Sesudah ia duduk dan disuguhi makanan dan minuman. Secara tiba-tiba Nasruddin mencopot semua pakaiannya sehingga yang tinggal hanya pakaian dalamnya saja. Lantas meletakkan pakaian yang dicopotnya itu ke dalam piring dan gelas minuman di mejanya.

Satpam marah.”Apa-apaan saudara ini?” ia membentak. “Saudara ini telah menghina tuan rumah!”
“Menghina bagaimana!” jawab Nasruddin, “Saya telah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Yang di undang ke pesta ini adalah pakaian yang saya kenakan tadi, sehingga dia pulalah yang saya persilakan makan-minum, dan saya pulang…..”
Apa nilai dari cerita di atas atau bernilaikah cerita di atas? Ilmu yang membentuk moralitas atau moralitas yang membentuk ilmu? Sejauh mana keterkaitan ilmu dengan nilai atau seberapa penting nilai bagi ilmu?

Dalam filsafat ilmu ada kajian tentang aksiologi. Aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang berarti nilai dan logos berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”. (Amsal Bachtiar, 2007: 163). Jujun S. Suriasumantri mendefinisikan aksiologi dengan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. (Jujun S. Suriasumantri, 2007:234). Bramel membagi aksiologi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua, esthetic expresion, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosio-politik. (Amsal Bachtiar, Ibid).

Lebih lanjut Amsal Bachtiar menjelaskan dengan merujuk kepada Encyclopedia of Philosophy, bahwa aksiologi disamakan dengan Value and Valuation. Penyamaan aksiologi dengan nilai melihat kepada tiga bentuk nilai. A. Nilai, digunakan sebagai kata benda abstrak. Disini nilai dibatasi dalam pengertian yang sempit seperti, baik, menarik dan bagus. B. Nilai sebagai kata benda konkret.

Perumpamaanya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai, ia seringkali dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya, nilai dia, dan sistem nilia dia. C. Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai, dan dinilai. Jika merujuk kepada penjabaran yang dikemukakan oleh Amsal Bachtiar diatas maka nilai secara sederhana dapat diartikan keadaan yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilainya. Disini menilai mengandung makna menghargai dan mengevaluasi.

Penjabaran nilai pada poin c menegaskan bahwa nilai tidak hadir dalam ruang hampa. Ia bergelut dengan realita, kadang nilai hadir dalam bentuk refleksi, kritik, evaluasi, dan konstruktif. Nilai hadir untuk memberi kesadaran bagi si pemakai nilai (manusia) agar ia berjalan di jalur yang benar. Dalam artian jika sesuatu itu telah menjadi ilmu pengetahuan maka ada nilai yang mesti ia pertanggungjawabkan kepada Tuhan dan manusia. Si ilmuwan mempertaruhkan diri dan segenap aktivitas keilmuannya di pentas sejarah kemanusiaan yang berlangsung sampai ia meninggal. Bahkan ada ilmuwan yang telah meninggal pun ilmunya tetap memberikan nilai bagi orang yang hidup.

Maka, jika nilai ilmu pengetahuan dipertanyakan (kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai, dan menilai) saat ini ia bukanlah berarti benci kepada ilmu pengetahuan dan bermaksud menafikan peran ilmu pengetahuan serta mencampakkannya di pojok sejarah, bukankah ilmu pengetahuan telah memberikan kontribusi besar bagi terciptanya peradaban manusia. Ilmu pengetahuan saat ini mesti mengandung/memberi nilai dalam dirinya (an sich) serta lingkungannya. Sebuah tanggung jawab keilmuan yang menuntut peran aktif akal dan hati. Wallahu a’lamu bissawab. (JR)

RESOURCE: millis PSIK

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, Opini, Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s