Integrasi Iman dan Kehidupan


Formalitas keberagamaan terbukti sangat tidak memadai untuk membangun karakter kita menjadi lebih baik. Menurut penulis, formalitas ini juga sesungguhnya adalah bagian dari kesekuleran kita

Istilah ini penulis dapatkan dari buku God is My Success karya Larry Julian. Istilah ini mungkin tidak cocok dan pas untuk seorang Muslim yang paham betul ajaran agamanya.

Karena baginya, iman dan kehidupan itu memang tidak terpisah, dan tidak akan terpisahkan selamanya. Iman harus mewujud dan terealisasi dalam kehidupan. Iman juga menjadi pengendali dan penuntun dalam hidupnya.

Melihat isinya, buku yang ditulis oleh Larry Julian ini ditujukan untuk umat Kristen. Tentu saja buku ini menjadi sangat relevan di Barat, negeri tempat lahirnya sekularisme, di mana kehidupan keduniaan dan keakhiratan dipisahkan secara tegas.

Bagaimana dengan di negeri kita? Amatan penulis ternyata tidak jauh berbeda. Pandangan dunia sekuler sudah merasuk ke semua lini kehidupan kita.

Ketika Tuhan/agama hanya kita ingat di masjid-masjid, di gereja-gereja, di pura, dan tempat-tempat peribadatan lainnya; atau ketika kita tidak lagi membawa-bawa Tuhan/agama ketika di kantor, di pasar, dalam melakukan transaksi bisnis, dan di tempat-tempat kerja lainnya, maka itu artinya secara tidak sadar kita telah tergiring dalam pandangan dunia sekuler.

Indikatornya sangat jelas terlihat dari banyaknya praktik suap, korupsi, tipu-menipu, hukum dan keadilan yang bisa dibeli, penyalahgunaan wewenang, arogansi kekuasaan, dan lain-lain. Konkritnya lagi, terlihat pada kasus-kasus besar yang saat ini lagi marak disorot oleh media seperti persoalan Bank Century, kasus Bibit-Candra, kasus Prita Mulyasari, kasus Luna Maya, dan lain-lain. Sementara di sisi lain, kita bisa menyaksikan maraknya perayaan hari-hari besar keagamaan; jumlah jamaah haji kita setiap tahunnya terbanyak di dunia.

Sangat jelas bahwa tidak ada pengaruh signifikan yang ditimbulkan oleh ritual keagamaan yang dilakukan terhadap peningkatan nilai-nilai dalam kehidupan keseharian kita. Padahal sangat jelas agama mengajarkan bahwa setiap ibadah ritual keagamaan harus berakhir dan bermuara pada akhlak atau nilai hidup yang semakin meningkat.

Pertanyaannya, apa yang keliru dalam pelaksanaan ritual keagamaan kita? Adakah kita melaksanakan itu hanya sekedar formalitas keberagamaan kita?

Kehidupan Hakiki

Dalam amatan penulis, yang sehari-hari mengajar mahasiswa, akarnya terletak pada pengetahuan kebanyakan kita yang sangat tidak memadai mengenai ritual ibadah yang kita lakukan. Ketidakmemadaian pengetahuan tersebut yang kemudian membuat kita tidak bisa menghayati ritual keagamaan yang kita lakukan. Tentu saja penghayatan ini yang sangat substantif dan urgen karena dari sini perubahan karakter itu bermula.

Formalitas keberagamaan terbukti sangat tidak memadai untuk membangun karakter kita menjadi lebih baik. Menurut penulis, formalitas ini juga sesungguhnya adalah bagian dari kesekuleran kita.
Kita sekuler karena tidak mampu menghubungkan antara aktivitas yang kita lakukan dengan yang dituju dalam peribadatan tersebut. AGH Mustafa Nuri LAS guruku tercinta mengibaratkan hal ini dengan “bohlam yang kabelnya belum dialiri strom.”

Bohlam itu jelas tidak akan menyala. Jadi meski terlihat melaksanakan ibadah, tapi hati dan jiwanya melayang-melayang di luar. Kita tidak konek (terhubungkan) dengan Allah, Sang Pencipta ketika kita melakukan aktivitas ibadah. Akibatnya, ibadah kita tidak berpengaruh apa-apa dalam seluruh aktivitas harian kita.

Integrasi iman dan kehidupan adalah menyertakan Tuhan dalam kehidupan. Istilah menyertakan di sini boleh jadi tidak atau kurang tepat, karena Tuhan sesungguhnya tidak pernah terpisahkan dari kita.
Quran menyatakan bahwa kedekatan-Nya kepada kita lebih dekat dari urat leher kita. Sungguh ungkapan Quran ini memiliki makna simbolik yang sangat dalam.

Urat leher adalah simbol kehidupan. Kalau ia putus, sesungguhnya kita akan mati. Artinya bahwa kedekatan Tuhan kepada kita lebih dekat dari kehidupan kita sendiri. Lebih jauh lagi, sesungguhnya Tuhan jauh lebih penting, dan kehidupan kita tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa Tuhan.

Jadi, kitalah yang sesungguhnya tidak menyadari kebersamaan Tuhan dengan kita. Ketidaksadaran itu yang kemudian membuat hidup kita jadi kacau balau. Nabi saw dalam salah satu sabdanya menyatakan bahwa perbedaan antara orang yang ingat kepada Allah (zikir) dan orang yang tidak ingat ibarat perbedaan antara orang yang hidup dan orang mati.
Ibarat atau pengumpamaan Nabi saw ini bagi penulis adalah hakekat yang sungguh nyata. Keterpisahan kita dengan Tuhan membuat kita mati secara hakiki. Ibarat kabel bohlam yang tidak dialiri strom tidak akan membuat bohlam itu menyala, demikian juga manusia yang tidak zikir (menyadari kebersamaan Tuhan).

Di kalangan sufi terkenal ungkapan, “napas yang keluar masuk tanpa disertai zikir (ingatan kepada Allah) adalah napas yang sia-sia dan mati.” Karena itu sangat tepat jika Quran menyatakan Quran bahwa sangat banyak manusia yang terlihat hidup tapi hakekatnya ia sudah mati. Sebaliknya, ada manusia yang sudah mati secara fisik tapi dinyatakan hidup oleh Quran.

Berbuah Akhlak

Bagi seorang Muslim, Integrasi iman dan kehidupan sesungguhnya selalu diikrarkan dalam salat ketika membaca doa iftitah dalam salat, inna shalati wa nusuki, wamahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘alamin (sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, aku persembahkan hanya untuk Allah semata).

Orientasi hidup kita hanya terfokus dan megarah pada satu tujuan, ridha Allah swt. Setiap aktivitas kita mulai dengan namaNya, dengan-Nya, dari-Nya, kepada-Nya, dan di jalan-Nya. Para sufi selalu mengajarkan, ….bahkan untuk sekedar mencuci piring pun, niatkan itu karena Allah.

Boleh jadi kita bertanya, Bukankah ini artinya kehidupan kita menjadi sangat Theosentris? (Istilah ini lagi-lagi menyiratkan adanya pemisahan). Betul, tapi sesungguhnya muaranya berakhir pada akhlak terhadap sesama makhluk.

Di dalam hadis disebutkan, “Tingkat keimanan tertinggi adalah meyakini tiada Tuhan selain Allah, dan yang terendah adalah menyingkirkan duri dari jalan.” Menyingkirkan duri dari jalan artinya setiap mukmin harus punya komitmen dalam dirinya untuk menyelamatkan orang lain, ataupun sesama makhluk dari duri atau apapun yang bisa mencelakakan.

Komitmen dalam diri untuk menyelamatkan makhluk lain adalah tingkat terendah keimanan sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut. Di hadis lain disebutkan, Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yukrim dhaifahu (Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya), dan banyak lagi hadis yang senada, menunjukkan bahwa keimanan itu menuntut adanya sikap dan prilaku yang baik dan mulia.

Hemat penulis, istilah kesalehan individu dan kesalehan sosial adalah dua hal yang harus menyatu dalam diri seorang mu’min, keimanan yang kuat menjadi basis atau pondasi dari kesalehan sosial. “Engkau akan melihat orang beriman dalam perangai belas kasih, saling mencintai, serta berbagi kebaikan sama lain,” demikian sabda Nabi Muhammad saw. yang lain. Wallahu a’lam bi al-shawab.***

RESOURCE :TRIBUN TIMUR

1 Komentar

Filed under Agama, Islam, Opini

One response to “Integrasi Iman dan Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s