Islam “Citra Rasa” Lokal


Sosoknya seakan tak pernah mati, karena mampu “minda rupa” atau berganti peran secara eksistensial. Menyesuaikan diri dengan perkembangan horizon masyarakat Sunda yang kian kompleks. Ia bisa mancala putera, mancala puteri -dalam artian mampu meragamkan pribadi -menjadi sesosok manusia multi-fungsi yang mengasyikkan, menghibur dan menuntun, tulis Sukron Abdilah, Pegiat Sunda dan Kearifan Lokal (Kompas Jabar, Anjungan, 23 Juni 2007)

Oleh IBN GHIFARIE

Rasanya tak berlebihan bila kita membaca tulisan Sukron Abdilah “Sunda dan Kemajemukan Budaya” (Kompas Jabar, Forum Budaya, 6 Juni 2009) memberikan pesan sekaligus mengingatkan kepada kita ihwan semangat Ki Sunda yang sedari dulu selalu mencoba menjaga kebudayaan non-Sunda untuk hidup di daerahnya.

Pesan damai dan toleran Ki Sunda itu terlihat jelas dari rangkaian larik yang disusun almarhum Mang Koko, yang menjelaskan sikap someah kepada non-Sunda sebagai ciri dari kedewasaan (sawawa) Ki Sunda.

Pudarnya Ki Sunda
Mari belajar dari Mang Koko “Tanah Sunda, gemah ripah/Nu ngumbara suka betah/Urang Sunda sawawa/Sing toweksa perceka/Nyangga darma anu nyata//Seuweu Pajajaran/Muga tong kasmaran/Sing tulaten jeung rumaksa/Miara pakaya memang sawajibna/Geuten titen rumawat tanah pusaka//”

Kiranya, pameo Islam-Sunda dan Sunda-Islam (Endang Saefuddin Ansory) terus disebarluarkan ke seluruh penjuru Tatar Pasudan, hingga Nusantara ini. Tentunya dengan tidak berbuat ‘ulah’ pada kelompok yang berbeda agama (Hindu, Buddha, Katolik, Protestan, Kunghucu), keyakinan (Sunda Wiwitan, Madrais, Perjalanan, ) keagamaan (Muhammadiyah, Persis, Nu, Al-Irsyad, Jama’ah Tablig). Upaya mengislamkan apalagi tak masuk kategori jatidiri Sunda.

Harus diakui juga, rumusan identitas Sunda selalu akan berubah dan bahkan akan saling bertentangan karena titik tolaknya pada hal-hal eksternal belaka. Padahal hal-hal ekternal muncul dari kedalaman internal.

Rupanya, kehawatiran Jakob Sumardjo dalam nulisan “Mencari Identitas Sunda” (Kompas Jabar, Forum Budaya, 13 Juni 2009) sangatlah beralasan. Pasalnya, pola hubungan ini kerap searah. Apalagi wilayak ketidaksadaran kolektif (arketife) maupun personal malah semakin terkubur sekaligus jauh dari kehidupan keseharian masyarakat Pryangan. Mengerikan bukan?

Kendati, Jakob menegaskan dengan adanya sisitem hubungannya secara berulang menunjukan salah satu identitas kesundaanya.

Cukupkah berhenti pada pola ini? Apalagi penduduk Tanah Sunda ini acapkali dikenal dengan sebutan ramah (someah) terhadap segala bentuk perbedaan.

“Ngeunteung” Ke Si Kabayan
Lemah-lembutnya tutur bahasa Sunda petandan kebudayaan beradab. Meski ada yang terkesan vulgar, cawokah, dan penuh jenaka mengisyaratkan rahayat Sunda memang terbentuk oleh watak beragam tersebut.

Tengok saja, sosok si Kabayan yang sering dicitrakan urang Sunda. Pasalnya, sosok unik dan beragama dalam cerita folklore. Singkatnya,berbeda wataknya (lepas, cerdas, jenaka, tidak ambisius) saat bercerita dengan orang lain.

Sikap dan kepribadian ini ia paktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Kala ia mempunyai keinginan (hanyang ngusep lauk) cukuplah memancing. Saat menang satu ikan berakhirlah ngusepnya. Prinsip ini sangat kuat dipegang Si Kabayan. Walaupun mendapat caci, maki dari Si Iteng dan Abahnya.

Uniknya, kisah-kisah si Kabayan selalu ‘diidentikan’ dengan (ajaran) Islam terutama dalam homor Lebe, marebot, santri dan puasa seperti yang ditulis oleh Moch. Fakhruroji. Adalah perilaku orang-orang yang taat menjalankan ajaran Islam. (Asep S. Muhtadi,2008)

Sosoknya seakan tak pernah mati, karena mampu “minda rupa” atau berganti peran secara eksistensial. Menyesuaikan diri dengan perkembangan horizon masyarakat Sunda yang kian kompleks. Ia bisa mancala putera, mancala puteri -dalam artian mampu meragamkan pribadi -menjadi sesosok manusia multi-fungsi yang mengasyikkan, menghibur dan menuntun, tulis Sukron Abdilah, Pegiat Sunda dan Kearifan Lokal (Kompas Jabar, Anjungan, 23 Juni 2007)

Inilah Islam citra rasa lokal. Kemanunggal Sunda-Islam itu terpatri dalam Musyawarah Masyarakat Sunda II (1967). Dengan demikian, jaditdiri Ki Sunda (Islam lokal) ini haruslah dilafadzkan dalam satu tarikan nafas, tanpa memperhatikan perbedaan. Semoga. [Ibn Ghifarie]

*IBN GHIFARIE, Pegiatan Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebesan Beragama

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, Demokrasi, Islam, Lokal, Opini, Pluralisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s