Alqur’an Tak Pernah Membagi Peran Gender
“Adapun masalah pembagian peran antara laki-laki dan perempuan—menurut saya—tidak ada dalam Al-Quran…” (Dr. Umaymah Abu Bakr)
MESKIPUN jender termasuk istilah baru, “barang impor”, dan tidak dikenal dalam tradisi Islam klasik. Namun bukan berarti tidak penting. Karena melalui studi ini, kita bisa mengetahui pola pandang masyarakat terhadap perbedaan jenis kelamin yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya, dari pada sekadar faktor biologis. Untuk itu, kami mendatangai seorang pemerhati masalah jender; Dr. Umaymah Abu Bakr, di kediamannya
Lanjut membaca
Langit Makin Mendung

Mohon maaf sebelumnya, saya posting Cerpen langit Makin Mendung karya HB. Jasin (Kipandjikusmin) ini karena banyak sekali teman-teman yang penasaran dan kepengen membacanya secara utuh. Yang sudah baca diabaikan saja ya!
Yang belum baca selamat menikmati!
Langut Makin Mendung
Cerpen: Kipandjikusmin
LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.
“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”
Benih-benih Islam Radikal di Masjid
Suatu hari seorang teman diundang rapat di sebuah perusahan media di daerah Kedoya, Jakarta Barat. Berhubung saat itu hari Jumat, teman yang tidak pernah ketinggalan salat lima waktu itu ikut salat Jumat di masjid yang berada di basement gedung tersebut.
Semula semuanya tampak normal-normal saja. Para karyawan datang satu per satu memenuhi masjid dengan bekal niat untuk melaksanakan salat Jumat dan air wudhu. Sekali lagi, semuanya normal-normal saja.
Lanjut membaca
Argumen Islam untuk Kebebasan
Oleh Saidiman Ahmad
Debat yang muncul seputar keberadaan sekte Islam Ahmadiyah memasuki babak baru menyusul perlakukan kekerasan yang mereka alami. Kampanye anti-Ahmadiyah yang begitu massif semakin menyudutkan kelompok yang memang marjinal ini. Betapapun kuat argumen bahwa Ahmadiyah hanyalah sekte di dalam Islam, tapi kenyataan bahwa banyak orang yang berpikiran lain tidak bisa diabaikan. Persoalannya, anggapan bahwa Ahmadiyah berada di luar Islam inilah yang dijadikan dalih bagi sekelompok orang untuk terus-menerus menganggu, meneror, bahkan membunuh anggota Ahmadiyah.
Lanjut membaca
Wawancara dengan Mataharitimoer Pengarang Buku “Jihad Terlarang”
Sepuluh tahun lebih “bersembunyi” di bawah tanah setelah keluar dari gerakan Negara Islam Indonesia (NII), Mataharitimoer muncul kembali ke publik dengan sebuah novel otobiografinya yang menghentak, Jihad Terlarang, Cerita dari Bawah Tanah. Dalam novel itu, Eddy Prayitno alias Mataharitimoer menguraikan berbagai visi dan metode NII dalam mengimplementasikan hukum Islam.
AA: Judul buku Anda, “Jihad Terlarang”, menggelitik banyak orang untuk membacanya, terutama di masa terorisme global ini ketika kata “jihad” diidentikkan dengan “terorisme”. Apa maksud Anda dengan judul tersebut?
Lanjut membaca
Mahfud MD Pilih Dilil Gusdur Sikapi Ahmadiyah
TEMPO Interaktif, Jakarta – Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud Md menilai, pelarangan Ahmadiyah serba dilematis untuk dilakukan. Karena itu dia lebih suka kembali pada dalil mendiang Gus Dur.
“Secara umum saya katakan dilematis pengaturan Ahmadiyah itu,” kata Mahfud saat ditemui di Gedung MK, Jakarta, Selasa (8/3).
Dia menjelaskan dilema yang dimaksudnya. Pada dasarnya, kata dia, negara tidak boleh menilai keyakinan orang. Yang boleh dinilai adalah tindakannya, apakah tindakan itu melanggar hukum apa tidak. “Kalau keyakinan itu tidak bisa dinilai oleh negara dan tidak bisa dihalangi oleh siapapun,” ujar dia.
Lanjut membaca
Organisasi Kekerasan dan Teror Rahim
Neng Dara Affiah* SALAH SATU ANGGOTA KOMISIONER KOMNAS PEREMPUAN DAN PENGURUS PP FATAYAT NU
TULISAN INI PENDAPAT PRIBADI
Dalam kondisi tubuh yang kurang sehat, saya berkata kepada adik saya, Nong Darol Mahmada, bah wa saya sudah tidak sanggup lagi mendengar nama salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) yang selalu melakukan tindak kekerasan atas nama agama di mana-mana. Setiap mendengar nama organisasi ini, rahim saya melilit kesakitan dan lambung saya mual seperti ada tusukan yang memuncratkan energi negatif yang membuat saya limbung. Apalagi bila menyaksikan pelbagai keberingasan mereka di lapangan melalui televisi. Ekspresi mereka penuh dengan sorot mata kemarahan, kebencian, bahkan ketika mereka menyatroni rumah-rumah yang garis keislamannya tidak sehaluan dengan mereka, mereka meneriakkan kata-kata Allahu Akbar seraya melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan penghuni rumah dengan cara yang sangat beringas.
Lanjut membaca
Filed under Agama, Ahmadiyah, Pluralisme
Solusi Kasus Ahmadiyah
M. Dawam Rahardjo, cendekiawan
Dalam diskusi di suatu stasiun TV, KH Dr Mustafa Ya’qub mengeluarkan pandangan tentang solusi kasus Ahmadiyah dengan mengajukan dua usul alternatif. Pertama, membubarkan Ahmadiyah dan menjadikannya organisasi terlarang sebagaimana telah dilakukan terhadap PKI. Dan jika ingin tetap diakui sebagai muslim, bekas anggota Ahmadiyah harus “kembali kepada ajaran Islam yang benar”, menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai pemegang otoritas keagamaan di Indonesia atau Departemen Agama sebagai otoritas politik yang mengatur kehidupan beragama. Kedua, meminta kepada Jemaat Ahmadiyah untuk mendirikan agama baru di luar Islam, dengan konsekuensi tidak boleh menjalankan syariat Islam atau mendasarkan doktrin keagamaannya kepada Al-Quran dan Sunnah. Pandangan itu secara implisit menyatakan bahwa, jika salah satu dari alternatif itu tidak dijalankan, tindak kekerasan dari umat Islam akan tetap berlangsung, yang artinya tidak bisa ditolak pembenarannya. Menurut dia, salah satu dari dua pilihan itu, jika dilaksanakan, akan menyelesaikan masalah hingga tuntas.
Lanjut membaca
