MANIFESTO

LATAR BELAKANG

Demokrasi tanpa kebebasan sipil. Demikian, kira-kira, istilah yang tepat untuk menggambarkan kehidupan sosial politik Indonesia pasca-reformasi. Memang, terselenggaranya pemilihan umum (Pemilu) pada 1999 dan 2004 yang realtif bersih dan jujur telah memberikan sedikit harapan bagi masa depan konsolidasi demokrasi di Indonesia. Namun demikian, keberadaan Pemilu yang bersih dan jujur—sebagai implementasi dari prosedur-prosedur demokrasi—tersebut tidak lantas dengan sendirinya mampu menutupi masalah kemanusiaan fundamental lainnya yang lebih bersifat substansial: krisis kebebasan.

Sebagaimana lazim terjadi di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kebebasan tampaknya masih menjadi barang langka di Indonesia. Karena menjalankan ibadah salat dengan menggunakan dua bahasa (Arab dan Indonesia), ustadz Usman Roy ditangkap oleh aparat keamanan untuk kemudian dipenjarakan, sementara peseantren dan para pengkutnya dibubarkan secara paksa. Hal senada juga dialami oleh komunitas “Eden” di Jakarta. Bahkan, sebagai pemimpin dari komunitas ini, Lia “Eden” ditangkap dan terancam mendapat hukuman berat karena dianggap sebagai nabi palsu yang telah melakukan penodaan terhadap ajaran agama Islam. Bahkan, tidak saja dianggap sebagai kelompok sesat dan menyesatkan, jemaah Ahmadiyyah mengalami penganiyaan yang tidak manusiawi berupa penyerangan fisik, teror mental, dan pengusiran dari rumah mereka sendiri. Penganiyayaan ini dialami oleh segenap jemaah Ahmadiyyah di seluruh pelosok Indonesia lantaran mereka diangap tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir umat Islam.

Tidak hanya itu. Absennya kebebasan di Indonesia pasca-Reformasi juga ditandai oleh aksi-aksi jalanan kelompok-kelompok berjenggot dan berjubah putih. Dengan retorika-retorika agama dan teriakan ‘Allahu Akbar”, mereka turun ke jalan untuk melakukan swepping terhadap tempat-tempat hiburan yang dianggap sebagai ladang kemaksiatan. Bahkan, karena tidak puas dengan aksi jalanan, kelompok radikal ini menggalang kerja sama dengan kelompok-kelompok Islam konservatif untuk memperjuangkan legislasi Rancangan Undang-undang Anti-Pornoaksi dan Pornografi (RUU APP) di parlemen (DPR RI) yang oleh banyak pihak disinyalir sebagai rancangan undang-undang yang berpotensi mengancam prinsip-prinsip kebebasan sipil (civil liberties) serta merusak nilai “Bhineka Tunggal Ika” yang sedari awal sudah menjadi karakter bangsa Indonesia.

Bersamaan dengan penangkapan dan penganiyayaan yang dialami oleh ustad Usman Roy di Malang, komunitas “Eden” di Jakarta dan jemaah Ahmadiyyah di seluruh Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai lembaga yang anggotanya terdiri dari organisasi-organisasi keislaman di Indonesia, termasuk NU dan Muhammadiyyah, mengeluarkan beberapa fatwa yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok seperti Ahmadiyyah, komunitas “salat dua bahasa” dan komunitas “Eden” adalah kelompok yang “sesat dan menyesatkan,” serta bertentangan dengan Islam. Selain itu, MUI juga berusaha memberikan pelabelan “sesat dan menyesatkan” kepada kelompok-kelompok Islam yang berhaluan liberal dan pluralis dengan memunculkan fatwa-fatwa yang menyatakan bahwa sekularisme, liberalisme dan pluralisme adalah paham-paham yang “sesat dan menyesatkan” serta haram hukumnya bagi umat Islam untuk menganut paham-paham tersebut.

Dengan demikian, bisa dikatakan hubungan sebab-akibat antara persepsi keislaman yang ekslusif dan tertutup pada satu sisi, dengan sikap-sikap dan tindakan-tindakan umat Islam yang cenderung tidak toleran terhadap penafsiran, keyakinan dan praktik keagamaan lain yang berbeda. Pada titik ini, bisa dikatakan bahwa krisis pemikiran keislaman telah menyebabkan munculnya krisis kebebasan yang sangat akut.

Oleh karena itu, terasa sangat diperlukan perlu untuk membuat sebuah jaringan generasi muda muslim yang mampu berpikir kritis terhadap wacana dan paradigma keislaman tradisional yang ekslusif pada satu sisi, dan mampu menjawab persoalan-persoalan keislaman dalam konteks keindonesiaan dan kemoderenan di lain sisi. Atas dasar pertimbangan itulah, Jaringan Islam Kampus (Jarik) lahir. Jaringan ini diharapkan mampu malakuakn transformasi civil society sehingga dapat memunculkan sebuah atmosfir yang kondusif bagi terciptanya—bukan sekedar illiberal democracy seperti yang ada selama ini, tapi—demokrasi liberal, yakni sistem politik demokrasi yang didasarkan atas penghargaan terhadap prinsip-prinsip kebebasan sipil (civil liberties).

PILAR-PILAR PEMIKIRAN

1. Pencerahan, Kritik dan Rasionalitas

Jaringan Islam Kampus adalah komunitas generasi muda Muslim yang berusaha mencurahkan segenap kemampuan intelektual guna melakukan berbagai upaya ijtihad kontemporer atau pembaharuan pemikiran Islam. Tujuan utamanya adalah merintis sebuah proyek Pencerahan di Indonesia yang berbasis keumatan dan kebangsaan. Dalam hal ini, Jaringan Islam Kampus memahami konsep Pencerahan dimaksud adalah seperti yang dirumuskan Immanuel Kant: “pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan manusia untuk memakai pengertiannya tanpa pengarahan orang lain. Diciptakan sendiri berarti bahwa ketidakmatangan ini tidak disebabkan oleh kekurangan dalam akal budi, melainkan dalam kurangnya ketegasan dan keberanian untuk memakainya tanpa pengarahan dari orang lain. Sapere aude! Beranilah memakai akal budimu sendiri.”

Mengapa Pencerahan? Jaringan Islam Kampus sangat menyadari bahwa umat Islam Indonesia saat ini tengah mengalami krisis rasionalitas, yakni krisis nalar atau krisis epistemologi keagamaan. Umat Islam di Indonesia tidak bisa memilah secara kritis antara teks-teks keagamaan dan maksud-maksud pewahyuan yang menjadi elan vital dari kemunculan Islam pada satu sisi, dengan realitas historis yang senantiasa berkembang di lain sisi. Akibatnya, umat Islam tidak mampu lagi memberikan respon aktual yang tepat dan proporsional terhadap problem-problem kemanusiaan dan kemasyarakatan kontemporer dalam konteks keindonesiaan dan kemodernan.
Dalam pemikiran Islam, krisis rasionalitas ini terjadi karena rasio begitu saja disubordinasikan di bawah teks-teks keagamaan. Hal ini merupakan warisan dari paradigma pemikiran Islam skolastik, yang anti-rasionalitas, bernuansa teosentris serta disemangati oleh pendekatan harfiyah dan fiqhiyah dalam memahami al-Qur’an dan al-sunnah, dalam melihat dan menyikapi setiap masalah yang muncul. Paradigma seperti ini akan senantiasa membutakan mata umat Islam terhadap gerak realitas yang terus berubah dari masa ke masa. Akibatnya, dalam menghadapi setiap masalah yang ada, umat Islam akan selalu berpaling kepada teks-teks kitab suci untuk mencari jawabannya. Padahal, al-Qur’an dan al-sunnah adalah diskursus keagamaan yang dimunculkan untuk merespon masalah-masalah masyarakat Arab pada abad ke-7 M.

Pada titik ini, Jaringan Islam Kampus adalah komunitas epistem madani yang berusaha mengumandangkan kembali seruan Immanuel Kant untuk berani memakai akal budi, menggunakan rasionalitas: Sapere Aude! Dalam konteks dunia Islam, proyek kritik pemikiran atau kritik nalar ini ditujukan kepada upaya-upaya pembebasan diri dari otoritarianisme agama berbentuk ortodoksi pemikiran Islam di bidang fiqih, kalam, filsafat dan tasawuf yang menghegemoni dan mendominasi pemikiran keagamaan umat Islam. Kritik pemikiran ini mutlak sangat dibutuhkan karena hingga saat ini terdapat anggapan yang diyakini secara umum di kalangan umat Islam bahwa wacana hegemonik itu seolah-olah telah mencapai kebenaran akhir dan karena itu merupakan—meminjam istilah Francis Fukuyama—the end of history, yaitu puncak dan akhir dari evolusi pemikiran keagamaan dalam Islam. Persepsi mengenai hal ini juga tercermin dalam pandangan “pintu ijtihad telah tertutup” yang kemudian melahirkan sikap taqlid.

Dengan demikian, tujuan akhir dari seluruh proyek kritik pemikiran Islam ini adalah tegaknya otonomi rasio yang akan dijadikan pijakan dalam berijtihad guna menyikapi problem-problem kemanusiaan dan kemasyarakatan kontemporer, seperti masalah demokrasi, hak-hak asasi manusia (HAM), kesetaraan jender, kesetaraan agama-agama dan hubungan antar-agama. Di sini, rasio menjadi otonom karena ia tidak lagi terikat pada paradigma lama dan tidak pula terkerangkeng di dalam teks yang tidak berubah dan tidak bisa diubah itu. Bagi Jaringan Islam Kampus, penggunaan rasio secara otonom sama sekali tidak bertentangan dengan spirit agama, karena akal budi merupakan anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Bahkan, Tuhan dan Rasul-Nya justru memberikan perintah kepada umat Islam guna menggunakan akal pikiran sepenuh-penunya. Atau, merujuk kepada Milan Kundera, tatkala manusia berpikir, maka Tuhan pun tertawa.

2. Otonomi dan Kebebasan

Bagi Jaringan Islam Kampus, kepercayaan sepenuhnya pada kemampuan dan penggunaan rasionalitas sangat terkait erat dengan konsep otonomi dan kebebasan manusia. Adalah Immanuel Kant, dalam Idea for a Universal History from a Cosmopolitan Point of View, mengatakan bahwa “semua bakat alamiah dari setiap mahluk ditakdirkan untuk berkembang sepenuh-penuhnya menuju tujuan kodratnya.” Kemudian, “Pada manusia (sebagai satu-satunya makhluk berakal budi di atas bumi) bakat-bakat alamiah tersebut, yang diarahkan kepada penggunaan akal-budi, akan berkembang sepenuh-penuhnya dalam jenis, dan bukannya dalam setiap diri seorang individu.” Berdasarkan cita-cita humanisme Kantian dan humanisme Renaissance: humanitas expleta et eloquens (kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri), Jaringan Islam Kampus sangat percaya bahwa setiap manusia tidak boleh dijadikan alat untuk tujuan-tujuan lain, tetapi harus dijadikan tujuan pada dirinya dirinya sendiri.

Berpijak pada humanisme Renaissance dan humanisme Kantian yang kemudian mengkristal dalam bentuk prinsip hak-hak asasi manusia (HAM) yang sudah diakui keberadaannya melalui sebuah deklarasi internasional, konsep otonomi dan kebebasan manusia tersebut sebenarnya secara gamblang telah termaktub di dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Artinya, konsep otonomi dan kebebasan manusia juga telah menjadi bagian integral dari hak-hak sipil (civil rights) warga negara di Indonesia, yang di antaranya, ialah: hak-hak politik untuk memilih dan dipilih; hak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan sesuai dengan kemanusiaan, paling tidak hak-hak dasarnya, yaitu akses terhadap kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang papan, kesehatan dan pendidikan yang merupakan freedom from want; hak terhadap kebutuhan keamanan (freedom from fear), kebebasan berpendapat dan kebebasan beragama (freedom of spech and expresion).

Dalam kerangka konsep otonomi dan kebebasan manusia, Jaringan Islam Kampus memperjuangkan tegaknya prinsip-prinsip sekularisme, liberalisme dan pluralisme di Indonesia. Sebab, konsep otonomi manusia, khususnya dalam bidang kehidupan beragama, pertama-tama harus diletakan pada lokus akidah dan keimanan, karena keduanya merupakan bagian dari masalah individual. Penempatan iman dan akidah kepada otoritas setiap individu dengan sendirinya akan menciptakan kebebasan beragama. Pengembalian iman dan akidah kepada otoritas individu yang otonom inilah yang dijadikan dasar pemikiran dalam prinsip liberalisme. Hal ini berbeda, misalnya, dengan masalah negara dan masyarakat yang termasuk ke dalam wilayah publik, yang karenanya harus dibahas secara rasional dan demokratis.

Selanjutnya, seperti juga diyakini oleh John Rawls dalam Political Liberalism, Jaringan Islam Kampus berkeyakinan bahwa konsep otonomi iman dan akidah bagi setiap individu yang kemudian melahirkan konsep kebebasan beragama berimplikasi pada munculnya pluralitas pandangan dan ekspresi keberagamaan. Karenanya, cara yang paling masuk akal dalam menyikapi pluralitas ini adalah prinsip pluralisme. Tentu saja, istilah pluralisme di sini tidak boleh disamakan secara serampangan dengan indiferentisme, yakni paham yang menganggap bahwa semua agama itu sama saja. Sebaliknya, prinsip pluralisme justru berasumsi bahwa setiap agama, bahkan semua penghayatan individual terhadap agama, memiliki keunikannya sendiri-sendiri yang harus dihargai. Karena itu, bisa dikatakan bahwa seorang liberal sejati yang menghargai otonomi dan kebebasan individu dalam beragama sudah pasti juga akan menjadi seorang pluralis.

Namun demikian, prinsip liberalisme dan pluralisme dalam kehidupan beragama ini juga tidak akan terwujud dengan baik jika negara sebagai organisasi kekuasaan didasarkan pada satu agama tertentu dalam bentuk tatanan teokrasi. Karenanya, prinsip lain yang juga harus ditegakan guna mewujudkan serta menjamin otonomi dan kebebasan manusia adalah sekularisme, yakni pemisahan antara agama dengan negara. Pemisahan ini mutlak harus dilakukan agar tidak terjadi pemanfaatan agama oleh negara dan juga sebaliknya, dominasi dan hegemoni agama tertentu terhadap negara. Dalam hal ini, sekularisme tidak boleh diartikan sebagai paham anti-agama yang mengarah kepada bentuk ateisme, tapi sekularisme dimaksud sepadan dengan perspektif teori sosial tentang konsep sekularisasi dan diferensiasi peran agama dalam kehidupan sosial.

PILAR-PILAR PERJUANGAN

Bagi Jaringan Islam Kampus, Pilar-pilar Pemikiran di atas—meminjam istilah Kontowijoyo—adalah sebuah interpretasi untuk aksi. Karenanya, diperlukan pula –rancangan-rancangan strategis guna dijadikan pijakan dalam melakukan transformasi sosial. Maka, Jaringan Islam Kampus juga telah membuat rumusan Pilar-pilar Perjuangan sebagai berikut.

1. Pembentukan dan Penguatan Nalar Publik Agama-agama
2. Penegakan Prinsip Kebebasan Beragama
3. Penegakan Hak-hak Sipil Keagamaan
4. Penguatan Prinsip Toleransi dan Pluralisme dalam Kehidupan Beragama

9 responses to “MANIFESTO

  1. kemas

    Rakyat Indonesia, GOLKAR dan Gerakan Mahsiswa

    Ngomong pekerjaan, karir, globalisasi, diskusi ilmu seperti sahabat-sahabat di JARIK dll; saya agak miris (walaupun ga semuanya kok; berdiskusi itu kan penting). Karena sebetulnya kita masih berhadapan dengan musuh utama rakyat yang masih nongkrong yaitu Partai Golongan Karya (GOLKAR). Sampai saat ini rakyat miskin yang dijanjikan ketika kampanye tidak menjadi nyata. Kenyataannya justru rakyat tetap menderita. Untuk itu saya mengajak kita semua untuk lebih pintar tuk menyusun agenda yang lebih masif. Saya kira membatasi proses Kaderisasi GOLKAR adalah penting, termasuk menghilangkan GOLKAR dari strukur kebangsaan. Bagi saya GOLKAR lebih berbahaya dari teroris, aliran sesan, dan turunan ORDE Baru lainnya. Saya sepakat dengan ungkapan beberapa kalangan bahwa untuk membangun masa depan Indonesia hanya dengan satu cara : BUBARKAN GOLKAR.
    Salam Rakyat Sosialis Indonesia
    Rakyat Indonesia baru saja ditinggal pergi oleh perhelatan sersejarah, ulang tahun Sumpah Pemuda. Pesan pentingnya adalah pengembalian identitas bangsa atas tanah air, bangsa dan bahasa.
    Tapi bagaimana relevansinya dengan kondisi bangsa dan rakyat saat ini? Ada yang mengatakan bahwa kondisi yang menyebalkan ini terjadi karena ORDE BARU dengan banyak anak turunannya. Saya sendiri memiliki pandangan tersendiri. Menurut saya yang salah besar adalah GOLKAR. Adapun yang lainnya ya hanya salah kecil. Sekarang kita sering mendengar bahwa pengusung reformasi telah gagal mewujudkan agenda reformasi. Saya ingin mengatakan anda dan semua rakyat bisa bernapas adalah bagian dari isi dan ide bagus dari reformasi.Ya yang sedikit juga perlu disyukuri dong. Tapi sebetulnya dalam konteks membangun bangsa dan mengevaluasi peran membangun bangsa, menurut saya yang menghambat bangsa ini maju adalah GOLKAR. Banyak poin yang menjadi penguat pernyataan ini. Salah satunya adalah banyaknya kader GOLKAR yang terpidana banyak kosus korupsi. Belum lagi kasus-kasus yang lain. Sampai hari ini GOLKAR hanya membuat janji palsu untuk rakyat kecil; dan belum pernah menyusun agenda-agenda yang menyentuh rakyat jelata, buruh, kaum miskin kota dan desa dan lain-lain.
    Untuk itu agenda rakyat idealnya adalah bukan sekedar merebut identitas global dalam konteks dunia, tapi juga mengglobalkan gerakan rakyat dan membatasi ruang gerak GOLKAR sebagai biang kladi atas kesengsaraan rakyat Indonesia.
    Kepada seluruh gerakan mahasiswa yang terlalu elitis dan masih bingung dengan agenda gerakan, mari satukan barisan bersama rakyat dan kaum lemah kota dan desa untuk mengatakan tidak kepada GOLKAR.
    Tuk sahabat-sahabat yang pragmatis dengan agenda politik praktis dan menjual idealime gerakan mahasiswa, kembalikan idealisme kalian
    Kepada teman-teman KAMMI, sahabat-sahabat HMI-MPO, HMI-DIPO, PMII, IMM, PMII, LMN. LMD. PRD, BEM dan seluruh mahasiswa yang peduli rakyat…..
    Mari POTONG GENERASI GOLKAR dari Bumi Pertiwi Indonesia, sekarang juga!
    Kita Terlibat Melawan atau Anda Menjadi Korban Penindasan GOLKAR !

    Salam Rakyat Indonesia

  2. Ass wr wb

    Saya baru nemu website ini jaringan Islam yang lebih luwes . Akhir akhir ini saya merasa umat Islam kok semakin brutal. Tidak bisa menerima perbedaan pendapat, kalau beda pendapat langsung diberangus,atau dimusnahkan. Kalau saya merujuk pada Qur’an, hati ini jadi tentram. Al Qur’an sangat menjunjung tinggi perbedaan pendapat. Beberapa ayat yang saya tahu seperti diungkapkan dalam s Al Baqarah ayat 256: “Tidak ada paksaan dalam agama Islam, sesungguhnya telah nyata jalan yang benar daripada jalan yang sesat…”. Manusia bebas memilih….mau menempuh jalan yang benar atau sesat, risiko tanggung sendiri. Masuk syurga atau neraka adalah pilihan yang ditawarkan.

    Al Qur’an hanya menjelaskan risiko dari berbagai pilihan yang ditawarkan, kalau iman, taqwa, dan patuh mendapat kemenangan dan masuk syurga. Kalau kafir,menuruti hawa nafsu dan bisikan syetan, hancur terpuruk dalam neraka.Hidup ini pilihan kita masing masing, pilihan yang bertanggung jawab. Bukan ikut ikutan atau terpaksa.Al Qur’an tidak takut dibantah, dalam s Al Israak ayat 107 disebutkan :” Katakanlah, berimanlah kamu kepanya (Al Qur’an) atau tidak sama sekali…..” Kalau kamu iman dan patuh hasilnya..mendapat kemenangan disisi Allah…..dan kalu kamu kafir ,menerima kehancuran , kekal dalam neraka. Silahkan pilih, manusia bebas memilih, pilihan yang bertanggung jawab dan siap menanggung segala risikonya.

    Kalau melihat aktifitas sekelompok umat islam dewasa ini yang suka memaksakan paham dan kehendaknya pada orang lain ,saya cukup miris ,.Islam terkesan brutal, tidak tolerans, padahal Rasulullah tidak pernah mencontohkan sikap yang demikian. Rasulullah ,mengembangkan Islam dengan ahlak yang mulia, penuh kasih sayang. Beliau hanya berperang jika diperangi. Kekerasan yang dilakukan skelompok umat islam , hanya menimbulkan anti pati dan kebencian umat lain terhadap Islam…sungguh memprihatinkan.

    Salam kenal dan selamat berjuang bagi rekan rekan yang tergabung dalam JARIK.

  3. SALMAN

    di artikel tertulis :
    1.Dalam hal ini, Jaringan Islam Kampus memahami konsep Pencerahan dimaksud adalah seperti yang dirumuskan Immanuel Kant: “pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri….”-
    2.Selanjutnya, seperti juga diyakini oleh John Rawls dalam Political Liberalism…….

    rujukan jarik adalah Immanuel Kant dan John Rawls….

    seandainya Muhammad Bin Abdullah Rasulullah dijadikan rujukan, mungkin JARIK dah keburu bubar…

    terus-terang saya miris dengan sekelompok pemuda yang mengaku mengusung ide kebebasan seperti JARIK..
    semakin mereka meyakini bahwa mereka berjuang untuk kebebasan, justru dua sifat penting hilang dari diri mereka yaitu sifat kritis dan sifat malu..

    sifat kritis hilang karena menelan begitu saja pemikiran semacam HAM dan kebebasan serta pluralisme.. padahal siapa yang menjamin bahwa ide tersebut adalah ide yang paling bagus? tidak seorang pun!!!!
    dan lagi, ide tersebut adalah ide manusia-manusia yang hidup abad 17 dan 18, dan terjadinya di Eropa.

    Seandainya jarik bener-bener berisi mahasiswa kritis, kenapa ide-ide tersebut tidak pernah dikaji????? tentang kelayakannya diterapkan pada masyarakat post modern (bukan pada masyarakat awal kebangkita eropa 3 abad yang lalu). juga tentang kelayakannya diterapkannya di Indonesia yang budayannya amat jauh dari budaya Eropa!!!?

    Sifat malunya hilang karena mereka terlanjur mengkritisi Islam dengan mengatakan bahwa islam adalah hasil peradaban abad ke 7 di Arab dan segala omong kosong lainnya.. sedangkan Demokrasi dan sekulerisme tidak dikritisi sebagai hasil kebudayaan Eropa abad ke 17 dan 18….

  4. SALMAN

    siapa pun tahu bahwa ideologi sekuler dan turunannya (pluralisme, HAM, demokrasi,kapitalisme,dll.) adalah ideolog tambal sulam karena memiliki watak kompromi dengan keadaan, bersifat relatif dan tidak kekal.

    ideologi (yang diagungkan oleh JARIK) tersebut juga lahir dari orang-orang yang traumatis (khususnya terhadap dominasi gereja), bukan berdasarkan pemikiran mendalam..

    ideologi tersebut adalah murni hasil usaha manusia. tidak ada spritual power sehingga sangat absurb.

    ideologi tersebut hanya cocok diterapkan pada sekelompok kecil komunitas nasrani. karena watak agama nasrani (yang buta sektor selain ibadah ritual) menjamin adanya kompromi seperti di atas.

    Sebaliknya nasrani dan pemikir barat harus memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada islam karena watak agama islam memang berbeda dengan watak agama nasrani. dan ini tidak boleh diganggu gugat!!!

    jika pada agama nasrani pendeta hanya diizinkan bercokol di gereja saja, it’s OK. no problem. karena nasrani tidak menuntut lebih dari itu. bahkan jika menuntut lebih dari itu, maka ketimpangan akan timbul seperti pembunuhan galileo galilei dan nicholaus copernicus oleh gereja dulu. dan justru campur tangan inilah yang membuat Barat trauma. Sehingga cocok lah jika ideologi sekuler masuk menambal kekurangan nasrani.

    sedangkan dalam islam jika ulama hanya diizinkan mengelola masjid an sich, berarti ada something wrong!!!. karena watak agama islam bersifat kaffah dan universal. dari masuk WC sampai pemilihan Khalifah termasuk pengaturan negara memiliki tuntunan yang jelas. jelas dan praktis. kecuali bagi orang yang buta islam. maka islam tidak membutuhkan ideologi lain. justru jika ada ideologi yang mau masuk akan timbul kepincangan seperti kasus Ahmadiyah yang berlarut-larut!!!

  5. Ustadz Uje

    Salut untuk Jarik ! usung terus pluralisme, HTI,MMI, FPI hanya mendompleng demokrasi tetapi dibaliknya ingin membunuh demokrasi sendiri. Sudah untung, dengan adanya demokrasi organisasi-organisasi preman ini bisa berdiri. Coba di negara-negara timur tengah, mereka adalah organisasi-organisasi terlarang !

  6. SALMAN

    mas uje sering ke toko loak ya?
    pantes kepalanya berisi pemikiran bekas pakai…

  7. DEMOKRASI : *Berasal dari manusia. Dicetuskan oleh para filosof eropa.
    *Ketetapan yg melahirkan ide demokrasi adlh paham pemisahan Agama dari kehidupan
    Bernegara, Jd saat kt menggerakkan negara ini kita adalah orang Kafir tak beragama,
    hanya ber akal. Memang tidak mengingkari eksistensi Agama, tp saat bicara
    negara… agama itu g ada. Cara spt ini G BENAR.
    *Sebenarnya kita semua tau siapa saja yang memperbudak kita, tp kita diam menghibur
    diri ari fakta, dan sebagian lagi tertawa karena bs n dapat kesempatan untk
    mengambil keuntungan.
    Kita memang BHINEKA, tp organisasi harus dipimpin hanya oleh satu otak, kalo tidak maka akan pecah sebab ditarik ke segala arah.

    ISLAM adalah solusi bagi urusan dunia dan akhirat.

  8. Anonim

    Apapun Agamamu, kita harus tetap bisa saling menghargai.
    Indonesia adalah Indonesia, yang mempunyai budi pakerti, nilai-nilai luhur.
    Berhentilah saling hujat, menghasut, menteror dll.
    Hiduplah rukun dan damai.

    salam damai.

  9. makasi teman2 yang suda isi komentar….salam kenal balik dari kami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s