“Orang yang Menjuluki Saya Nabi” Kata Abdullah alias Amaq Bakri


AmaQ Bakri alias Abdullah alias Papuq Junaedi menggegerkan masyarakat Nusa Tengara Barat. Pria yang dikabarkan pernah melakukan mi’raj seperti nabi muhammad ini dinilai memiliki ajaran yang kontrovesial. Berikut wawancara Fathul Rakhman, Wartawan dan Kontributor Jarik Mataram.

Fathul Rakhman*

Tak sulit menemukan Abdullah karena nyaris semua warga Desa Sambelia mengenalnya. Ia lebih dikenal dengan Amaq Bakri daripada nama aslinya Abdullah. Kebiasaan masyarakat Lombok, menamakan orang dengan nama anak pertamanya. Bakri adalah anak pertama abdullah sehingga melekat nama Abdullah.

Di Gubuk daya, Dasan Tinggi, Desa Sambelia kecamatan Sambelia saya menemuinya beberapa waktu lalu. Di kampung terpencil paling ujung lombok timur itu saya disambut beberapa lelaki. Mereka adalah anaknya yang pertama dan seorang cucunya. Setelah saya menyatakan ingin wawancara, pria yang bernama Bakri itupun mengantarkan saya ke kediaman bapaknya.

Rumah Abdullah ternyata cukup jauh dari warga sekitar, sekitar 1 kilo dari perkampungan. Bersama Urun isterinya,Abdullah tinggal di sebuah ladang yang memang dekat dengan perbukitan. Ladang ini dikenal masyarakat dengan nama Bebile. Konon di tempat inilah Kiyai Santri Loba, seorang ulama yang pernah membangun Sambelia di makamkan.

Hanya jalan setapak yang bisa dilalui untuk sampai di Bebile ini. Hanya cukup untuk dilewati satu sepeda motor. Kurang 15 menit, saya sampai di kediaman lelaki yang dikenal sebagai pemimpin kelompok perguruan Isti Jenar Raksa Gunung Rinjani ini. Kelompok tarekat yang mengajarkan ilmu Sanggar Putung.

Ada tiga bangunan di tempat kediaman Abdullah ini. Sebuah Berugak besar, Berugak kecil, dan bangunan rumah bedek 4 X 5 meter. Berugak Besar inilah bangunan yang paling besar diantara tiga bangunan lainnya. Abdullah menerima saya di Berugak besar ini.

Saya tiba di kediaman Abdullah tepat 12.30 siang. Bakri anaknya memberitahu saya bahwa bapaknya sedang ada tamu. Saya terpaksa menunggu d berugak besar. Beberapa menit kemudian sepasang pria-wanita berusia sekitar 29-31 tahunan dan seorang remaja laki-laki keluar rumah Abdullah. Belakangan saya ketahui ternyata mereka sedang dalam proses menjadi murid dari Abdullah.

Sementara itu, Abdullah keluar menemui saya dengan setelan celana coklat usang dan baju singlet, pria inipun menerima saya dengan ramah dan bersahaja. Ia memanggil kerabatnya untuk membuatkan saya kopi dan membawakan sepiring kue kering.

Tak lama obrolanpun dimulai. Abdullah bercerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya, termasuk hal-hal kontroversi yang sering diberitakan termasuk isu ia mengaku nabi.

“saya tak pernah bilang saya nabi, mungkin orang lain yang manggil begitu. Orang boleh panggil saya apa saja, tapi bukan saya yang mengatakan,’’ kelitnya ketika saya berulangkali menanyakan kepadanya apakah benar dia pernah mengaku menjadi nabi.

Pria yang tidak tahu berapa usianya ini (dia hanya ingat, ketika Jepang datang menjajah dia sudah remaja) memiliki 15 anak. Dari 15 orang ini, hanya delapan yang hidup, dan kini dia memililki 15 orang cucu. Dulu, Abdullah muda sudah mulai haus mencari ilmu, terutama ilmu kebatinan. Awalnya dia berguru pada seorang pria yang bernama Yakub. Lama dia berguru di sini, suatu hari ketika dia tertidur, dia mendengar suara aneh dalam tidurnya tersebut. Suara itu mengatakan ilmu yang dipelajarinya saat ini hanya untuk duniawi saja. Ada satu lagi ilmu yang harus dicarinya untuk selamat di dunia dan akhirat.

Karena penasaran dengan ilmu itu, Abdullahpun berkeliling mencari ilmu tersebut ke seluruh penjuru. Dari guru yang satu pindah ke guru yang lain. Dari semua guru yang dia temui, dia mendapatkan jawaban yang sama. “Ada satu ilmu yang bisa harus kamu cari agar kamu selamat dunia dan akhirat!”.

Karena penasaran, Abdullah memutuskan untuk menyendiri ke atas gunung. Melakoni tapa, memperbanyak zikir, dan amalan lainnya. Kegiatan menyepi ini ia lakukan puluhan tahun bahkan hingga berumah tangga dan memiliki anak.

Hingga, pada suatu sore menjelang maghrib, ditengah renungannya Abdullah muda yang bernama Abdullah ini mendengar suara yang tidak asing lagi. Suara itu menunjuk ke arah sebuah pohon, tak jauh dari tempatnya duduk. Dia disuruh mendekat ke pohon itu. ‘’Kamu yang begitu menyiksa diri, pergilah kesana ke dekat pohon itu,’’ katanya menirukan suara yang dia dengar tatkala itu.

Iapun mengikuti perintah itu dan mendekati pohon. Di sela-sela pohon itu ia dapati sebuah tangga aneh karena anak tangganya hanya dua buah saja. Suara itu kemudian menyuruhnya menaiki tangga tersebut. Sesampai di tangga kedua, tiba-dia merasakan keanehan. ‘’Seperti ada dongkrak, tangga itu berputar-putar semakin tinggi dan terus makin tinggi. Saya ketakutan dan berpegangan keras,’’ ujarnya.

Tanpa ia sadari, Tangga tersebut telah membawanya melayang-layang diatas pepohonan. Tangga tersebut makin meninggi,sampai akhirnya dia melihat ada cahaya kuning, lalu naik lagi hingga melewati batas dunia. Dia mengaku ketakutan, dan terus berpegangan pada tangga tersebut. Dia menutup mata, sampai pada akhirnya kembali dia mendengar suara. ‘’Buka matamu, kamu telah sampai ke langit ketujuh,’’ katanya menirukan suara tersebut.

Dia kemudian disuruh berjalan di tanah yang wanarnya kuning. Rasanya, seperti berjalan diatas kapas” katanya. Lalu suara itu muncul lagi, kali ini suara itu menyuruhnya berjalan ke sebuah arah, “disanalah surga” katanya menirukan suara itu. Saat perjalanan menuu syurga itulah ia kembali menemui keanehan dia melihat seseorang yang sedang ia kejar. Ketika akhirnya mentok di sebuah dinding ia baru menyadari yang ia kejar itu bayanngannya sendiri. Di tempat gaib tersebut, dia bertatap muka langsung dengan bayangannya. Di sanalah surga itu.

Di surga ada semacam lapisan dari kaca, di atas kaca tersebut ada lubang kecil seperti jarum, dari sanalah keluar masuk angin yang terasa lembut. Dari sana dia kemudian melihat dengan dekat surga itu. ‘’Sangat indah, nikmat, senikmat orang menikah, makanya disebut surga dunia,’’ katanya tersenyum.

Dalam perjalanan ini, Abdullah merasa sudah melihat semua isi surga dan semua tingkatan surga. ‘’Tujuh tingkatan itu sama saja rasany cuma pengucapannya yang berbeda,’’ ujarnya.

Setelah selesai menelusuri setiap jengkal “surga”, Abdullah kembali ke tempat semula. Dia masih menemukan bekas jejak kakinya, dan sampai akhirnya dia kembali “turun” ke bumi. Pengalaman spiritual ini dialaminya malam Jumat tanggal bulan Maulid (Rabiul Awal), kira-kira tahu 1975 dengan kalender masehi.

Nah ketika proses pulang dari jalan-jalan ke surga itulah, Abdullah menemukan ilmu yang lama dicarinya. Penuturannya, ketika mau turun, tiba-tiba badannya terbelah dua. Dia melihat dengan jelas belahannya itu, dan saat itu dia berdialog dengan suara yang sering didengarnya itu. ‘’Inilah yang selama ini kamu cari di dunia selama ini. Sekarang bersihkanlah aku, bersihkan dengan kalimat La ilahaillallah,’’ ujarnya.

Rupanya yang dicari selama ini adalah hati. Setelah membersihkan hati itu, di bawahnya ada gumpalan hitam, itu adalah dosa, ketika dia memegangnya rasanya sangat tajam. Kemudian sang hati berkata, aku ini milik Allah, dan di dunia ini jalan untuk mengetahui Allah. ‘’Setelah itu kembali bersatu badan saya,’’ ujarnya.

Cukup lama dia memendam pengalaman ini. Dia hanya memeberitahu pada orang-orang terdekat, mulai saat itu juga sudah menyebar tentang pengalamannya ini. ‘’Saya tidak keliling berdakwah, orang itulah yang kesini setelah mereka mendapat petunjuk,’’ katanya.

Sampai pada akhirnya, ketika banyak muncul desas-desus ajarannya ini- saat itu belum memiliki nama—dia pun dipanggil aparat pemerintahan. Katanya, ajaran yang dia bawa meresahkan masyarakat. ‘’Saya dipermalukan saat itu dan diumumkan bahwa ilmu Sanggar Putung yang saya punya tidak boleh diajarkan,’’ tuturnya.

Pasca kejadian itu, malam harinya, kembali ia mengalami pengalaman spiritual, sama seperti pengalaman pertama, mi’raj. ‘’Tapi ini Jibril langsung yang membawa saya,’’ ujarnya. Sama seperti pengalaman pertamanya, hanya saja dalam proses mi’raj nya yang kedua ini, dia pulang membawa ijazah : ajaran yang dia bawa ini diberi nama Isti Jenar Raksa Gunung Rinjani.

Isti Jenar bermakna kebenaran yang ada di dalam tubuh kita, Raksa bermakna yang akan kita pelihara dalam diri kita, Gunung bermakna tubuh kita, dan Rinjani merupakan simbol manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya.

Di masa-masa tahun 1997 sampai tahu 2000 inilah Abdullah banyak dicerca masyarakat. Namun dia sendiri mengaku tidak masalah dengan pandangan masyarakat itu.

Tahun 2005 kembali dia merasakan perjalanan mi’raj yang ketiga. Namun kali ini, dia masuk dalam alam roh. Yang dalam tradisi Islam, alam yang hanya Allah sendiri yang tahu.

Kata Abdullah, ketika dia bertemu dengan roh-roh tersebut, roh tersebut serempak memanggil Bapak pada Abdullah. Abdullah menolak, namun roh-roh tersebut memberikan alasan bahwa bintang yang paling besar di langit adalah bintang Zohrah, dan bintang itu ada pada diri Abdullah.

Dari tiga pengalaman ruhaninya ini, Abdullah kemudian secara eksplisit mengatakan hasil perjalanan ruhaninya ini sebagai “wahyu”. Mendengar cerita ini, persis sama ketika Nabi Muhammad SAW melakukan Isra MI’raj, dimana salah satu “hasil” yang diperoleh adalah ajaran tentang salat. Dari penuturan pengalaman mi’raj inilah lalu berkembang isu, Abdullah mengaku nabi. Sebuah pengakuan yang tidak diucapkannya langsung.

Abdullah, mengatakan hasil mi’raj tersebut adalah pertama dia bisa melihat langsung, merasakan dan berintraksi dengan alam akhirat, kedua dia sempat berganti hidup, ketiga dia menerima kedudukan sebagai “Pande” yang dia analogikan seperti tukang Pande Besi, dalam hal ini Abdullah mendapat kedudukan sebagai Pande Manusia, keempat dia menjadi Jawa’, sebagai penunjuk jalan yang benar dan keenam sebagai Nandang atau setiap ucapan yang dia katakan merupakan kebenaran, penyeru amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam menybarluaskan ajarannya ini, Abdullah tidak berkeliling seperti para dai umumnya. Katanya, orang yang mau berguru lah yang datang mencarinya. Orang tersebut datang, kata Abdullah, biasanya setelah mendapat petunjuk.

Dalam pengajian sehari-hari, biasanya dilakukan tiga malam dalam seminggu, malam Senin, malam Rabu, dan malam Jumat. Kini jumlah jamaahnya yang rutin datang 40 an orang. ‘’Banyak yang dari jauh, dari Sikur dan Mantang (Lombok Tengah),’’ ujarnya.

Tak ada ajaran khusus yang dia sampaikan, tak ada kitab yang dia ajarkan, dan tak ada syarat khusus. Hanya dalam setiap pertemuan jamaah diajak zikir. ‘’Kalau kuat sampai 5000 kali, kami hanya membaca La ilahaillallah,’’ katanya.

Dalam ajarannya juga tidak diharuskan datang mengaji tiap kali pertemuan. Ajaran Sanggar Putung, cukup diberikan sekali saja. ‘’Setelah itu tinggal menjaganya,’’ ujarnya.

Dua tahun terakhir, kata Abdullah, sering datang muballig mengajaknya diskusi dan bahkan mengajarknya keliling berdakwah. Dia pun pernah ikut, bahkan sampai menginap 40 malam. Hanya saja, dari pengalamannya bergaul dengan dai, dia mengatakan, ajaran yang disampaikan dia ibaratkan seperti botol. Apa yang ada di dalam botol semua ditumpah, apa yang dibaca di kibat, buku itu yang diberikan, tanpa tahu maknanya. ‘’Hanya mengucapkan saja, tanpa tahu maknanya,’’ ujarnya. (*)

* WARTAWAN dan Kontributor Jarik Mataram

1 Komentar

Filed under Agama, Berita, Informasi, Islam, Kebebasan, Pluralisme

One response to ““Orang yang Menjuluki Saya Nabi” Kata Abdullah alias Amaq Bakri

  1. assalmu;alikum saudara penulis..memang benar apa yang di katakan Abdullah atau amaq Bakri..itu bukan rekayasa atau keinginan dia sendiri tapi itu lah yang Hak.dan ajaran nya memang benar sesuai dengan ajaran nabi muhammad.Dan jangan lah kita suka menuduh sesuka hati apa yang tak pernah orang kerjakn.Baik dan buruk kita saja yang tahu.Dan kebetulan juga saya salah seorang dari pada anak murid nya,dan saya berbahagia kerana saya sudash dapat apa yang saya cari selama ini,amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s