Pelanggaran Kebebasan Beragama: Bentuk, Sebab, Dampak, dan Solusi (seri I)


Agama Menyerukan Kita untuk Menjaga Diri dari Dosa!
Tapi, Kenapa Banyak Dosa yang Lahir atas Nama Agama?
Kata Mereka:” Beragama Membuat Kita Tidak Kacau”!
Tapi, Kenapa Orang Beragama Menimbulkan Banyak Kekacauan?
Para Nabi Mengajarkan Keberagaman yang Arif!
Tapi, Kenapa Keberagamaan Membuat Banyak Manusia Menjadi Naif?

Sabara Nuruddin, S. Hi, M. Fil.

A. Mukaddimah: Paradoks Agama, [Ber]agama, dan [Keber]agama[an]

Berbicara mengenai agama bagaikan berbicara tentang suatu paradoks. Di satu pihak, agama diyakini sebagai penjamin jalan keselamatan, cinta, dan perdamaian. Di lain pihak, keberagamaan yang ditampilkan sebagai pengejawantahan ekspresi manusia-manusia yang beragama justru menjadi sumber, penyebab, dan alasan yang menyebabkan kehancuran dan kemalangan manusia. Atas nama agama, orang-orang beragama bisa saling mencintai. Tapi atas nama [keber]agama[an] pula, orang-orang beragama bisa saling membenci, membunuh, dan menghancurkan.

Sejarah agama-agama –dalam hal ini pola keberagamaan yang diekspresikan oleh orang-orang beragama- di dunia adalah deskripsi sejarah siklik yang penuh fakta kelam yang dihiasi dengan berbagai tragika historis atas nama Tuhan. Sakralitas ajaran transenden “dipelintir” dan dipolitisir demi sebuah ambisi kelompok yang diwujudkan dalam bentuk pemberangusan dan pembasmian mereka yang dianggap menyimpang. Inkuisisi, mihnah, dan berbagai tragika sejarah telah menelan korban sekian banyak nyawa manusia hanya karena “satu dosa” menyimpang dari tradisi [keber]agama[an] yang dimapankan. Jika relasi umat intra-iman dalam satu agama saja masih sering menoreh darah, terlebih lagi interaksi umat antar-iman yang berbeda agama. Penaklukan, genocide, eksploitasi, merupakan berita mutawatir yang terpapar dalam lembar sejarah manusia, tentang bagaimana agama menjadi begitu ”merah” dan ”hitam”.

Akhirnya agama yang suci, sakral, agung, dan penjamin keselamatan dan sumber pengetahuan, kearifan dan cinta. Terreduksi dalam wajah keberagamaan orang-orang beragama yang paradoks akibat pemahaman yang salah dari orang-orang beragama dan melahirkan penyikapan keberagamaan yang naif dan destruktif. Pemahaman yang salah dan penyikapan yang naif tidak hanya melanda orang-orang beragama. Orang-orang yang anti agama juga tak kalah sering mengalami mispersepsi tentang agama hingga melahirkan sikap yang tidak arif dan konstruktif dengan cara memusuhi orang-orang beragama dan menghalangi ekspresi ritus keberagamaan manusia. Sejarah telah mencatat, di masyarakat sekuler yang anti agama, orang-orang beragama telah dikebiri hak-hak keberagamaannya. Yang terjadi akhirnya bukan sekedar pemaksaan terhadap manusia untuk beragama. Tapi lebih dari itu, yang terjadi juga pemaksaan kepada manusia untuk tidak beragama dan menghalangi manusia untuk mengekspresikan ritus keberagamaannya. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada masyarakat agamis yang didominasi oleh agama atau pemahaman keagamaan tertentu, melainkan juga terjadi pada masyarakat sekuler yang agnostik maupun anti agama. Menyikapi fenomena tersebut, maka telaah konsep kebebasan beragama menjadi diskursus yang menarik.

B. Kebebasan Beragama: Sebuah Keniscayaan?

Jika Kau Ingin Menggugat Kemajemukan,
Maka Gugatlah Tuhan yang Menciptakan Perbedaan!

Manusia terlahir berbeda merupakan sebuah aksioma, berdasarkan pendekatan prima principia Aristoteles, secara fisik, psikologis, maupun pemikiran tak ada dua manusia yang persis sama. Perbedaan di kalangan manusia terbagi atas dua jenis, yaitu perbedaan bawaan (alami) dan perbedaan perolehan. Selain terdapat perbedaan suku, ras, dan bentuk fisik yang merupakan perbedaan bawaan manusia. Terdapat sekian banyak perbedaan perolehan yang ada pada manusia, seperti perbedaan dalam gagasan, pengetahuan, pendekatan, prioritas, dan penilaian. Jika perbedaan bawaan bersifat konstan, maka perbedaan perolehan bersifat dinamis dan konstruktif.

Agama menempati ruang yang unik, yaitu agama meliputi perbedaan bawaan sekaligus perbedaan perolehan. Yaitu agama di satu sisi terkadang bersifat herediti dari suatu generasi yang diwariskan ke generasi berikutnya atau dapat pula berkembang dari suatu sistem kepercayaan melalui keyakinan pribadi yang mengalami proses evolusi hingga melahirkan konstruksi keyakinan dan pemikiran yang “khas” dari tiap-tiap individu maupun kelompok. “Kekhasan” ini melahirkan perbedaan agama, pemahaman agama, hingga ekspresi keberagamaan. Dan, karena posisi agama menempati ruang perbedaan konstruktif akibat pilihan sadar manusia dalam mencapai, menginternalisasi, dan mengekspresikan kebenaran. Maka [ber]agama dan [keber]agama[an] menempati ruang bebas pilihan manusia, Kebebasan beragama sebagai konsekuensi logis pilihan bebas manusia dalam menempuh jalan kebenaran, mencakup kebebasan memilih agama -termasuk pindah agama-, kebebasan memahami ajaran agama –termasuk berafiliasi pada pemahaman agama tertentu-, serta kebebasan dalam mengekspresikan serta menjalankan praktek-praktek keberagamaan (beribadah).
Dalam pendekatan psikologi (humanistik), kebutuhan tertinggi manusia adalah kebutuhan akan aktualisasi diri dan transendensi diri. Dalam proses aktualisasi dan transendensi diri tersebut, manusia berpijak pada pandangan dan keyakinannya akan sebuah jalan kebenaran. Secara filosofis manusia dibekali tiga fakultas epistemik –indera, akal, dan hati- untuk mencapai kebenaran. Tingkat pencapaian manusia pada jalan kebenaran berbanding lurus dengan maksimalisasi proses penggunaan fakultas-fakultas epistemik tersebut serta dipengaruhi oleh piranti-piranti eksternal yang mengitarinya, khususnya kondisi sosio-kultural dan pengalaman-pengalaman subjektif manusia, baik berupa pengalaman fenomenal maupun pengalaman eksistensial. Agama –dengan “A” besar- merupakan titik kordinat kebenaran tertinggi yang bersumber pada sakralitas Ilhaiah. Tapi, agama –dengan “a” kecil- merupakan hasil pencapaian manusia melalui dialektika pemahaman dan kesadarannya dengan kerinduan primordialnya pada kebenaran sublim. Oleh karena itu, perbedaan pencapaian tersebut melahirkan perbedaan dalam menginternalisasi, serta perbedaan dalam mengekspresikan kebenaran agama sebagai proses aktualisasi dan transendensi diri dalam mengenali jati dirinya yang paling sublim. Perbedaan agama, [ber]agama, dan [keber]agama[an], merupakan keniscayaan, namun keniscayaan ini didasarkan pada pilihan bebas dari pengelanaan rasio serta kesadaran manusia sebagai makhluk merdeka. Berdasarkan hal tersebut, kebebasan beragama menjadi niscaya secara filosofis.

Menurut Syeikh Gamal al-Banna –salah seorang tokoh Ikhwan al-Muslimin-, penerimaan terhadap keyakinan Tauhid meniscayakan keyakinan akan pluralitas selain DIA. Pluralitas merupakan sebuah doktrin aksiomatis seiring dengan doktrin keesaan Tuhan. Natijah ini didasarkan pada untaian premis, bahwa yang tunggal hanyalah Allah dan segala selain Allah adalah tidak tunggal (plural). Pluralitas entitas selain Allah mencakup semua level gradasi realitas. Pluralitas ini meniscayakan hadirnya berbagai pemahaman yang berbeda-beda tentang Allah. Tuhan itu tunggal, tapi konsep tentang Tuhan itu plural, sebanyak kepala yang memikirkannya. Hadis Qudsi yang menyatakan bahwa, “Allah berdasarkan persangkaan hambaNYA tentang DIA” merupakan isyarat pengakuan dari Allah akan adanya pluralitas konsep tentangNYA. Pluralitas konsep tentang Allah meniscayakan pluralitas bentuk tiap-tiap individu untuk mengekspresikan keyakinannya terhadap Tuhan dan bentuk ritus-ritus untuk mengkuduskan Tuhan dalam kehidupan. Perbedaan agama, pemahaman agama, dan ekspresi keberagamaan menjadi hal yang lumrah sebagai konsekuensi logis atas perbedaan pada konsep dan pengejawantahan konsep tentang Tuhan. Kelaziman perbedaan pemahaman dan agama (keyakinan) tersebut meniscyakan perlunya suatu bentuk penyikapan yang arif terhadap perbedaan pemahaman dan keyakinan tersebut. Dan pada sisi inilah, secara teologis, pengakuan akan kebebasan beragama sebagai sebuah pemahaman dan sikap hidup menjadi sebuah keniscayaan.
Secara sosiologis, keragaman agama dan bentuk-bentuk ekspresi keberagamaan merupakan fakta sosial yang tak terbantah. Menyatukan keragaman menjadi keseragaman merupakan sebuah kemustahilan karena melawan aksioma sosial. Oleh karena keragaman agama dan praktek keberagamaan merupakan sebuah keniscayaan, dan menyatukannya adalah kemustahilan, maka penyikapan arif terhadap perbedaan tersebut adalah sebuah kemestian. Penyikapan arif tersebut adalah penghargaan akan kebebasan manusia dalam beragama. Berdasarkan untaian proposisi tersebut, secara sosiologis, kebebasan beragama merupakan sebuah keniscayaan.

Kelangsungan eksistensi agama dalam sejarah sangat ditentukan oleh dialektika dan adaptasi agama tersebut dengan konteks kultur yang berlaku disautu tempat atau kurun waktu tertentu. Dengan demikian perbedaan kultur meniscayakan perbedaan dalam memahami dan mengekspresikan bentuk-bentuk keberagamaan. Dan hal tersebut mesti diapresiasi sebagai sebuah keniscayaan kultural dan dikapi secara positif dalam bentuk penghargaan terhadap kebebasan beragama dalam konteks kultural. Berdasarkan paparan tersebut kebebasan beragama adalah niscaya baik secara filosofis, teologis, sosiologis, maupun kulturaladalah sebuah keniscayaan. Dan kebebasan beragama dalam artian yang sebenarnya merupakan hak asasi setiap manusia sebagai makhluk merdeka, makhluk pendamba kebenaran, dan makhluk yang membutuhkan kedamaian.

Jika perbedaan adalah keniscayaan,
Maka tindakan arif untuk menyikapi perbedaan adalah kemestian

C. Pelanggaran Kebebasan Beragama: Atas Nama Tuhan dan Keteraturan

Tuhan tak Pernah Memaksa Manusia!
Tuhan Membiarkan Manusia untuk Merdeka,
Bahkan ketika Manusia Memilih untuk Menjadi Kafir!
Tapi, kenapa atas nama Tuhan dan keteraturan,
Manusia Merampas Kebebasan Sesamanya?

Meski kebebasan beragama adalah sebuah keniscayaan, baik dari segi filofois, teologis, maupun sosiologis. Namun, berita dan cerita miris terpapar dalam lembar sejarah. Fakta-fakta memilukan dan memalukan membias ironi yang menorah kesucian agama dan kemerdekaan manusia. Secara ideal dan konseptual kebebasan beragama adalah niscaya, tapi secara factual kebebasan beragama nyaris utopis. Atas nama Tuhan dan keteraturan, kebebasan dan kemerdekaan manusia dicerabut oleh sesamanya. Jadilah cerita akan pelanggaran atas kebebasan beragama menjadi fakta.
Bentuk-bentuk pelanggaran kebebasan beragama terdiri atas dua modus represi, yaitu represi pemikiran dan represi fisik. Represi pemikiran dilakukan dengan modus pembungkaman nalar kritis, menutup pintu ijtihad, membatasi ruang interpretasi terhadap agama, maupun hingga klaim-klaim arogan yang dicaplokkan kepada mereka yang berbeda agama maupun pemahaman. Represi fisik dilakukan dengan modus pemaksaan, intimidasi, hingga terror kepada orang yang berbeda keyakinan agama terkait dengan kebebasan mereka dalam beragama dan menjalankan keberagamaannya.
Praktek-praktek pelanggaran terhadap kebebasan beragama, tidak hanya terjadi pada lingkup masyarakat “agamis” yang didominasi oleh agama atau pemahaman agama tertentu. Di masyarakat –negara- Sekuler dan komunis, pelanggaran terhadap kebebasan beragama kerap terjadi. Di masyarakat atau Negara “agamis” pelanggaran kebebasan beragama dilakukan kelompok agama dominan dengan memberangus, “mengkebiri”, dan menghalang, maupun memberikan stigmatisasi terhadapi penganut agama minoritas atau kelompok agama yang berpemahaman dan melaksanakan praktek ritus yang berbeda dengan arus dominant. Contoh kongkret, misalnya pengganyangan kaum Ahmadiyah di Indonesia, pengkafiran Syiah, dan sederetan fakta miris lainnya. Di masayrakat atau Negara sekuler, di mana agama dan praktek keberagamaan dipandang sebagai simbolisasi warisan tradisional yang kolot, sarat mitos, dan penghambat kemajuan. Orang-orang beragama yang taat menjalankan agamanya mendapatkan stigma negatif dan bahkan di Negara tertentu dilarang untuk menampilkan simbol-simbol keagamaannya. Misalnya pelarangan pemakaian jilbab bagi muslimah di Prancis, Inggris, dan Turki.

Mereka Memberangus Nalarku!
Mengkebiri Keyakinanku!
Membungkam Mulutku!
Atas Nama Tuhan dan Kemapanan,
Mereka Merampas Kebebasanku!
Sedangkan Tuhan Menciptakanku Sebagai Makhluk yang Merdeka!

-Bersambung-

Wallahu a’lam bi shawab.

2 Komentar

Filed under Kebebasan, Opini, Pluralisme

2 responses to “Pelanggaran Kebebasan Beragama: Bentuk, Sebab, Dampak, dan Solusi (seri I)

  1. Anonim

    coba mas tunjukkan kata alloh tentang kebebasan beragama,jgn2 bawa nama alloh ternyata itu hanya kesimpulan pemikiran mas aza dengan mengatasnamakan alloh

  2. daspuy

    apakah bisa mengatasnamakan alloh? sejauh mana pengetahuan dan jiwa spiritual kita menjangkaunya.
    bukankah Dia (Tuhan) adalah Aku, yang bertajalli dlam wujudku. kacau adalah sebuah paralogi dari bias logika semantik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s