Warga Ahmadiyah Datangi Kejari Mataram


Mataram (Suara NTB) Rabu (1/12) kemarin, warga Ahmadiyah mendatangi Kejaksaan Negeri Mataram. Bersama muspika, mereka membahas beberapa agenda penting, pascainsiden perusakan dan pembakaran kediaman mereka di Dusun Ketapang Desa Gegerung Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Salah satu poin tuntutan Jemaah Ahmadiyah, meminta penawaran aset mereka yang di Ketapang dibahas lebih serius oleh Pemda. Alasannya, pemerintah melalui tim 9 yang dibentuk, belum juga rembuk dengan para jemaah. “Kami sarankan agar Pemprov NTB maupun Pemkab Lobar membicarakan ini dengan para warga kami di Transito,” kata Ketua DPW Ahmadiyah NTB, Jauzi kepada sejumlah wartawan usai berdialog dengan Kajari Mataram, IB Wiswantanu, SH yang sekaligus menjabat Ketua Pengawasan Kepercayaan Masyarakat (Pakem).

Bagi Jauzi, persoalan aset, tidak terkait dengan organisasi atau DPW Ahmadiyah yang menaungi keberadaan para jemaah. Urusan itu menurutnya berkaitan langsung dengan para jemaah, karena terkait dengan kepemilikan. Untuk itu, dia sangat berharap pemerintah segera mendekati warga Ahmadiyah dan membahas penjualan aset yang kebanyakan berupa tanah itu.
Harapannya, jika terjual, maka relokasi terharap jemaah bisa segera diputuskan pemerintah. “Warga Ahmadiyah sebenarnya bukan tidak mau menjual asetnya. Tapi selama ini tidak pernah diajak berdialog siapapun,” tegasnya.
Tuntutan lain, Jauzi meminta penegak hukum mengusut tuntas kasus perusakan yang terjadi. Para jemaahnya kini bertahan di pengungsian Transito Mataram merasa trauma dan takut tinggal di lokasi. “Tolong, kepada aparat agar kasus ini diselesaikan tanpa ada intimidasi kepada warga Ahmadiyah,” harap Jauzi.

Pertemuan tertutup berlangsung di ruangan Kajari Mataram. Melibatkan pihak Koramil Lingsar, aparat Kecamatan dan Pemdes. Wiswantanu menjawab wartawan, mengatakan, akan segera membahas soal pembelian aset Ahmadiyah dengan tim 9 yang dibentuk Pemda. Kepada Jemaah Ahmadiyah, sementara ini dilarangnya beraktivitas berarti demi keamanan mereka, apalagi kembali ke pemukiman di Desa Gegerung.

‘’Demi menjaga keamanan dan ketertiban, kami minta Jemaah Ahmadiyah tidak kembali ke kampungnya,’’ kata Wiswantanu. Apalagi reaksi penolakan dari warga setempat masih kuat. Namun di sisi lain, dirinya tidak bisa melarang warga Ahmadiyah untuk mengais rezeki di lahan milik mereka di Gegerung. “Silahkan, kalau sekadar menggarap sawah atau kebun disana. Tapi kami minta untuk tetap menjaga situasi tetap kondusif,’’ harapnya. (ris)

SUMBER : SUARANTB.COM

Tinggalkan komentar

Filed under Agama, Ahmadiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s