Dialog Ulil Abshar-Abdalla dan H.M. Nur Abdurrahman


Sekarang saya tanya: apa bahasa Allah itu? Apakah Allah itu berbahasa Arab, Inggris, Belanda, Sunda, atau yang lain? Jawaban saya: Allah menggambarkan diri-Nya dalam Qur’an, “Laisa kamitslihi syai’un”, Allah tidak menyerupai apapaun. Artinya: Allah tidak mempunyai bahasa; Allah itu “beyond languages, beyond symbols,” begitulah orang-orang sufi sering menggambarkan zat Allah. Tetapi ketika Allah hendak “berbicara” kepada manusia, “terpaksa” Allah memakai bahasa. Ketika Allah hendak “berkomunikasi” dengan komunitas yang kebetulan adalah orang-orang Arab, maka “terpaksa” Allah menggunakan bahasa Arab.

Behind The Scene

Artikel Ulil Abshar-Abdalla (UAA), Koordinator Jaringan Islam Liberal, di harian Kompas 18 November 2002 berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, http://www.islamlib.com/KOLOM/181102ulilkompas.html, menjadi topik diskusi hangat di berbagai milis.

Satu tanggapan keras datang dari H.M. Nur Abdurrahman (HMNA), Wakil Ketua Majelis Syura Komite Persiapan Penegakan Syari’at Islam (KPPSI) Sulsel, ketika mengomentari bagian pernyataan Ulil dalam artikel Kompas: “Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak,” dapat dilihat misalnya di milis wanita-muslimah@yahoogroups.com, http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/15860 atau milis sabili@yahoogroups.com, http://groups.yahoo.com/group/sabili/message/38782

Selanjutnya kedua belah pihak melakukan korespondensi via email antara tanggal 14-24 Desember 2002 berdialog seputar ajaran Islam, wahyu, akal dan kultur Arab. Setelah diskusi berakhir, HMNA mengirimkan berkas diskusi ini kepada saya (DWS) dan mengijinkan saya mempublikasikannya di beberapa milis. Saya juga mendapatkan ijin dari UAA untuk publikasi ini.

Selain itu untuk mempermudah mengikuti diskusi email-email korespondensi disusun secara kronologis. Tidak ada penyuntingan lebih dari itu. Ada kemungkinan dialog masih berlanjut. Mengenai tanggapan dan penjelasan lebih lanjut dapat berhubungan langsung dengan pihak-pihak yang berdialog.
Semoga bermanfaat.
salam,
Dwi W. Soegardi
http://www.isnet.org
________________________________________
Ulil Abshar-Abdalla (UAA):
Sent: Saturday, December 14, 2002 11:59 PM
Subject: Wahyu itu non-hisoris dan hitoris sekaligus!

Pak Nur yang baik,
Semula saya enggan menanggapi posting-posting anda, karena nadanya yang memperlihatkan seolah-olah andalah pemegang kebenaran mutlak, dan menempatkan saya sebagai pihak yang sudah pasti salah (ini sangat tidak sesuai dengan “adabul khilaf” yang dikenal dalam tradisi pemikiran Islam klasik); juga kata-kata “kasar” yang anda pakai membuat saya agak sedikit ogah-ogahan untuk membuat tanggapan balik. Pelan-pelan anda mulai menggunakan bahasa yang sopan, sehingga saya mulai percaya bahwa anda menghendaki suatu “mujadalah billati hiya ahsan”. Islam itu agama rahmat, jadi jangan dibuat seram dan menakutkan, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Ba’asyir dan kawan-kawannya itu (anda setuju dia?).

Saya hendak mencicil dengan menanggapi sedikit demi sedikit keberatan anda pada pemikiran saya. Pokok soal yang anda ulang-ulang terus adalah bahwa pernyataan saya tentang adanya pengaruh kultur Arab dalam ajaran Islam anda anggap sebagai penghinaan atas Allah. Saya tidak tahu, dari mana anda berkesimpulan seperti itu. Kalau saya tidak setuju dengan pendapat seseorang mengenai Islam, saya tidak akan mengatakan bahwa orang itu telah menghna Allah; sebab, siapakah yang tahu kehendak Allah secara persis.

Kalau saya tidak sepakat dengan pendapat anda dalam hal “pengaruh kebudayaan Arab dalam ajaran Islam,” dan kemudian karena itu anda mengatakan bahwa saya telah menghina Allah, maka yang terjadi adalah: seolah-olah anda mengetahui dengan persis kehendak Allah; lebih celaka lagi, seolah-olah anda mau meletakkan pendapat anda setara dengan “Tuhan” itu sendiri, sehingga orang-orang yang berlawanan dengan pendapat anda sama dengan melawan Allah.

Cara berargumen yang sehat adalah: jika anda tak setuju dengan penafsiran seseorang atas Islam, kemukakan kritik dan argumentasi anda, tetapi tidak usah menuduh bahwa lawan diskusi anda, misalnya, telah keluar dari “manhaj” Islam, telah menghina Allah, menghina Rasul, menghina Islam. Kalau mau jujur, saya mau katakan: bukan melawan Allah, tetapi melawan pendapat anda sendiri. Dan janganlah “GR” bahwa pendapat anda adalah mewakili seluruh kebenaran Islam.

Anda mengatakan bahwa, “Budaya bersumber dari akar yang historis, sedangkan wahyu sumbernya non-historis yaitu Allah SWT.” Oke, itu adalah pemahaman anda, bukan gambaran dari kebenaran Islam itu sendiri. Saya tak tahu, dari mana anda mempunyai kesmpulan seperti itu. Pandangan seperti itu meletakkan seolah-olah antara “budaya” dan “wahyu” adalah saling bertentangan. Sumber wahyu memang “non-historis”, tetapi ketika Allah hendak berbicara dengan manusia melalui Rasul-Nya, maka Allah menggunakan peralatan yang “historis” untuk bisa menyampaikan pesan kepada manusia. Qur’an sendir berfirman, “wa likullin ja’alna minkum syir’atan wa minhaja,” masing-masing umat suatu rasul diberikan syari’at dan “manhaj” yang sesuai dengan kondisi sosial mereka masing-masing. Artinya, wahyu dan firman Tuhan mewujudkan diri melalui bahasa budaya lokal. Itulah sebabnya, Qur’an turun secara “tadarruj”, gradual, karena Allah tidak bisa mengabaikan begitu saja konteks historis yang ada. Bagaimana mungkin Allah yang “non-historis” berbicara dengan manusia yang “historis” kalau tidak menggunakan piranti-piranti kultural yang historis.

Contoh kongkret: karena Qur’an turun di tanah Arab, maka dengan sendirinya wahyu Allah turun dengan menggunakan piranti kultural yang historis, yaitu bahasa Arab, “Inna anzalnahu qur’anan ‘arabyyan la’allaku ta’qilun”. Karena Qur’an turun dalam bahasa Arab, maka struktur linguistik Arab jelas mempegaruhi ajaran Islam itu sendiri. Kalau anda mengikuti studi-studi linguistik modern (karena studi ini berkembang di Barat, mungkin anda tak mau terima ya? Barat kan “kafir”), maka dengan jelas diperlihatkan bahwa sesungguhnya bahasa bukan sekedar deretan kalimat, tetapi juga “pandangan dunia”. Jadi, karena wahyu Islam turun dalam bahasa Arab, maka “pandangan dunia” orang Arab jelas mempengaruhi ajaran Islam. Dengan mengatakan ini, saya tidak sedang menghina Allah. Di mana menghinanya? Kalau Allah menggunakan bahasa Arab (sesuatu “yang historis”) untuk berkomunikasi dengan orang Arab, apakah Allah menghina dirinya sendiri? Pendapat anda bahkan tidak pernah saya temukan dalam tradisi kajian hukum Islam klasik yang paling konservatif pun. Di kalangan juris Islam, pengaruh budaya atas ajaran Islam itu diakui sebagai sesuatu yang absah. Itulah sebabnya ada diktum “al ‘adah muhakkamah”, adat masyarakat bisa dijadikan sumber hukum Islam. Artinya: hukum Islam itu dipengaruhi oleh kultur setempat. Apanya yang salah dengan fakta semacam ini. Contoh anda tentang “fil”, gajah, dan unta sangat superfisial dan tidak relevan, juga tidak jelas arahnya ke mana.

Anda juga mengatakan, “Artinya menurut uaa-jil-kiuk ==> “Ada wahyu yang dipengaruhi kultur Arab”, itu sudah menghina Allah SWT. Artinya juga ==> uaa bervisi “Al Quran tidak murni terdiri atas wahyu, sebab ada sebahagian yang dipengaruhi kultur Arab. Artinya ==> uaa telah mendustakan Nabi Muhammad SAW. ==> uua telah melebihi ghulam ahmad, nabi palsu dari India itu. Sebab? ghulam ahmad walaupun mengaku menerima wahyu, masih mengakui bahwa Al Quran itu murni dari wahyu.”

Sekali lagi, kalau saya berbeda pandangan dengan anda, anda tidak usah menempatkan diri sejajar dengan Nabi Muhammad, sehingga berlawanan dengan pendapat anda sama dengan mendustakan Nabi. Kalau wahyu tidak dipengaruhi oleh budaya lokal, kenapa setiap datang Nabi baru, sebagian ajaran Nabi sebelumnya dibatalkan? Alasannya jelas: setiap Nabi membawa wahyu yang sesuai dengan kondisi historis yang dihadapinya; wahyu, dengan demikian, dikondisikan oleh konteks yang historis. Wahyu ada “dalam” sejarah manusia, bukan di “luar” sejarah manusia. Anda akan mengatakan bahwa Qur’an adalah wahyu terakhir, sehingga hukum-hukumnya tidak akan mungkin dibatalkan oleh ajaran lain; sebab setelah Qur’an tidak ada wahyu lagi. Saya setuju bahwa Qur’an adalah wahyu terakhir; tetapi apa sih yang disebut dengan “hukum Qur’an” itu? Osamah ben Laden, meniru Hasan Al Banna, melontarkan semboyan yang ditiru oleh pengikutnya Abu Bakar Ba’asyir di sini, “Al Qur’an dusturuna,” Qur’an adalah undang-undang kami, konstitusi kami. Itulah landasan orang-orang yang ingin menegakkan syari’at Islam. Apa sih yang disebut hukum Qur’an itu? Qur’an memang panduan dan “guide” bagi kehidupan umat Islam (hudan lin nas), tetapi dia bukan kitab hukum. Teks-teks Qur’an bisa ditafsirkan secara berbeda-beda oleh para ulama dan sarjana. Ambil contoh: apakah bunga bank itu adalah “riba” seperti yang dimaksud oleh Qur’an, dan kerana itu haram? Ayatnya memang jelas, “wa ahallahul bai’a wa harramar riba.” Tetapi “riba” didefenisikan secara berbeda-beda oleh ulama, sehingga status bunga bank-pun diperselisihkan. Kalau ada hukum Qur’an dalam soal bunga bank, maka pertanyaannya: manakah pendapat yang paling sesuai dengan hukum Qur’an, pendapat yang menghalalkan atau mengharamkan. Apakah orang yang menghalalkan bunga bank adalah menghina Qur’an, Allah, dan Nabi? Soal riba ini juga memperlihatkan bahwa sebetulnya wahyu Qur’an itu sangat dipengaruhi oleh budaya Arab setempat. Sebab, istilah “riba” itu memang sudah ada dalam masyarakat Arab saat itu; pengertian mengenai “riba” seperti disebut Qur’an juga merujuk kepada bagaimana istilah itu dimengerti oleh masyarakat Arab. Karena pengertian “riba” dalam Qur’an terkait dengan penggunaannya dalam masyarakat Arab maka para ulama modern berbeda pendapat: apakah bunga bank termasuk dalam pengertian “riba” dalam Qur’an itu.
Contoh lain: penggambaran sorga dalam Qur’an jelas sekali dipengaruhi oleh “ekspektasi” yang khas Arab terhadap apa yang disebut dengan “jannah” atau kebun (sorga). Qur’an menggambarkan sorga sebagai “mengalir di bawahnya sungai-sungai”. Dalam surah Al Ghasyiyah dikatakan, “fiha ‘ainun jariyah, fiha sururun marfu’ah, wa akwabun maudlu’ah, wa namariqu mashfufah, wa zarabiyyu mabtsutsah …”. Sorga dalam surah Al Ghasyuyah ini persis seperti bayangan orang-orang Arab mengenai istana raja-raja yang mereka kenal pada saat itu. Apakah sorga seperti itu? Kalau anda berandangan literalistik, dan beranggapan bahwa sorga ya seperti digambarkan Qur’an itu, maka sorga semacam itu hanyalah sorganya orang Arab. Kalau anda mengatakan: ya itu kan ilustrasi saja agar orang Arab paham, maka anda telah menempuh suatu metode penafsiran yang dalam tradisi tasawwuf disebut “ta’wil”, yaitu memahami kalimat bukan berdasarkan makana lahiriahnya, tetapi berdasarkan esensi “esoterik” (bathin)-nya. Metode “ta’wil” inilah yang saya pakai untuk memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum pidana dan yang lain. Menurut saya: qishash, rajam, dan lain-lain itu adalah cara menerjemahkan nilai dasar Islam tentang “perlindungan nyawa dan keturunan” yang merupakan bagian dari “al kulliyyatul khamsah” dalam cara yang sesuai dengan kultur Arab saat itu. Qishash tidak wajib kita ikuti, yang wajib kita ikuti adalah nilai esensial yang ada di baliknya. Umat Islam diwajibkan untuk berijtihad untuk mencari kerangka kelembagaan agar nilai esensial tentang “perlindungan nyawa” itu bisa terwujud dalam kehidupan yang kongkret. Itulah ta’wil. Dan janganlah anda kalau tak seutuju dengan pendapat ini langsung mengecapnya sebagai “menghina Allah”.
Kalau saya mau meradikalkan pendapat saya, maka saya akan mengatakan: bahwa wahyu tidak bisa tidak kecuali dipengaruhi oleh budaya setempat. Sebab wahyu sebagai “kehendak” Allah harus memakai “baju” yang kongkret, yaitu kultur masyarakat yang ada. Kalau wahyu adalah sepenuhnya “non-historis’, maka dia akan seperti “hantu” yang melayang-layang tanpa tubuh (Ini tamsil saja Pak, jangan “diambil hati” lalu anda simpulkan lagi sebagai menghina Allah dan Qur’an; jangan mudah beranggapan begitu ah….ndak baik). Jadi, struktur wahyu itu adalah begini:
Pesan universal (seperti tersimpan dalam “Loh Mahfudz”) –> Kultur setempat (sebagai “baju”) = wahyu
Kita hanya diwajibkan untuk mengikuti pesan universalnya, bukan “baju” tempat pesan itu menemukan wadahnya. Jadi, bukan qishash atau rajam atau jilbab yang wajib diikuti, tetapi nilai-nilai yang ada di baliknya. Bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan kedalam kehidupan kongkret, itu terserah kepada ijtihad manusia.
Salam,
ulil
________________________________________
H. M. Nur Abdurrahman (HMNA):
Assalamu ‘alaykum wr.wb.
Pertama-tama kita sepakati dahulu mengenai term budaya/kultur, atau kalau tidak bisa sepakat sekurang-kurangnya anda sudah faham apa yang saya maksud dengan budaya, singkatnya budaya itu adalah ‘produk” akal manusia itulah yang saya maksud dengan kebudayaan itu sumbernya historis, artinya lahir oleh sejarah pertumbuhan hasil budi-daya manusia. Wahyu itu non historis, karena wahyu itu tidak dilahirkan oleh sejarah. Dari sinilah saya bertitik tolak untuk “menyalahkan” visi anda yang mengatakan “Ada wahyu yang dipengaruhi kultur Arab”. Artinya menurut persepsi saya berdasar atas pengertian istilah “pengaruh” ==> yang dipengaruhi itu posisinya dibawah dari yang mempengaruhi. Oleh sebab itu visi Ada wahyu yang dipengaruhi kultur Arab, bukankah itu sudah jelas bahwa posisi kultur Arab itu “mengatasi” wahyu? ==> Artinya kebudayaan yang produk akal manusia itu posisinya mengatasi wahyu yang bersumber dari Allah SWT? Bukankah itu menghina Allah SWT? Selanjutnya, jika ada wahyu yang dipengaruhi oleh kultur Arab, maka berarti Al Quran samalah kedudukannya dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang ayat-ayatnya bercampur aduk dengan kultur Bani Israil? ==> Artinya Al Quran itu tidak murni terdiri dari wahyu. Apakah ini tidak mendustakan Nabi Muhammad SAW, menuduh Nabi Muhammad SAW mencampur adukkan wahyu dengan kultur Arab dalam Al Quran?
Ini dulu kita finalkan baru beralih ke substansi yang lain.
Wassalam,
HMNA
________________________________________
UAA:
Sent: Sunday, December 15, 2002 2:26 AM
Subject: Re: Wahyu itu non-hisoris dan hitoris sekaligus!
Pak Nur,
Apapun pengertian yang anda tempelkan pada kata “budaya” (konon, Kluckhon pernah menghitung defenisi yang pernah dipakai dalam tradisi kesarjanaan Barat, dan jumlahnya lebih dari seratus; Terry Eagleton menulis buku khusus tentang defenisi budaya itu beratus-ratus lembar, dalam buku berjudul “The Idea of Culture”), tetap saya mengatakan: tak ada salahnya wahyu dipengaruhi oleh budaya. Apakah wahyu kurang nilainya kalau dipengaruhi budaya Arab? Tidak! Kalau anda memaknai wahyu secara general, tidak saja wahyu dalam Qur’an, maka jelas sekali Qur’an mengatakan bahwa wahyu Allah kepada setiap Nabi itu dipengaruhi oleh masing-masing kultur umatnya; “wa likullin ja’alna minkum syir’atan wa minhaja”. Qur’an sendiri menegaskan itu. Karena wahyu Allah dalam bentuk “minhaj” yang turun pada Nabi Musa sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan kultur masyarakat yang ada, maka Allah menurunkan wahyu baru dalam bentuk “manhaj” baru, yaitu wahyu yang turun pada Nabi Isa. Wahyu Isa dkoreksi oleh wahyu yang turun pada Nabi Muhammad. Kalau wahyu dipengaruhi oleh kultur Arab, maka kultur Arab mengatasi wahyu, kata anda. Dari mana anda dapat pemahaman seperti ini?

Sekarang saya tanya: apa bahasa Allah itu? Apakah Allah itu berbahasa Arab, Inggris, Belanda, Sunda, atau yang lain? Jawaban saya: Allah menggambarkan diri-Nya dalam Qur’an, “Laisa kamitslihi syai’un”, Allah tidak menyerupai apapaun. Artinya: Allah tidak mempunyai bahasa; Allah itu “beyond languages, beyond symbols,” begitulah orang-orang sufi sering menggambarkan zat Allah. Tetapi ketika Allah hendak “berbicara” kepada manusia, “terpaksa” Allah memakai bahasa. Ketika Allah hendak “berkomunikasi” dengan komunitas yang kebetulan adalah orang-orang Arab, maka “terpaksa” Allah menggunakan bahasa Arab. Karena “pesan” Allah dikomunikasikan dalam bahasa yang spesifik, yaitu bahasa Arab, sudah logis kalau “pesan universal” Allah itu juga terpengaruh untuk kultur Arab. Seperti sudah saya katakan, bahasa itu bukan sekedar susunan kata-kata, tetapi juga membawa pandangan dunia, kultur, dan prasangka-prasangka masyarakat yang memakainya. Seandainya “pesan Allah” itu turun di tanah Jawa dan dikomuniakasikan dalam bahasa Jawa, sudah pasti wahyu Allah akan berbeda.

Saya bertanya: kata-kata Nabi yang terhimpun dalam hadis itu wahyu atau tidak? Qur’an mengatakan, “wa ma yanthiqu ‘anil hawa, in huwa illa wahyun yuha.” Nabi tidak pernah berkata-kata dari hawa nafsunya sendiri, semua yang diuajarkannya adalah wahyu. Pasti ada perbedaan pemahaman atas ayat ini. Kalau kita mengikuti pandangan orang yang mengatakan bahwa berdasarkan ayat itu, hadis-pun adalah wahyu dari Allah juga, maka saya akan ajukan sebuah hadis yang terang-terang dipengaruhi oleh kebudayaan Arab: “A’ful liha”, panjangkan jenggot kalian. Ini hadis sahih. Dalam teori hukum Islam klasik, disebut ushul fiqh, dikatakan: setiap ketentuan hukum yang disampaikan dalam bentuk “kata perintah” (fi’il amar), maka hukumnya adalah wajib. Jadi, memanjangkan jenggot adalah wajib hukumnya. Pemerintah Saudi pernah membiayai pencetakan ribuan pamflet tentang wajibnya memanjangkan jenggot berdasarkan hadis itu. Pemerintahan Taliban ketika masih berkuasa di Afghanistan pernah menghukum orang-orang yang mencukur jenggotnya, berdasarkan hadis ini pula. Kalau hadis adalah juga merupakan wahyu Allah, maka pertanyaan saya: berarti ajaran tentang jenggot adalah wahyu Allah juga. Bukankah memanjangkan jenggot adalah khas tradisi Arab? Bukankah wahyu, dalam kasus ini, sangat dipengaruhi oleh kultur Arab?

Saya telah menunjukkan dengan gamblang, bahwa bahkan Qur’an pun menyatakan bahwa ajaran Allah itu disesuaikan dengan masing-masing tahap perkembangan umat yang menerimanya, dus dengan demikian juga sesuai dengan kulturnya. Begitulah kata Qur’an. Bagaimana anda ngotot bahwa statemen semacam itu adalah menghina Allah, mendustakan Nabi. Anda tidak menunjukkan argumen apapun kepada saya. Anda mengulang-ulang kesimpulan yang tidak ada dasarnya sama sekali. Mengatakan “menghina Allah, Rasul, Islam” kepada orang-orang yang berbeda pendapat itu memang mudah; tetapi dengan cara begitu, anda menyamakan pemahaman anda sendiri dengan kebanaran sebagaimana ada dalam kehendak Allah. Siapa yang tahu kehendak Allah. Setiap mufassir besar selalu menutup uraiannya dengan mengatakan “wallahu a’lam bish shawab,” dan Allah lah yang paling tahu dengan apa yang benar dalam penafsiran ayat ini atau itu. Kalau ada orang datang dengan tafsiran lain, itu bukan berarti menentang Allah.

Udahlah, jangan terlalu mudah mengobaral kata-kata semacam itu. Jangan terlalu gegabah menyimpulkan orang yang berbeda pendapat dengan anda sebagai menghina agama Allah. Tunjukkan argumen anda, dari mana anda menyimpulkan bahwa kalau wahyu itu dipengaruhi budaya Arab, maka dengan demikian wahyu rendah nilainya? bahka mengatakan hal demikian adalah mendustakan Nabi? Apa agumen anda? Saya telah tunjukkan ayat dalam Qur’an yang justru menolak pemahaman anda.
Bagaimana dong, Pak?
salam,
ulil
________________________________________
HMNA:
Tidak perlu ke cabang dahulu, seperti jilbab dsb. Konsentrasi pada intinya, yaitu : wahyu dan kultur. Dan juga marilah menghindarkan diri dari permainan semantik. Pada pokoknya kultur itu bersumber dari “manusia”, wahyu bersumber dari Allah.
Untuk menghindarkan permainan semantik, saya pakai pendekatan diagram:
input ———> [proses] ——–> output
Maka,
input———–> wahyu [proses dalam diri Nabi Muhammad SAW]
input———–>——–>output Al Quran
Bedanya dengan kultur
input——–>alam sekitar [proses adaptasi dan pembelajaran dalam
input——–>kumpulan masyarakat Arab] ——>output kultur Arab
Diagram tersebut dahulu anda jawab, mengerti atau tidak. Kalau mengerti supaya dijawab: sepakat atau tidak. Kalau sepakat mujadalah dilanjutkan. Kalau tidak sepakat apa alasan anda. Kalau tidak mengerti, maka metode diskusi diubah. Saling mengirimkan tulisan tanpa bersoal-jawab.
Wassalam
________________________________________
UAA:
Sent: Sunday, December 15, 2002 7:16 PM
Subject: Re: Wahyu itu non-hisoris dan hitoris sekaligus!
=> Konsentrasi pada inti; hindarkan permainan semantik

Pak Nur,
Tidak ada sesuatu yang prinsipil dalam diagram anda. Meskipun begitu, saya sepakat dengan diagram itu. Pertanyaannya: kalau diagram itu dipakai, apakah bisa disimpulkan –seperti anda lakukan dalam posting lalu– bahwa kalau wahyu dipengaruhi kultur, wahyu akan turun nilainya?
Dan dari mana anda menyimpulkan bahwa orang yang berpendapat seperti itu adalah menghina Allah? Dari mana? Dari diagram itu bisa disimpulkan seperti itu?
Bagaimana anda mengartikan ayat “wa ma arsalna min rasulin illa bi lisani qaumihi”?
Diagram anda itu, dalam pandangan saya, tak menunjukkan kesimpulan apa-apa. Kultur dari manusia, wahyu dari Tuhan. So, what?
salam,
ulil
________________________________________
HMNA:

AlhamduliLlah, anda sepakat dengan diagram itu, walaupun anda mengatakan tak ada yang prinsipiel. Anda menghendaki mujadalah ini billatiy hiya ahsan. Suatu diskusi dapat berlangasung dengan ahsan, apabila ada kesepakatan term-term substansi terlebih dahulu tanpa larut dalam pertikaian semantik yang makan banyak energi. Jadi tidak perlu tergesa-gesa dan impulsif untuk cepat-cepat langsung masuk ke dalam substansi yang belum kita bicarakan kesepakatan atasnya, seperti ta’wil misalnya. Ibarat kata pepatah berjenjang naik. Maka kita upayakan dahulu bersepakat dalam term-term substansi yang diperbincangkan yang akan kita jadikan semacam paradigma, di mana di atasnya kita dapat melakukan mujadalah billatiy hiya ahsan, terhindar dari pertikaian semantik.
Terlalu banyak ta’rif mengenai kultur / kebudayaan. Akan saya kemukakan ta’rif yang sederhana saja. Kebudayaan adalah buah dari semua perbuatan dan usaha yang berpangkal dari kesadaran manusia. Manusia sadar perlu berlindung dari teriknya matahari, dari siraman hujan, dari terpaan angin. Maka tebing-tebing batu dilubangi, gubuk-gubuk, rumah-rumah, gedung-gedung dibangun. Itulah kebudayaan bangun-membangun bangunan. Manusia sadar perlu mengisi perut dan berpakaian dalam kehidupan sehari-hari. Maka ditempuhlah cara-cara untuk memperoleh rezeki. Itulah kebudayaan yang disebut ekonomi. Manusia sadar akan perlunya hiburan untuk konsumsi jiwanya. Maka lahirlah kebudayaan yang disebut kesenian. Manusia sadar akan perlunya tata-tertib dalam pergaulan hidup sehari-hari, maka lahirlah etika dan adat pergaulan, norma-norma dan aturan-aturan yang mengikat anggota masyarakat. Itulah kebudayaan hukum. Manusia sadar akan perlunya lembaga yang mempunyai kekuasaan yang harus ditaati untuk mengatur masyarakat, yang disebut pemerintah. Timbullah kelompok-kelompok yang membentuk kekuasaan (macht vorming) dan mengerahkan kekuasaan (macht aanwending), untuk dapat mebentuk pemerintahan. Maka lahirlah kebudayaan yang disebut politik. Dengan demikian kebudayaan suatu komunitas untuk ruang dan waktu berlangsung secara dinamis yang diterima sebagai “nilai budaya” dan diakui “kebenarannya” berdasar atas “kesepakatan” komunitas, sehingga nilai budaya itu relatif sifatnya.
Mudah-mudahan anda sepakat dengan ta’rif ini. Kalau anda sepakat, kita bisa lanjutkan lagi.
Wassalam,
Makassar, 16 Desember 2002
HMNA
UAA:
Sent: Monday, December 16, 2002 9:02 AM
Subject: Re: Jenjang2 argumen yang toh tak akan mendukung kesimpulan awal
Wahai Bapak Nur,
Anda bisa lanjutkan “batu-batu bata argumen” ini hingga berjenjang naik, ke level manapun anda kehendaki, ke langit-langit setinggi apapun yang anda maui. Tetapi begitu sampai kepada kesimpulan anda yang pernah anda sampaikan dulu, bahwa manakalah wahyu dipengaruhi oleh kultur, bahwa Qur’an sebetulnya dikondisikian oleh situasi, maka itu adalah penghinaan atas Allah; di titik itu, dengan argumen apapun, saya akan tolak. Apalagi, sekali lagi dan sekali lagi (mohon maaf lo ya), kalau terlalu jauh mengatakan, “itu menghina Allah, mendustakan Nabi, melebihi Ghulam Ahmad, so and so.” Came on, Sir!
Saya akan ikuti dengan sabar jenjang-jenjang argumen yang anda pakai, dan saya tak punya keberatan prinsipil atas jenjang-jenjang yang anda tempuh itu. Meskipun ratusan definisi atas budaya itu berseliweran dalam tradisi kesarjanaan Barat dan Timur, okelah secara ‘hipotetis’ saya terima saja definisi anda (sebetulnya definisi yang anda pakai itu definisi berdasarkan “common sense” saja; siapapun bisa mengemukakan hal seperti itu; di Jerman bahkan istilah “kultuur” itu pernah mempunyai konotasi buruk, karena itu adalah “ulah manusia” untuk mengubah alam, dan bahkan menghancurkannya; pada zaman romantik, orang sebel pada “kultuur” dan lebih menggandrungi “natuur” [Ini sih katanya Norbert Elias dalam “The Civilizing Process”]).
Keberatan prinsipil saya adalah pada satu hal: bahwa wahyu adalah sepenuhnya ‘non-historis’. (Betul begitu?)
Batu bata terakhir yang telah anda taruh itu mau mengatakan: budaya itu kesepakatan komunitas, dan karena itu relatif. Saya sudah menduga, nantinya anda akan mengatakan, wahyu itu bukan hasil pemikiran dan kesepakatan manusia, ia datang dari “luar” sejarah, dan karena itu absolut. Budaya relatif, wahyu absolut. (Nantinya: saya akan katakan bahwa wahyu itu tidak seluruhnya absolut, karena ada faktor-faktor historis, kontekstual, partikular, dalam dirinya, seperti jilbab dan qishash itu [anda nanti akan mengatakan lagi, “jangan bermain-main dengan segi-segi semantik”]).
Oke. Terusssss………..
Looking forward to going through your next steps, and many apologies for any unproper words.
salam,
ulil
p.s. Mohon diperkenankan untuk bertanya mengenai hal yang sampingan (boleh, ya?): Bapak anggota KPPSI? Atau (pasti) pendukungnya?
________________________________________
HMNA:
Kemampuan akal untuk berpikir dan merasa bertumbuh sesuai dengan pertumbuhan diri manusia. Agar manusia dapat mempergunakan akalnya untuk berpikir dan merasa, ia perlu mendapatkan informasi dan pengalaman hidup. Mutu hasil olah akal tergantung pada jumlah, mutu dan jenis informasi yang didapatkannya dan dialaminya. Ilmu eksakta, non-eksakta, ilmu filsafat adalah hasil olah akal dengan mekanisme otak. Kesenian dan ilmu tasawuf adalah hasil olah akal dengan qalbu sebagai mekanisme.
Output olah akal anak tammatan SD lebih rendah kualitasnya ketimbang buah oleh akal anak tammatan SMA, oleh karena anak tammatan SMA lebih besar jumlah, lebih bermutu dan lebih beragam jenis informasi yang diperolehnya dan pengalaman yang dialaminya. Jadi kemampuan olah akal manusia itu relatif sifatnya, baik dalam hal berolah pikir maupun berolah rasa. Oleh karena akal manusia itu terbatas, Allah memberikan pula sumber informasi berupa wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul yang kemudian disebar luaskan kepada manusia. Alhasil akal harus ditempatkan di bawah wahyu.
Apakah anda sepakat? Kalau ya, kita berlanjut.
Wassalam,
Makassar, 16 Desember 2002
Saya adalah Wakil Ketua Majelis Syura KPPSI => KPPSI memperjuangkan “rumah politik”, yaitu terbentuknya undang-undang otonomi khusus memberlakukan Syari’at Islam di Provinsi Sulawesi Selatan, melalui koridor konstitusi dalam bingkai NKRI.
________________________________________
UAA:
Sent: Tuesday, December 17, 2002 12:14 AM
Subject: Re: Jenjang2 argumen yang toh tak akan mendukung kesimpulan awal
Bapak Nur,
Kenapa anda menyimpang? Kita sedang diskusi soal kultur sebagai sesuatu yang relatif, dan wahyu sebagai yang absolut. Kok anda tiba-tiba bicara soal akal.
Oke, kalau anda mau menyimpang, tak apa-apa. Saya akan menuruti “kemauan” anda.
Setelah wafatnya Rasul, saya menempatkan akal dan wahyu dalam kedudukan sejajar. Bahkan aspek-aspek yang partikular dan historis dalam wahyu bisa “diamandemen” oleh pertimbangan akal. Sebab, setelah meninggalnya beliau, kita tidak bisa bertanya langsung kepada Nabi setiap ada peristiwa baru yang butuh solusi, seperti pada zaman sahabat. Yang ada pada kita adalah teks Qur’an dan sunna. “Taraktu fikum amrain ma in tamassaktum bihima lan tadhillu abadan.” Tetap teks itu sifatnya adalah “polyfonik”, mempunyai tafsiran dan “suara” yang banyak, sesuai dengan penafsirnya.
Kata Sayyidina ‘Ali tentang Qur’an, “Innama yunthiquhur rijal.” Qur’an itu adalah teks mati; yang membuatnya “hidup” dan berbunyi adalah manusia. Sementara manusia itu berbeda-beda pendapatnya.
Ini kata Imam Ali, lo. Jangan dibilang menghina Allah dan Islam.
Jadi, pada poin kali ini, mohon maaf, saya tak sepakat. Wahyu dan akal bekerja bersama-sama, dan saling melengkapi. Bahkan saya berpendapat: yang terbatas bukan saja akal; bahkan wahyu yang telah menjadi “verbal” dalam bentuk susunan kata-kata yang turun pada Nabi pun adalah terbatas.
Tapi, sekali lagi, jangan dibilang menghina Islam ya.
salam,
ulil
________________________________________
HMNA:
Saya heran, mengapa anda katakan saya menyimpang, pada hal anda sudah mengatakan mengerti diagram dan sepakat dengan diagram tersebut. Saya ulang kembali sajikan diagram tersebut:
input —–> wahyu [proses dalam diri Nabi Muhammad SAW] —–> output Al Quran
Bedanya dengan kultur
input—–> alam sekitar [proses adaptasi dan pembelajaran
dalam kumpulan masyarakat Arab] —-> output kultur Arab
Proses adaptasi dan pembelajaran itu adalah olah akal, baik itu olah pikir maupun olah rasa. Jadi olah akal dalam kumpulan masyarakat Arab membuahkan output kultur Arab. Jadi akal tak terpisahkan dari lahirnya suatu kultur. Kita teruskan. Kalau terjadi pertentangan antara akal dengan ayat Al Quran, alternatif mana yang anda ambil:
1. menolak pengertian literal terhadap ayat
2. mentakwilkan ayat
3. menolak akal, memilih ayat dengan memahamkannya secara literal
4. memilih akal dan juga sekaligus memilih ayat dengan pengertian literal
Contoh: Alladziy ja’ala lakum mina sysyajari l.akhdhari naaran faidzaa antum minhu tuwqiduwn (36:80). Akal mengatakan yang dibakar itu menurut pengalaman adalah kayu yang kering yang coklat warnanya, bukan kayu yang masih basah yang hijau warnanya. Tentu saja di sini tidak kena mengena dengan kebakaran hutan, karena ayat itu menyatakan antum minhu tuwqiduwn. Silakan memilih alternatif terbut.
Wassalam,
Makassar, 17 Desember 2002
HMNA
________________________________________
UAA:
Sent: Tuesday, December 17, 2002 8:30 AM
Subject: Re: Jenjang2 argumen yang toh tak akan mendukung kesimpulan awal
Pak Nur,
Bagaimana mungkin anda memakai contoh ayat dalam surah Yasin itu sebagai ilustrasi pertentangan akal dengan wahyu. Dari segi mana pertentangannya? Kalau kita baca tafsir-tafsir klasik, ayat itu adalah petunjuk mengenai kekuasaan Tuhan: ada pohon (disebut sebagai “marakh” dan “‘ifar” yang jika dahannya dipotong mejadi dua dan digesekkan satu dengan yang lainnya maka akan melentikkan api). Tapi, pertanyaan saya adalah: apakah kekuasaan Tuhan harus ditunjukkan dengan cara yang melawan akal. Dalam kasus “pohon hijau” itu (tentu in bukan pohon milik PPP, lo, apalagi PKB), apanya yang berlawanan dengan akal. Kalau betul (saya tak pernah melihat pohon “marakh” dan “‘ifar”) pohon itu bisa melentikkan api, tentu akal bisa meneliti susunan kimiawi apa yang terdapat dalam pohon itu sehingga bisa mengeluarkan api. Artinya: akal pun bisa menjelaskan fenomena “fisik” ini dengan masuk akal.
Maaf, anda salah kutip ayat. Mestinya, kalau anda mau menunjukkan ayat di mana ada pertentangan antara akal dengan wahyu, maka kutiplah beberapa ayat sebelum ayat yang anda kutip itu: “wa dlaraba lana matsalan wa nasiya khalqahu, qa la man yuhyil ‘idlama wa hiya ramim, qul yuhyihal Ladzi an sya’aha awwala marrah wahuwa bikulli khalqin ‘adzim”. Terhadap masalah kebangkitan fisik di hari kiamat ini pun (Catatan: sebetulnya ayat ini tidak secara eksplisit berbicara tentang kebangkitan fisik di hari kiamat, tetapi tentang kekuasaan Tuhan memberi “hidup” pada tulang-tulang yang telah hancur), terdapat perbedaan antara pandangan “jumhur” (mayoritas kaum ortodoks) dan kaum falasifah (itulah sebabnya kaum falasifah sering dikafirkan di zaman klasik dulu; persis lah kayak sekarang; fenomena de ja vu?). Sebagian kaum falasifah tidak mempercaya kebangkitan fisik karena pertimbangan akal, dan lebih mempercayai kebangkitan spirit atau jiwa. Seorang penyair Arab klasik, Abul ‘Ala Al Ma’arri, adalah salah seorang yang dengan terus terang mengingkari kebangitan fisik.
Tapi saya tak tertarik dengan perdebatan soal metafisik. Saya lebih suka dengan dunia fisik yang kongkrit ini. Dalam hal metafisik, saya mengikut saja hadis Nabi, “Tafakkaru fi khalqil Lah, wa la tafakkaru fil Lah.” Meskipun kadang-kadang soal metafisik juga menarik minat saya. Saya kira hadis Nabi itu bisa disebut sebagai pertanda bahwa debat dalam soal yang tak bisa diverifikasi secara empiris, akan menyeret kepada “debat kusir” yang tak ada ujungnya. (Apakah ini sebentuk “positivisme religius”? [Ini bukan permainan semantik, lo]).
Jadi sebelum saya menjawab pertanyaan anda soal pendekatan apa yang saya pakai manakala terjadi konflik antara akal dan wahyu, jawab pertanyaan saya dulu: ayat yang anda kutip itu di mana letak konfliknya? Kalau sudah anda jawab, boleh kita teruskan diskusi.
Ok?
salam,
ulil.
________________________________________
HMNA:
Sayid Qutb dalam fiy Zhilali lQuran menafsirkannya, bahwa memang dalam kayu ada api, sebab kalau digosok-gosok akan keluar api. Tetapi tafsir Sayid Kutub itu tidak memuaskan akal, karena itu baru mungkin terjadi apabila kayu itu sudah kering betul, sudah berwarna kecoklat-coklatan, tidak hijau lagi. Dalam pengalaman empiris dari kayu hijau tidak dapat diperoleh api dengan cara menggosoknya. Mahmud Yunus menafsirkan bahwa ada sejenis kayu di Aceh yang walaupun masih hijau sudah dapat dibakar dijadikan suluh. Tetapi itu tidak memuaskan akal, karena dalam ayat (36:80) asysyaru l’akhdhar itu adalah mudzakkar yang mengandung arti seluruh spesi pohon. Kalau hanya sejenis yang seperti di Aceh itu harus memakai bentuk muannats. Jadi ke manapun ditafsirkan tidak memuaskan akal. Sayid Qutb tidak menjinggung soal hijau, sedang Mahmud Yunus hanya pohon secara parsial. Di situ pertentangannya, yaitu bendanya mudzakkar dan warnanya akhdhar.
Wassalam,
Makassar 17 Desember 2002
HMNA
tw saya juga boleh bertanya? Mengapa nama anda Abdalla, bukan ‘Abdullah?
UAA:
Sent: Tuesday, December 17, 2002 1:42 PM
Subject: Re: Mengutip kitab tafsir yang ‘kurang tepat’
Pak Nur,
Saya, mengikuti Dr. Husein Az Zahabi dalam “At Tafsir wal Mufassirun”, menganggap bahwa tafsir “Fi Zilal” itu bukanlah tafsir dalam pengertian teknis istilah itu; itu adalah refleksi dan kontemplasi Qutb saja. Kalau anda baca Fi Zilal, persis kayak pidato. Di samping itu, saya mempunyai “paradigma” yang berseberangan total dengan Qutb; saya kurang senang memakai tafsir ini (terutama tafsir dia tentang jihad yang bagi saya “non-sense”). Jadi, kalau anda merujuk Sayyid Qutb, ini juga rujukan yang kurang tepat, sebab dalam “standar tafsir” yang normalpun, dia kurang “diperhitngkan”. Soal Mahmud Yunus, saya kurang banyak membaca tafsir dia. Tafsir yang saya kutipkan dalam posting terdahulu atas ayat itu saya kutip dari “Fathul Qadir” karya Imam Asy Syaukani, sebuah tafsir yang dihormati di kalangan para penafsir klasik karena menggabungkan antara metode “dirayah” dan “riwayah”.
Oke, kalau anda tak puas dengan tafsir-tafsir itu, anda pakai tafsir yang mana? Anda belum menunjukkan, mana konflik dalam ayat itu antara akal dan wahyu? Kalau tafsir-tafsir yang anda rujuk itu tidak memuaskan penjelasannya, apakah dengan sendirinya ada konflik di situ? Di mana konfliknya, Pak?
salam,
ulil
ps. Soal “Abdalla”, saya menganut kaidah dalam tradisi pengkajian linguistik Arab klasik, “la musyah-hata fi isthilahat”, tak usah mempersoalkan nama-nama. Ada soal lain yang lebih penting: Anda setuju orang-orang yang berpandangan kritis atas “agama” dianggap kafir dan layak dihukum mati, karena anda kemaren mengirim posting dari milis “Sabili” yang menyetujui hukuman mati atas saya (karena telah menghancurkan Islam dari dalam)? Hukuman mati atas orang-orang yang berbeda pendapat dalam soal agama adalah warisan “abad kegelapan Kristen” yang sekarang ditiru sebagian orang Islam, termasuk Imam Khomeini. Apakah Islam sedang mengalami “neo-medievalisme”? Tapi, saya ber-husnuz zan, pastilah Bapak tidak berpandangan demikian. Insya Allah.
________________________________________
HMNA:
Sent: Tuesday, December 17, 2002 3:47 PM
Subject: Re: Mengutip kitab tafsir yang ‘kurang tepat’
Baiklah akan saya tunjukkan konflik antara akal dengan ayat (36:80) tanpa merujuk kepada tafsir siapapun juga. Dari segi pengalaman empiris tidak mungkin didapatkan api jika pohon yang masih basah / hijau digosok. Untuk memperoleh api dari segi pengalaman empiris, kayu itu harus kering betul. Jadi yang menyebabkan konflik itu adanya kata akhdhar. Nantilah apabila anda telah mengemukakan / menjawab sikap anda dalam hal konflik antara akal dengan ayat, baru saya akan menunjukkan kelemahan akal itu kepada anda.
Wassalam,
Makassar, 17 Desember 2002
HMNA
________________________________________
UAA:
Sent: Tuesday, December 17, 2002 10:57 PM
Subject: Re: Mengutip kitab tafsir yang ‘kurang tepat’
Pak Nur yang baik,
Saya harus berkata apa sekarang. Anda jelas, maaf, kurang mengerti bagaimana mendudukkan ayat dalam surah Yasin yang anda kutip itu. Anda memaknai kata “akhdlar” di situ sebagai sesuatu yang mencakup segala jenis dahan dan pepohonan yang masih “hijau” atau basah. Ya nggak bisa dong. Mana ada dahan mangga dipotong jadi dua lalu digesekkan dan keluar api. Itu tak pernah terjadi, baik sekarang atau pada zaman ayat itu turun. Memang ayat itu tidak bicara soal segala jenis dahan yang basah. Ayat itu merujuk kepada satu jenis pepohonan saja; dan untuk itu kita perlu merujuk kepada rekaman sejarah yang ditulis oleh para mufassir. Seperti saya kutip dalam posting sebelumnya, Asy Syaukani dalam “Fathul Qadir” menyebutkan bahwa kata “akhdlar” di situ merjuk kepada jenis pepohonan yang ada di Arab saat itu, yaitu pohon “marakh” dan “‘ifar”. Saya sendiri tak tahu bagaimana terjemahan dua kata itu, karena saya juga tak tahu jenis pepohonan seperti apa keduanya itu. Ini persis seperti ayat dalam surah ‘Abasa, “Wa fakihatan wa abba.” Umar sendiri, salah seorang sahabat utama, tidak tahu apa arti “abba” dalam ayat tersebut, dan baru paham ketika diberi tahu oleh sahabat lain. Kata “abba” itu merujuk kepada makna tertentu dalam tradisi penggembalaan binatang piaraan di padang pasir.
Jadi, sekali lagi, anda tidak bisa mengartikan kata “akhdlar” itu kecuali merujuk kepada makna kata itu sebagaimana dipahami oleh sahabat pada saat mendengar ayat tersebut.
Artinya: hingga sekarang anda tidak bisa menunjukkan adanya konflik antar akal dan wahyu dalam ayat yang anda kutip itu. Saya sudah sarankan ayat lain yang jauh lebih tepat anda jadikan contoh. Karena itu, maaf, saya belum bisa meneruskan diskusi. Lebih baik anda akui bahwa anda sebetunya salah kutip. Dan itu tak apa-apa. Dengan begitu saya bisa melanjutkan diskusi ke jenjang berikut yang anda inginkan.
Kalau soal kelemahan akal, tanpa harus menunggu kelanjutan “jenjang argumen” yang akan anda pakai nantinya, saya akan mengatakan sejak awal: memang akal punya kelemahan atau keterbatasan. Tetapi dalam posting yang lalu saya sudah katakan: yang terbatas bukan saja akal tetapi juga wahyu yang telah menjadi “verbal” dan mengambil bentuk bahasa manusia tertentu (Ibrani, Siriac, Arab, dan lain-lain).
salam,
ulil
________________________________________
HMNA:
Assalamu ‘alaykum wr.wb.
Baiklah kalau begitu, saya tunjukkan ayat-ayat lain. Salah satunya masih di S. Yasin, yaitu ayat 40: Laa sysyamsu yanbaghiy lahaa an tudrika l qamar. Menurut intizhar setiap bulan terjadi asysyamsu tudrika lqamar, yatiu tatkala terjadi ijtima’. Seperti baru-baru ini, pada 4 Desember jam 15.30 (waktu Makassar- WIT) 2002, bahkan pada waktu matahari menyusul bulan di bola langit jalur matahari dengan jalur bulan berpotongan sehingga terjadi gerhana matahari, jadi sebenarnya pada hari Rabu petang itu bulan sudah dapat “diru’yah”, karena bagian matahari yang gelap itu ditutup bulan. Jadi bagian yang gelap itu adalah bulan, sehingga sebenarnya bagi penganut ru’yah seharusnya lebaran pada tgl.5 Desember 2002. Ini satu lagi: Awa lam yaraw ila ththayri fawqahum sha-ffa-tin wayaqbidhna (S. Al Mluk, 19). Bukankah sha-ffaa-t dengan yaqbidhna itu kontradiktif? Burung yang bersaf itu ialah tatkala terbang melaju, tidak pernah ada burung bersaf pada waktu hinggap, yaitu tatkala sayapnya yaqbidhna. Bagaimana burung bisa terbang kalau sayapnya menguncup ke dalam tubuhnya?
Biarlah supaya mujadalah ini dapat berlanjut, tidak usah saya menanyakan sikap anda menghadapi konflik akal dengan ayat tersebut, jika dilihat secara literal. Kalau mengenai sikap saya, saya tidak akan tergesa-gesa meninggalkan pemahaman yang literal, cukup dipending saja dahulu, hingga akal saya mendapatkan informasi tambahan yang cukup untuk dapat mencernanya secara literal. Tetapi sayapun tidak menyalahkan mereka yang “malas” (saya pinjam term anda) mencari tambahan informasi, lalu meninggalkan sama sekali usaha untuk dapat memahami ayat secara literal, terus melangkah menta’wilkan saja ayat itu. (AlhamduliLlah, saya sudah mendapatkan informasi tambahan sehingga akal saya dapat mencerna ayat itu secara literal, namun tidak di sini saya ungkap, nanti selingannya terlalu panjang sehingga mengganggu jalannya diskusi). Yang penting, SALAH SATU kelemahan dalam menggunakan akal ialah tidak selamanya dan terkadang sulit untuk mendapatkan informasi dari lapangan / lingkungan, sehingga akal itu (buat sementara) mandeg jadinya.
Saya akan pindah untuk melanjutkan pendekatan diagram.
Yang anda sudah sepakati
input ==> [proses] ==> output

wahyu ==> [proses dalam diri Nabi Muhammad] ==> Al Quran (ayat qawliyah)

surroundings ==> [proses adaptasi & pembelajaran oleh komunitas Arab] ==> kultur Arab
Kultur Arablah yang mula-mula mendapat “suntikan” ayat qawliyah, secara berangsur-angsur, sehingga ayat qawliyah itu haruslah dalam bahasa Arab. Innaa anzalnaahu qur.a-nan ‘arabiyyan, la’allkum TA’QILUWN. Mengapa Allah menekankan pada akhir ayat supaya kita mempergunakan ‘akal. Di sinilah perbedaan saya dengan anda dalam mempergunakan akal.Hasil suntikan ayat qawliyah pada kultur Arab, BUKANLAH muatan lokal. Kalau di Universitas Muhammadiyah mempelajari suatu proses ayat kawniyah dalam bahasa matematika di laboratorium fisika, maka hasil kajian itu tidaklah bermuatan lokal khusus Makassar saja. (Ini akan dilanjutkan setelah tiba dipuncak, sekarang baru mendaki lereng mendekati puncak).
Anda sudah menyatakan kesepakatan mengenai diagram itu. Alirannya berjalan sendiri sendiri. Ada aliran dari wahyu ke dalam diri Nabi Nuhammad SAW berakhir di Al Quran. Ada aliran dari surrounding (ayat kawniyah) ke proses adaptasi dan pembelajaran komunitas Arab, berujung pada kultur Arab. Jadi tidak ada “pengaruh” kultur Arab terhadap ayat qawliyah, oleh karena suntikan ayat qawliyah ke dalam kultur Arab alirannya satu arah. Saya akan berikan illustrasi mengenai suntikan itu, yaitu asbabun nuzul S.Al Kafiurwn, S.Al Fiyl dan S.Quraisy.
Setelah penguasa Quraisy tidak dapat meredam perkembangan Islam dengan cara terror, maka mereka mengadakan pendekatan politik, yang seperti biasa dalam politik umumnya berlaku kebiasaan koe handel./ dagang sapi, to take and to give. Penguasa Quraisy bersedia to give, yaitu seluruh penduduk Makkah artinya kaum kafir quraisy dengan ummat Islam bersama-sama menyembah. Apa yang diinginkan (to take) penguasa Quraisy dari Nabi Muhammad SAW, ialah jika hari ini bersama-sama menyembah Allah esoknya bersama-sama pula menyembah dewa-dewa yang dipelambangkan sebagai patung-patung yang diletakkan sekitar Ka’bah. Maka turunlah S.Al Kafirun menyuntikkan “obat” aqidah lakum diynukum wa liya diyn. Suntikan berikutnya berupa “illustrasi” tentang upaya Abrahah ingin meruntuhkan Ka’bah dengan pasukan bergajahnya yang dibinasakan oleh thayran abaabiyl yaitu S. Al Fiyl. Adapun maksud suntuikan illustrasi riwayat itu untuk mengingatkan penguasa Qurasy, bahwa sejak itu qabilah Quraisy dapat membawa kafilah dagang sepanjang tahun tanpa kekuatiran di serang qabilah lain di luar bulan-bulan yang telah disepakati oleh kultur Arab untuk tidak saling menyerang. Hal ini dillustrasikan dalam suntikan S. Quraisy, yang ditutup dalam surah itu suntikan berupa “koreksi” kultur Arab penyembah berhala, supaya jangan menyembah berhala yang ada di seputar Ka’bah: Falya’buduw rabba ha-dza lbayt. (Inilah yang dipelintir oleh para orientalist yang berteori “anekdot semantik” bahwa kata Allah berasal dari al ilah, yang juga lagi memplintir bahwa: The Divine Name Allâh was used by the pre-Islamic pagan Arabs with pagan connotations, notwithstanding the fact that they considered Allâh as the Supreme Deity in their polytheistic pantheon and that Allâh was for them the “Lord of the Ka`ba”).
Demikianlah dengan aliran satu arah dari ayat qawliyah ke kultur Arab berupa suntikan dalam jenis “obat” aqidah, ilustrasi dan koreksi, menunjukkan SAMA SEKALI TIDAK ADA PENGARUH KULTUR ARAB KEPADA AYAT QAWLIYAH. Saya telah ada pada bagian puncak sekarang.Selanjutnya saya mendaki menuju bagian puncak yang tertinggi dari perbincangan, yang merupakan KATA akhir dari saya.
Hal yang kita tidak (atau belum?) dapat sepakati ialah apa yang anda katakan muatan lokal utamanya hudud. Kalau anda sepakat dengan saya, alhamduLlah, kalau tidak, ya kita sepakat dalam ketidak sepakatan. Saya hanya dapat berdoa kepada Allah semoga anda surut langkah dalam hal hudud ini.
Kata akhir saya ialah: Saya berpendapat tidak ada muatan lokal, seperti halnya hasil kajian laboratorium di Unismuh dalam bahasa matematika, itu bukan muatan lokal Makassar. Al Quran hudan linnaas. AnNaas adalah makhluq pribadi dan makhluq sosial. Maka Syari’at Islam mengandung hukum Syari’ah yang ritual dan non-ritual. Syari’ah yang ritual untuk manusia sebagai makhluq pribadi. Inilah yang disebut dengan religie, religoin, gosdienst oleh “rasa bahasa” dalam mother language orang barat. Syari’ah yang non-ritual adalah porsi bagi manusia sebagai makhluq sosial. Pada Syari’ah yang ritual akal sama sekali tidak bebas dalam konteks menjawab pertanyaan mengapa. Akal hanya berurusan dengan yang deskriptif, bagaimana (caranya), bilamana dan di mana (dilakukan). Dalam Syari’ah yang non-ritual, akal bebas terkendali, yaitu dikendalikan oleh: wa athiy’u Lla-ha wa rasuwlahu- wa laa tanaaza’uw (S. Al Anfaal, 46). Akal bebas di atas paradigma ayat (Al Anfaal, 46). Artinya silakan berolah akal, termasuk menta’wilkan sebebasnya asal tidak dilarang / tidak bertentangan dengan Nash. Sebagai ilustrasi: Bagaimana nizam dan teknis distribusi modal usaha? Akal boleh bebas mencari nizam beserta teknisnya, tetapi tidak boleh melanggar larangan: Kay laa yakuwna duwlatan bayna la.ghniya-i minkum. Bagaimana cara mengambil keputusan politik? Akal boleh bebas asal tidak bertentangan dengan wa syaawirhum fi l’amr. Bagaimana Syari’ah non-ritual hudud? Apa boleh menta’wikan dengan mengambil “jiwa”nya saja? Di sinilah perbedaan kita. Boleh menta’wilkan sanksi potong tangan itu dengan misalnya membuat uu yang dapat memotong kekuasaan pejabat sehingga tidak mampu melakukan korupsi, seperti misalnya rencana uu anti korupsi yang dibawa sendiri ke DPR oleh Jaksa Agung Baharuddin Lopa almarhum, yang memakai prinsip anna- laka hadza, bukan jaksa yang harus membuktikan kesalahan terdakwa, melainkan sebaliknya terdakwalah yang harus membuktikan kebesihan dirinya dari korupsi. Sekali lagi boleh membuat ta’wil potong tangan yang demikian, akan tetapi (dan di sinilah perbedaan kita lagi), potong tangan secara literal tetap harus dijalankan, oleh karena Nabi Muhammad SAW telah bersabda, bahwa Fatimahpun kalau mencuri akan kupotong tangannya.Sabda beliau itu menunjukkan bahwa hudud itu difahamkan secara literal Jadi hudud secara lteral jalan terus ditunjang oleh ta’wil memotong kekuasaan melalui uu anti korupsi.
Tampaknya bagi akal anda menerima hudud itu secara literal sama sulitnya akal menerima secara literal ayat-ayat (36:80), (36:40) dan (67:19). Itu perlu mendapatkan informasi dari lapangan. Anda sudah baca Laporan Khusus – Tempo 15 Desember 2002, antara lain seperti berikut Tapi ada juga yang “berat” seperti yang terjadi di Gowa dan Jeneponto, Sulawesi Selatan. .Mereka menerapkan hukum potong tangan pada pelaku kejahatan di kawasan tersebut. Sebenarnya bukan hanya di Kabupaten Gowa dan Je’neponto saja, tetapi sampai ke ujung selatan yaitu Kab.Bantaeng dan Bulukkumba. Sejak Forum Bersama (Forbes), yang tokoh-tokohnya dari anggota KPPSI, bergerak membantu polisi, sudah tidak ada lagi perampok ternak yang ganas, yang tidak segan membunuh korbannya, yang sangat meresahkan dan ditakuti penduduk. Ini merupakan pilihan antara HA perampok yang tertangkap tangan dengan HA warga yang menjadi korban perampok itu. Saya sendiri sudah mengalami bagaimana aman dan tenteramnya daerah kuasa defacto DI-TII dahulu (FYI saya menjabat salah seorang menteri waktu itu). Dari pengalaman lapangan itu juga, saya mengambil sikap mundur selangkah, yaitu memperjuangkan tegaknya Syari’at Islam secara damai, demokratis, tanpa kekerasan melalui jalur konstitusi, dengan melalui wadah KPPSI memperjuangkan “rumah politik” yaitu otonomi khusus Provinsi Sulawesi Selatan, yang kekhusususannya itu berlakunya Syari’at Islam.
***
Ini adalah yang terakhir dari kata akhir yang menjadi titik puncak mujadalah. Bolehkah saya memanggil anda sebagai anakda? Umur saya sekarang 71 tahun liwat beberapa bulan dalam hitungan kalender Miladiyah, atau 73 setengah tahun menururt tahun Hijriyah. Panggilan anakda ini juga saya pakai kepada Dr Qasim Mathar. Saya pernah diduai oleh Qasim Mathar bersama Dr Taufiq Adnan berdiskusi ttg Islam Liberal di IMMIM Makassar. pada 12 Oktober 2002 (intermesso, sebelum berdiskusi karena duduk berdekatan kursi dengan Qasim Mathar dan juga lama baru berjumpa, kami berdekapan bercium ala kultur Arab di depan peserta diskusi, walaupun ada beberapa hal pendapatnya berseberangan dengan saya).
Anakda Ulil, anakda minta kepada saya hukuman apa yang patut dijatuhkan atas anakda karena faham yang anakda anut itu? Menururt saya, itu terpulang kepada anakda sendiri. Al Hawa anakda sendiri yang menjadi jaksanya, Fuad anakda sendiri yang menjadi pembelanya dan Qalbu anakda sendiri yang menjadi hakimnya. Saya hanya berdo’a kepada Allah mudah-mudahan Allah menurunkan hidayahNya kepada anakda, sehingga mengambil langkah surut ke liberal terkendali, akal bebas di atas paradigma: wa athiy’u Lla-ha wa rasuwlahu- wa laa tanaaza’uw Amin
Wassalam,
Makassar, 17 Desember 2002
HMNA
UAA:
Sent: Thursday, December 19, 2002 9:51 AM
Subject: Re: Curhat anak muda!
Pak Nur yang baik,
Semalam, setelah sehari rapat membicarakan kasus saya yang dilaporkan oleh Kiai Athian dan kawan-kawan ke Mabes Polri, saya “kongkow” dengan teman-teman di markas Jaringan Islam Liberal di Utan Kayu (kalau Bapak ke Jakarta, anda saya undang untuk mampir; saya jamin pasti anda senang; kami punya perpustakaan yang baik, studio radio, teater untuk memutar film-film yang bermutu, galeri seni untuk memamerkan karya-karya lukis yang jarang dilihat di galeri-galeri umum, toko buku alternatif, dst.).
Ada Hamid Basyaib yang mantan wartawan Republika dan Ummat (sekarang mengelola Yayasan Aksara), Ihsan Ali Fauzi (mahasiswa S2 di Ohio University), Farid Gaban (watawan senior Majalah Mingguan Tempo) dan lain-lain. Kami berbicara soal penerapan syariat Islam, politik identitas yang marak dewasa ini, partai-partai Islam yang hanya memakai Islam untuk “komoditas politik”, soal bom Bali, tragedi WTC, soal kaum “elang” yang keras kepala di sekitar President Bush, tentang apakah perubahan institusi politik yang sebaiknya lebih lamban dari perubahan ekonomi (seperti kasus Cina dan Singapura), dan segepok masalah-masalah lain. Kami kongkow hingga tengah malam.
Tentu kami berdebat seru, karena masing-masing di antara kami mempunyai perspektif yang berbeda. Salah satu masalah yang diperdebatkan adalah soal “politik identitas”. Sekarang ini, ada kehendak yang begitu menggebu di kalangan semua umat beragama untuk menonjolkan identitas dengan cara yang demonstratif. Teman kami, Farid Gaban, bercerita, bahwa dalam sebuah pertemuan, dia mendengar seseorang mengajukan usul agar didirikan Hotel Islami: hotel yang tak menjual miras, setiap pelanggan pasangan yang mau ‘cek-in’ ditanyai surat nikahnya, dan segala macam.
Saya mengatakan: kehendak untuk menonjolkan identitas “komunal” secara berlebihan dari semua kelompok dalam masyarakat akan cenderung menyebabkan polarisasi sosial yang berbahaya. Farid menjawab: kenapa dalam masyarakat yang demokratis orang tak boleh menonjolkan identitasnya? Itu kan hak hidup seseorang? Teman saya yang lain, Hamid, menjawab: apakah yang hilang dari identitas keislaman kalau kita membangun sistem sosial yang sehat, demokratis, berkeadilan, dan tanpa diembel-embeli identitas “Islam”? Sebab begitu ditempeli embel-embel itu, akan timbul polarisasi sosial yang berbahaya. Kami berdebat lama.
Kesekapakatan sementara yang kami capai: oke, kita hormati hak masing-masing kelompok untuk menunjukkan identitasnya, tetapi tidak boleh menggunakan institusi negara untuk memaksakan idenitasnya itu sebagai satu-satunya identitas yang sah. Misalnya kasus jilbab: kami menghargai wanita yang memakai jilbab; kami juga menghargai wanita lain yang tak memakai; kami mengecam keras setiap orang yang melarang wanita memakai jilbab; tetapi kami juga mengkritik keras orang yang memaksakan jilbab melalui Perda; karena agama itu adalah soal “keinsafan personal”.
Bagaimana soal hukum positif? Saya menghargai pendapat Bapak yang memilih untuk menegakkan Syariat Islam (SI) dengan prosedur yang demokratis. Itulah jalan yang ditempuh oleh Partai Keadilan sekarang, tetapi dikritik oleh kawan-kawan lain dari kaum Salafi (Lasykar Jihad) dan Hizbut Tahrir (dalam pandangan mereka yang terakhir itu: kalau anda memperjuangkan SI melalui jalur demokratis, anda berarti mengakui keabsahan negara “kafir” dan “thaghut” yang ada sekarang ini; Mas Hidayat Nurwahid sendiri, Presiden PK, yang bercerita mengenai hal ini kepada saya). Dalam hukum positif, sikap saya adalah: umat Islam bisa mengajukan beberapa diktum dalam hukum Islam sebagai masukan bagi pembentukan hukum positif di Indonesia. Tetapi ketika diktum itu sudah “diinkorporasikan” kedalam hukum nasional, maka ia sudah menjadi hukum positif yang berlaku umum. Misalnya: hukum potong tangan bisa saja diajukan sebagai alternaif; kalau parlemen setuju, oke kita jalani. Tetapi hukum itu tidak bisa dipaksakan karena semata-mata dianggap sebagai hukum Tuhan.
Membaca bagian akhir posting Bapak, sebetulnya ada kecocokan “semangat” antara saya dan Bapak. Saya berpandangan: dalam hal-hal yang ritual sifatnya, saya “sami’na wa atha’na”. Saya mengikuti kaidah dasar, Al ashlu fil ‘ibadat al hurmah illa ma dalla dalilun ‘ala hillihi. Tetapi dalam soal mu’amalat, dalam hal interaksi sosial, saya menganut kaidah lain: al ashlu fil mu’amalat al hillu. Cuma saya tidak sepakat dengan ujung dari dalil itu, yaitu “illa ma dalla dalilun ‘ala hurmatihi”.
Dalam hal interaksi sosial, kaidah pokoknya adalah kesepakatan sosial. Dalam hal hukum pencurian, misalnya, saya sebagai orang Islam hanya diharuskan untuk berpegang pokok pada prinsip pokok dalam “maqashdusy syari’ah”, yaitu wajibnya melindungi hak milik (hifdzul mal). Bagaimana prinsip “hifdzul mal” itu harus dilaksanakan dalam kerangka hukum positif sebuah negara, itu diserahkan kepada kesepakatan sosial, deliberasi, konsensus, dan seterusnya. Itulah sebabnya, dalam artikel di Kompas itu, saya katakan tidak ada hukum Tuhan. Maksudnya: dalam lapangan interaksi sosial. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang disebut dengan “maqashidusy syari’ah”. Jadi, sepajang SI itu dipahami sebagai pelaksanaan dari “maqashidusy syari’ah”, jelas saya setuju dengan pelaksanaan SI. Kemaren, teman-teman wartawan di Jakarta dan daerah disibkkan oleh kontrovers soal RUU Penyiaran. Bagi saya, membangun sistem penyiaran yang adil dan mendrong diversitas informasi adalah bagian dari pelaksanaan SI, meskipun tidak jelas-jelas ada nama “Islam” di situ. Pertanyaan saya: kenapa orang-orang yang selama ini menuntut pelaksanaan SI, “say nothing” dalam hal RUU ini. Bukankah membangun sistem penyiaran yang sehat dan menghgai keragaman informasi adalah bagian dari prinsip “maqashidusy syari’ah”, yaitu hifdzul ‘aql, melindungi kesehatan akal. (Ketika saya belajar “Tarikh Tasyri'” di kampus dulu, selalu contoh yang dipakai untuk prinsip “hifdzul ‘aql” adalah minuman keras; karena miras itu bisa bikin orang teler, dan itu merusak akal; tetapi “keseragaman dan homogenisasi informasi”, bukankah itu juga merusak akal sehat?). Jadi, Pak Nur yang saya hormati, syari’at saya pandang sebagai nilai yang menyerapi seluruh aspek kehidupan.
Perjuangan untuk memantapkan sistem demokrasi sekarang ini, membangun pola hubungan sipil-militer yang demokratis, membangun sistem peradilan yang independen, memberantas korupsi, membangun sistem perbankan yang sehat, dan seterusnya, itu semua adalah –dalam pandangan saya– bagian dari syariat Islam. Tulisan di Kompas itu saya maksudkan sebagai “dering pengingat” bagi umat Islam: he, kita jangan terperosok kedalam pandangan yang sempit soal Islam; Islam itu ya bagaimana kita membangun sistem hidup yang sehat dan bisa menghargai martabat manusia; bukan sekedar soal-soal “furu’iyyah” seperti jilbab dan segala macam itu.
Dengan alur pokok semacam ini (inilah inti tulisan saya di Kompas), bagaimana mungkin saya dianggap menghina Allah, Nabi dan umat Islam?
Anyway, senang bisa berdiskusi dengan Bapak. Pasti ada perbedaan pandangan. Tapi setelah perbincangan sesaat ini, semoga Bapak tidak lagi menganggap saya sebagai telah menghina Allah, mendustakan Nabi dan seterusnya.
Ma ziltum fi ‘aunil Lah wa nasykurukum ‘ala hadzan nuqasy al banna’.
Ma’assalaaaaaaaama,
ulil abshar-abdalla
________________________________________
HMNA:
Sent: Tuesday, December 24, 2002 12:28 AM
Subject: Re: Curhat anak muda!
Assalamu ‘alaykum wr.wb.
Anakda Ulil, postingan ini bukan diskusi, melainkan semacam “percikan lembali” curahan “air” dari tekoh ke dalam piring sehingga airnya tepercik.
Adapun curahan yang memercik kembali itu adalah: Tetapi dalam soal mu’amalat, dalam hal interaksi sosial, saya menganut kaidah lain: al ashlu fil mu’amalat al hillu. Cuma saya tidak sepakat dengan ujung dari dalil itu, yaitu “illa ma dalla dalilun ‘ala hurmatihi”. Dalam hal interaksi sosial, kaidah pokoknya adalah kesepakatan sosial. Dalam hal hukum pencurian, misalnya, saya sebagai orang Islam hanya diharuskan untuk berpegang pokok pada prinsip pokok dalam “maqashdusy syari’ah”, yaitu wajibnya melindungi hak milik (hifdzul mal). Bagaimana prinsip “hifdzul mal” itu harus dilaksanakan dalam kerangka hukum positif sebuah negara, itu diserahkan kepada kesepakatan sosial, deliberasi, konsensus, dan seterusnya. Itulah sebabnya, dalam artikel di Kompas itu, saya katakan tidak ada hukum Tuhan.Maksudnya: dalam lapangan interaksi sosial. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang disebut dengan “maqashidusy syari’ah”.
Ada dua hal percikan kembali itu. Sebuah mengenai substansi dan kedua mengenai “gaya redaksional” yang tidak moderat, melaunkan terasa “radikal”, satu penampilan yang anakda sendiri tidak setujui. Mengenai substansi dahulu, yaitu illa ma dalla dalilun ‘ala hurmatihi, anakda mengganti “rambu-rambu” pembatas itu dengan kesepakatan sosial. Anakda dalam illustrasi mengambil contoh yang spesifik yaitu pencurian dengan menaikkannya ketataran umum hifdzul mal. Illustrasi anakda itu tidaklah mencakup yang general yang diliputi oleh kawasan kesepakatan sosial.
Coba, kalau saya mengemukakan contoh yang lain, yaitu hubungan seksual. Kalau diterapkan rambu-rambu illa ma dalla dalilun ‘ala hurmatihi, maka hubungan seksual itu dibatasi oleh Nash larangan berzina. Namun apabila rambu-rambu illa ma dalla dalilun ‘ala hurmatihi itu diganti dengan kesepakatan sosial, maka itu dapat pula dinaikkan ke tataran hubungan kemanusiaan. Dan itulah yang telah terjadi di kebudayaan barat, yaitu kesepakatan sosial itu berupa filosofi “kekuasaan hakim hanya sampai sebatas pintu kamar tidur” yang sudah dituangkan dalam hukum positif yang dibawa Pemerintah Belanda ke Hindia Belanda dalam wujud Wet Boek van Strafrecht, yang oleh Peraturan Peralihan UUD-1945 diadopsi menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Yaitu filosofi termaktub di atas tertuang dalam Pasal 284. KUHP.Jadi kalau ujung dari al ashlu fil mu’amalat al hillu adalah kesepakatn sosial, maka ikatan suami isteri sudah hilang sifat “sakral”nya, dan menjadilah ia hanya sekadar hubungan perdata belaka. Bahkan sekarang sudah menjadi kesepakatan sosial di beberapa negeri barat sudah berkembang melebar ke hubungan homo seksual dan lesbian, yang sudah “diterima” oleh gereja, karena ikatan hubungan seksual pasangan itu diresmikan/disahkan oleh gereja. Jadi anakda perlu mempertimbangkan kembali, dan tentulah lebih elok jika anda surut langkah menerima kembali rambu-rambu illa ma dalla dalilun ‘ala hurmatihi. Kemudian tentang gaya redaksional anakda yang “radikal” yaitu tidak ada hukum Tuhan. Walaupun anakda telah memberikan penjelasan, namun itu dapat “dibenturkan” pada ayat: Faman lam yahkum bimaa anzalaLlahu faula-ika, …. faula-ika ….. faula-ika…….. Prof Quirasy Syihab mempergunakan ungkapan yang moderat dan simpatik, yaitu “membumikan”. Sedangkan saya sendiri dalam Khuthbah ‘IydilFithr di TVRI Makassar, memakai ungkapan peraturan perundang-undangan “ditimba” dari Syari’at Islam. Anakda dapat pula surut selangkah dengan mengganti ungkapan yang “radikal” itu dengan ungkapan yang sejuk, yang tidak membikin orang marah.
Wassalam,
HMNA
Terima kasih atas kesabaran Anda semua, memberi kesempatan saya menyampaikan amanah kedua belah pihak yang berdialog. Mudah-mudahan dialog tanpa suasana permusuhan seperti ini semakin digalakkan di masa mendatang.
salam,
DWS
________________________________________
UAA:
Sent: Tuesday, December 24, 2002 3:27 AM
Subject: Kenapa saya ber-“paham” seperti ini?
Pak Nur yan baik,
Mohon maaf terlambat menjawab email anda. Bukan berniat “mengabaikan” posting anda, tetapi saya harus pulang kampung karena adik ipar saya nikah dan saya, sesuai dengan sabda Nabi, tentu ingin mendapat pahala dengan menghadiri walimah-nya.
Kali ini saya tidak bisa menulis panjang. Saya agak kelelahan karena harus mengurus persiapan legal menghadapi kasus yang diajukan oleh teman-teman FUUI ke Mabes Polri. Sebagai selingan: saya agak menyayangkan bahwa kasus pertukaran pikiran semacam ini harus di bawa ke mahkamah pengadilan; diskusi menjadi tertutup, dan kesempatan untuk adu pendapat menjadi agak sedikit terganggu.
Saya menyetujui usul Pak Nur: mengubah bahasa dan kalimat yang saya pakai, agar tidak terlalu terkesan “radikal”. Santri tamatan Gontor akan mengenal semboyan ini, “ath thariqah ahammu minal maddah.” Metode lebih penting dari materi.
Saya ingin menegaskan kembali posisi awal: bahwa dalam lapangan mu’amalah, saya menganut prinsip bahwa segala sesuatu harus ditentukan melalui “kesepakatan sosial” sebagai hasil diskusi publik, dengan berdasarkan pada nilai-nilai fundamental dalam Islam. Dalam lapangan ibadah, saya memakai kaidah yang sangat jelas: semua mengikuti apa kata agama. Hal-hal yang tercakup dalam lapangan “ibadah mahdlah” adalah: salat, puasa, dan haji. Meskipun tidak termasuk dalam lingkup ibadah mahdlah, tetapi dalam hal-hal yang sering dikategorikan sebagai “ahwal syakhsyiyyah”, saya juga mengikuti apa yang telah diatur oleh agama, misalnya: soal pernikahan dan math’umat/maysrubat (makanan dan minuman). Saya tidak mungkin menghalalkan zina, karena sesuai dengan “skema pemikiran” yang saya pakai, itu adalah termasuk wilayah di mana kita tidak perlu mengutak-utik terlalu jauh.
Tetapi, dengan mengatakan bahwa lapangan ibadat dan ahwal syakhsyiyyah sudah diatur dengan terperinci oleh Allah, dan kita tidak boleh mengutak-utiknya, maja bukan berarti bahwa dalam aspek-aspek tertentu ada bidang-bidang dalam dua lapangan tersebut yang merupakan masalah ijtihadiyyah. Meskipun kewajiban salat adalah sesuatu yang sudah ditetapkan oleh agama, tetapi ada sejumlah hal dalam detail salat yang merupakan masalah ijtihadiyyah; artinya hasil akal manusia (contoh yang langsung saya ingat di sini adalah soal yang dulu [lucu sekali lho!] pernah diperselisihkan antara orang-kalimah syahadat, sesuai dengan mazhab Hambali dan Maliki; orang NU hanya mengangkat telunjuknya dan kemudian diam, sesuai dengan mazhab Syafi’i]).
Meskipun pernikahan merupakan hal yang prinsipil bagi saya, tetapi ada sejumlah hal dalam masalah munakahat yang bagi saya bisa juga diperselisihkan sesuai dengan ijthad masing-masing. Misalnya: saya berpendapat bahwa kawin campur dalam dua bentuknya (laki Muslimwanita non-Muslimah atau sebaliknya) diperbolehkan dalam Islam. Karena kita tidak sedang berdiskusi mengenai masalah ini, maka saya tidak akan kemukakan alasan-alasan saya kenapa saya sampai pada kesimpulan ini. Yang jelas, Qur’an tidak pernah melarang secara eksplisit pernikahan antara laki-laki dari “ahlul kitab” dengan wanita Muslimah. Yang dilarang secara eksplisit adalah pernikahan antara laki-laki Muslim dengan wanita “musyrikah” dan juga sebaliknya (wala tankihul musyrikati hatta yu’minna wa la amatun mu’minatun khairun min musyrikatin wa law a’jabatkum; wa la tunkihul musyrikina hatta yu’minu …).
Dalam masalah hukum kewarisan dan zakat, saya menganut pandangan bahwa dalam dua bidang itu, semua ketentuan yang tercantum dalam Qur’an dan Sunnah bisa diubah sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya: formula 2:1 dalam kewarisan bisa saja diubah sesuai dengan pola hubungan laki-laki dan perempuan yang terus berkembang. Tidak berarti semua hukum dalam zakat dan kewarisan harus diubah semua, tetapi jika ada ijtihad baru yang mencoba menyesuaikan hukum dalam kedua bidang itu dengan tuntutan zaman, maka saya tidak menolaknya.
Dalam lapangan mu’amalah, sepenuhnya saya berpendapat bahwa aturan-aturan yang ditetapkan oleh Islam, entah dalam Qur’an dan Hadis, adalah semata-mata merupakan wujud dari suatu nilai fundamental Islam tertentu dalam konteks historis yang tertentu pula. Dalam pengelolalaan kehidupan negara, misalnya, seluruhnya adalah soal jtihadiyah. Tidak ada hukum Tuhan dalam pengertian diktum-diktum legal yang spesfik dalam lapangan kehidupan negara. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum. Bagaimana kita menerapkan prinsip-prinsip itu dalam konteks tertentu, maka sepenuhnya akal manusia yang mendapat tugas dari Allah untuk melakukannya. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa dalam lapangan pengelolaan kehidupan negara, kita tidak diwajibkan mengiktui Nabi secara harafiah. Sebab tak ada hadis yang bunyinya, “Dabbiru siyasatakum kama ra-aitumuni udabbiru siyasati,” aturlah politik kalian sebagaimana kalian lihat aku mengatur politikku. Yang ada adalah hadis, “Shallu kama ra-aitumuni ushalli,” salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat. Kenapa statemen ini hanya disabdakan Nabi dalam hal salat, dan tidak dalam lapangan politik? Jawabannya jelas: karena salat adalah masalah ubudiyyah yang statis, tidak berkembang, dan aturannya final dan terinci. Soal politik adalah soal dinamis, dan karena dinamis maka tidak ada “Hukum Tuhan” di sana, yang ada adalah prinsip-prinsip umum, maqashidusy syari’ah. Dalam lapangan ekonomi, hal yang sama juga berlaku. Masalah-masalah medis dan kedokteran juga sama. Apakah ada Hukum Tuhan yang spesifik dalam soal euthanasia, misalnya? Sudah pasti tidak ada.
Soal yang menjadi perdebatan sengit di abada dua puluh adalah soal konsepsi negara dalam Islam: apakah negara dan agama itu menyatu; apakah Islam itu “religie, godienst, religion” dalam konsepsi Barat, atau Islam itu adalah agama dan negara sekaligus, din wa dawlah( biasanya Montgomerry Watt dikutip di sini, bahwa “Islam bukan sekedar agama biasa, tetapi adalah keseluruhan suatu peradaban.”)? Pertanyaan-pertanyaan itu, bagi saya, tidak bisa dijawab dengan pasti dan “qath’iy”, seolah-olah ada Hukum Tuhan yang pasti di sana. Jawaban atas masalah itu paling jauh adalah bersifat ijtihadiyah. Jadi, saya berani mengatakan, bahwa dalam lapangan kehidupan kenegaraan dan bentuk negara, tidak ada Hukum Tuhan. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum. Tidak ada ayat atau hadis yang mendukung secara spesifik demokrasi, tetapi juga tidak ada ayat dan hadis yang mendukung konsepsi DII/TII ala Kartosuwiryo. Kalau ada ayat dan hadis dikutip dalam pendapat Ali Abdur Raziq (yang mendukung sistem pemisahan agama dan negara) dan Kartosuwiryo (yang berjuang mendirikan Negara Islam), maka ayat-ayat dan hadis-hadis itu telah ditafsirkan mereka sendiri.
Dalam lapapangan kenegaraan (yang merupakan masalah mu’amalah), kita tidak diwajibkan mengikuti contoh Nabi secara harafiah. Sebab, kalau kita diwajibkan untuk mengikutinya secara harafiah (berdasarkan tesis bahwa yang disebut hadis adalah “ucapan, tindakan dan penetapan Nabi”), maka niscaya kita akan mengatakan bahwa sistem kenegaraan yang sesuai dengan sunnah Nabi adalah sistem di mana kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif akan dipegang oleh satu orang, sebab begitulah yang terjadi pada Nabi. Trias politika akan ditolak. Kalau itu kita ikuti, maka kita akan menegakkan kediktatoran. Kalaupun Nabi mempraktekkan sistem pengelolaan negara yang menggabungkan antara ketiga kekuasaan tersebut, memang pad saat itu belum berkembang gagasan tentang pemisahan kekuasaan seperti dalam Trias Politika. Jadi, kita tidak diwajibkan untuk mengikuti Nabi dalam lapangan pengelolaan negara secara harafiah, karena apa yang dilakukan Nabi dalam bidang itu sepenuhnya merupakan cerminan budaya politik zaman itu. Tetapi, ini bukan berarti bahwa Nabi tidak melakukan pembaharuan apa-apa dalam lapangan politik. Usaha Nabi untuk mendirikan negara Madinah yang tidak berdasarkan pada sentimen tribal, tetapi berdasarkan “akidah”, ideologi, adalah suatu terobosan yang luar biasa.
Inilah skema besar pemahaman saya mengenai Islam; saya dengan gamblang mencoba mempertanggungjawabkan pernyataan saya yang bikin “marah” banyak orang, bahwa tak ada hukum Tuhan; tentang kedudukan Nabi; tentang kedudukan “kesepakata sosial” dan dalam bidang apa ia berlaku.
Inti pemahaman saya mengenai Islam sebetulnya bisa diringkaskan dalam rumusan berikut ini: “Dalam hal mu’amalah, interaksi sosial, aspek-aspek kehidupan publik, semua hal adalah “mubah”. Bagaimana mengaturnya, adalah melalui dua instrumen:
1. Nilai-nilai fundamental Islam (maqashidusy syari’ah, al kulliyatul khams).
2. Kesepakatan publik berdasarkan diskusi dan deliberasi publik yang dilandasi oleh nilai-nilai tersebut.
________________________________________
Catatan tentang sumber pemikiran dan beberapa komentar: Dalam mengembangkan gagasan ini, saya diinspirasikan oleh gagasan sejumlah ulama klasik dan modern, juga para filosof dan pemikir politik di abad 20 ini:
1. Teori maslahat seperti dikembangkan oleh Imam Syathibi dalam “Al Muwafaqat” dan Imam Ath Thufi.
2. Gagasan Seyyed Waliyyul Lah ad Dihlawi dalam “Hujjatul Lahil Balighah”.
3. Gagasan Ibnu Rushd tentang penyelarasan antara akal dan wahyu dalam “Fashlul Maqal fi ma Bainal Hikmati wasy Syari’ati minal Ittishal”.
4. Teori teks yang dikembangkan oleh Dr. Nasr Hamid Abu Zaid dalam”Mafhumun Nash”. 5. Pandangan Muhammad Iqbal tentang akal dan wahyu seperti tercantum dalam “The Reconstruction of Religious Thought”.
5. Teori Dr. Fazlur Rahman mengenai konsep “etiko-religius” Qur’an dan metode tafsir ganda.
6. Gagasan filosof besar Jerman abad 20 yang masih hidup hingga kini, Jurgen Habermas, tentang konsep “deliberasi publik”, ruang publik, dan radikalisasi atas teori demokrasi.
7. Gagasan-gagasan hermeneutik yang dikembangkan oleh Paul Ricoeur.
8. Gagasan-gagasan para pemikir Indonesia sendiri: Ahmad Wahib, Cak Nur, Gus Dur, Munawwir Syadzali, dll.
9. Gagasan Jamal Al Banna dalam “Tajdidul Fiqh”.
10. Gagasan teman saya, Masdar F. Mas’udi (sekarang Wakil Katib Syuriyah PBNU) mengenai “agama keadilan”.
Saya mengembangkan kritik-kritik saya sendiri (sedang saya tuliskan) atas teori hukum Islam klasik dalam bidang kajian yang disebut Ushul Fiqh. Untuk sebagian, saya berhutang budi kepada karya-karya Dr. Hassan Hanafi dari Mesir.
Sudah tentu, saya membaca penulis-penulis Arab dan non-Arab yang biasanya menjadi sandaran teman-teman dari garis “Islam radikal”, seperti Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Abul A’la Al Maududi, Sa’id Hawwa, Fathi Yakan, dll; atau pemikir Muslim moderat seperti: Dr. Yusuf Qardlawi, Syekh Muhammad Al Ghazali, Sa’id Ramadlan Al Buthi, Dr. Wahbah Az Zuhaili, dll. Atau intelektual Arab moderat yang berdiri di tengah antara kaum “sekularis” dan “kaum Azhari”, seperti Dr. Fahmi Huwaidi, Dr. Salim Al ‘Awwa, dll.
Saya bisa terima penulis moderat, tetapi saya susah menerima gagasan-gagasan penulis Islam radikal seperti Sayyid Qutb dan lain-lainnya. Saya punya segebok kritik mendasar atas apa yang saya sebut sebagai semacam “Qutbisme” atau pemikiran a la Sayyid Qutb. Teman-teman yang mendukung Syari’at Islam di Indonesia bisa dipetakan ke dalam 3 golongan: golongan Qutbis (pengikut pemikiran Sayyid Qutb; termasuk Taqiyyuddin An Nabhani yang menjadi pendiri gerakan Hizbut Tahrir); golongan salafi yang diilhami oleh pemikiran orang-orang seperti Syekh Nashruddin Al Albani dan lain-lain; golongan moderat yang diilhami oleh gagasan-gagasan Dr. Yusuf Qardlawi. Terhadap ketiganya, saya mempunyai keberatan yang mendasar, meskipun gagasan-gagasan Yusuf Qardlawi, untuk sebagian, dapat saya terima (dalam bukunya “Min Fiqhid Daulah fil Islam”).
________________________________________
Rasanya saya sudah terlalu panjang, padahal niatnya hanya menulis pendek.
Mohon maaf atas kekurangtepatan pemilihan kata-kata. Wal Lahu a’lam bish shawab…
salam,
ulil
Pengantar

Menyambung Dialog UAA-HMNA yang telah diposting sebelumnya, saya kirimkan lanjutan dialog tersebut dengan kiriman HMNA kepada UAA berupa artikel berjudul “Textual, Kontextual, Konsepsional Mengenai Keadilan”
salam, DWS
________________________________________
From: H. M. Nur Abdurrahman
To: Ulil Abshar-Abdalla
Sent: Tuesday, December 24, 2002 12:59 PM
Subject: Textual, Kontextual, Konsepsional Mengenai Keadilan
Assalamu ‘alaykum wr.wb.
Ini saya posting sekadar untuk menjawab laki-laki : perempuan = 2:1, yang menurut hemat saya tidak perlu kita diskusikan/dipublikasikan, karena anakda sudah tetap(?) pada paradigma ta’wil menghapus pemahaman textual, sedangkan saya tetap (!) berfaham di atas paradigma ya textual, ya ta’wil. Maksud postingan ini hanya sekadar “sharing information”.
Wassalam,
HMNA
________________________________________
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
054. Textual, Kontextual, Konsepsional Mengenai Keadilan
Ada yang bertanya kepada saya. Ini dalam hubungannya dengan acara rutin da’wah Islamiyah di TPI setiap pagi. Yaitu dalam salah satu acara rutin tersebut pernah dikemukakan tentang pembagian warisan 2 berbanding satu antara laki-laki dengan perempuan. Lalu saya berpikir, mungkin banyak yang bertanya-tanya pula, yaitu dihubungkan dengan nilai keadilan. Dan sayapun masih ingat beberapa tahun lalu Menteri Agama Munawir Syadzali pernah mengemukakan pendapatnya pribadi, bahwa dua berbanding satu tidak cocok, artinya dirasa tidak adil kalau dilihat masyarakat di Jawa Tengah, yang perempuannya aktif mencari nafkah, sedang laki-lakinya pasif saja di rumah. Dalam S.Al Baqarah, 208 Allah berfirman: Yaa ayyuha lladziena aamanuw udkhuluw fissilmi kaaffah, artinya, Hai orang-orang beriman masukilah Islam secara keseluruhan. Untuk memasuki Islam secara keseluruhan, haruslah dahulu memahaminya pula secara keseluruhan, tidak secara berkotak-kotak. Artinya ajaran Islam harus difahami secara kaffah (keseluruhan, totalitas), secara nizam (sistem), mempergunakan pendekatan sistem. Secara gampangnya, sistem adalah suatu totalitas yang mempunyai fungsi dan tujuan, yang terdiri atas komponen-komponen yang mempunyai kaitan yang tertentu dan erat antara satu dengan yang lain.
Adapun keadilan menurut ajaran Islam, bukanlah sama rata sama rasa, bukan pula hanya sekadar keseimbangan antara hak dengan kewajiban, melainkan bermakna: menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan mengeluarkan sesuatu dari yang bukan tempatnya. Dengan pengertian keadilan seperti itulah, kita akan membahas mengenai keadilan dalam hubungannya dengan pembahagian harta warisan: dua bahagian untuk laki-laki dan satu bahagian untuk perempuan, seperti ditegaskan dalam nash dan adat.
Menurut nash yaitu dalam S. An Nisaa, 11: Yuwshiekumu Llaahu fie awlaadikum lidzdzakari mitslu hazhzhi luntsnayn, Allah mewajibkan dalam hal anak-anak kamu untuk seorang laki-laki seperti bagian dua orang perempuan. Dan menurut adat: Laki-laki memikul di atas bahu, perempuan menjunjung.di atas kepala.
Masyarakat sebagai sebuah sistem terdiri atas berbagai komponen. Salah satu komponennya adalah sub-sistem nilai. Nilai ada yang utama ada yang tidak utama atau pendukung, instrumental. Nilai utama bersumber dari wahyu dan nilai yang instrumental berasal dari akar yang historis, yaitu produk akal-budi manusia. Dengan perkataan lain, nilai utama adalah nilai agama dan nilai yang instrumental adalah nilai budaya. Menurut istilah Al Quran, nilai utama disebut Al Furqan (Al Quran 2:185). Nilai agama adalah mutlak, tidak bergeser dan nilai budaya tidak mutlak dapat bergeser, karena nilai budaya lahir dari kesepakatan komunitas. Nilai budaya dapat saja tidak bergeser, jika nilai budaya itu larut dalam nilai agama.
Sub-sistem nilai sebagai salah satu komponen masyarakat, menjadi kerangka dasar bagi komponen-komponen lainnya seperti sub-sistem: politik, ekonomi, hukum, estetika dlsb. Atau dengan perkataan lain, sub-sistem nilailah yang menentukan corak, mewarnai, memberikan nada dan irama sub-sistem sub-sistem atau komponen-komponen lainnya. Salah satu sub-sistem nilai adalah keadilan, dan ini termasuk dalam klasifikasi nilai utama. Secara pendekatan sistem, nilai ini tidak dapat dipisahkan dari nilai utama yang lain, yang meyangkut konsep kepemimpinan. Nilai tersebut tercantum dalam S. An Nisaa, 34: Ar rijaalu qawwaamuwna ‘ala nnisaai, Laki-laki itu adalah pemimpin perempuan. Nilai kepemimpinan di atas itu memberikan corak dalam sub-sistem hukum faraid: dua bagian untuk anak laki-laki dan satu bagian untuk anak perempuan. Dengan pendekatan sistem tersebut, ditambah pula lagi dengan kriteria keadilan yang berupa: tanggung-jawab, kebutuhan, kesanggupan, prestasi / kinerja, historis, bahkan selera, kita tidaklah akan bingung jika menghadapi suatu keadaan yang menurut hasil observasi kita selayang pandang, perbandingan dua dan satu itu tidak cocok menurut kondisi suatu masyarakat tertentu. Yaitu suatu keadaan khusus dari masyarakat tertentu yang menyimpang dari yang normal. Perempuannya mencari nafkah, sedangkan yang laki-lakinya hanya mempertele burung perkutut di rumah. Kita tidaklah akan begitu saja jika melihat masyarakat yang tidak normal itu, lalu membuat resep yang gampangan, yaitu rumus: Jangan lihat ayat itu secara textual, melainkan lihatlah secara kontextual. Dengan pendekatan sistem kita tidaklah akan secara gampangan untuk mempertentangkan yang textual dengan yang kontextual. Dengan pendekatan sistem kita akan menjangkau bukan hanya sekadar yang kontextual saja, melainkan jangkauannya adalah yang konsepsional. Dengan konfigurasi ayat di atas rasio, akal dituntun oleh wahyu dan pendekatan sistem yang konsepsional, kita akan melihat bahwa nilai keadilan, maupun nilai kepemimpinan yang memberikan corak pada hukum faraidh, dua berbanding satu, tidak ada pertentangan antara yang textual dengan yang kontextual. Menurut nilai utama dalam hal kepemimpinan, laki-laki yang memimpin perempuan, maka dalam sebuah rumah tangga, laki-lakilah penanggung jawab secara keseluruhan. Termasuklah di sini antara lain tanggung jawab memberi nafkah anak isteri. Dan menurut ketentuan hukum Islam, pihak isteri mempunyai hak penuh atas hak miliknya yang dibawa bersuami. Artinya sang isteri mempunyai kebebasan penuh dalam mengelola harta miliknya itu tanpa persetujuan suami. Berbeda misalnya dengan hukum barat, sang isteri tidak bebas untuk mengelola sendiri hak milik yang dibawanya dalam perkawinan. Sang isteri harus minta persetujuan suaminya. Kesimpulannya, laki-laki sebagai penanggung jawab rumah tangga, isteri yang mempunyai hak penuh atas pengelolaan hak milik yang dibawanya, dengan perbandingan dua untuk laki-laki satu untuk perempuan, maka tercapailah keadilan, menempatkan hal itu pada tempatnya.
Lalu bagaimana dengan permasalahan yang pernah dikemukakan Munawir Syadzali di Jawa Tengah itu? Jawabannya itu adalah distorsi. Masyarakat yang menyimpang itu harus diluruskan dengan Social Engineering, yang mekanisme utamanya dalam bidang hukum, peraturan perundang-undangan. Sekadar tambahan informasi, Social Engineering, adalah suatu upaya mengubah kondisi masyarakat agar sesuai dengan tatanan yang diinginkan. Dan ini jangan dikacaukan dengan Societal Engineering, yaitu engineering yang dibutuhkan oleh suatu masyarakat. Jadi Social Engineering termasuk dalam ruang lingkup Ilmu-Ilmu sosial, sedangkan Societal Engineering termasuk dalam ilmu-ilmu keteknikan (engineering). Itulah dia textual + kontextual = konsepsional. Di samping rumus tersebut, laki-laki : perempuan = 2:1, dapat pula dita’wilkan bahwa itu suatu isyarat, yakni dari sudut genetika laki-laki itu terdiri atas dua jenis khromosom, sedangkan perempuan hanya terdiri dari satu jenis, sebab bukankah khromosom laki-laki terdiri atas xy, sedangkan perempuan hanya xx? Bahwa pemahaman textual dapat “beriringan” dengan ta’wil, maksudnya pemahaman textual tidak menutup upaya ta’wil, demikian pula ta’wil tidak menghapuskan pemahaman textual dapat dilihat dari peristiwa Isra Nabi Muhammad SAW. Difahamkan secara textual RasuluLlah SAW betul-betul menunggang binatang buraq sambil dituntun Jibril. Pemahaman textual itu tidak menutup ta’wil tentang konfigurasi naluri – akal – wahyu, akal mengendalikan naluri, dan wahyu menuntun akal, dan bahwa itu merupakan isyarat bahwa peristiwa Isra itu akan diproyeksikan dalam sejarah, yaitu hijrah dari masjid ke masjid (masjidulHaram ke masjidNabawi), RasuluLlah SAW naik unta dituntun oleh Abu Bakr ashShidiq RA orang tepercaya, sebagaimana halnya Jibril adalah malaikat tepercaya.
WaLlahu a’lamu bishshswab.
***
Makassar, 8 November 1992
[H.Muh.Nur Abdurrahman]

6 Komentar

Filed under Demokrasi, Fundamentalis, menulis, Wawancara

6 responses to “Dialog Ulil Abshar-Abdalla dan H.M. Nur Abdurrahman

  1. bobotoh

    Om Ulil, Om Ulil.Sampean ini apa mau nya sih ? Kok Allah dibilang terpaksa ?

    • farah yasmin

      Jangann ambil mentahnya om…baca ulang klo blum faham maksud Gus Ulil!!!
      Argumen logika, referensif (dari kitab klasik maupun kontemporer) salah satu bukti penglamannya.
      klo merasa sulit memahami keseluruhan dialog diatas, cukuplah ide besarnya saj
      justru lawan gus ulil-lah yang klabakan, muter-muter nggak juntrung….dan berakhir pada penyebutan identitas diri tentang usia (yg brngkali pengen dihormati he he he)
      dan Gus Ulil pun masih dalam sikap kritis disertai ketawadluan

      Lanjutkan Gus Ulil !!!

  2. Izzan hammadi

    Yah….namanya hamba hawa nafsu…..ya seperti itulah kayak OM ULIL AMBLAS AKALNYA….weleh…..weleh….weleh…

  3. Kyai ULIL ABSHAR ABDALLA…gak salah saya ngeFans anda. Saya suka Islam Liberal, meski saya juga seorang penghafal Qur’an (sejak usia 6 thn, hafal luar kepala usia 8 thn). Well….Islam Liberal bagi saya adalah Islam dengan pandangan-pandangan kritis. We live not by “taken for granted”, we live by what we see, what we think, and what we’re concerned in. [Danke, mein Lehrer.]

  4. farah yasmin

    nggak salah kalau anda ngefans ke dia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s