Pilkada Loteng dan Politisasi Agama


Pelaksanaan PILKADA Kabupaten Lombok Tengah telah mencapai tahapan yang cukup jauh. Sepuluh pasang kandidat yang mendaftar ke KPUD Lombok Tengah telah menjalani berbagai uji kelayakan secara fisik dan psikis serta uji kelengkapan persyaratan administrasi. KPUD memang belum menghasilkan hasil verfikasi yang mereka lakukan, tetapi desas-desus mengenai hal tersebut telah dimunculkan melalui berbagai media massa lokal. Media massa lokal jauh-jauh hari memang sudah diramaikan dengan pemberitaan seputar PILKADA. Bahkan, hingar bingar PILKADA Kabupaten Lombok Tengah ini juga menjadi pemberitaan utama di media maya baik di forum-forum diskusi, mailing list, situs jejaring social Facebook, ataupun di berbagai web-portal.

Oleh : A. Syalabi Mujahid *

Semakin dekatnya pelaksanaan PILKADA menyebabkan semakin banyaknya alat peraga kampanye para bakal calon yang dapat disaksikan terpajang sedemikian rupa di beberapa sudut ruang wilayah kabupaten Lombok Tengah. Beberapa di antaranya bahkan sengaja dipasang di tempat-tempat yang seharusnya dijadikan sebagai kawasan netral, seperti fasilitas agama, pendidikan, dan pemerintahan. Rentang waktu antara jadwal pendaftaran hingga hari-H pelaksanaan PILKADA seolah-olah menjadi masa singkat yang sangat penting bagi para kandidat untuk meraih simpati dan dukungan sebanyak-banyaknya dari masyarakat tanpa memperdulikan aturan perundang-undangan. Tapi, itulah politik. Di mana potensi tempat bergantung lebih kuat, ke situlah arah menuju.

Masa-masa pemasangan alat peraga kampanye adalah masa para kandidat memperkenalkan diri kepada masyarakat. Bagi mereka yang merasa belum dikenal banyak, maka inilah saat dimana mereka bisa memperkenalkan diri melalui media-media tersebut. Namun, bagi mereka yang sudah terkenal, inilah saatnya menyampaikan tawaran program kerja sebagai calon pemimpin daerah. Masa ini juga menjadi masa yang digunakan oleh para bakal calon populer tersebut untuk menunjukkan sisi terbaik dan menepis berbagai isu negatif yang selama ini terlanjur melekat pada pribadinya.

Isu Agama dalam PILKADA

Isu agama adalah isu yang sangat peka dalam pemilihan pemimpin di masyarakat kita. Isu agama dalam beberapa kesempatan mampu mengalahkan isu-isu primordial lainnya. Hal ini disebabkan karena tingginya semangat keberagamaan di tengah-tengah masyarakat kita. Tak ayal, isu agama menjadi isu yang tetap seksi untuk dimasukkan dalam materi kampanye dan pencitraan diri para kandidat dalam PILKADA Kabupaten Lombok Tengah tahun 2010 ini.

Sebelumnya, isu agama telah mencuat dalam beberapa pertarungan politik lokal di daerah kita. Sebut saja saat Pemilihan Gubernur NTB tahun 2008 silam. Saat itu, masing-masing calon merasa perlu untuk mendapatkan dukungan dari ormas-ormas Islam di daerah ini. Klaim-kalim dukungan dari ormas-ormas Islam tersebut kemudian disuarakan oleh tim sukses mereka untuk meyakinkan masyarakat bahwa calon yang mereka usung benar-benar seorang agamis yang mampu mengemban amanat sebagai pemimpin yang amanah dan dipercaya oleh mayoritas masyarakat kita yang muslim. Bahkan diyakini pula bahwa karena simbol agama yang kuat-lah, masyarakat NTB saat ini memiliki seorang Gubernur yang berlatar belakang sebagai pemimpin agama (baca : tuan guru).

Beberapa pasang kandidat calon dalam PILKADA Kabupaten Lombok Tengah tahun 2010 ini juga berupaya menggunakan symbol-simbol agama untuk meraih simpati massa. Sebut saja pasangan H. Lalu Wiratmaja, SH – Bajuri (JARI) yang memajang foto Almukarrom TGH. M. Najmuddin Makmun, Almukarrom TGH. L. Turmudzi Bagu, dan Drs. H. Lalu Suhaimi yang tak lain adalah tokoh NW [Pancor] di Lombok Tengah. Pastinya, pasangan ini berharap mendapatkan dukungan dari massa yang menjadi jamaah dari ulama- ulama tersebut. Tak berbeda dengan JARI, paket Maiq Meres juga tidak bisa melepaskan diri dari simbol agama. Foto H. Suhaili FT yang mengenakan kopiah putih dan klaim dukungan dari ormas Islam seperti YATOFA merupakan bukti penggunaan simbol tersebut. Pasangan SAMA-SAMA juga lebih kentara lagi dalam menggunakan simbol agama. Dalam beberapa iklan politiknya di harian lokal, SAMA-SAMA yang merupakan paduan dari TGH. Samsul Hadi dan H. Masnun, menyitir sebaris nash dalam agama Islam. Demikian pula dengan pasangan lain seperti TGH. L. Gede Sakti – H. Lalu Elyas Munir (SALAM) yang merupakan cucu pendiri NW, TGKH. Zainuddin Abdul Majid. H. L. Elyas Munir yang mendampingi Gde Sakti konon adalah kader Muhammadiyah Lombok Tengah. Adanya hubungan nasab dengan ulama besar nan kharismatik juga menjadi hal yang menonjol pada pribadi TGH. L. Makmur. Beliau yang ikut maju sebagai bakal calon bupati ini merupakan keturunan ulama terkenal yaitu almarhum Dato’ Lopan.

Penggunaan lambang-lambang dan simbol-simbol agama tidak dapat dihindari karena memang substansi keberagamaan sulit ditampilkan dan tidak mudah diukur oleh publik. Pada prakteknya, pasangan calon pemimpin daerah Muslim akan menggunakan lambang dan simbol agama agar terkesan sebagai Muslim yang shaleh dan taat, seperti mengunjungi tokoh-tokoh ulama yang terkenal berpengaruh, berfoto bersama, kemudian memamerkan foto bersama ulama tersebut dalam bentuk poster, kalender, baliho, atau berbagai media kampanye lainnya. Atau dalam bentuk lain semisal dengan mencantumkan nash-nash agama dalam media kampanye, mencetak dan menyebarkan buku Yasin, mengadakan istighotsah, dzikir bersama, atau sekedar menggunakan busana-busana yang identik dengan nuansa keagamaan.

Penggunaan symbol agama dalam politik oleh banyak kalangan dianggap sebagai hal yang lumrah dan sah-sah saja. Penggunaan symbol dalam politik adalah bentuk komunikasi politik yang disampaikan calon pemimpin kepada masyarakat. Dengan symbol tersebut, para calon hendak menunjukkan citra diri secara positif. Namun, para calon harus ingat bahwa symbol sebagai bentuk komunikasi tidak selamanya akan dipahami dengan makna yang sama oleh audien sebagaimana maksud penggunaan symbol tersebut oleh sang komunikator. Bisa jadi, penggunaan simbol yang semula bertujuan untuk mendapatkan citra positif justru dinilai negative oleh masyarakat. Masyarakat mungkin akan berfikir penggunaan symbol agama tersebut hanya menjadi trik dan sebatas alat propaganda politik yang tidak tulus. Apalagi jika masyarakat sadar bahwa symbol tersebut mereka temukan di ranah politik : ranah yang selama ini tidak pernah mengenal kawan atau lawan secara permanen.

Kebijaksanaan dengan Menilai Track-Record

Masyarakat Lombok Tengah adalah asset terbesar daerah ini yang akan menentukan kualitas hasil PILKADA tahun ini. Dengan banyaknya calon yang telah mendaftarkan diri ke KPUD Lombok Tengah, sepatutnya masyarakat mulai mencari tahu secara tepat siapa calon pemimpin mereka lima tahun ke depan.

Masyarakat harus bijak dalam memilih pemimpinnya dalam PILKADA. Penilaian secara bijak adalah penilaian yang tidak mepet hanya saat kampanye saja. Tidak pula terbatas pada hasil daya upaya pencitraan diri para calon secara instant melalui poster, baliho, maupun media kampanye lainnya. Bukan pula dengan cara nista seperti jual beli suara, suap, atau intimidasi dan terror secara membabi buta. Masyarakat harus membuka kembali ingatan mereka untuk melihat track-record dari masing-masing kandidat yang bakal bertarung dalam PILKADA Kabupaten Lombok Tengah mendatang. Dengan melihat track record tersebut, dapatlah dinilai siapa saja yang patut dipilih dan siapa saja yang tidak semestinya terpilih. Sehingga diharapkan, dengan kebijaksanaan masyarakat tersebut “ikhtiar pembangunan Kabupaten Lombok Tengah lima tahun ke depan” dapat berjalan dengan benar demi kemaslahatan bersama. Amien.

)* Seorang guru biasa di sekolah swasta yang biasa

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, Demokrasi, Islam, Opini, Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s