Sedikit Dari Yang Saya Kenal Tentang Gus Dur (KH.Abdurrahman Wahid)

Saya sempat merasa gelisah ketika Gus Dur bakal benar-benar berhasil menduduki posisi sebagai Ketua Umum PBNU. Saya membayangkan antara Gus Dur sendiri dengan umat yang akan dipimpinnya berjarak sedemikian jauh. Saya tahu Gus Dur cucu pendiri NU tetapi bagaimana dengan pemikiran-pemikirannya?
PROF. DR. H. IMAM SUPRAYOGO
(lagi…)
Senja Kala Sekularisme
AKAR terorisme tidak selalu dimotivasi oleh agama. Bahkan, dalam berbagai kasus agama dijadikan jubah dan penambah amunisi, padahal akarnya bisa jadi adanya dominasi mayoritas terhadap minoritas atau kekuatan asing yang akan menguasai atau menjarah wilayah bangsa lain.
KOMARUDDIN HIDAYAT
(lagi…)
Islam Krisis
KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid meninggalkan pengaruh yang dalam pada saya, jauh sebelum saya menjadi penyiarnya di acara “Kongkow Bareng Gus Dur” tiap Sabtu di Utan Kayu. Pada awal tahun 1997, ketika saya baru lulus dari sebuah pesantren dan menjadi guru muda di pesantren itu, saya mengikuti sebuah pelatihan untuk guru dan santri se Jawa Timur. Sohibul bait-nya: Kajian 193 Universitas Islam Malang. Gus Dur hadir sebagai narasumber. Jujur saja waktu itu saya tak suka Gus Dur dan Nurcholish “Cak Nur” Madjid. Saya memperoleh informasi tentang dua tokoh ini dari media-media seperti Sabili, Media Dakwah dan Hidayatullah. Kala itu saya mengidolakan sosok Amien Rais yang dianggap sebagai representasi tokoh Islam, sedangkan Gus Dur dan Cak Nur sering dituding oleh media-media itu “kurang kadar keislamannya”.
(lagi…)
Gus Dur dan Pencerahan Kaum Muda: Sebuah Kesaksian
Dalam perjalanan hidup saya, ada tiga orang yang meninggalnya membuat saya luruh menangis: meninggal Ibu saya, karena ia adalah tiang dalam keluarga kami, fisik maupun psikis; Nenek saya yang mengenalkan saya pada keislaman dan keimanan dengan konsepnya yang sederhana, tapi ia praktekan dalam hidup nyata sehari-hari; dan Gus Dur yang mengenalkan kepada saya tentang keislaman dan keimanan dengan maknanya yang sangat luas seluas alam semesta ini. Mengapa Gus Dur demikian penting dalam penjelajahan hidup saya? Ini adalah fragmen kecil dari kesaksian tersebut.
Neng Dara Affiah
(lagi…)
Kemanusiaan YME
(Sebuah Apresiasi Spiritual terhadap Antologi Puisi Tiada Tuhan Selain Ahmad karya Ahmad Yulden Erwin )
Saya menangkap perkembangan yang menarik akhir-akhir ini. Bagi sebagian orang, sila Ketuhanan Yang Maha Esa masih menjadi ganjalan. Barangkali mereka berpendapat sila yang satu ini dihilangkan saja, karena konflik agama dianggap bermula dari sini. Dengan sila ini, Negara menjadi begitu mengurusi agama setiap warganya. Sila ini berpeluang terhadap perselingkuhan antara penguasa dan ulama untuk mendikte keyakinan orang. Politisasi agama seperti ini memang menjadi masalah yang tak ada habisnya di negeri ini, bahkan mungkin di seantero dunia.
Oleh Arief Rahman (lagi…)
Integrasi Iman dan Kehidupan
Formalitas keberagamaan terbukti sangat tidak memadai untuk membangun karakter kita menjadi lebih baik. Menurut penulis, formalitas ini juga sesungguhnya adalah bagian dari kesekuleran kita
Istilah ini penulis dapatkan dari buku God is My Success karya Larry Julian. Istilah ini mungkin tidak cocok dan pas untuk seorang Muslim yang paham betul ajaran agamanya.
Karena baginya, iman dan kehidupan itu memang tidak terpisah, dan tidak akan terpisahkan selamanya. Iman harus mewujud dan terealisasi dalam kehidupan. Iman juga menjadi pengendali dan penuntun dalam hidupnya.
(lagi…)
Selamat Jalan Guru Bangsa yang Fenomenal
WALAU kesehatannya tidak prima lagi karena stroke dan duduk di kursi roda sejak lama, wafatnya Adurrahman Wahid, presiden keempat Indonesia, sangat mengejutkan. Kita kehilangan seorang tokoh yang boleh disebut sang fenomenal.
Banyak julukan diberikan kepada mantan Ketua Umum PBNU itu. Tetapi paling jamak adalah guru bangsa. Dia mengabdikan dirinya demi bangsa. Bangsa yang tetap menjiwai dan dijiwai keanekaragaman.
(lagi…)
Kerja Besar Kita ke Depan
KITA dibuat tertegun dengan kenyataan bahwa dalam proses pembangunannya bangsa ini didominasi orang kaya/elite. Tidak punya uang, maka harus “mengalah” dari mereka yang lebih beruntung. Pendidikan dan sebagainya hanya menganakemaskan mereka yang kaya.
Dikotomi kaya-miskin ini berlaku di hampir semua bidang kehidupan. Nah, bagi mereka yang merasa tertinggal, mengakibatkan munculnya rasa marah dan dendam. Pemerintah turut bersalah dalam hal ini, karena mengambil pihak yang salah untuk dijadikan panutan.
(lagi…)
Untukmu Gusdur
Kau telinga yang tak pernah lelah mendengar penindasan
Kau mata yang tak pernah pejam pada ketidakadilan
Kau mulut yang tak pernah diam menyuarakan kemanusiaan
Kau pecahkan kebisuan, ketika semua orang diam
Kau luluhkan kemarahan menjadi tawa tak berkesudahan
Jiwamu, jiwa para nabi
Fikiranmu, fikiran para ressi
Agamamu, agama para rabbi
Karomahmu, koromah para wali
Kau patriot
Kau ulama
Kau pejuang
Selamat gus
Jutaan milyard manusia hari ini menghantarkanmu dengan doa
JHELLIE MaESTRO, Mataram, 31 Desember 2009
Selamat Jalan Guru Kebebasan Beragama
Meninggalnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Rabu (30/12) pukul 18.45, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta menyimpan duka yang mendalam bagi keluarga, kerabat, koleg, kawan, pejabat, tokoh lintas iman. Pasalnya, Gus Dur merupakan lokomotif kebebasan beragama di Bumi Pertiwi ini.
Dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95 oleh Presiden Abdurrahman Wahid merupakan pilar menjamin kebebasan beragama bagi komunitas Tionghoa.
(lagi…)
Mereka Memeras Yakobus, Menghukumnya, Memenjarakannya
Rambut putihnya menandakan usianya yang cukup senja. Berjalan sedikit membungkuk menaiki tangga, orang tua ini menaruh harapan besar pada kantor yang sedang didatanginya.
Yakobus Lay alias Asinku, seorang pria 65 tahun. Matahari sudah mulai terik ketika ia datang, tapi belum juga melewati atas kepala. Diterima oleh seorang Pekerja Bantuan Hukum di Gedung YLBHI, Jalan Diponegoro 74, Selasa (22/12), orang tua ini bercerita tentang kasus yang dialaminya.
(lagi…)
Lowongan Di LSAF Jakarta
LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) sudah satu tahun ini mempunyai program pendampingan di tiga pesantren Garut yang masing-masing berafiliasi pada ormas NU, Muhammadiyah, dan Persis. Program yang dijalankan adalah kampanye prinsip pembelajaran ramah anak (child protection) dan metodologi menggali serta menghidupkan civic values melalui pendidikan pesantren. Untuk mengembangkan program tersebut, yang dua tahun ke depan akan difokuskan pada penguatan, implementasi, dan advokasi kebijakan, saat ini LSAF membutuhkan seorang Field Officer untuk mendukung PO dan dua field officer lainnya.
Persyaratan:
1. Mempunyai pengalaman di dunia NGO.
2. Cukup akrab dengan dunia pesantren.
3. Siap tinggal di Garut.
4. Perempuan lebih diprioritaskan.
Jika anda berminat dan memenuhi kualifikasi di atas silakan kirim CV ke:
LEMBAGA STUDI AGAMA DAN FILSAFAT (LSAF)
Jln. Kalibata Timur No.31 A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12510, Telp. 021-79191126
atau via e-mail: elsaf83@yahoo.com
*Pengiriman CV paling lambat tanggal 30 Desember 2009.
**Hanya kandidat yang memenuhi syarat yang akan diwawancarai.
A subversive agent: woman in burqa
On my way to the office every morning, I often stumbled on an intriguing scene: a woman was clad in a black garb that covers her entire body, including her face. She always wore a black glasses that seems she deliberately put on to hide her eyes. What makes the scene even more intriguing for me is that she rides a motorcycle alone, zigzagging through a jammed and crowded traffic in a way that is not so dissimilar from other ‘wild’ motorcyclists in Jakarta.
Ulil Abshar Abdalla
(lagi…)
RELIGIOUS FREEDOM REPORT 2009
Kebebasan beragama tidak hanya menyangkut kebebasan untuk beragama dan berpindah agama, tapi juga kebebasan untuk mengekspresikan agama yang dianggap benar oleh tiap individu. Pada tingkat ekspresi inilah, baik regulasi pemerintah maupun aturan sosial masih mengandung beberapa masalah. Ketika terdesak oleh tekanan sosial seperti aksi massa radikal Islam, pemerintah tak jarang tejebak untuk menunjukkan favoritismenya dalam memilih kebijakan agama. Konsekuensinya, seringkali favoritisme itu bersifat diskriminatif terhadap kalangan non-Islam maupun kelompok Islam non-mainstream. (lagi…)
2012 dan Teologi Kiamat
Tiba-tiba saya ingat perdebatan post-humous antara al-Ghazali dan Ibn Rushd, dua filsuf besar Muslim, tentang dunia. Kata al-Ghazali, dunia tidak abadi. Jika kiamat datang, seluruh isi dunia akan hancur dan itulah akhir dari seluruh kehidupan. Ibn Rushd menyanggah. Menurutnya, alam raya bersifat eternal, ia abadi, seperti abadinya Tuhan. Jika ada kiamat, maka itu adalah kiamat lokal, di Bumi, di Mars, di Jupiter, di Saturnus, dan seterusnya.
Oleh Luthfi Assyaukanie
(lagi…)


Mungkin karena banyaknya hal-hal aneh di negeri ini, maka orang seperti