Mereka Memeras Yakobus, Menghukumnya, Memenjarakannya


Rambut putihnya menandakan usianya yang cukup senja. Berjalan sedikit membungkuk menaiki tangga, orang tua ini menaruh harapan besar pada kantor yang sedang didatanginya.

Yakobus Lay alias Asinku, seorang pria 65 tahun. Matahari sudah mulai terik ketika ia datang, tapi belum juga melewati atas kepala. Diterima oleh seorang Pekerja Bantuan Hukum di Gedung YLBHI, Jalan Diponegoro 74, Selasa (22/12), orang tua ini bercerita tentang kasus yang dialaminya.

Dia adalah seorang pedagang minuman kaleng (Sprite, Fanta, Coca-Cola, dll), yang membeli di sebuah toko besar kemudian mendistribusikannya ke toko-toko di daerah lain. Bertempat tinggal di RT 011/RW 002, Lingkungan Nitasren, Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Atambua, Belu, sebuah desa di NTT. Tempat tinggalnya sekarang hanya berupa pondokan kecil yang dibuatnya sendiri. Sedangkan rumahnya yang dahulu ia tempati di Fulur, Desa Dulur, Kecamatan Lamaknen, di Kabupaten yang sama telah dijual demi membiayai proses hukum yang membelit dirinya

Usaha menjual minuman kaleng ini sudah dijalaninya sejak tahun 1999. Sebelumnya dia sempat tinggal di Timor Timur (sekarang Timor Leste) selama 10 tahun. Namun pascajajak pendapat yang diikuti berdirinya Negara Timor Leste, ayah dari enam anak ini kembali ke Indonesia dan memulai usahanya dengan membuka toko di rumahnya yang waktu itu berada di Fulur, sekitar 40 Km dari Atambua.

Sampai tahun 2003 usahanya cukup maju dan memiliki banyak langganan. Tak seperti biasanya, suatu kali, dia mendapat pesanan minuman sejumlah 500 dus oleh Paulinus Asa warga Beilalu pada tanggal 5 November 2003. Baginya ini merupakan rezeki yang tak boleh ditolak, oleh karenanya keesokan harinya jam 2 siang Yakobus Lay membeli minuman di Toko Daya di Atambua yaitu Fanta, Sprite, Coca cola sebanyak 400 dus dengan total pembelian Rp 26.800.000,- (dua puluh enam juta delapan ratus ribu rupiah). Minuman itu akan dibawanya ke Desa Beilalu, Kec. Lamaknen, Kab. Belu dengan menyewa truk dari Hironimus Atok.

Waktu menunjukkan pukul setengah 20.30, sebelum ke Beilalu dia mampir ke rumahnya di Fulur untuk menambah 59 dus Fanta, Sprite dan Coca Cola, 5 dus Anggur Kolesom dan 3 dus Bir Bintang, sehingga total dus minuman yang diangkut truk adalah 467 dus, kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Beilalu.

Malam hari dia melanjutkan perjalanan, ketika di Kampung Boru, Desa Aitoun, Kec Raibat, Kab. Belu tiga motor menyalipnya, tak lama kemudian sesampainya di hutan sekitar pukul 03.00 pagi, ketiga motor tersebut mencegatnya. Lima orang pengendara motor tersebut mengaku sebagai Petugas Patroli Gabungan TNI-Polri dan menanyakan kemana barang ini akan dibawa.

Yakobus menjawab: ”Akan dibawa ke Beilalu Pak.”

Namun tak disangka mereka justru memeras penjual minuman kaleng ini. Kepada Yakobus, Matheus Yoseph Mau, salah seorang oknum meminta uang sebesar Rp 5 juta, namun Yakobus hanya sanggup memberi Rp 1 juta rupiah. Matheus kembali bertanya: ”Kami ini berlima, bagaimana membaginya?”

Selain Matheus lainnya adalah Chriss Bossa (PNS Koramil), Arnoldus Mau, Yoyok Biantoro (Polisi) dan seorang lagi. Kebingungan menghadapi oknum ini, Yakobus coba meminjam motor mereka untuk berpura-pura mengambil uang di rumahnya -padahal ingin melapor ke Polsek Weiluli-, namun ternyata motor tak dapat dipinjamkan.

Tak dapat memenuhi permintaan uang Rp 5 juta, Yakobus dilaporkan melakukan tindak pidana “mencoba mengekspor barang (penyelundupan)” sebagaimana Pasal 102 UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Yakobus segera digiring ke Polres Atambua. Di sana Yakobus disuruh turun dari truk kemudian difoto beserta minuman sejumlah 467 dus miliknya yang dijadikan barang bukti. Dia dituduh akan menyelundupkan 467 dus minuman kaleng ke Timor Leste.

Tak pernah dibayangkan mendapat masalah seperti ini, kepercayaannya kepada aparat penegak hukum mulai pudar sejak itu. Ia pun harus menjalankan proses penyidikan, dimana Yakobus dimintai keterangan oleh Polsek Atambua. Awalnya dia sempat didampingi oleh advokat yang bernama Jemi, namun malang setelah tiga kali pendampingan di penyidikan, ia kemudian ditinggal advokatnya karena memang diduga pengacaranya menjadi bagian konspirasi bersama oknum Polsek Atambua.

Atas tuduhan usaha penyelundupan ini, Yakobus ditahan Jaksa Penuntut Umum selama 21 hari sejak 13 Februari 2004 s.d 3 Maret 2004 di Rumah Tahanan Negara (Rutan). Perlakuan yang merendahkan martabat pun dialaminya, ketika pertama kali masuk Rutan, Yakobus disuruh buka baju, celana dilipat selutut dan berjalan jongkok menuju selnya. Selain itu, pernah beberapa kali disuruh tidur di lantai tanpa sehelai benang pun menjadi pembatas antara kulit punggungnya dengan lantai.

Yakobus sempat diminta menandatangani surat pelelangan barang bukti (467 dus minuman) oleh Jaksa, padahal Persidangan belum dimulai dan belum ada putusan pengadilan yang memerintahkan untuk melelangnya, segera saja Yakobus menolaknya. Yus, salah seorang anaknya meminta Penangguhan Penahanan Ayahnya, karena menurutnya Ayahnya bukanlah pencuri, pembunuh atau merampas uang negara miliaran rupiah. Alasan lainnya adalah dengan ditahannya sang Ayah mereka sekeluarga tidak ada yang menafkahi. Namun, justru anaknya ini dimintai uang sebesar Rp 7,5 juta oleh oknum Kejaksaan sebagai tebusan. Uang pun dikasih, namun penangguhan tak kunjung terkabul.

Proses persidangan dijalaninya tanpa dampingan seorang advokat. Untunglah Romo Paulus, seorang pendeta di salah satu Gereja Atambua bisa memberikan nasihat-nasihatnya kepada Yakobus. Persidangan demi persidangan yang dimulai sekitar bulan September dilaluinya dengan tabah, tujuannya hanya satu: agar ia dinyatakan tidak bersalah oleh Majelis Hakim PN Atambua, sehingga minuman kaleng dagangannya bisa segera kembali dan ia dapat kembali menafkahi anak dan istrinya.

Tak seindah harapannya, Senin, 11 Oktober 2004, Pengadilan Negeri Atambua dalam Putusannya Nomor: /PID/B/2004/ PN.ATB menyatakan bahwa Yakobus Lay telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “mencoba mengekspor barang (penyelundupan)” sebagaimana Pasal 102 UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Yakobus dipidana penjara selama 1 (satu) bulan dan 15 (lima belas) hari dan denda sebesar Rp 500.000,- subsidair 1 bulan kurungan.

Terhadap Putusan ini, Yakobus menyatakan Banding. Dia tidak terima Putusan tersebut, karena jelas dia tidak bersalah sedikit pun.

Kegigihan memperjuangkan haknya mulai membuahkan hasil. Pengadilan Tinggi Kupang pada Senin, 13 Desember 2004 membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Atambua, 11 Oktober 2004, nomor: 29/Pid.B/2004/ PN.Atb, yang dimohonkan Banding. Dalam putusannya Nomor 165/PID/2004/ PTK, PT Kupang menyatakan bahwa Yakobus tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak Pidana yang didakwakan kepadanya; meminta agar memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya; dan memerintahkan barang bukti berupa 467 dus minuman, yang terdiri dai 170 dus Sprite, 91 dus Fanta, 198 dus Coca Cola, 3 dus Bir Bintang dan 3 dus Anggur Kolesom yang disita Kejaksaan Negeri Atambua segera dikembalikan kepada Yakobus.

Tidak puas, kali ini justru Jaksa Penuntut Umum yang memohonkan Kasasi ke Mahkamah Agung atas Putusan PT Kupang. Bersama Romo Paulus, Yakobus membuat Kontra Memori Kasasi atas Memori Kasasi JPU. Syukurlah, ternyata keadilan masih berpihak pada orang tua yang tak bisa menulis ini. Kamis, 6 Oktober 2005 Mahkamah Agung menolak permohonan Kasasi dari Jaksa/Penuntut Umum pada Kejari Atambua melalui Putusannya Nomor: 967 K/Pid/2005. Oleh karena Permohonan Kasasi Jaksa/Penuntut Umum ditolak, maka Putusan Pengadilan Tinggi Kupang-lah yang berlaku.

Meskipun sejak tahun 2005 Mahkamah Agung telah menolak Kasasi yang dimohonkan Jaksa/Penuntut Umum, sampai detik ini semua barang bukti berupa 467 dus yang berisi kaleng minuman tidak kunjung dikembalikan kepada Yakobus. Padahal minuman itu merupakan sumber penghidupan dia dan keluarganya.

Pascaputusan dari Mahkamah Agung, Yakobus telah melakukan berbagai upaya demi kembali hak-haknya yang masih disita oleh Kejaksaan Negeri Atambua. Bersama PMKRI calon cabang Atambua, Yakobus didampingi dalam melakukan audiensi kepada beberapa lembaga, yaitu: pihak Kepolisian, pihak Bea Cukai, Kejaksaan Negeri Atambua dan DPRD Kabupaten Belu. PMKRI membantu mendesak agar pihak Kejaksaan Negeri Atambua segera mengeksekusi Putusan PT Kupang, namun Kejaksaan Negeri Atambua hanya bersedia mengganti barang-barang yang hilang, sedangkan yang sudah kadaluarsa akan dikembalikan kepada Yakobus. Hal ini sangat merugikan Yakobus, karena dari minuman itulah penghasilan dia didapat untuk menghidupi keluarganya dan sangat banyak modal yang telah dikeluarkannya untuk membeli minuman tersebut, serta menjalani proses persidangan.

Yakobus pun pernah konsultasi dengan Ombudsman di Kupang, pihak Kejaksaan Tinggi Kupang, Pengadilan Tinggi Kupang, dan Pimpinan DPRD Provinsi NTT. Namun ternyata tetap tanpa hasil, karena mereka hanya menyarankan agar Yakobus melakukan pendekatan pada Kejaksaan Negeri Atambua.

Potret kenyataan yang dialami Yakobus merupakan akibat dari keterpurukan integritas penegak Hukum dan kesewenang-wenangan mereka. Apalah yang dapat diperbuatnya, meskipun jelas-jelas Putusan PT Kupang memerintahkan agar barang miliknya dikembalikan, ternyata tidak juga didapat. Aparat penegak hukum dalam kasus ini, Polisi, Advokat, Jaksa, serta oknum TNI masih mencerminkan watak buruknya yang melukai perasaan masyarakat.

Sangat besar kemungkinannya di daerah-daerah pelosok negeri Indonesia banyak Yakobus-Yakobus lain yang menjadi korban kesewenang-wenangan aparat. Karena tentunya aparat di daerah sangat minim kontrolnya. Bagaimana tidak, JJ Rizal, korban salah tangkap mengalami kejadiannya di Depok, kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Jakarta. Prita Mulyasari yang mengeluh melalui email mengalami kejadiannya di Tangerang yang juga berbatasan langsung dengan Ibukota Jakarta. Silahkan bayangkan sendiri jika JJ Rizal dan Prita mengalaminya di tempat serupa dengan Yakobus.

Lebih dari sebulan sudah Yakobus tinggal indekost di Jalan Kramat, Jakarta, meninggalkan keenam anak dan istrinya tercinta. Memaksakan diri ke Jakarta dengan modal seadanya serta sumbangan beberapa rekan di tempat asalnya, dia sangat ingin bertemu Jaksa Agung atau bahkan Presiden untuk meminta kembali hak-haknya yang bisa dibilang sekarang adalah harta satu-satunya serta agar dipulihkan kembali kedudukan dan harkat serta martabatnya.

Masih dengan pakaian yang sama ketika dia datang ke lt. 3 Diponegoro 74, kemeja lengan panjang bergaris, celana hitam dan sepatu coklat yang semuanya terlihat lusuh melekat di badannya. Kali ini dia membawa beberapa lembar berkas yang sebelumnya tertinggal, serta mengeluhkan kembali tentang kasusnya dengan sesekali mengusap matanya menahan tangis.

Bagi lelaki yang tidak pernah mengenyam pendidikan ini, Natal tahun 2009 merupakan Natal yang paling tidak berkesan, karena akan ia lewati tanpa tawa ceria anak, senyum manis istri dan keindahan kampung halamannya.

Andi Muttaqien, Badan Pengurus YLBHI

RESOURCE: http://www.primairo nline.com/ interaktif/ detail.php? catid=Laporan_ Kasus&artid=mereka- memeras-yakobus- menghukumnya- memenjarakannya00

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Demokrasi, Informasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s