Pelanggaran Menurun, Intoleransi Masih Tinggi


Angka kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan serta intoleransi di propinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2008 menunjukkan penurunan yang cukup drastis dibandingkan dengan tahun 2009.

Hal ini terungkap pada acara Focus Group Discussion (FGD) bertema “Potret kebebasan beragama dan berkeyakinan di NTB tahun 2009” yang diadakan Lembaga Studi kemanusiaan (LeNSA) NTB dan The Wahid Institut (WI) Jakarta di Mataram (31/3).

Dari hasil laporan pemantauan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dilakukan leNSA, tercatat, 24 kasus pelanggaran kebebasan beragama dan intoleransi telah terjadi di NTB pada tahun 2008. Sementara tahun 2009 terjadi hanya 6 kasus saja.

Salah seorang peneliti LeNSA, Yusuf Thantawi mengatakan, terjadinya penurunan angka ini tidak sertamerta dapat menyimpulkan bahwa toleransi di NTB membaik. Karena pada kasus-kasus tertentu, ternyata angka intoleransi masih sangat tinggi. Ia mencontohkan beberapa kasus mutakkhir seperti pengrusakan dan pelemparan rumah pimpinan Aliran Tareqat Shalatiah Nurbayan, Dusun Monggal desa Gegelang, Lombok Utara dan perusakan tembok Vihara Budha Jaya Wijaya di Dusun Tebango Desa Pemenang, Kec. Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Beberapa kasus intoleransi bahkan berlanjut pada pelanggaran kebebasan beragama yang dilakukan negara. Kasus intoleransi terhadap Ahmadiyah misalnya memicu Kanwil Depag NTB melarang warga Ahmadiyah pergi haji pada musim haji tahun 2009 lalu. Kepala Kakandepag NTB, Drs.HL.Suhaimi Ismy beralasan, larangan tersebut mengacu pada surat larangan dari pemerintah Arab Saudi yang dikirimkan ke Indonesia.

Begitupula yang terjadi dalam kasus Amaq Bakri. Setelah rekaman CD “Amaq Bakri Mengaku Nabi” disebar anggota LDII, pembawa ajaran Isti Jenar Raksa Gunung Rinjani itudi vonis sesat oleh Pemkab Lombok Timur, Polres, MUI dan Depag Lotim pada 13 Oktober 2009.

Ajaran Amaq Bakri disimpulkan sesat karena didalam CD tersebut Amaq bakri mengaku pernah melakukan Isra’ Mikraj, melihat alam kubur, serta melihat surga dan neraka.

“Beberapa kasus intoleransi ini menunjukkan angkanya masih sangat tinggi” Tambah Yusuf.

Kategorisasi Pelanggaran, Intoleransi dan Diskriminasi

LeNSA mendapat banyak masukan ketika memasuki sesi Lounching hasil laporannya. Peneliti Wahid Institute, Alamsyah M. Ja’far misalnya menilai, laporan LeNSA belum mengkategorisasi kasus-kasus dengan cermat. Kategorisasi yang dimaksud adalah, kasus-kasus itu dipilah mana yang masuk pelanggaran kebebasan beragama, intoleransi dan diskriminasi.

Jika mengacu pada sistematika pelaporan The Wahid Institute, maka yang dimaksud pelanggaran kebebasan beragama adalah pelanggaran yang dilakukan negara terhadap komunitas atau ummat beragama. Pelanggaran bisa berupa pelanggaran aktif seperti aparat ikut andil dalam melakukan kriminalisasi terhadap warga atau pelanggaran aktif dengan melakukan politik pembiaran atas aksi kriminalisasi yang dilakukan warga.

Sementara itu, intoleransi lanjut Alam, dimaksudkan adalah pelanggaran toleransi antara masyarakat dengan masyarakat yang lain seperti aksi penyerangan satu kelompok pada kelompok yang namun tanpa sepengetahuan polisi atau aparat negara yang lain.

Bagaimana dengan diskriminasi, bagian ini dimaksudkan adalah, pavoritisme yang dilakukan negara terhadap satu kelompok agama tertentu. Pembangunan Islamic Center (IC) yang sedang berlangsung di NTB boleh jadi masuk dalam kategori diskriminasi ini.

Dari peserta yang lain, LeNSA mendapat masukan agar memberikan rekomendasi yang lebih tajam dan operasional. [Jhellie]

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, Ahmadiyah, Berita, Demokrasi, Fundamentalis, Hukum, Islam, Kebebasan, kekerasan, Kliping, PKS, Pluralisme, Sasak, Sosial, Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s