Tadarrus Blog dan Tadarrus Al-Qur’an


mengaji_787_l
Yang dilakukan orang-orang di masjid sebelah rumah saya itu sebetulnya Iqro’ saja bukan tadarrus. Mereka sekadar membaca alqur’an saja bukan mempelajari alqur’an. Tapi bukankah membaca saja mendapatkan pahala? Saya sedang menulis jawaban pertanyaan ini yang intinya maksud nabi dalam hadist itu bukanlah sekadar Membaca tapi juga mempelajari dan memahami.

Achmad Jumaely*

SUDAH jam 12 malam, hiruk-pikuk suara orang membaca alqur’an masih menggema memenuhi ruang-ruang sempit rumah saya. Suara-suara itu berasal dari masjid-masjid yang bertebaran di areal kampung. Tak terkecuali mushalla-mushalla kecil yang menampung sekitar 10 sampai 15 jama’ah semuanya terdengar bertadarrus. Kegiatan ini berlangsung semalam suntuk, mulai selesai tarawih hingga subuh tiba.

Sepintas, suasana seperti ini tampak menarik dan semarak. Namun dibalik itu, saya merasakan ada hal yang patut dikritisi. Sejumlah masjid, terutama masjid yang agak gede, menggunakan sound system yang cukup besar sehingga (maaf) membuat kenyamanan tidur orang yang sedang istirahat terganggu.

Saya merasakan betul kejadian ini. Pada malam kedua ramadhan kemarin, saya pulang tadarrusan dari masjid sekitar jam 10 wita. Saya berniat bangun setengah empat nanti untuk salat tahajjud. Namun mata saya tak kunjung mau terpejam karena suara dari masjid sebelah rumah sangat nyaring. Saya sempat menutup telinga dengan selimut dan bantal tapi sia-sia. Suara itu tetap mengganggu saya. Sialnya lagi suara mengaji orang-orang itu cempreng dan tak menari. Bacanya salah-salah lagi!.Menjengkelkan!

Karena tak jua bisa tidur, saya bangkit dari ranjang dan mengambil HP dan mulai browsing di google. Saya mengunjungi blog temen-temen yang tulisannya menarik. Ada banyak blog yang membuat saya senang dan sangat menikmati postingannya. Dari beragam blog yang saya temui, terdapat sebuah blog yang sangat bagus beralamatnya di http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/. Blog ini ditulis seorang yang yang menamakan dirinya Sinta Nisfuanna. Ia menulis resensi buku-buku bermutu. Saya senang dengan resensi-resensinya karena nyaris selalu disetiap posingan ia menitipkan pesan-pesan ilahiyah yang menggugah.

Sebutlah salah satu resensinya untuk buku Spiritual Kitchen. Ia menulis

Dapur sebenarnya salah satu wadah untuk berkreasi dan berdzikir, lewat tafakur, mencerna ayat-ayat kauniyyah yang tercecer dan tidak tertulis dalam Al-qur’an

Ia mengajak kita bertanya soal termos dengan lapisan logam beremisi 0 yang mampu menahan panas. Ini bermakna

Manusia selayaknya menjaga keimanannya seperti lapisan termosManusia selayaknya menjaga keimanannya seperti lapisan termos

Katanya. Banyak hal menarik yang lain dalam blog ini dan saya tak mungkin menuliskannya dalam postingan ini. Saya merenung, sebetulnya saya sedang tadarrus. Ya tadarrus blog.

Mari kita perhatikan!. Tadarrus berasal dari kata arab darrasa-yudarrisu-tadriisan yang artinya belajar. Istilah Tadarrus Alqur’an (sejatinya) juga berarti mempelajari alqur’an, begitupula dengan Taddarrus blog. Mempelajari tak sama dengan membaca, dan tadarrus bukanlah membaca. Membaca dalam bahasa arabnya Iqro’.

Yang dilakukan orang-orang di masjid sebelah rumah saya itu sebetulnya Iqro’ saja bukan tadarrus. Mereka sekadar membaca alqur’an saja bukan mempelajari alqur’an. Tapi bukankah membaca saja mendapatkan pahala? Saya sedang menulis jawaban pertanyaan ini yang intinya maksud nabi dalam hadist itu bukanlah sekadar Membaca tapi juga mempelajari dan memahami.

Kembali ke soal tadarrus tadi. Saya teringat dengan cerita seorang wanita kristen dimasa kesultanan Kerajaan Abbasyiah. Si kristen konon mempunyai seorang anak gadis yang sudah lama ingin masuk islam. Tetangga-tetangganya yang muslim sudah mengetahui desa-desus gadis itu tertarik pada islam dan itu membuat mereka senang.

Namun pada suatu hari, si ibu dari si gadis mendatangi seorang ulama dengan tergopoh-gopoh. Di hadapan ulama itu, ia mengatakan dengan sarkasme yang cukup tinggi. “Terimakasih pak kiai, terimakasih karena suara adzan di masjid sebelah rumah saya”. “Loh kegapa?” tanya ulama itu. “Suara muadzin di masjid itu jelek sekali pak kiai, makanya anak saya tidak jadi islam” jawabnya.

Mungkin benar, gemerlap tadarusan di masjid-masjid membuat islam tambah semarak dan orang yang melakukan aktifitas itu mendapat pahala. Namun ketika aktifitas tadarusan itu membuat ketidaknyamanan sosial maka persoalannya menjadi lain. Saya yakin bukan pahala yang didapat tapi malah dosa, persis seperti muadzin dengan suara jelek tadi.

Ditambah lagi dengan tak adanya substansi tadarrusan disana karena sekali lagi mereka hanya membaca saja tidak mempelajari, yakin saya ini membuat aktifitas tadrrusan kian runyam. []

* Aktifis Jaringan Islam Kampus (Jarik) Mataram

RESOURCE : http://jhelliesite.blogspot.com

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, blog, Islam, Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s