Monthly Archives: Januari 2010

Sedikit Dari Yang Saya Kenal Tentang Gus Dur (KH.Abdurrahman Wahid)


Saya sempat merasa gelisah ketika Gus Dur bakal benar-benar berhasil menduduki posisi sebagai Ketua Umum PBNU. Saya membayangkan antara Gus Dur sendiri dengan umat yang akan dipimpinnya berjarak sedemikian jauh. Saya tahu Gus Dur cucu pendiri NU tetapi bagaimana dengan pemikiran-pemikirannya?

PROF. DR. H. IMAM SUPRAYOGO
Baca lebih lanjut

Iklan

1 Komentar

Filed under Gusdur

Senja Kala Sekularisme

AKAR terorisme tidak selalu dimotivasi oleh agama. Bahkan, dalam berbagai kasus agama dijadikan jubah dan penambah amunisi, padahal akarnya bisa jadi adanya dominasi mayoritas terhadap minoritas atau kekuatan asing yang akan menguasai atau menjarah wilayah bangsa lain.

KOMARUDDIN HIDAYAT
Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Agama, Berita, Demokrasi, Fundamentalis, Kebebasan, kekerasan, Opini, Pluralisme, Politik, Sosial, Teologi

Islam Krisis

KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid meninggalkan pengaruh yang dalam pada saya, jauh sebelum saya menjadi penyiarnya di acara “Kongkow Bareng Gus Dur” tiap Sabtu di Utan Kayu. Pada awal tahun 1997, ketika saya baru lulus dari sebuah pesantren dan menjadi guru muda di pesantren itu, saya mengikuti sebuah pelatihan untuk guru dan santri se Jawa Timur. Sohibul bait-nya: Kajian 193 Universitas Islam Malang. Gus Dur hadir sebagai narasumber. Jujur saja waktu itu saya tak suka Gus Dur dan Nurcholish “Cak Nur” Madjid. Saya memperoleh informasi tentang dua tokoh ini dari media-media seperti Sabili, Media Dakwah dan Hidayatullah. Kala itu saya mengidolakan sosok Amien Rais yang dianggap sebagai representasi tokoh Islam, sedangkan Gus Dur dan Cak Nur sering dituding oleh media-media itu “kurang kadar keislamannya”.
Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, Demokrasi, Gusdur, Kebebasan, Kliping, Opini, Sosial

Gus Dur dan Pencerahan Kaum Muda: Sebuah Kesaksian

Dalam perjalanan hidup saya, ada tiga orang yang meninggalnya membuat saya luruh menangis: meninggal Ibu saya, karena ia adalah tiang dalam keluarga kami, fisik maupun psikis; Nenek saya yang mengenalkan saya pada keislaman dan keimanan dengan konsepnya yang sederhana, tapi ia praktekan dalam hidup nyata sehari-hari; dan Gus Dur yang mengenalkan kepada saya tentang keislaman dan keimanan dengan maknanya yang sangat luas seluas alam semesta ini. Mengapa Gus Dur demikian penting dalam penjelajahan hidup saya? Ini adalah fragmen kecil dari kesaksian tersebut.

Neng Dara Affiah
Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Agama, Ahmadiyah, Berita, Demokrasi, Gusdur, Informasi, Islam, Kebebasan, Nasionalisme, Opini, Pluralisme, Sosial

Kemanusiaan YME

(Sebuah Apresiasi Spiritual terhadap Antologi Puisi Tiada Tuhan Selain Ahmad karya Ahmad Yulden Erwin )

Saya menangkap perkembangan yang menarik akhir-akhir ini. Bagi sebagian orang, sila Ketuhanan Yang Maha Esa masih menjadi ganjalan. Barangkali mereka berpendapat sila yang satu ini dihilangkan saja, karena konflik agama dianggap bermula dari sini. Dengan sila ini, Negara menjadi begitu mengurusi agama setiap warganya. Sila ini berpeluang terhadap perselingkuhan antara penguasa dan ulama untuk mendikte keyakinan orang. Politisasi agama seperti ini memang menjadi masalah yang tak ada habisnya di negeri ini, bahkan mungkin di seantero dunia.

Oleh Arief Rahman Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Agama, Buku, Fundamentalis, Islam, Teologi

Integrasi Iman dan Kehidupan

Formalitas keberagamaan terbukti sangat tidak memadai untuk membangun karakter kita menjadi lebih baik. Menurut penulis, formalitas ini juga sesungguhnya adalah bagian dari kesekuleran kita

Istilah ini penulis dapatkan dari buku God is My Success karya Larry Julian. Istilah ini mungkin tidak cocok dan pas untuk seorang Muslim yang paham betul ajaran agamanya.

Karena baginya, iman dan kehidupan itu memang tidak terpisah, dan tidak akan terpisahkan selamanya. Iman harus mewujud dan terealisasi dalam kehidupan. Iman juga menjadi pengendali dan penuntun dalam hidupnya.
Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Agama, Islam, Opini

Selamat Jalan Guru Bangsa yang Fenomenal

WALAU kesehatannya tidak prima lagi karena stroke dan duduk di kursi roda sejak lama, wafatnya Adurrahman Wahid, presiden keempat Indonesia, sangat mengejutkan. Kita kehilangan seorang tokoh yang boleh disebut sang fenomenal.

Banyak julukan diberikan kepada mantan Ketua Umum PBNU itu. Tetapi paling jamak adalah guru bangsa. Dia mengabdikan dirinya demi bangsa. Bangsa yang tetap menjiwai dan dijiwai keanekaragaman.
Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, Berita, Demokrasi, Gusdur, Informasi, Islam, Nasionalisme, Opini, Pluralisme, Sosial